
"Mau kemana?" sentak Nico saat Keanu akan melangkah pergi.Pria itu menoleh sekilas dengan senyum miring serasa mengejek.
"Kau harus bersyukur karena aku tidak melaporkanmu kepolisi sekretaris Nico.Tapi lain kali saat kita bertemu lagi,aku harap kau menjaga sikap aroganmu itu."
"Tugasku adalah menjaga keselamatan majikanku tuan muda Keanu smith." tegas Nico tetap cool.
"Kau malah mirip anjing penjilat sekretaris Nico."
"Saya rasa seorang anak angkat yang sudah membawa lari harta keluarganya melebihi penjilat tuan muda." sindir Nico sontak membuat wajah Keanu Smith memerah.Rahangnya mengeras.Ya,dia adalah putra angkat keluarga Smith,kakak angkat Jonathan yang terlibat berbagai skandal tentang harta dan puluhan wanita.Bisa dikatakan pria flamboyan ini begitu penuh kontroversi.
"Aku tidak akan berdebat dengan anjing penjilah tak tau malu sepertimu Nicholas.Kau akan kubuat merasakan dinginnya jeruji besi saat ini."
"coba saja tuan,dan kita lihat siapa yang akan menang." Sahut Nico sambil menyetel ulang rekaman percakapan mereka dari smartphone keluaran terbarunya.
"Dua kali anda mengatakan saya anjing penjilat tuan.Anda sudah melakukan perbuatan tidak menyenangkan dan menghina profesi saya!" ujarnya santai.Kalau dipikir-pikir,sejak awal cerita Nico memang hobi rekam merekam ya readers...maklum,pekerjaannya jadi sekretaris beruang kutub seperti Michael membuatnya harus tangkas dan menyikapi masalah dengan cepat.
Keanu smith mengeram kesal.Sepertinya pria itu sudah sangat marah.Dia berpaling pada Stephanie yang berdiri mematung,mengubah ekspresi marahnya lalu tersenyum.
"Steve,lain kali kita ngobrol lagi ya.See you..." ujarnya lalu melambaikan tangan dan pergi menjauh.
"Kalian terlalu arogan." sentaknya setelah Keanu menghilang.Nico hanya mengangkat bahunya lalu mengambil posisi di dekat pintu masuk,menunggu sang majikan keluar dari ruang check up tuan besar Maverich.Hari ini nyonya Misca memang tidak dapat mengantar suaminya karena tiba-tiba terserang masuk angin.
__ADS_1
Willy tidak menyahut.Dia hanya mengambil duduk d deretan kursi lalu menyilangkan kakinya santai,seolah tidak terjadi apa-apa.Stephanie yang masih meradang karena kejadian tadi tetap berdiri.Andai saat itu bukan di rumah sakit,bisa dipastikan gadis manja keluarga Abraham itu akan mengamuk.Willy ataupun Nico sangat hafal sifat Stephanie itu karena memang tumbuh besar bersama.Meladeni Stephanie sama dengan mencari masalah baru.'Wanita selalu benar' adalah slogan paling pas untuk nyonya William itu.
"kenapa tidak menjawab heh?" masih dengan ekspresi marah putri bungsu Maverich itu menatap suami dan sekretaris Nico bergantian.Tidak ada yang menanggapi.Hal itu malah membuatnya semakin tersulut emosi.Ibarat makan buah simalakama,dijawab salah,nggak dijawab juga salah.
"Kalian para pengawal memang menyebalkan,taunya hanya memukul orang.Dasar tidak punya otak,manusia rendah!" perkataan Stephanie membuat Willy menengadahkan kepalanya lalu sontak berdiri kasar dari tempatnya.Nico sempat menoleh.
"Apa kau mengataiku Steve?kau tau aku pengawal,aku tidak punya otak,aku tukang pukul,kenapa kau mau menikah denganku?" ucap Willy dengan penuh penekanan.Ada kilatan kemarahan dan kecewa pada mata itu.Stephanie menutup bibirnya.Dia terlalu emosi hingga tidak sadar mengeluarkan perkataan yang menyakiti suaminya.
"sa..sayang bukan begitu maksudku.maaf.."
"Kau membela pria itukan?jangan anggap aku tidak tau kalau kalian juga pernah berhubungan setelah kau berakhir dengan Jonathan.Dia memang tuan muda,aku ini apa?hanya bocah panti asuhan yang dipungut keluargamu." kata Willy berapi-api.Pria itu benar-benar merasa terhina.Sekali ini Stephanie menghinanya setelah sah menjadi istrinya.Mungkin jika dulu mereka belum menikah,Willy akan sangat lapang dada menerima semua hinaan ini,tapi sekarang dia adalah seorang suami.Egonya tersakiti.
"Seorang pengawal memang tidak pantas menikahi majikannya.Aku cukup tau diri nona muda." sahutnya lagi tanpa memberi waktu pada Stephanie menjawab lebih.Pria tampan itu berbalik lalu melangkah lebar meninggalkan ruangan itu.Stephanie mengejarnya sambil menangis,mencekal lengan sang suami yang juga dengan spontan mendorong tubuhnya hingga hampir terjatuh.Willy tetap pergi tanpa menoleh atau berusaha menolong istrinya.Dia hanya melemparkan kunci mobil dengan gerakan terlatih menuju Nico.Anehnya seperti punya telepati,sekretaris tampan itu menangkapnya dengan mudah lalu kembali ke posisinya,tanpa berusaha menolong sang nona.Dia lebih fokus menatap tembok yang datar mirip wajahnya.Bersikap seolah tidak terjadi apa-apa.
Stephanie masih sesenggukan saat Mic keluar dari ruangan lebih dulu.Menatap adiknya dengan tatapan tak terbaca,nyaris tanpa ekspresi.Benar-benar trio manusia kutub yang kompak.Pada dasarnya Mic memang bukan manusia yang suka ikut campur urusan rumah tangga orang lain.
"Hapus air matamu sebelum dad tau." titahnya dengan nada dingin.
"aku akan pulang lebih dulu.jaga dad!" tanpa menunggu jawaban wanita muda itu berlalu pergi.Mic hanya diam.
"Apa kau sudah memberi pelajaran Keanu?"
__ADS_1
"Hanya sebuah tendangan tuan muda."
"Harusnya kau buat giginya rontok semua Nic." geram Michael.Dia memang tidak suka kalau ada orang yang akan merusak rumah tangga orang-orang terdekatnya.Apalagi Stephanie yang terlalu naif.
"akan saya lakukan tuan."
"Bagus.Awasi pria itu dan buat bisnisnya hancur dan memohon pada Willy."
"Baik tuan." Sesaat kemudian seorang perawat mendorong kursi roda tuan besar Maverich keluar.Pria itu terlihat lebih segar.Mic memang tidak mengijinkan dadynya berjalan.Beberapa kali Maverich protes dengan mengatakan dia baik-baik saja dan tidak butuh kursi roda,tapi Michael tetap anak yang galak dan membuat sang dady menuruti perkataannya.Jadilah pria tinggi tegap yang masih terlihat tampan diusia senjanya itu berpenampilan bak seorang pesakitan.
"Kemana Steve?" tanya Maverich sambil mengedarkan pandangannya kesagala penjuru,mencari-cari anak gadisnya.
"Willy menjemputnya dad." potong Mic cepat sebelum dady bawelnya itu banyak bertanya.Pria itu mengangguk lalu memberi isyarat agar perawat pria dibelakangnya mendorongnya keluar diikuti Mic dan Nico dibelakangnya.
Saat hendak meninggalkan rumah sakit,Nico melirik Erika yang tengah sibuk mengurusi pasiennya di pintu ICU yang terbuka lebar.Senyum samar tergantung dibibir sang sekretaris tampan.Dia sangat suka melihat istrinya yang bekerja sangat cekatan dengan seragamnya.Erika terlihat lebih seksi saat mengelap peluh di keningnya.
Mata mereka bersitatap saat Erika tidak sengaja melihat keluar pintu karena akan menangani pasien yang baru masuk.Nico memajukan bibirnya menyerupai kecupan yang membuat dokter cantik itu menundukkan wajahnya yang sudah merona.Ahh...andai ini dirumah,pasti Nico sudah menerkamnya karena gemas dengan wajah malu-malu istri cantiknya.
"Sampai kapan kau akan menciumi udara Nic?" seketika Nico tergagap.Maverich yang mendengarnya terkekeh geli.
"maafkan saya tuan muda." ujarnya lalu bergegas berjalan lagi.
__ADS_1