
Latanza sangat ramai pengunjung siang itu.Pusat perbelanjaan,wahana bermain dan hotel bintang lima itu memang cukup terkenal dan jadi destiny wisata utama disana.Nico memasuki kawasan hotel dan resto itu lalu naik kelantai teratas dimana hanya ada tiga kamar disana,untuknya,Willy dan Michael.Tubuh tinggi tegapnya menghilang di pintu kamar setelah meningalkan pesan pada resepsionis tadi.
Tubuhnya terasa sangat bersemangat meski terik matahari diluar sana siap membakar siapapun yang berada dibawahnya.Nico menghempaskan tubuhnya di sofa,mengendurkan dasi yang melingkari tubuhnya dan menggulung lengan kemejanya hingga sebatas siku.Sebuah pesan masuk di ponselnya.Ayya memberi tahu jika dia sudah sampai dan akan naik ke kamarnya.
Bel berbunyi dua kali saat Nico membuka pintu kamarnya.Ayya mengenakan gaun soft pink selutut dengan sepatu hak tinggi dan dandanan khas nyonya keluarga kaya masuk.Wanita itu memeluk erat leher Nico setelah pintu tertutup rapat.Bibir mereka bertaut.Nico membalas tiap ciuman itu dengan segenap perasaan.Tidak ada lagi Erika dalam ingatannya.Yang dia tau,dia sangat menginginkan Ayya saat itu.
"Nic,aku sangat meridukanmu." desah Ayya.Pakaian mereka sudah tidak karuan saat itu.Saat akan berbuat lebih jauh,bayangan Erika muncul dipelupuk matanya.Nico mengeram kesal lalu melepaskan ciumannya.
"kenapa?" tanya Ayya penasaran sambil mengatur nafasnya yang sudah tidak beraturan.Nico melengos kesal.
"Aku ingat istriku." jawabnya menyerupai sebuah gumaman.Erika merebahkan tubuhnya dalam pelukan Nico yang terus membelai rambutnya penuh kasih sayang.
"kenapa kau memilih Kotaro?" Ayya tau,pasti pertanyaan itu yang akan muncul.
"Karena aku berada dibawah ancamannya Nic.Kotaro menangkapku setelah aku mendengar percakapan mereka saat aku dalam perjalanan menuju Manila.Dia memaksa menikahiku padahal dia sudah punya dua istri yang lain." jelasny dengan air mata menggenang.
"Lalu kenapa kau bisa lolos begitu saja dari mereka sekarang?"
"Kotaro sedang sibuk dengan suatu hal." Ayya bergerak cepat menyambar kembali bibir Nico hingga ciuman panjang kembali terjadi.Tanpa mereka sadari...dua pasang mata menatap mereka diambang pintu.Dua pasang mata yang sangat bertolak belakang.Satu dengan air mata menggenang milik Erika,dan satu lagi mata penuh amarah,milik Aira.Sekretaris Nico terlalu larut dalam kebinalan Ayya.
"Kak!!" bentak Aira sambil menarik kemeja kakaknya yang sudah dalam posisi berada diatas tubuh Ayya saat itu.Sebuah pukulan keras dan tendangan bertubi-tubi mengenai wajah dan tubuh Nico.
"Hentikan Aira!" teriak Erika,membuat gadis itu mematung.Nico melepaskan cengkeraman tangan adiknya.Erika menghampirinya sangat dekat.
"Jika kau tidak mencintaiku,harusnya kau bilang terus terang padaku...jangan menghianati aku seperti seorang penjahat seperti itu.Aku memulai hubungan ini dengan kepercayaan,tapi kau sudah merusaknya.Jadi maafkan aku yang mulai sekarang sudah melepaskan ikatan itu darimu." Setetes air mata luruh.Erika melepakan cincin pernikahan mereka dan menyerahkannya dalam genggaman Nico.Wanita itu berlalu tanpa cegahan siapapun.Aira menyusulnya setelah sedikit tersadar dari keterkejutannya.Sejujurnya dia berharap ada reaksi keras dari kakak iparnya itu.Tapi tidak disangka,dokter anggun itu memilih berdamai dengan diri dan takdirnya.Sedang Nico?dia menikmati pelukan Ayya yang merengkuh pinggangnya dari belakang.
"Bebaskan aku dari Kotaro Nic,aku berjanji akan kembali padamu." bisiknya dibalas anggukan Nico.
__ADS_1
Disisi lain,Aira kehilangan jejak Erika.Gadis berperawakan ramping itu mencari kesana kemarin mencari keberadaan kakak iparnya.Setengah putus asa dia mengeluarkan ponsel dan menghubungi Erika.
"Halo kakak,kau dimana?" ucapnya kawatir begitu panggilanya tersambung.Ada perasaan jengkel dalam hatinya karena Nico yang bersikap adem ayem saja saat melihat kepergian Erika.
"Aku baik-baik saja Aira.Maafkan aku,sungguh aku ingin sendiri sekarang." isakan terdengar dari seberang sana.Hati Aira tercubit.Kenapa kakaknya begitu tega pada Erika demi cinta tak jelas yang terus dipujanya.
"Kau dimana kak?aku akan menemanimu."
"Aku dirumah.Kau tidak perlu kuwatir."
"Jangan kemana-mana kak,aku akan kesana sekarang."
"Aira aku bukan anak kecil lagi.tolong biarkan aku sendiri...please." Aira luluh.Dia tau Erika begitu terpukul saat itu.Dia tau Erika butuh sendiri.
"Baiklah kak,tunggu kak Nico pulang.Kalian harus bicara baik-baik."
Michael mengelus dagunya saat Aira melaporkan kejadian tadi padanya.Mic tau betul siapa Nico.Dia pria yang cerdas,punya insting kuat dan bekerja sangat rapi.Tapi kadang memang cinta bisa membutakan siapa saja.Wanita cantik adalah kelemahan utama seorang pria sejak jaman purba.Nico mungkin salah satunya.Pria yang entah sejak kapan begitu mengagumi hal yang disebut cinta.
"kirim orang untuk menjaga Erika."
"baik tuan muda."
Pintu terbuka.Willy masuk dengan jas biru dogker yang terlihat pas melekat dibadannya.Rupanya Mic sudah memberitahunya tadi.
"Apa kita perlu mengirim orang untuk mengawasi Nico kak?" tanyanya begitu Mic mempersilahkan Willy duduk di depannya.
"Bukan Nico,tapi wanita itu.Aku tidak pernah meragukan kesetiaan Nico,Will."
__ADS_1
"Aku sendiri yang akan mencari tau kak." sahut Willy kesal.Kenapa juga Nico bertindak bodoh disaat seperti ini.Sekretaris dungu itu bisa jatuh cinta juga rupanya.Orang kalau sudah jatuh cinta memang cenderung berbua aneh dan menyusahkan.
"Apa itu tidak terlalu berlebihan Will?"
"Sama seperti padamu,aku juga menganggap Nico adalah kakakku.Jadi biarkan aku yang mengawasinya."
"hmm baiklah.Tapi jangan lupakan Steve.Dia dan calon bayi kalian sangat membutuhkan perhatian." tukas Mic diplomatis.Willy mengangguk.
"Aku tidak akan menyianyiakan mereka lagi kak."
"bagus."
"Kalau begitu aku pemisi." Michael mengangguk.Willy pergi dan menutup pintunya disusul Aira yang menyusul keluar.
**********
Nico berjalan memasuki rumah saat senja menjelang.Dia hanya tersenyum tipis saat pengawal keluarga Maverich menyapanya.Pasti Mic yang menyuruhnya mengawasi rumah saat dia tidak ada.
"Apa nyonya masih di dalam?"
"Sejak saya datang nyonya belum keluar dari kamarnya." jawab pengawal itu sambil menundukkan wajahnya.Nico diam tak membalas.Langkah panjangnya menuju lantai atas ke kamarnya.Pintu itu terkunci dari dalam.Dia bernafas lega karena yakin Erika tidak pergi kemanapun.Tergesa dia mencari kunci duplikat diruang kerjanya.
Pintu terbuka saat Nico melihat Erika bergelung dibawah selimut tebalnya.Pria tampan berdarah Eropa-Korea itu bergegas ke kamar mandi dan membersihkan diri.Dia tidak ingin Erika makin sakit hati karena mencium aroma parfum wanita lain ditubuhnya.
Nico naik ke atas tempat tidur begitu selesai berganti pakaian.Dia duduk disamping Erika dengan bersandar dikepala ranjang sambil menyelonjorkan kakinya.
"Sayang maafkan aku.Aku tidak berniat menyakitimu,sungguh." Nico akan mengelus kepala istrinya saat yang dia dapati hanya....guling yang ditutup selimut.Pria itu tersentak kaget,menyibak selimut dan membuangny dengan kasar dilantai.
__ADS_1
"Erikkaaaaa!!" teriaknya.