Bukan Cinta Semusim

Bukan Cinta Semusim
Janji


__ADS_3

Shinta memapah tubuh lemas Stephanie masuk kerumahnya.Michael yang menggendong baby El mengikuti mereka dari belakang.Seseorang menelepon Michael dan memberi tahu jika Stephanie sedang tidak baik-baik saja di bandara dan meminta Mic menjemputnya.Shinta yang mendengar berita itu memaksa ikut tanpa sempat berganti baju.Dan sekarang,jadilah mereka seperti pasangan awam yang berkaos oblong dan bercelana pendek lengkap dengan sandal jepit rumahan tapi mengundang banyak mata melirik pasangan itu.


"Sebaiknya kau menginap disini dulu Steve dan jangan melakukan hal bodoh." tutur Shinta halus.Tidak ada jawaban,Stephanie terdiam dengan tatapan kosong.


"Panggil aku jika kau membutuhkan sesuatu ya." kata Shinta kemudian.


"Ak hanya butuh Willy kembali kak.itu saja." jawab Stephanie tegas.Dia mencekal erat tangan Shinta seolah minta tolong.


"Willy pasti kembali Steve,dia sangat mencintaimu." isak tangis terdengar dari bibir Stephanie.Tubuhnya terguncang menahan beban dalam hatinya.Shinta memeluknya agar adik iparnya itu tenang, membiarkannya duduk di ranjang kamar tamu.Setelah Steve agak tenang dia pamit keluar dan memberi isyarat pada Michael untuk mengikutinya keatas.


"Tidurkan El dulu mas." Mic meletakkan El di kasurnya dengan hati-hati.Sejak bisa merangkak putranya itu memang sangat aktif hingga mudah lelah dan tertidur.


Michael merasakan sebuah lengan melingkar di perutnya.Sejenak dia memejamkan mata,menikmati tiap keromantisan yang diciptakan istri tercintanya.Dia bisa merasakan hembusan nafas Shinta dipunggungnya.Tangannya terulur membelai lengan istrinya.Mic tau Shinta pasti memikirkan sesuatu.


"Ada apa sayang?"


"Tolong bantulah Steve mencari Willy mas" jawab wanita cantik itu halus.Mic menarik nafas panjang.


"Biar mereka menyelesaikan masalahnya sendiri sayang.Kita tidak usah ikut campur."


"Bagaimana masalah mau selesai kalau Willy malah menghilang meninggalkan Steve mas?." Mic membalikkan tubuhnya menghadap Shinta dan menangkup pipi mulusnya dengan kedua telapak tangan besar dan kekarnya.


"Sayang dengar..Mungkin Willy butuh sendiri untuk menenangkan diri.Biarkan mereka menyadari kesalahannya terlebih dulu." Shinta mengenggam tangan Mic dan mengelusnya mesra.


"Mas,apa kau tega melihat Steve seperti itu?" sergah Shinta kemudian.


"Dia adikku,aku lebih tau yang terbaik untuknya sayang."


"Boleh aku minta sesuatu?" Mic kembali menangkupkan kedua tangannya,memaksa Shinta mendongak dan dengan lembut sang tuan muda penuh pesona itu mengecup sekilas bibir istrinya.

__ADS_1


"Kenapa kau bertanya sayang?kau tau,aku akan berusaha memenuhi apapun keinginanmu."


"hmmm baiklah.Aku minta kembalikan Willy pada Steve mas."


"Sayang,kau mulai lagi." sahut Mic gemas.Dia tidak mungkin bisa menolak permintaaan Shinta karena wanitanya itu akan meminta dengan nada yang sama juga hukuman yang sama.Artinya sebelum Willy kembali,dia tidak akan mendapatkan jatah rutinan.🤣🤣


"Tapi sebelumnya aku....." Tanpa melanjutkan perkataanya tangan pria super duber tampan itu sudah bergerilya kemana-mana,bibirnya juga tidak henti-hentinya menyesap tiap inci bagian tubuh Shinta hingga tubuhn sintal itu menggelinjang.


"Mas,apa kau lupa aturan mainnya?" Shinta dengan gesit melepaskan diri dan melompat ke ranjang,memeluk tubuh baby El yang tertidur pulas tanpa mau tau pada Mic yang sudah memasang wajah lesu.


"Sayang,bagaimana aku bisa mencari Willy kalau kau tidak memberikan jatahku?kepalaku pusing." runtuk Mic dengan wajah yang dibuat semelas mungkin.


"Sudah saatnya kembali ke kantor dan mencarikan nafkah untuk kami lho mas." sahut Shinta tanpa menatap wajah suaminya.Dalam hati dia juga tidak tega melihat wajah Michael yang kecewa.Tapi ini adalah satu-satunya cara untuk membuat Mic menurutinya.


"Aku tidak akan jatuh miskin hanya karena tidak bekerja hari ini." Pasti itu kata-kata keramat yang diucapkan Michael hingga Shinta bisa menghafalnya diluar kepala.


"terserah kau saja mas.Aku hanya mengingatkan saja."


"Apa lagi sih mas?" Tanpa berkata Mic mencium lembut bibir merah Shinta,semakin menuntut hingga membuatnya kehabisan nafas.Dorongannya pada dada Mic malah membuat pria itu makin bernafsu.


"Sayang,aku menginginkanmu." bisiknya parau.


"Tapi kau harus berjanji untuk mencari Willy mas." Shinta berkata sambil berusaha menahan tangan Michael yang membuka kancing bajunya.Mic yang sudah dikuasai ***** hanya mengangguk.


"mas!" pekik Shinta kesal karena Mic tidak menjawab perkataanya.Pria itu mendongakkan wajahnya.Dia tidak ingin merubah mood istrinya sekarang.


"Ya,aku akan mencarinya.Keujung dunia sekalipun." jawabnya mantap,lalu kembali pada aktifitas panasnya dibawah sana.Shinta hanya melenguh tertahan saat Mic sudah melepaskan semua yang melakat pada tubuhnya.Nafas Shinta makin tersengal.


"Mas,jangan disini.Nanti El bangun."

__ADS_1


"lalu?" tanya Mic seakan tak peduli.Wajah tampannya sudah memerah menahan hasrat.Shinta membelai wajahnya sayang.


"Kau mau dimana sayang?cepat katakan!" suara Mic makin parau.Sadar tak mendapatkan respon,dia bergerak menjangkau tubuh kecil namun gembul milik baby El sepelan mungkin,menggendongnya lalu menidurkannya di baby boxnya.Shinta hanya tersenyum simpul melihat Mic yang sudah banyak berubah.Sang putra mahkota Maverich itu menjadi sosok ayah dan suami yang sangat penyayang dan itulah yang selalu membuat Shinta bersyukur.Mic bukan lagi tuan muda arogan saat ada dirumah,namun kelinci yang lucu dan menggemaskan.


"Apa kau masih ada keluhan lagi nyonya muda Maverich?" bisiknya tepat ditelinga Shinta.Bibir seksinya mengulum lembut daun telinga istrinya.


"Kurasa tidak tuan muda." bisik Shinta tak kalah mesranya.Udara berubah memanas,yang terdengar hanya ******* bersahutan dari keduanya.


Michael memeluk tubuh polos Shinta diakhir kegiatan panas keduanya.Sebuah kecupan mendarat dikening istrinya yang bergelung manja menyandarkan kepala didada bidangnya.


"Mas,kau jangan lupa janjimu."


"Apa aku terlihat seperti pria brengsek yang hanya mengumbar janji sayang?"


"tidak.Kau pria terbaik yang dianugerahkan Tuhan padaku mas." sahut Shinta cepat lalu mengecup sekilas pipi suaminya.


"Aku akan membawa Willy kembali." ujarnya mantap.Shinta mempererat pelukannya.


"hmmm....bukanya aku tadi mendengarmu menyuruhku balik ke kantor?" sindir Mic.Spontan Shinta mendongakkan wajahnya lalu melepaskan pelukannya.


"Nico pasti sudah mencarimu mas.Kau bilang ada meeting selepas makan siang kan?kau bahkan belum sempat makan." Nada panik terdengar dari kata-kata Shinta.Mic tersenyum lebar,meraih kembali tubuh istrinya dalam pelukannya.


"biarkan begini dulu."


"tapi mas...."


"ssstttt...aku janji tidak akan lama.Aku juga tidak perlu makan siang karena aku sudah memakanmu sayang." Pipi Shinta merona.


"hey...kau bahkan masih malu-malu seperti anak gadis baru pacaran.Kau sangat menggemaskan sayang." Shinta makin dalam membenamkan kepalanya ke dada Mic,menghirup aroma pinus dari tubuh tegapnya hingga Mic melepaskan diri beberapa menit kemudian.Tangannya terulur kemeja kecil disamping ranjang lalu meraih ponselnya.

__ADS_1


"Nic,kau dimana?kita harus bicara."


__ADS_2