
Shinta melemparkan pandangannya keluar jendela,ia tidak mau bertatap mata dengan Michael yang duduk disampingnya.Jalanan selalu ramai di sore hari saat jam pulang kerja.Ia jadi ingat sikap arogan Michael,pria ini benar-benar emosional.Orang kaya memang kebal hukum pada umumnya.Mereka bisa pukul sana sini semaunya tanpa takut resikonya.Coba saja kalau orang kecil sepertinya main pukul seperti tadi,bisa-bisa nasibnya berakhir dibalik jeruji besi.
"Mulai besok kau tidak boleh keluar rumah" kata Michael tetap dengan nada ketusnya yang sudah seperti lagu wajib bagi Shinta.
"kau dengar?" sentak Michael sambil menarik tangannya.Shinta yang tidak siap langsung ambruk ditubuh Michael.Wajahnya terbentur dada pria tampan itu.Rasa nyaman menelusup pada dirinya,tapi sekejap kemudian akal sehatnya bekerja.Cukup sekali saja Michael mengatakan bahwa dia hanya pembantu,dia tidak punya hak untuk mengatur dan memendam rasa menakjubkan itu.Buru-buru dia menarik diri lalu mengangguk sopan.
"baik tuan"
"berhenti memanggilku tuan Shinta" geram Michael.Giginya bergemletuk menahan marah.Shinta hanya diam lalu mengalihkan pandangannya keluar jendela kembali.Michael yang emosi langsung meraih tengkuk Shinta dan mencoba mencium bibir gadis itu.Tapi dengan sigap Shinta menghindar Merasa dipermainkan,Michael makin kalap.Dia mendekap erat tubuh Shinta dan memojokkam tubuhnya kepintu.Entah mendapat kekuatan dari mana,Shinta nekat mendorong tubuh berotot Michael hingga nyaris terlempar.Tak lupa sebuah tendangan menyapa kaki pria itu hingga meringis kesakitan.
"jangan coba-coba memaksa saya tuan muda.Saya mungkin hanya pembantu,tapi masih punya harga diri" kilahnya tajam.
"Antarkan aku kekantor imigrasi segera asisten Willy" kata Shinta sambil menahan sesak didadanya.Willy yang melihat dari kaca depan hanya tersenyum aneh.
"Dia hanya akan menuruti perintahku,bukan kamu.kamu hanya...."
__ADS_1
"pembantu" potong Shinta cepat.Dia tidak mau diingatkan untuk kedua kalinya.Cukup dirinya sendiri yang akan mengingatkan batinnya agar membuang rasa yang percuma itu.Dia tidak ingin terluka.Michael terdiam,ia tidak ingin membuat Shinta meradang.Wanita memang makhluk aneh,benar salah selalu minta benar.Dia menggeleng-gelengkan kepala lalu sibuk dengan ponselnya.
"aku ingatkan,jangan pernah menemui Jonathan Smith lagi"
"baik tuan"
"pandang aku Shinta"
"Saya sudah mengerti perintah anda tuan" jawab Shinta yang masih teguh memandang keluar kaca mobil.
"saya menghargai kak Jonathan karena dia memanusiakan pembantu seperti saya tuan"
"kau bahkan sudah memanggil bajingan itu dengan sebutan kakak"
"dia bukan bajingan tuan" tandas Shinta tegas sambil menatap Michael tajam seperti srigalan yang akan menguliti mangsanya.Mata Michael menyala marah.
__ADS_1
"dia sudah merusak masa depan Stephanie,dan sekarang kau bilang dia bukan bajingan?kau bahkan tidak tau bagaimana Stephanie bisa bertahan hidup sampai sekarang" tukas Michael berapi-api.Shinta terperanjat,jadi semua ini ada hubungannya dengan Stephanie?
"a...apa yang terjadi?" Tanyannya tergagap antara kaget dan bingung.Tanpa sadar tangannya memegang lengan Michael.
"aku tidak akan memukul orang tanpa sebab.Sekasar-kasarnya aku,aku masih punya etika" sahut Michael datar.Shinta terdiam.Semua terdiam dan tenggelam dalam pikirannya masing-masing hingga sampai digerbang rumah.Dua orang security membuka pintu gerbang,lalu mobil berjalan lurus melewati taman yang luas hingga tiba dipintu utama.Willy membuka pintu untuk Michael,namun saat akan beranjak kepintu sebelah,Shinta sudah turun duluan dan langsung melenggang masuk kedalam rumah.Michael berdecak kesal dan menyusulnya masuk kedalam.
Saat akan beranjak pergi,suara klakson membuat Willy terlonjak kaget.Stephanie baru pulang kuliah dan turun dari mobilnya.Seketika tubuh asisten Willy membeku.Ia ingin menyapa,tapi bibirnya terasa kelu.Ada banyak kata yang ingin dia sampaikan,tapi bayangan gadis manis itu saja sudah membuatnya mati kutu dan berada di dimensi lain.Gerakan Stephanie terasa pada mode slow motion dimatanya.Andai dia punya sedikit saja keberanian untuk memulai percakapan kecil.Pasti setidaknya dia punya celah untuk berharap.Dia tau,perasaan itu hanya hal sia-sia yang harus dia buang sejauh mungkin.Tapi cinta tidak pernah memandang pada siapa dia berpihak.
Gadis ini...gadis yang selalu ada dalam mimpinya,dalam doanya datang menghampirinya dalam kondisi sangat fit dan mempesona.Setahun lalu,dia hampir saja kehilangan sosok itu.Sosok yang seakan mati karena dihianati oleh Jonathan smith.Pria yang ia temui dipanti asuhan tadi.Dia ingat bagaimana Stephanie menangis meraung setiap hari,terjebak dengan alkohol dan narkoba untuk pelarian hingga calon bayinya keguguran.Semenjak itu dunia Stephanie berubah kelam.Ia seperti mayat hidup yang tidak mau di dekati siapapun.Berulang kali Willy ingi berjumpa atau hanya sekedar memandangnya saja,tapi gadis itu selalu mengurung diri dikamar,hingga Shinta tiba dirumah ini.
"Lihat aku sekali saja Steve,maka aku bersedia menukar duniaku dengan apapun yang kau mau" gumam Willy dalam hati.Mungkin Tuhan mendengar doa tulus Willy.Stephanie yang nyaris sampai diambang pintu tiba-tiba membalikkan tubuhnya lalu menghampirinya.Berada sedekat itu dengan sang pujaan hati mau tak mau membuat jantungnya berdetak kencang,nafas jadi pendek-pendek dan keringat dingin membasahi tengkuknya.
"Will,bisakah aku minta tolong memasukkan mobilku ke garansi?" tanya Stephanie ketika sampai dihadapannya
"iya,bisa nona muda" jawab Willy sedikit nerveous.Stephanie tersenyum sambil mengulurkan kunci pada Willy yang masih bengong.Gadis itu mengibas-ngibaskan tangannya di depan wajah Willy tapi masih tidak direspon,Hingga dia memberanikan diri menepuk pipi kanan Willy.Setengah tersadar Willy tiba-tiba meraih tangan halus itu dan membawanya kebibirnya.Diciumnya ujung tangannya seraya sedikit berjongkok.Stephanie yang kaget dengan perlakuan Willy diam sampai melongo heran.Dia masih berdiri disana hingga Willy menghilang dari hadapannya.
__ADS_1
Lain Stephanie,lain pula sang asisten gaul Willy.Dia pergi sambil bersiul-siul riang.Bunga seakan bermekaran di tanahnya yang gersang,Hatinya dipenuhi ribuan kupu-kupu yang beterbangan kesana kemari.Apa yang ada dimimpinya sudah ia wujudkan.Bukankah kata orang cinta tak harus memiliki?Baginya moment kecil seperti tadi sudah cukup membuatnya mempunyai kenangan tentang Stephanie.Dia tidak ingin menjadi pungguk yang merindukan bulan,juga tidak ingin terlalu bermimpi karena takut terbangun dan kehilangan semuanya.Hanya Nico satu-satunya orang yang menyemangatinya.Dia tau,itu bukan karena Nico melihat peluang,tapi lebih karena solidaritas sesama kaum jomblo.Tapi dia sudah tidak peduli apa akibat dan hasilnya....yang penting dia sudah berjuang.Hasilnya biar Tuhan yang mengatur nasibnya dikemudian hari.