
Terengah menuju lift menuju lantai lima.Shinta terlambat beberapa menit karena ban angkutan umum yang dinaikinya tiba-tiba meletus.Lama menunggu tidak kunjung ada angkutan lain,dia memutuskan berjalan kaki menuju rumah sakit.Tubuhnya terasa lemas karena mual berat.Sudah dua kali dia muntah dipinggir jalan,tapi terus memaksakan diri melanjutkan perjalanan.Apa kata teman-teman kerjanya kalau dihari kedua masuk kerja dia terlambat atau ijin tidak masuk?pasti dia dikira orang tidak bertanggung jawab,dan Shinta bukan tipe seperti itu.
Dari lantai dasar dia diberi tau kalau mbak Tika mendadak tidak masuk hari ini.Alhasil dia makin panik.Sudah terlambat,malah bekerja sendirian dengan kondisi lemah.Badannya benar-benar tidak bisa diajak kompromi.Tapi dia tidak menyerah,Menyeret langkah dan menyapu secepat yang dia bisa.Lalu mengepel lantai dengan sisa tenaga yang ada.Keringat dingin membasahi wajah dan tubuhnya.
Masih separuh bekerja,pintu lift mendadak terbuka.Sesosok pria keluar dari sana diikuti dua orang yang kemarin dia lihat.Tergesa dia menundukkan kepala lalu sedikit mundur memberi jalan.Shinta tidak berani menengadahkan kepalanya.Sedetik..dua detik...tiga detik....sepatu didepannya tidak juga bergerak.
ini kenapa ya?kok malah berhenti disini.aku harus ngapain sekarang....
"Kau pegawai baru?" Suara bariton pria didepannya membuat lamunannya buyar seketika.Antara takut dan lemah dia mengangguk membenarkan.
"Kenapa jam segini kau masih disini?apa atasanmu tidak memberitahu aturan kerja diruanganku?"
"jawab kalau aku bertanya.wajahmu juga pucat sekali.kau sakit?"
Masih tergugu kelu,tidak bisa menjawab.Yang dia rasakan cuma mual dan pusing yang kian hebat.Tanpa menjawab dia lari ketoilet ruangan dan langsung memuntahkan isi perutnya dikloset.
matilah aku..
Saat keluar dari pintu toilet tubuhnya langsung ambruk tidak sadarkan diri.Dua pengawal Adrian yang masih berada diambang pintu ruangan atasannya langsung berbalik menolong Shinta.Keduanya sepakat membawa gadis itu turun untuk mendapat perawatan di UGD.Tapi Adrian yang muncul secara tiba-tiba dari balik pintu memberi isyarat agar mereka membawa Shinta masuk.
"permisi pak,apa anda yakin akan melakukan perawatan disini?"
"kalian akan kerepotan membawanya kebawah.aku juga seorang dokter kan?baringkan dia disofa".
"baik pak"
Adrian memeriksa kondisi Shinta yang terbaring disofa besar dengan cekatan.Dahinya berkerut,lalu pergi duduk dikursinya.Dipandanginya tubuh Shinta yang masih tidak sadarkan diri.wajah polos tanpa sentuhan make up yang pucat tapi tidak mengurangi kadar kecantikan yang dimilikinya. Sebentar kemudian dia mendekat kembali saat melihat Shinta menggerakkan jarinya.
Kepala Shinta masih pusing saat membuka matanya.Kembali hendak terlonjak saking kagetnya saat diatasnya sudah berdiri pria yang tadi ditemuinya didepan lift.Tangan Pria itu menahannya agar tetap berbaring.Dia mengambil kursi lalu duduk didekat Shinta,menopang tubuhnya dengan lengan yang tertempel dipaha.
"apa pekerjaan suamimu?"
__ADS_1
Gelagapan,lagi-lagi susah dijawab.
"dia..."
"apa dia tidak tau kalau trisemester pertama kehamilan seorang wanita tidak boleh bekerja terlalu keras?"
"ma...maksut anda...saya..saya hamil?"
"tentu saja.kau tidak tau?"
"ti..tidak"
Seperti disambar geledek,tubuhnya terkulai lemas.Air mata membanjiri pipi mulus Shinta.Bayangan Michael berkelebat dimatanya.Pria yang dicintainya dengan susah payah,pria yang sudah membuangnya tanpa perlu bersusah payah.Dan sekarang,dia mengandung anak pria itu.Kepalanya memberat dan kembali jatuh pingsan.
Saat siuman dia melihat Adrian yang sibuk didepan laptopnya.Pria itu terlihat serius hingga tidak menyadari Shinta sudah sadar dan menyingkap selimut tebal yang menutupi tubuhnya.Pikirannya kembali linglung,mulai menangis lagi.
bagaimana ini?kenapa aku bisa hamil dalam kondisi seperti ini?
"dimana suamimu?"
"kami sudah berpisah"
"kau harus memberitahunya sekarang.Anak tidak berdosa itu berhak mendapat kasih sayang ayah kandungnya"
"tanpa ayahnya pun saya akan tetap melahirkan dan membesarkannya pak"
Adrian membuka laci meja kerjanya dan meraih buku resep.Dia menuliskan sesuatu.
"siapa namamu?"
"Shinta pak"
__ADS_1
"Ambil,lalu minta obat kelantai bawah.Itu vitamin dan obat anti mual.Kau harus rutin memeriksakan kehamilanmu" Diliriknya nota resep itu.Ada stempel atas nama dokter Adrian disana.Jadi orang didepannya adalah putra pemilik Rumah sakit terbesar dinegara ini yang juga dokter spesialis kandungan dan juga spesialis jantung secara bersamaan?Benar-benar pria yang hebat dan sangat berwibawa.
"ba...baik..dok ehh pak"
Mereka berdiri hampir bersamaan.
"Jangan teruskan pekerjaanmu!"
"anda memecat saya pak?tolong maafkan saya pak.Kedepannya saya janji akan bekerja lebih baik"
"aku menyuruhmu tidak melanjutkan,bukan memberhentikan."
"terimakasih pak.maaf sudah merepotkan anda.saya permisi"
Adrian menatap kepergian Shinta.Gadis itu sangat irit bicara seperti dirinya.Ada rasa penasaran yang bergelayut dalam dirinya.Kemana suaminya?ada apa dengannya?kenapa dia bersedih dengan kehamilannya?berbagai pertanyaan itu berputar dikepalanya.
sejak kapan aku mengurusi pribadi orang lain?apa yane menarik darinya?toh dia hanya pegawai biasa.paling cuma cari perhatian
Meraih hp dan menekan tombol ruang farmasi.
"halo,berikan obat pegawai kita bernama Shinta dengan cuma-cuma"
Bingung lagi,tidak biasanya dia peduli pada karyawannya.Semua masalah sudah diselesaikan Alex sebagai kepala rumah sakit.Dia tinggal memberi perintah dan duduk manis mendengarkan laporan bawahannya.ada apa dengan dirinya?
Adrian Wijaya,Pria jenius yang menamatkan pendidikannya di Standford university.Lulusan terbaik dari universitas bergensi dunia itu.Lahir dan dibesarkan dinegara ini dan baru kembali setelah sehebat ini.Jam terbangnya sebagai dokter diluar negeri sudah tidak bisa diragukan lagi.Dia kembali untuk mengubur masa lalu.Terdampar di cabang Rumah sakit milik papanya dikota kecil antah berantah yang dia sendiri tidak tau kenapa.
Kematian istrinya karena kecelakaan sepulang kerja di Sanfrasisco membuatnya seperti kehilangan separuh nyawa.Berbulan-bulan hidup dalam kenangan bersama Shania membuatnya makin terpuruk.Hingga sang ayah memutuskan memulangkan dia kembali ke Indonesia dengan cara apapun termasuk menuruti kemauan putra semata wayangnya yang menginginkan mengabdi didaerah terpencil.
Shania,gadis keturunan Eropa yang dinikahinya adalah idola kampus.Cinta pertama dan terakhirnya.Perjuangan panjang yang melelahkan baginya untuk memperoleh cinta Shania dan menikahinya.Kebahagiaan mungkin tidak abadi untuknya.Beberapa bulan setelah menikah,kecelakaan itu terjadi.Tuhan mengambil nyawa Shanianya,cahaya hidupnya,semangatnya.
nah lah....dia pria yang ditinggal pas sayang-sayange pemirsaaa.....
__ADS_1