Bukan Cinta Semusim

Bukan Cinta Semusim
Memohon


__ADS_3

Michael masih terengah diatas tubuh polos istrinya.Pria tampan itu terlihat puas saat hampir satu jam menuntaskan hasratnya.Dia menyeka keringat yang memenuhi dahi Shinta yang masih memejamkan mata,menikmati gelombang orgasme yang menyerangnya.Mic mengecup kening Shinta lalu menggulingkan tubunnya kesamping,memeluk Shinta.


"Sayang apa kau capek hem?"


"hmmmm...boleh aku tidur sebentar mas?"


"tentu saja sayang,tapi aku mau kepanti sebentar." Mendengar Mic menyebut pantai,mata Shinta langsung terbuka.Dia mendongakkan wajahnya keatas.


"Ada apa mau kepanti mas?"


"Ada sesuatu yang harus kuselesaikan"


"boleh aku ikut?


" Sayang kau pasti capek.Sebaiknya kau istirahat" Mic membelai rambut istrinya yang memeluk tubuh kekarnya erat.


"Aku sudah lama tidak kesana mas,aku kangen anak-anak dan bu Misca" Michael terdiam,berarti benar,ibu panti itu bernama Misca.


"Sayang,mau kutunjukkan sesuatu?" Shinta mengangguk lalu melepaskan pelukannya saat Mic beringsut menjangkau tas diatas nakas.Dia mengeluarkan foto usang itu dan menunjukkanya pada Shinta.


"Astaga,bukankah ini bu Misca?ini dadymu kan mas?" Mic mengangguk.


"Dia ibu kandungku sayang" Shinta menutup mulutnya yang menganga dengan kedua tangannya.


"Laura sudah merebut dad dari mom"


"Ohh ya Tuhan,pantas saja dia memperhatikanmu saat tau kau Michael maverich."


"Dua puluh lima tahun dad mencarinya hingga menempatkan agen di Indonesia dan ternyata mom bersembunyi di panti dekat rumah kita"


"Bunda memang wanita yang baik mas,dia mengabdikan dirinya pada anak-anak terlantar"


"bunda?"


"hmmm iya.Kami memanggil ibu dengan sebutan itu"


"not too bad,aku suka panggilan itu sayang"


"Dad ingin bertemu dengannya"

__ADS_1


"Berarti kita harus membawanya kesana mas.Sekarang cepetan mandi,kita ketempat bunda secepatnya" Tanpa dikomando Shinta bangkit lalu berlari kecil kekamar mandi.Michael memekik marah agar Shinta hati-hati dengan kandungannya.Tak urung pria itu berjalan menyusul istrinya ke kamar mandi.


Setengah jam kemudian suami istri itu berjalan beriringan menuruni tangga.


"Sayang,tampaknya aku harus menyiapkan kamar dibawah untukmu.Kandunganmu sudah semakin membesar,aku takut kau kecapekan kalau terus-terusan naik turun tangga"


"Sebenarnya aku juga berpikir demikian mas,tapi aku belum minta ijin padamu"


"Untuk apa meminta ijinku sayang?ini rumahmu.Kau berhak melakukan apapun disini" ujar Mic sambil menangkupkan kedua tangan besarnya pada pipi Shinta.Istri cantiknya terkekeh pelan.


"Ayo berangkat,sebelum kau khilaf lagi mas" Shinta mencubit pinggang Mic lalu menggandeng tangannya.


Sekretaris Nico baru saja menghabiskan air minumnya saat dua majikannya datang.Dia langsung berdiri dan menundukkan kepala sebentar.


"Ayo kita berangkat Nic"


"kemana tuan muda?"


"Panti asuhan"


"baik tuan" Nico langsung keluar tanpa bertanya secara detail panti asuhan mana yang akan dituju.Untuk apa bertanya,sendangkan dia cuma akan duduk manis disamping sopir pribadi Michael.Dia hanya perlu mengawal tuan mudanya kemanapun pergi.


Jarak kediaman Maverich dan pantu asuhan hanya dua kilometeran.Shinta bahkan pernah kesana dengan jalan kaki bersama Ayya.Ah..Ayya..dimana sekarang sahabatnya itu berada?


Mobil memasuki area panti dan disambut pengurus panti dan anak balita yang asyik bermain dihalaman.Mereka menghambur ke pelukan Shinta.Sang nyonya muda dengan ramah membalas pelukan anak-anak tidak beruntung itu dan menciumnya satu persatu.Michael tidak berkedip menatap istrinya.Kenapa sekarang istrinya terlihat lebih cantik?bahkan berpuluh kali lipat dari biasanya.


Shinta dan Michael dibawa masuk oleh seorang pengurus panti untuk menemui bu Misca didalam.Wanita paruh baya itu masih terlihat cantik diusia senjanya.Rambut hitam legamnya sudah bercampur dengan sulur-sulur uban yang memutih disanggul rapi keatas.Bibir wanita itu tersenyum ramah pada mereka.


"owh...kalian datang lagi tuan muda,nona Shinta.Kalau tidak salah apa kau mengandung nona?" pertanyaan ibu Misca tidak dijawab.Dada Michael turyn naik menahan perasaan yang membuncah.Ibunya wanita yang sangat ramah dan baik hati,berbanding terbalik dari Laura yang urakan dan suka menghambur-hamburkan uang.Bagaimana bisa dadynya lebih memilih Laura sedangkan ibunya juga wanita yang cantik dan bersahaja?


"Tuan,nona...apa kalian baik-baik saja?duduklah.Aku akan membuatkan kalian..."


"Bunda..." Suara Michael bergetar.Ibu Misca yang mendengarnya tersentak dan berdiri kaku ditempatnya.Sudut matanya berair.Michael bergerak mendekat dan memeluk wanita itu dengan penuh kerinduan.


"Bunda,aku Mic putramu" air mata membasahi pipi keduanya.Bu Misca tetap tidak berkata apa-apa.


"Kenapa bunda diam?"


Tangan bu Misca yang bergetar hebat terulur kedepan membelai rambut putranya.Michael menutup matanya menikmati setiap sentuhan wanita itu.

__ADS_1


"Mic,segeralah pergi dari sini.Anggaplah kau tidak pernah bertemu denganku" suara lembut bu Misca yang lembut sontak membuat Mic melepaskan pelukannya dan menatap penuh tanda tanya pada sang ibu.


"kenapa?apa bunda tidak menyayangi aku dan Steve?kenapa bunda menyuruhku pergi?" raur kecewa terpampang jelas diwajah garang Michael.Bu Misca menggeleng pelan.


"Ini juga untuk kebaikanmu dan calon cucuku Mic,aku tidak ingin kalian terluka"


"apa maksut bunda?apa ini ada hubungannya dengan dad?atau Laura?bicaralah padaku bunda.Putramu ini sekarang bukan lagi anak kecil yang harus kau lindungi"


"Aku selalu mengawasi kalian selama di Amerika Mic,juga setelah kau dan Steve pindah kemari.Aku selalu ingin memperhatikan kalian dari jauh.Wanita itu terlalu berbahaya untuk kalian." ujar bu Misca sambil menahan tangisnya.


"Akan kupatahkan tulangnya kalau dia berani menyakitimu bunda" desis Michael berapi-api.bu Misca mendekati Shinta dan mengusap-usap perutnya.


"Berapa usia kandunganmu sayang?"


"hampir tujuh bulan bunda" Misca lalu memeluk Shinta erat.


"Dad ingin bertemu denganmu" ujar Michael pelan sambil merengkuh bahu ibundanya.


"Tuan Abraham sudah bahagia dengan dunianya." Misca terkesan menghindar.


"Dad baru saja melewati masa kritisnya bun,dia ingin bertemu dan minta maaf pada bunda" Misca tetap diam.


"Maaf Mic,aku tidak bisa"


"apa bunda terlalu sakit hati dengan dad?"


"bukan Mic,bunda sudah memaafkan tuan Abraham dari dulu"


"lalu apa lagi masalahnya bunda?


Misca terdiam dan duduk terhenyak dikursinya.Wanita itu mengambil nafas panjang untuk menata hatinya.


" Terlalu banyak yang sudah terjadi Mic,akan banyak kenangan yang sudah bunda pendam akan muncul kembali"


"Apa bunda masih mencintai dad?" Misca tersenyum getir.


"Semua sudah berlalu Mic"


"Setidaknya tolong temui dad bunda." Misca tetap diam hingga Shinta berlutut dikakinya.Michael kaget dengan reaksi istrinya,sedangkan Misca langsung menarik dirinya.Tangan keriputnya mengajak Shinta bangun.

__ADS_1


"Kumohon temuilah dad bunda...demi bayi yang ada diperutku,demi calon cucumu.Aku mohon temui dad walau sekali saja." isakan Shinta bertambah kencang hingga tubuhnya berguncang.


__ADS_2