
Bulan demi bulan berlalu.Usia kehamilan Shinta dan Stephanie sudah memasuki bulan kesembilan.Lihatlah Willy yang sudah mempersiapkan fisik dan mentalnya untuk menyambut kelahiran calon bayinya yang diprediksi perempuan,sama dengan calon bayi Shinta dan Michael yang menurut hasil USG juga perempuan.
Yang paling berbahagia melebihi mereka berdua adalah Abraham dan Misca.Mereka akan langsung mendapatkan dua cucu dalam waktu hampir bersamaan.Jenis kelamin yang sama dan harapan besar keduanya untuk mendandani cucu-cucu kecilnya dengan berbagai aksesoris dan gaun-gaun lucu dan mahal.Sejenak mereka melupakan baku hantam berebut baby El dengan Michael yang sangat posesif pada putra semata wayangnya itu.
Shinta tertatih berjalan keluar dari kamarnya menuju dapur.Sejak hamil tua kamarnya memang berpindah ke lantai bawah.Michael melarangnya naik turun tangga karena khawatir pada keadaan Shinta.Para asisten rumah tangga selalu siaga tiap detik saat Mic pergi bekerja.Shinta tidak diijinkan sendirian,belum lagi kamera cctv yang dipasang Mic ditiap sudut rumah dan terhubung dengan ponselnya agar sang tuan muda bisa memantau istri dan anaknya setiap saat.
Sabtu yang cerah,Shinta meneguk air putih dari gelasnya.Ia sangat kehausan dan selalu cepat lelah akhir-akhir ini.Dia Berdiri di depan jendela besar yang menghadap ke taman belakang yang sangat luas.Disana Mic sedang asyik bermain kejar-kejaran dengan El yang berlari sangat lincah dan gesit.Tawa mereka berderai.Sang bocah yang melirik kearah jendela segera melambaikan tangannya dan berteriak nyaring.
"mooommyyy!!" Shinta membalas lambaian tangan putranya dan tertawa lebar.Dia meletakkan gelasnya lalu menyusul suami dan putranya ke taman.Sudah hampir sebulan Mic memang tidak pernah masuk kerja dihari minggu.Saat tiba ditangga terakhir menuju halaman,perutnya tiba-tiba terasa mulas dan sakit.Dahinya mengerenyit menahan sakit.Keringat dingin seketika membasahi tubuhnya.
"mm...mma..masss." teriaknya.Mic sangat terkejut melihat Shinta yang hampir jatuh.Sekuat tenaga dia berlari dan menangkap tubuh istrinya.Dibelakangnya,El mengikuti dengan gerakan lambat.
"Sayang kau kenapa?" tanyanya panik.
"sakit mas...mungkin sudah waktunya lahiran." rintih Shinta.Seketika Mic berteriak kencang hingga seisi rumah besar itu dibuat gugup dan gaduh.
"Siapkan mobil.Cepat!!"
"baik tuan muda." jawab seorang bodyguard bertubuh tinggi besar di dekatnya.Mic terus saja berteriak dan marah-marah pada semua orang hingga Nico datang dan akan membantunya mengangkat Shinta.
"Kau..apa yang ingin kau lakukan Nic?berhenti!jangan sentuh istriku!" bentaknya posesif.Nico mundur selangkah lalu kembali berdiri.
__ADS_1
"Tuan muda,nyonya dalam kondisi akan melahirkan.Jika anda membopongnya,itu hanya akan menekan perut dan calon bayi anda." ujarnya sopan.Mic mendelik marah.
'"kau tau apa soal bayi dan ibu hamil.Kau bahkan belum punya anak Nic."
"ya sudah,terserah tuan muda saja.Mobil sudah siap.Silahkan anda bawa nyonya naik." pungkas Nico setelahnya.Tidak ad gunanya berdebat dengan sang tuan muda.Orang jeniuspun akan menjadi bodoh jika diserang rasa posesif seperti tuannya.
Mic mengangkat Shinta berlahan lalu berjalan menuju mobil yang memang diparkir didekatnya atas perintah Nico.Tangan kekarnya terlihat bergetar saat sesuatu membasahi tangannya.
"Ya Tuhan...ketubanmu sudah pecah sayang." jeritnya kembali panik.Shinta tidak menjawab.Rasa sakit itu berusaha dia tahan mati-matian.Dia tau akibatnya kalau sampai Mic tau.Jangankan para bodyguard dan pelayan,Sekretaris Nicopun bisa terkena imbas kemarahan suaminya.
Nico hanya menggelengkan kepalanya saat menutup pintu belakang tempat Mic memangku istrinya.Selanjutnya dia duduk disisi sopir dan memerintahkan mobil melaju dengan kecepatan sedang saja.Dia juga memberi kode pada sopir agar mengabaikan omelan dan teriakan Mic yang terus menggema tiada henti.Baginya,menjaga keselamatan majikannya lebih penting dari kegugupan Michael yang terasa di dramatisir.
"Nic,kau ingin anakku lahir dijalan?kenapa mobil ini malah makin lambat?" sentak Mic geram sambil menendang kursi depan.Tubuh Shinta jadi ikut berguncang karenanya.
Shinta sudah dibawa masuk ke kamar bersalin bersama Mic yang terus memaksa masuk walau sudah dilarang.Dia begitu ketakutan saat Shinta menjerit keras untuk pertama kalinya setelah tiba dirumah sakit.Dia sangat takut terjadi sesuatu pada istri tersayangnya.
Sedikit lega,Nico mengambil duduk di deratan bangku didepan kamar bersalin.Sekretaris tampan itu merapikan rambutnya yang berantakan sambil menyilangkan kakinya saat dari kejauhan kericuhan kembali terjadi.Dia menoleh,sesosok tampan berlari sambil ikut mendorong brankar ibu hamil.Mata Nico melotot begitu tau Willy yang datang.Dia segera berdiri tapi Willy mengacuhkannya sambil terus menenangkan Stephanie.Willy menghentikan langkahnya saat dokter menyuruhnya menunggu diluar.Dia menurut,kebalikan dari Mic yang terus memaksa masuk.
"Kau,kenapa kau ada disini?beraninya kau tidak menyapaku sekretaris bodoh!" hardik Willy begitu Nico duduk disampingnya.
"aku sudah menyapamu,tapi kau tidak fokus."
__ADS_1
"Kau ini..apa istrimu melahirkan?atau ikut bertugas di dalam?aahh...aku lupa istrimu spesialis kandungan.Berarti dia di dalamkan?" Nico bergidik lemah.Dia memang tidak tau jadwal Erika.Kegugupan Michael membuatnya ikut larut dan lupa akan Erika.
Dari kejauhan sesosok mungil berjas putih setengah berlari ke kamar bersalin.Dua orang perawat mengiringinya.Kedua pria tampan itu serempak berdiri.
"Erika." kata keduanya bersamaan.
"Kalian?"
"kau..kau mau membantu persalinan Steve?" tanya Willy tidak sabar.
"iya.Bidan jaga bilang pasien mengalami preeklamsia dan membutuhkan penanganan ekstra." jawab Erika.Tiba-tiba Willy menggenggam tangan Erika erat dan memasang wajah melas.
"Erika,tolong ijinkan aku masuk Steve membutuhkan aku." ujarnya memohon.Erika yang kikuk menatap suaminya yang balik menatapnya dingin.Nico mencengkeram bahu Willy dan melepaskan gengaman tangannya paksa.Willy sampai bersungut marah karenanya.Sekretaris itu selalu menggagalkan moment melas yang dibangunnya.
"Jangan menyentuh istri orang seenaknya tuan muda baru!" sergahnya sambil berdecih sebal.
"Sudah jangan bertengkar.Mas,kak Willy sedang sangat cemas.Kau harus memakluminya."
"tapi dia...."
"hey bodoh.Aku menyumpahimu akan kalang kabut hingga terkencing dicelana saat istrimu melahirkan nanti!" tukasnya masih diselimuti emosi.Nico menyeringai.
__ADS_1
"Maafkan aku mas,kumohon jangan marah ya.Kak,ayo masuk." putus Erika kemudian.Willy melonjak girang,spontan memeluk Nico senang,namun ditepis sekretaris dingin itu.Willy tidak ambil pusing,yang penting dia bisa masuk dan menemani istrinya.Menyaksikan bayinya lahir ke dunia.