
Dokter Erika baru saja menyelesaikan pemeriksaan saat Nico memasuki kamar Michael.Sekretaris tampan berwajah datar mirip sang tuan itu berdiri di dekat pintu.
"Bagaimana keadaan istri saya dokter?"
"shock berat tuan.Sebaiknya anda tidak membuat ibu hamil dalam kondisi demikian untuk kesehatan janin.Buat dia relaks dan bahagia".
" kapan dia sadar?"
"mungkin beberapa menit lagi tuan.Ini resepnya".Nico maju untuk menerima kertas itu,matanya menatap tajam pada kancing atas kemeja Erika yang lepas.
" Rapikan baju anda dokter.Anda tidak tau berapa banyak pria yang akan tergoda nantinya" bisiknya sambil mendekatkan wajah pada sang dokter.Erika menunduk dan tersenyum malu.
"Terimakasih pak"
"apa saya terlihat seperti bapak-bapak?"
"ohh ehh...maaf,terimakasih mas" sahut dokter muda itu salah tingkah.Michael yang mendengar percakapan itu menegakkan kepalanya.Mudah sekali Nico yang dingin itu membuat dokter yang baru dikenalnya memangil dirinya dengan sebutan yang sangat ingin dia dengar dari mulut istrinya.Bahkan sekretaris kaku itu menang satu langkah darinya.Ahh...bodoh...bodoh!
"Jika anda tidak keberatan,saya bisa mengantar anda pulang sambil menebus obat nyonya" tawar Nico masih dengan sikap formal dan wajah dinginnya.
"Kalau mas Nico tidak sibuk,soalnya rumah saya agak jauh dari sini"
"tentu saja tidak dokter,ini sudah larut untuk anda pulang sendiri" Erika menganggukkan kepalanya,merapikan peralatannya lalu berdiri berpamitan.
"baiklah...saya permisi tuan" Michael masih diam tak merespon.Dia masih sibuk dengan alam pikirannya sendiri.
"Nic,jangan lupa menebus obat istriku.Jika kau terlalu lama,maka tiket ke singapuramu masih berlaku esok hari"
"baik tuan,saya permisi" Nico tersenyum miring lalu menutup pintu.
"sial...siaalll!! kenapa aku kalah dari Nico?apa hebatnya dia?aku bahkan lebih kaya dan tampan dari dia.Tapi dia sudah dipanggil 'mas' dengan amat mudah." Michael yang haus menuju kedapur untuk mengambil minuman.
Sesaat kemudian Shinta siuman.Dia menoleh kesisi ranjang,lalu meneliti seluruh kamar.Sepi.Ingatannya langsung berputar pada kejadian satu jam lalu.
"ohhh..tuan...tuan Michael" Shinta berteriak.Tidak ada jawaban.Tertatih dia berjalan membuka pintu,memegangi kepalanya yang masih pusing.
Apa Mic sudah pergi?kenapa rumah sepi sekali?Mic...tolong jangan pergi
Tubuh Shinta terhuyung mendekati pintu utama,sepi.Mobil Mic juga tidak ada.Demikian juga Nico dan dua bodyguard yang biasanya ada didepan pintu.Semuanya hilang.Hatinya hancur seketika,tubuhnya melorot jatuh kelantai.Kembali terisak dalam sunyi.
"tuuaaaaannnnnn!!!" teriakan keras Shinta membuat gelas dalam genggaman Mic hampir lepas.Dia berlari kesumber suara,demikian juga satpam yang menjaga gerbang.Mereka berlarian kepintu utama.
"Sayang,kenapa kau disini?" teriak Michael lalu meraih tubuh istrinya,membawanya ke sofa terdekat.Dia memberi isyarat agar dua penjaga kembali ketempatnya.
__ADS_1
"tu...tuan...kau...masih disini?kumohon jangan pergi!" isak Shinta tertahan.Dibenamkannya wajah ayunya di dada Michael.Tangan kekar itu membelai rambutnya lembut.
"Jangan berbuat bodoh lagi Shinta" bisiknya lirih.Shinta mengangguk samar.Bik Sum datang dengan segelas teh hangat lalu menyerahkannya pada Michael.
"Minumlah" Mic menyodorkan gelas itu pada Shinta yang masih berada dalam pelukannya.Shinta meminum setengahnya lalu berniat turun.Mic mencegahnya.
"maafkan aku"
"untuk apa minta maaf?kau tidak bersalah Shinta" Bibir Shinta kelu.Dia tidak tau harus bicara apa.Dia hanya gadis polos yang tidak pernah pacaran atau berhubungan dekat dengan laki-laki selain ayah dan adiknya.
"Apa aku salah jika aku tetap meminta suamiku tinggal?"
"tidak"
"tolong tinggalah bersamaku.Jika kau ingin pergi,maka bawalah aku ikut serta denganmu,aku tidak bisa tanpamu"
"Shinta,aku sudah berjanji pada dad untuk ke Amerika secepatnya"
"Jika kau tidak menginginkan aku,maka aku yang harus pergi,bukan kau"
"Ini rumahmu Shinta,aku memberikannya untukmu dan anak kita"
"Aku tidak butuh rumah ini.Tolong pulangkan aku pada ayah"
"Baiklah,terserah kau saja tuan".Shinta melepaskan dirinya lalu tertatih menuju kamarnya.Michael mengikutinya dari belakang karena takut Shinta terjatuh.
" Sebaiknya kau istirahat" kata Michael sambil menyelimuti tubuh Shinta.
"Baik tuan"
"Berhenti memanggilku tuan Shinta!aku suamimu,bukan majikanmu lagi!" Michael menatap tajam dengan mata berkilat marah.Dicengkeramnya dagu Shinta kasar lalu dipaksanya menatap dirinya.
"Apa kau benar-benar membenciku hingga tidak bisa memanggil namaku?Aku hanya ingin kau memanggilku seperti orang lain memanggil suaminya.Apa itu juga terlalu menjijikkan bagimu?"
Shinta terdiam.Michael yang baru tersadar sudah membuat Shinta ketakutan melepaskan cengkeramannya.Pria itu menarik nafas dalam.
"maafkan aku" tukasnya.Shinta menahan tangannya yang hendak beranjak lalu memeluk pria itu kuat,memegang rahang kokohnya dan mencium bibirnya dengan cepat.Michael terkejut menerima perlakuan istrinya yang tiba-tiba.Spontan dia meraih tengkuk Shinta dan memperdalam ciuman itu hingga keduanya kehabisan nafas.
"ehm...ehm maaf tuan" Michael mengeram marah lalu menoleh kepintu.
"apa kau tidak bisa mengetuk pintu dulu Nic" geramnya dengan tatapan membunuh.
"Anda lupa mengunci pintunya tuan.Ini obat nyonya"
__ADS_1
"Letakkan dimeja dan pergilah!"
huh,tau begini aku juga tidak akan kemari tuan.Aku datang salah,tidak datang juga salah.Apa kau pikir aku tidak terkejut?kau menodai mata perjakaku dengan ciuman panasmu yang no sensor
"Saya permisi tuan,jangan lupa menutup pintu kamar anda"
"kau yang harus menutupnya sekretaris bodoh!" Nico menahan tawa karena telah berhasil mengerjai tuannya.
"bilang pada bik Sum agar mengantar makanan kesini"
"baik tuan" Sekretaris tampan itu segera menghilang dibalik pintu.Michael mengelus perut Shinta lembut.
Bik sum membawa nampan berisi makanan dan air putih untuk Shinta.Michael menerimanya,menyuapi Shinta dengan telaten.
"Sedikit lagi Ta" bujuknya dengan suara halus
"Mas,aku sudah kenyang" ujar Shinta sambil cemberut.Michael menghentikan suapannya.Menatap Shinta lekat hingga wanita itu gugup.
"kau..kau kenapa mas?a...ada yang salah?" Shinta mengibas-ngibaskan tangannya didepan wajah Mic yang masih menatap aneh padanya.
"mas...kau baik-baik saja? Secepat kilat tangan kekar Mic menangkap tangan kecil Shinta,menarik wanita itu dalam pelukannya dan ******* bibir istrinya.
" Aku bahagia kau memanggilku begitu sayang".Bisik Mic tepat diatas bibir Shinta,lalu melanjutkan ciuman panasnya.Tangannya menyusup masuk didalam piyama Shinta,meraba dadanya yang padat dan memilin putingnya kasar.Satu desahan lolos dari bibir Shinta.
"Sayang,aku ingin hakku malam ini" Shinta hanya diam,namun tangannya bergerak membuka kancing kemeja Mic dan membelai dada bidang suami tampannya.Mic mengerang keras,lalu menindih tubuh wanitanya.
"Mas,hati-hati...ada anak kita" bisik Shinta mengingatkan,tapi terdengar sensual ditelinga Michael yang berada dipuncak hasrat.Dikecupnya leher jenjang Shinta kuat,meninggalkan jejak kemerahan yang bertambah lagi dan lagi.
Desahan dan erangan terdengar silih berganti mengikuti tiap gerakan sepasang anak manusia yang menuntaskan gairah hingga mereka sampai kepuncaknya lalu terkulai lemas tak berdaya.Shinta berbaring menyamping,memeluk Michael yang mengatur nafasnya.tangannya menyentuh dada Mic yang turun naik selepas orgasme dahsyatnya.Mic mengecup pucuk kepalanya penuh kasih sayang.
"Terimakasih sayang" ucapnya tulus.Shinta mengangguk.
"Mas,jangan tinggalkan aku"
"Apa aku pernah berkata akan meninggalkanmu?"
"Tapi besok kau......" Michael mengecup bibir Shinta sekilas.
"Besok aku harus mewakili dad untuk meeting penting sayang.Apa kau mau ikut?"
"Mas,aku tidak bisa melihatmu bolak balik Surabaya-Singapura terus menerus."
"Lalu?kau mau kembali ke kediaman Maverich?"
__ADS_1
"Aku akan ikut kemanapun kau pergi" Michael tersenyum lebar dan memeluk istrinya erat.