
Willy menuju meja khusus yang dipesan untuknya.Latanza hotel dan resto memang selalu ramai pengunjung.Disana,dimeja yang dia tuju,sekretaris Nico duduk menunggunya.
"Kau sudah lama man?" tanya Nico begitu pantatnya menyentuh kursi empuk di depan Nico.Seorang pelayan datang,membungkuk hormat lalu menyerahkan daftar menu.
"Berikan aku steak sapi dan capucino hangat." pesan Willy,dia menoleh pada Nico yang masih terus diam.
"Kau ingin sesuatu?"
"Bawakan aku kopi tanpa gula." pesan Nico kemudian.Pelayan itu menulis pesanan lalu berlalu pergi.Nico menatap Nico dalam.Dia tau saat ini sahabatnya itu sedang tidak baik-baik saja.Saat Nico memesan kopi tanpa gula,itu adalah saat dimana sekretaris itu melawan beban berat dalam pikirannya.Stress level dewa.
"Apa yang terjadi?" tanya tuan muda baru itu tanpa basa-basi.Nico tetap diam hingga pelayan datang dan meletakkan pesanan mereka di meja.Willy meraih steaknya lalu mengunyahnya.Dia sudah sangat hafal perangai Nico.Pria itu tidak akan menceritakan apapun sebelum hatinya benar-benar merasa siap.Jadi untuk apa menunggunya?bukankah lebih baik dia mengisi perut sambil menunggu sekretaris kaku itu bercerita.
"Aq pergi dari rumah." akhirnya Nico membuka mulutnya untuk bicara tepat saat Willy meletakkan garpu ditangannya dan menyudahi acara makannya.
"Jangan seperti anak kecil." balas Willy.
"Erika tidak mau rujuk denganku."
"buat dia mau bodoh!" sentak Willy kesal.Orang pintarpun akan jadi bodoh saat jatuh cinta dan patah hati.Dia begitu heran,kenapa saat Nico jatuh cinta,perangai bapernya melebihi dirinya dan Michael?Dia juga gampang ngambek,putus asa dan rapuh,berbeda dengan Nicholas yang biasanya perfect.Dalam hati Willy memuji keputusan Michael untuk memberi Nico cuti.Bisa hancur Luxio jika berada dalam kendali sekretaris ini dengan mode patah hati akutnya.
"aku sudah tidak punya cara membujuknya." keluh Nico kesal lalu menyesap kopi pahitnya.
"lalu apa rencanamu?"
"Aku akan pulang ke apartemen."
"tinggal bersama Aira?"
__ADS_1
"Aira sudah pindah ke apartemen barunya.Aku tidak ingin libur lagi Will.Diam hanya akan membuatku terlihat menyedihkan.Besok aku akan mulai bekerja kembali."
"Itu terserah padamu man.Kau bisa masuk kapanpun kau mau."
"terimakasih." Willy tersenyum.
"Saranku..jangan meninggalkan Erika sendirian dirumah Nic.Pulanglah.Tidak baik membawa pertengkaran kalian keluar rumah.Biarkan waktu yang menyelesaikan masalah kalian." kata Willy sambil meminum capucino hangatnya.Nico terpekur sesaat.Hanya Willy yang menjadi tempat curhat baginya.Dia tidak bisa berbagi dengan siapapun.
"Baiklah.Terimakasih sudah menemaniku Will.Mari pulang." ajaknya,seraya berdiri.
"Harus berapa kali kuingatkan jika kita ini saudara Nic.Kau bisa memanggil aku kapan saja saat kau butuh teman."
"Aku tidak akan lupa." sahutnya singkat.
"Baguslah." lalu keduanya berjalan beriringan keluar dari resto itu,tanpa mempedulikan pandangan orang-orang yang mengagumi ketampanan mereka.Ada juga yang langsung memberi hormat saat tau keduanya adalah tangan kanan keluarga Maverich.Mereka berpisah diparkiran menuju rumah masing-masing.
"Erika,kenapa di tidur disini?" gumam Nico lalu menghampirinya.Dia tersentak ketika melihat wajah Erika yang pucat dan bibir membiru,kedinginan.Istrinya itu hanya memakai baju tipis saat tadi dia meninggalkannya sendiri,tidak juga memakai alas kaki.
"Erika..bangun." bisiknya lirih sambil mengguncang tubuh istrinya.Erika membuka matanya sayu lalu menutupnya kembali.pingsan.
"pelayan!" teriak Nico keras hingga seluruh penghuni rumah itu berlarian masuk kedalam lalu berjajar rapi menudukkan kepala.
"Kenapa istri saya seperti ini?" tanya Nico dengan ketus dan aura dingin.
"nyonya..dia..."
"bicara yang benar!" lagi-lagi Nico meluapkan amarahnya.
__ADS_1
"nyonya tidak makan dari tadi siang tuan.Kami sudah memperingatkan nyonya,tapi dia menyuruh kami pergi." jawab bibi Lun gugup.
"panggil dokter!" perintah Nico tidak sabaran.Dia bergegas mengangat tubuh mungil Erika kekamarnya.Sepanjang jalan,ditatapnya wajah pucat itu dengan hati tidak karuan.Bagaimana jika hari ini dia tidak pulangn ke rumah dan kembali ke apartemennya?siapa yang akan menolong Erika?dadanya berkecamuk.
Nico membaringkan tubuh Erika lalu menyelimutinya.Dia juga masuk kamar mandi untuk mandi kilat sebelum dokter yang memeriksa Erika datang.Tak ayal,mandinya seolah bebek yang hanya kercelup air saja,namun Nico sudah merasa segar.Pria tampan itu meraih bathrope lalu mengenakannya.Dia juga meraih handuk kecil untuk mengeringkan rambut basahnya.
Bersamaan dengan Nico yang keluar dari kamar mandi,suara ketukan dipintu terdengar.
"masuk!" Bibi Lun membuka pintu dan mengantarkan dokter masuk.Pria itu memberi salam lalu memeriksa Erika yang berlahan mendapati kesadarannnya.
"Bagaimana keadaan istri saya dok?" tanya Nico yang berdiri tidak jauh dari sana.Istri??hati Erika terasa sejuk saat itu.Disana,Nico berdiri menatapnya dengan raut wajah khawatir dan terlihat panik.Hilang sudah Nicholas yang angkuh dan dingin.Yang berdiri di depannya itu adalah pria yang hangat dan terlihat memperhatikan dirinya.Tapi benarkah yang dia lihat sekarang?apa Nico sedang beracting di depan orang lain agar hubungan mereka terlihat baik-baik saja?
"Asam lambung nyonya naik tuan,dia sering telat makan.Mulai sekarang harap tuan lebih memperhatikan pola makan nyonya.Jangan makan terlalu....ups...saya lupa jika anda juga seorang dokter nyonya.Anda pasti juga tau apa yang boleh dan tidak boleh anda makan." kata dokter itu sambil tersenyum lucu.Dia menuliskan resep pada selembar kertas lalu menyerahkannya pada Nico.
"pastikan nyonya makan teratur dan meminum obatnya sesuai aturan tuan."
"tunggu dokter!katakan apa saja yang tidak boleh dimakan oleh istri saya."
"anda bisa lansung menanyakannya pada istri anda kan tuan.Dokter Erika juga senior saya." kata dokter tampan itu sambil kembali tersenyum jenaka.
"Tapi kau dokternya,aku membayarmu untuk memeriksa dan memberitahuku bagaiaman keadaan istriku.Bagaimana aku akan menjaganya kalau aku saja tidak tau apa yang boleh dan tidak boleh dia makan?" sungut Nico geram.Dia mendekati dokter itu.Erika yang melihat Nico mulai emosi berlahan menegakkan tubuhnya.
"mas...sudahlah.Dia hanya bercanda.Dia sudah biasa menuliskan pantangan pasien di belakang resepnya.Mas bisa baca disana." kata Erika dengan suara serak.Nico terkesiap.Mas?Erika memanggilnya begitu?bukan tuan lagi?Ahh....hatinya berbunga.
"sa..sayang...kau..."
"saya permisi tuan Nico." kata dokter itu,namun tidak dihiraukan karena fokus Nico tetap pada Erika.Dokter itu menatap Erika yang memberinya isyarat dan ungkapan terimakasih.Dia kembali tersenyum riang.
__ADS_1
"sampai jumpa kembali di rumah sakit dokter Erika.Semoga kau lekas sembuh." katanya lalu menutup pintu kamar itu.