
Stephanie yang sangat menyukai film bergenre horor segera berlari keloket utama.Shinta hanya geleng-geleng kepala.Ini bukan pertama kalinya dia mengantar Stephanie nonton.Ia bahkan hafal kalau Stephanie juga suka menonton film sesuai moodnya walau nanti juga balik ke horor lagi.Terakhir saat sedih,dia malah mengajak nonton film bolywood yang menguras air mata.Alhasil keduanya keluar dari situ dengan mata bengkak.
"kak,ayo kita masuk" Tanpa menghiraukan Willy ,Stephanie menarik lengan Shinta.Digelandang secara spontan membuat dia kaget.Namun ekor matanya masih menangkap bayangan Willy yang diam terpaku ditempatnya.Shinta bukan tidak tau kalau Willy menyimpan hati pada Stephanie.Tapi dia mencoba menghargai perasaan sang asisten.Dari tatapan matanya saja Shinta sudah tau perasaan Willy pada Stephanie.Mungkin gadis itu saja yang tidak peka,atau Willy yang terlalu takut melangkah.
"Mari masuk asisten Willy" ajak Shinta setengah berteriak.Sekarang dia sudah harus berdamai dengan Willy,karena dia tau pria itu juga sudah membuka diri padanya.Willy melangkah tegap mengikuti mereka.Seluruh gadis yang berpapasan dengan mereka memekik girang kearah Willy.Bahkan ada yang nekat minta foto selfi.Willy memang sangat menarik.Ia tidak kalah tampan dari Michael dan Nico yang berdarah blasteran barat.
"cih,seperti artis saja" ejek Stephanie memandang jijik pada para gadis yang sibuk menggoda Willy.Raut oriental yang mendominasi wajahnya memang cenderung manis untuk dilihat.Kaca mata hitam khas para bodyguard sudah nangkring manis diwajahnya,menambah nilai plus pada ketampananya.Shinta hanya terkekeh geli menanggapi Stephanie.
"jangan begitu Fan,ntar kamu jatuh cinta pada Willy,tau rasa kau nanti" ejek Shinta sambil melirik jenaka.
"iidiihh...ya nggak mungkinlah kak.Kalau mau jatuh cinta,pasti dari dulu kulakukan.orang kami tumbuh besar bersama"
"hey...Cinta bisa datang kapan saja nona muda" kilah Shinta.
"lihat yang begitu saja sudah nggak karuan,bagaimana kalau lihat kak Michael.ehh kak,kau harus ekstra hati-hati menjaga suamimu.Lihat,diluar sana banyal wanita keganjenan yang tidak punya malu mengejar para lelaki" gerutu Stephanie kesal.
__ADS_1
"mana ada gadis yang berani mendekati kakakmu Fan,dia sangat dingin dan kaku"
"iya memang sih....dari kecil dia cuma punya satu teman perempuan.Itupun karena masih sepupu kami"
Shinta sengaja duduk duluan disamping dua gadis remaja disusul Stephanie dan asisten Willy.Dalam hati Willy sangat berterimakasih pada Shinta yang lagi-lagi menolongnya dengan memberikan kesempatan dalam moment seperti itu.Selama ini dia salah telah menganggap Shinta gadis arogan dan suka menggunting dalam lipatan.Ternyata,wanita yang kini menjadi istri bosnya itu adalah gadis yang lembut,penuh pengertian dan baik hati.
Film dimulai dengan adegan pembunuhan dengan teriakan menyayat hati.Shinta cuek saja karena dari awal memang tidak suka genre horor.Ia sibuk membalas chat dari Michael yang terus menanyakan keberadaanya.Benar-benar pria over protective tapi seperti bayi dimalam hari.Shinta sedikit tertawa saat ingat kelakuan manja Michael.Entah berapa lama film diputar,Shinta sama sekali tidak fokus.Anehnya dia melihat dua gadis dan ibu-ibu didekatnya sudah hilang entah kemana.
'ahh..pasti mereka takut sepertiku' batin Shinta geli.
'sudah tau penakut,masih saja nekat lihat beginia'
"sa...saayang" bisiknya lirih.Dia kaget karena tidak melihat kedatangan Michael yang langsung memeluknya hangat,membenamkan kepala Shinta didadanya yang bidang dan mengecup pucuk kepalanya dengan rasa sayang.Shinta membalas pelukan itu.Ia sangat bahagia karena kedatangan suaminya disaat seperti itu.
a
__ADS_1
Lain halnya Stephanie.Gadis keras kepala itu langsung menjerit histeris dan spontan menyembunyikan wajahnya dilengan Willy,mencengkeram kuat hingga Willy hampir berteriak juga karena kesakitan.Namun tak urung dia tersenyum karena tingkah Stephanie.Saat melirik kesamping,dia melihat Michael yang memeluk erat Shinta dan fokus pada istrinya itu.
Memberanikan diri Willy membuka tangannya dan membawa Stephanie dalam pelukannya.Gadis itu masih fokus pada filmnya hingga tidak menyadari gerakan Willy,Merasa tidak ada penolakan Willy menyandarkan kepala Stephanie didadanya.Gadis itu sangat ketakutan,mirip Shinta tapi masih sok-sokan nekat melihat genre horor.Tangannya melingkar posesif diperut Willy.Pria itu menyodorkan botol minuman yang dia beli diluar.Tanpa ba-bi-bu Stephanie menyambutnya dan menenggak hingga tandas.
Setengah jam kemudian saat Film hampir berakhir,Stephanie baru menyadari kalau sedari tadi dia bersandar didada Willy ,Ia berdehem dan melepaskan pelukannya.Wajahnya merona merah.Sungguh,dia merasakan ketentraman saat bersandar disana.Malu-malu dia mengangakat tubuhnya dan mulai duduk seperti sediakala.Jantungnya berdegup kencang dan tubuhnya sedikit gemetar.
Lampu menyala saat film sudah usai.Stephanie akan beranjak saat melihat Michael yang sudah duduk manis dengan memeluk Shinta.
"kakak!!kapan kau datang?" pekik Stephanie.Michael langsung menempelkan jari tangannya kebibir,isyarat agar Stephanie tidak berisik.Shinta terlelap dengan tenangnya dalam pelukan Michael.Ia sangat kelelahan karena semalam Michael membuatnya olah raga malam tanpa henti.
"kau bisa belanja dengan Willy,aku akan pulang dengan Shinta dan Nico" lalu tanpa berkata lagi Michael berdiri,menggendong tubuh mungil Shinta ala bridestyle keluar.Sekretaris Nico sudah menunggu dipintu dan mengarahkan mereka keluar lewat pintu belakang.
Stephanie masih bengong sepeninggal Michael dan Shinta.Ia jadi gugup karena peristiwa tadi.Wajahnya masih semerah tomat.Padahal dia bukan lagi gadis polos.Dia sudah dua tahun pacaran dengan Jonathan yang sangat agresif.Tapi entah kenapa,dia merasa sangat aneh saat berdekatan dengan Willy.
"ehhmm...nona,apa anda masih mau berbelanja?" tanya Willy memecahkan suasana kaku diantara mereka.
__ADS_1
"sebaiknya kita pulang saja Asisten Willy" katanya tak kalah formal.Sikap ramah dan cerewetnya sudah hilang.Ia berjalan lebih dahulu,diikuti Willy dibelakangnya.
Sepanjang perjalanan pulang,keduanya membisu,sibuk dengan alam pikirannya masing-masing.Willy sama sekali tidak bisa menyembunyikan rona bahagia dari wajahnya,selalu tersenyum.Kalau saja tidak ada Stephanie disana,mungkin dia sudah tertawa lepas sampai jungkir balik saking bahagianya.Cinta memang aneh.Mungkin benar kata Panglima Tian feng....bahwa cinta,deritanya tiada akhir.