
"Maksud papa apa?" tanya Nico dengan wajah gundah.Sekali ini wajah sang sekretaris berubah tidak jelas.Michael berdehem lalu duduk kembali.Nico yang bermasalah,kenapa mereka bertiga yang diliputi ketegangan?Mereka seolah lupa julukan manusia es yang melekat padanya.
Di seberang sana,dokter Yusuf menghela nafas panjang.Raut mukanya berubah serius dan mendekatkan wajahnya pada kamera ponsel.Tanpa sadar,Nico juga melakukan hal yang sama.Willy yang penasaran memajukan tubuhnya agar bisa mendengar suara mertua sahabatnya dengan jelas tanpa terlewat satu katapun.Hanya Michael yang berusaha tenang walau tatapan matanya tetap terarah pada ponsel Nico.
"Aku tidak mau Erika hidup dengan orang yang tidak mencintainya Nic.Dia putri papa satu-satunya yang masih hidup.Papa ingin dia bahagia." desah Yusuf membuat jantung Nico tersirap.Apa selama ini dia tidak membuat Erika bahagia?
"Apa papa berpikir Erika bisa bahagia jika menjadi ibu sambung Win lee?belum tentu profesor Zao juga mencintainya." balas Nico lemah.Yang dikatakan Nico memang benar adanya.Mereka serupa tapi tidak sama dari segi manapun.Mereka hanya mirip karena kakak beradik dari ayah yang sama,bukan kembar seperti Alicia dan Shania.Profesor Zao juga bukan Adrian yang sangat terobsesi pada almarhumah istrinya,Shania.Dia lebih banyak mengabiskan waktunya untuk sains dan kemanusiaan.
"Setidaknya Erika menghabiskan hidupnya untuk merawat keponakannya Nic.Win lee butuh kasih sayang seorang ibu dan Erika adalah orang yang tepat.Dia tidak akan hidup sia-sia karena masih ada Win lee yang mencintainya." Lidah Nico kelu.Kenapa mertuanya malah mendukung dia berpisah?tidak seperti Pramudya,ayah Shinta yang selalu mendorong Mic tetap bersama putrinya.Ayah macam apa yang tega memisahkan putrinya dari suaminya?pertanyaan itu terus berputar dikepala Nico hingga Willy menendang kakinya.Berharap Nico kembali ke alam nyata lalu melanjukan percakapan itu.
"Tapi saya tidak akan pernah melepaskan Erika,pa!" ujarnya tegas.
"untuk alasan apa Nic?keegoisan?hati putriku bukan sebuah permainan Nic,juga bukan sebuah pelampiasan.Papa menunggu itikad baikmu menceraikan Erika,atau papa yang akan mengambil tindakan sendiri." ucap dokter Yusuf bernada ancaman.Sesaat kemudian pria paruh baya itu seperti tersadar telah berucap terlalu tajam pada menantunya.
"Maafkan papa Nic." katanya kemudian.Kasih sayangnya pada Erika membuat emosinya turun naik dan asal bicara.Yusuf merasa perlu meminta maaf pada Nico.
"Tapi pa..." sela Nico.Tapi Yusuf sudah lebih dulu berkata.
"kita bicara sebagai sesama laki-laki Nic.Sejak awal papa tau kalau kau tidak mencintai Erika,tapi papa pikir setelah kalian bersama,cinta itu bisa tumbuh karena terbiasa.Toh Erika bukan pribadi yang sulit dicintai.Dia gadis yang manis dan patuh.Maafkan papa karena tidak bisa menjadikan putri papa seperti harapanmu.Papa mohon,lepaskan Erika dengan lapang dada agar silaturahmi diantara kita tetap terjaga." Semua terdiam.Kata-kata dokter Yusuf seperti magnet yang menarik hati mereka.Michael sampai teringat akan ayah mertuanya..Pramudya.
"Pa..." suara adzan terdengar saat Nico hendak menjawab lagi.Dokter Yusuf tersenyum padanya.Senyum lebar seorang ayah berjiwa besar.Seorang ayah yang rela melakukan apapun untuk kebahagiaan putrinya.
__ADS_1
"Terimakasih sudah menjaga putri papa selama ini.Setelah ini biarkan papa yang akan menjaga Erika lagi.Papa berjanji akan tetap menjadi ayah bagimu walau nantinya kau dan Erika tidak berjodoh.Papa sudah menganggapmu sebagai anak.Maafkan papa yang terlalu egois demi kebahagiaan Erika." Sambungan telepon terputus setelah Yusuf mengucapkan salam yang tak kunjung dijawab oleh Nico.Sekretaris utama Maverich itu masih tenggelam dalam kepedihan.Ada yang sakit di dadanya,ada yang hilang dihatinya.
"Dokter Yusuf benar Nic,lepaskan Erika." timpal Willy saat suasana menjadi hening.Nico mendongakkan kepalanya.Kilatan tajam terlihat dimatanya.Belum habis rasa kesalnya pada sang mertua,sekarang sahabatnya menyodorkan saran yang sama.
"Kau ikut-ikutan menyuruh aku menceraikan Erika Will?teman macam apa kau ini!" hardiknya kesal.Nico tidak mengira Willy tega berkata begitu padanya.Selama ini dia yang selalu menyemangati mantan asisten itu saat hampir putus asa karena cintanya bertepuk sebelah tangan.Tapi kenapa disaat dia dalam masalah pelik,sahabatnya itu malah mengemukakan ide gila untuknya?
"Nic,sejak awal kau tidak mencintai Erika kan?Akan sulit bagimu untuk bertahan melawan badai dalam rumah tangga kalian.Lihat aku dan Steve! kami saling mencintai tapi juga kerap menentang badai.Saranku...carilah orang yang tepat bagimu,hidup kita masih panjang Nic,sayang kalau dilewatkan dengan orang yang salah.Lepaskan Erika."
"Tidakk!!" pekik Nico.Emosi membuatnya lupa jika Mic ada disana,duduk mengawasi keduanya.Nico menunduk.
"Maafkan saya tuan muda."
"Aku tidak akan pernah melepaskan Erika.Aku yang salah Will,bukan dia.Erikaku tidak pernah berbuat salah." gumamnya namun Willy masih bisa mendengarnya dengan jelas.
"Sampai kapan?" pertanyaan mengambang yang kembali menggelitik hati Nico.
"Sampai Tuhan mengatakan waktunya pulang." suara Nico terdengar letih dan sarat akan kepasrahan.
"Artinya kau lebih baik mati dari pada menceraikan dia?itu yang kau bilang kau tidak mencintai Erika?" pertanyaan memburu Willy begitu mengusik Nico hingga wajahnya merah padam.
"Aku memang tidak mencintainya Will." tegasnya lagi.
__ADS_1
"lalu apa yang kau lakukan sekarang ini man?" lagi,Willy memojokkannya.Mengaduk emosinya hingga dia naik pintam.
"Aku suaminya Will! aku sudah berjanji dihadapan Tuhan untuk selalu menjaga,melindungi dan mencintainya." ketus Nico kemudian.
"Tapi nyatanya kau tidak mencintainya bukan?janjimu sudah gugur man!" ujar Willy tak mau kalah.Dalam hati Nico membenarkan kata-kata sahabatnya itu.Dia juga tidak bisa menerjemahkan perasaannya pada Erika hingga saat ini.
"Tapi sampai kapanpun aku tidak akan pernah melepasnya.Dia milikku Will." kali ini tidak ada tekanan dalam jawaban Nico.Dia lemah.
"Kalau begitu berjuanglah!" sentak Willy lagi.Jemari Nico terkepal.
"itu yang akan kulakukan Will!" kata Nico bersemangat.Mata penuh kemarahannya menjadi cerah.Dia memeluk Willy spontan dengan sangat erat hingga sang mantan asisten sesak nafas dan sulit bergerak.
"Kenapa akhir-akhir ini kau selalu memelukku Nic?Biasanya kau benci jika aku melakukan hal itu padamu.Kau menjijikkan Nic!" tukas Willy sambil menggidikkan bahunya.Nico yang salah tingkah menggaruk kepalanya yang tidak gatal.Dia juga heran,kenapa berubah jadi lelaki lemah saat ini.
"Sejujurnya aku butuh dukunganmu Will." pungkasnya kemudian.Jiwanya terlalu rapuh untuk memutuskan sendiri.Entah apa yang membuatnya seperti sekarang.Selama hidup,belum pernah Nico mengalami kehilangan seperti sekarang.
"Aku pasti akan mendukungmu man!"
"Terimakasih Will.Hanya kau yang selalu ada untukku."
"hey...apa aku pernah lari saat kau ada masalah man?aku bahkan siap melakukan apapun untukmu.Jangan lupa itu!" kata Willy semakin membesarkan hati Nico.
__ADS_1