
Willy menatap Stephanie yang baru selesai menyuapkan bubur terakhirnya pada tuan Abraham.Ia baru mendapat kabar dari Nico bahwa Mic akan kembali kemari bersama nyonya Misca.Dia mengelus janggutnya yang licin bak poselen,mengingat-ingat siapa itu Misca.Lama,hingga dia menyerah lalu membalas pesan Nic untuk menanyakan siapa itu Misca,tapi sekretaris kaku itu tidak merespon.Mungkin dia sudah dalam penerbangan menuju kemari.
"Kenapa kau sangat serius kak?" Stephanie duduk disebelahnya.Desiran aneh menguasai dada asisten itu.Kejadian saat dia tidur dipangkuan Stephanie kemarin kembali berputar diingatannya.Bagaimana dia tidur dengan sangat tenang dalam elusan tangan dan nyamannya pangkuan Stephanie.Pipi asisten gaul itu merona.
.
"kak!"
"ohh...ehh..maaf nona muda.engg...apa nona mengenal orang bernama Misca?"
"Misca??"
"ya"
"dari mana kau tau tentang Misca?"
"Nico baru saja mengirim pesan kalau tuan muda dan nyonya kembali kemari membawa Misca.Siapa itu Misca?"
Stephanie terhenyak.Wajahnya langsung sumringah lalu setengah berlari menuju brankar tempat Tuan Abraham duduk sesudah sarapan tadi.
"Dad,Kak Mic membawa mom pulang" katanya.Abraham tersenyum senang,pria itu bahkan langsung ingin turun dari ranjangnya.
"kau mau kemana dad?"
"Menyambut momymu Steve"
"No.mungkin nanti malam mereka baru samai kemari.Dad istirahat saja dulu agar segera pulih"
__ADS_1
"Aku sudah baikan Steve"
"Dad harus banyak istirahat oke?nanti aku bangunkan kalau misalnya kak Mic datang lebih awal"
Abraham mengangguk bahagia.Binar semangat memenuhi bola mata kebiruannya.Stephanie lalu membantunya berbaring kembali.Lain Abraham,lain pula Willy,asisten itu menggerutu dalam hati.
huh,kenapa tuan muda malah membawa nenek sihir sialan itu kemari.owh..jadi na ma aslinya Misca ya..bukan Laura.Tapi setahuku Misca itu beruang yang baik dan penuh kasih sayang pada Masha.ini malah nenek sihir jahat yang merusak siapa saja.Aku jadi geregetan!
Stephanie kembali duduk manis disofa panjang disamping Willy.Keduanya masih mengamati televisi yang menayangkan film romantis.Saat Willy meraih remote untuk berganti saluran,Stephanie mencegahnya.Willy hanya bisa pasrah karena dia hanya asisten.Berlahan dia mengendurkan tubunya dan kembali duduk bersandar di sofa,mangalihkan pandangannya kebrankar tuan Abraham yang tertidur pulas dibawah pengaruh obat.
Willy mengeser duduknya agak menjauh saat adegan ciuman panas muncul dilayar.Dia merasakan nafasnya berubah jadi pendek-pendek.Stephanie yang merasakan Willy menjauh malah beringsut mendekat,membuat asisten itu gelagapan dan salah tingkah.Mau pindah kesofa lain,takut dikira yang tidak-tidak.Akhirnya dia kembali pasrah saat sudah tersudut di tepi sofa.
Stephanie memepetkan tubuhnya,lalu menyandarkan tubuhnya kedada bidang asisten kakaknya itu.
"Ini yang kau bilang mencintaiku?"
"Apa yang anda lakukan nona?" katanya nyaris terdengar seperti bisikan.Tangan kekarnya menangkap tangan halus Stephanie lalu menempelkannya kedada kirinya.Stephanie bisa merasakan detak jantung Willy yang sangat cepat.
"Kak..."
"aku bukan kakakmu Steve." Hilang sudah bahasa saya anda dan nona muda yang sering dipakainya.Sekarang dia pria normal yang mencintai gadis cantik,Stephanie Maverich.Dia tidak peduli apapun,bahkan jika itu adalah tuan besar Abraham sekalipun.Siapa yang bisa menyalahkan cinta?Dia bahkan bisa datang kapan saja,pada siapa saja dan dimana saja.Dia bahkan sudah belasan tahun menyimpan perasaan itu dalam relung hatinya.Mencintai dari kejauhan.Cinta yang sangat menyakitkan.
Seketika Luka dihatinyapun timbul.Ia ingat perkataan Stephanie tempo hari.Hatinya tersayat pedih.Egonya sebagai laki-laki dipertaruhkan.Diremasnya tangan Stephanie lalu dengan sigap ditepisnya tubuh sang nona muda hingga lepas dari pelukannya.Asisten itu berdiri dengan sigap dan gagah ditepi sofa.
"Jangan berbuat diluar aturan saya dan anda nona.Saya bekerja secara profesional,tolong jaga sikap anda."
"Tapi kau mencintaiku kan kak?"
__ADS_1
"sekarang bukan saatnya bercanda nona"
"kau yang mengatakannya didepan sekretaris Nico dan kak Mic" Stephanie mulai histeris namun masih mengontrol suaranya.
"Masa itu sudah berlalu nona.Kami sesama pria tidak pernah ambil hati dengan lelucon macam itu."
"lelucon katamu?" tanyanya tidak percaya.Willy hanya memandang dengan tatapan tajam.
"Saya bahkan sudah menghabiskan malam-malam panjang dengan banyak wanita diluar sana nona.Tidak ada untungnya bagi saya jika tertarik dengan anda."
"Kau keterlaluan kak"
"saya bukan kakak anda nona,jadi tolong jangan panggil asisten yang hanya bisa hidup dari gaji yang kalian berikan dengan sebutan itu.Saya merasa tidak pantas."
Stephanie terhenyak.Sudut matanya berair.Dia salah sangka jika selama ini mengira Willy tertarik dan jatuh cinta padanya.Pandangannya mengabur karena air mata yang hampir tumpah.Saat pria itu melangkah keluar,gadis itu menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya dan meraupnya kasar.
Apa yang barusan dia lakukan tadi?bagaimanapun dia sudah melakukan tindakan yang sudah menurunkan harga dirinya sebagai seorang nona muda keluarga Maverich.Jika ingin jujur,dia sudah tidak punya muka untuk bertemu Willy lagi.Ia ingin menghilang dari dunia ini,bersembunyi dimanapun agar dia tidak bertemu Willy lagi.
Tubuhnya terguncang menahan tangis yang menyesakkan dadanya.Cukup sudah Jonathan menghianatinya.Sekarang saat dia sudah siap untuk move on,sebuah penolakkan yang meremukkan jantung dan hatinya membuatnya hancur berkeping-keping.
Diluar pintu,Willy mengeraskan rahangnya.Rasa sakit hatinya sudah terbalaskan.Nanti jika Michael sudah datang,dia akan langsung meminta cuti diperbolehkan atau tidak.Ia butuh suasana baru untuk menata hatinya yang nyaris seperti serpihan kaca yang pecah berhamburan.
Dia bersandar di kursi ruang tunggu sambil menghela nafas panjang.Diraihnya ponsel dari saku kemejanya lalu menekan sebuah nomor.
"Sayang,aku akan menginap dirumahmu malam ini." Senyum terbit diwajah tampannya.Dunianya yang sesaat lalu gelap kembali terang.Setidaknya dia punya tempat untuk pulang dan menghirup udara segar malam nanti.Pikirannya sudah terlalu berat untuk memikirkan banyak hal akhir-akhir ini,dan lagi...dia ataupun Nico tidak pernah cuti.Jadi tidak ada salahnya kan kalau dia ingin memanjakan diri sendiri dengan yang namanya cuti?
Stephanie yang ada dibelakang pintu mendengar Willy menelepon tadi.Hatinya kembali sakit.Tubuhnya lemas seperti jelly lalu terduduk dilantai.Apa mencintai memang sesakit ini?
__ADS_1