Bukan Cinta Semusim

Bukan Cinta Semusim
Marah


__ADS_3

"Percuma kau katakan semuanya padaku kak,harusnya dia menjelaskan semuanya pada Erika,bukan aku." kata Steve sambil menuding Nico dengan tatapan tajam.


"maka itu kita buat mereka bertemu sayang." Willy merendahkan suaranya.


"aku tidak tau dimana Erika,kak!"Willy mengangkat bahu.Tidak tau harus bagaimana lagi membujuk istrinya yang keras kepala itu.Semua masih abu-abu.Mereka bahkan tidak punya bukti kalau Steve terlibat dalam kasus hilangnya Erika.


" Sayang,setidaknya kau tau dimana posisi terakhir Erika saat telepon denganmu."


"Kak,aku tidak tau!" ketus Steve lagi dengan mata melotot.


" Steve.." desah Mic jengah.Sang adik menatapnya garang.


"Apa kakak juga akan menuduhku dalang dibalik semuanya?kakak tau kan,aku tidak suka berbohong?aku juga tidak suka skandal.Kalaupun aku tau dimana Erika,aku tidak akan mengatakannya.Dia pantas menerimanya agar dia tau rasanya kehilangan." serang Stephanie galak.Mic menatapnya tajam.Tidak ada kebohongan dimata adiknya.Steve memang tipe wanita yang tidak suka berbohong.Adik semata wayangnya itu lebih ke sifat radikal yang selalu ditampakkan tanpa tedeng aling-aling seperti sekarang.


"Istirahatlah.Marah-marah hanya akan membuat janinmu tidak sehat." Steve mengangguk lalu menoleh pada Willy.


"kau..mulai malam ini kakak tidur diluar.Aku tidak suka punya suami yang lebih membela sahabatnya ketimbang memprcayai istrinya." katanya tajam.Willy hanya melongo,kenapa dia jadi sasaran amarah tidak jelas?Salahnya apa?dia hanya membantu Nico.Apa orang hamil memang sensitif dan menyebalkan seperti istrinya?


"ahhhh siiaalll!!" umpatnya kasar,mengawasi tubuh istrinya yang berlalu ke kamar mereka tanpa menoleh.Suara pintu berdebum menandakan betapa marahnya Stephanie padanya.Willy hanya mengurut dada mendengarnya.


"Maafkan aku Will,sungguh aku tidak bermaksud..."


"Sudahlah,sebentar lagi juga Steve baikan Nic.Hanya pengaruh calon bayi kami." kilah Willy cepat.Dia tidak ingin Nico merasa bersalah padanya walau semua orang diruangan itu tau,tidak mudah meredakan amarah Stephanie sang nona muda yang manja.


"Kurasa Steve benar-benar tidak tau dimana Erika,Nic." Mic menggeleng pelan.Ada sedikit penyesalan dalam dirinya.Nico bukan hanya sekretarisnya,tapi juga sahabat dan adik buatnya.Shinta yang terpaku di dekanya mengelus lengan Mic pelan lalu duduk di sofa.

__ADS_1


"Saya tau tuan muda.Apa saya bisa ijin cuti dulu untuk menenangkan diri dan mencari istri saya tuan?" tanya Nico halus.


"Tidak.Kita akan mencarinya bersama Nic.Libur hanya akan membuatmu terpuruk.Orang-orang kita akan melaporkan pencarian Erika.Willy juga akan membantumu nanti." tegas Mic.Sebagai seorang kakak dia wajib mengambil tindakan darurat itu sebelum Nico kehilangan semangatnya.


"Tapi saya takut tidak bisa konsentrasi bekerja tuan muda.Pikiran saya dipenuhi Erika."


"Aku akan membantumu seperti dulu man.Kita akan bekerja sama lagi.Kau lupa kita saudara?Aku akan tetap di dekatmu walau semua orang menjauhimu." tukas Willy sambil menepuk bahunya dan melebarkan senyumnya.Nico mencoba tersenyum walau kaku.Michael menghampiri mereka berdua,merentangkan tangannya lebar.Kedua pria es itu spontan berlari padanya,memeluk majikannya erat.Itulah Michael,dia kakak terbaik untuk Nico dan Willy.Tuan muda yang dingin,kaku dan arogan...namun penuh cinta bagi orang-orang terdekatnya.


Shinta terkesima dalam diamnya,sama sekali tidak mengira suaminya akan sehangat itu.Yang dia tau Michael adalah pria yang sangat susah mengungkapkan perasaannya.Dia terlalu kaku untuk berekspresi.Tapi sekarang?dia laksana induk elang yang melindungi anak-anaknya dari serangan predator lain,Ayah yang memeluk putra-putranya,dan sosok pria hangat yang mengagumkan.Mata Shinta tak berkedip memandang pada mereka.


Saat Mic melepaskan pelukannya,dia bisa melihat sudut mata sekretaris Nico menggenang,bulir air mata jatuh tapi diseka dengan cepat dengan punggung tangannya.Sekretaris tampan itu begitu terpuruk.Willy memeluknya erat sekali lagi.Persahabatan yang indah,persaudaraan yang manis walau bukan dilahirkan dari rahim yang sama.Cinta pada sesama diantara mereka begitu kuat hingga membentuk simpul mati yang tak terpisahkn.


"Tenanglah man,kau pasti bisa!" kata Willy sambil memegang kedua pundak Nico yang menatapnya dengan mata kembali berkaca.


"Sekarang istirahatlah.Kalian sudah bekerja keras hari ini." cetus Mic lalu memberi isyarat pada Shinta agar mengikutinya ke kamar.Nico mengangguk dan berjalan menuji kamarnya,demikian pula Willy yang berjalan beriringan dengannya.Abraham memang menyediakan kamar bagi keduanya.Kamar sejak masa kecil mereka yang terawat rapi hingga sekarang.


"Nanti saja.Kau tau Steve kan Nic?dia akan makin marah jika kita memaksanya.Lebih baik kami tenang dulu.nanti selepas makan malam aku akan menemuinya." kata Willy lalu membuka pintu kamarnya.Nico masih berjalan menuju ruangannya lalu menghilang dibalik pintu.


Michael menutup pintu setelah Shinta masuk ke kamarnya.Istrinya baru saja menyuruh baby sitter dirumah untuk mengantarkan baby El kesana,namun mereka mengatakan kalau Abraham dan Misca ada disana dari tadi pagi dan keduanya akan membawa cucunya kerumah itu nanti sore.Sunguh pasangan yang kompak.


"Mas,apa kau marah?" Mic tidak menjawab.Dia masuk ke kamar mandi dan menghidupkan shower.Shinta segera menyiapkan baju untuknya.


Beberapa menit kemudian Mic muncul dengan handuk melilit pinggang.


"Mas,maafkan aku." tidak ada reaksi.Shinta menubruk tubuhnya dari belakang dan memeluk pinggang suami tampannya itu.Tidak ada balasan.Mic yang biasanya mengenggam tangannya sudah menghilang.Dia benar-benar murka.

__ADS_1


"Aku tidak suka dipeluk tubuh penuh kuman."


Tubuh Shinta menegang.Dilepaskannya pelukan itu,mundur lalu masuk ke kamar mandi.Dia lupa Mic tidak suka hal kotor.Bajunya bahkan penuh debu dan keringat karena berkelahi tadi.


"maafkan aku." Shinta berlalu ke kamar mandi,menyalakan kran dan mengisi bathtub.Aroma terapi yang di tuangnya membuat suasana hatinya sedikit membaik.


"Shintaa!!apa yang kau lakukakan!" teriak Mic saat mendapatinya ketiduran di bathtub.Pria itu memaksanya berdiri,mengambil handuk dan membalut tubuh polosnya lalu mengangkatnya ke dalam kamar.


"Kau ingin membunuh anakku?"


"Aku hanya tertidur mas."


"Aku bisa memaafkan kesalahanmu,tapi tidak pada anakku.Dua kali kau membahayakan nyawa anakku hari ini.Kau benar-benar ibu yang tidak bertanggung jawab.Kau pikir aku tidak tau kalau kau berbohong?" wajah Shinta memerah.Sejak mereka menikah,Mic tidak pernah memanggil namanya.Hari ini dia membentaknya dengan wajah yang sangat dingin dan menakutkan.Memang dia yang salah.Tidak seharusnya dia berbohong.Kalau saja saat itu Mic dan Willy tidak datang tepat waktu,sekuat apapun mereka bertiga bertahan tentu hanya pulang tinggal nama.Air mata Shinta jatuh,Michael memalingkan wajahnya lalu menuju balkon.Melihat wanitanya menangis hanya akan merusak moodnya hari itu.


*


*


*


*


*


Readersku sayang,novel ini saya buat on going kembali karena tanggapan positif dari kalian.Terimakasih sudah mendukung dan menyemangati saya kembali berkarya.Tanpa kalian semua,karya ini bukan apa-apa.

__ADS_1


I love U all.....


__ADS_2