
Sekretaris Nico berjalan gagah menyusuri koridor rumah sakit.Langkah tegapnya diawasi banyak mata yang kebetulan berpapasan dengannya.Pria tampan blasteran Korea-Eropa itu tidak menghiraukan respon sekitarnya.Tujuannya hanya satu...ruang kerja Erika.
Erika yang baru saja menyelesaikan jam piketnya buru-buru melepas sarung tangan tipis yang dia kenakan,mendekati kran dan mencuci bersih tangannya.Dia masuk ke toilet untuk membasuh wajahnya yang lelah.Hari ini banyak sekali pasien pasca kecelakaan beruntun di sudut kota.
Pintu toilet digedor dari luar agak keras.Erika segera membukanya.Ada rekan sesama dokter yang ada dihadapannya.
"Dokter,ada orang yang menunggu anda di depan ICU"
"siapa?" tanya Erika.Dia mencoba mengingat punya janji dengan siapa hari ini.Tapi dia sama sekali tidak ingat.
"katanya calon suami anda."
deg...deg...deg....
sekretaris itu lagi.Dia bahkan terang-terangan mengatakan jika Erika adalah calon istrinya pada rekan kerjanya.Itu artinya semua yang bertugas di ICU pasti sudah tau,dan parahnya....sebentar lagi seluruh rumah sakit akan tau,karena Erika satu-satunya dokter magang yang berasal dari negara lain disitu.
"kenapa dok?kok wajahnya begitu?orangnya ganteng banget dok.Ternyata Erika yang pemalu ini pinter ya milih calon suami." goda dokter jaga itu.
"ini tidak seperti yang kau bayangkan dok.by the way ..terimakasih ya,sudah memberi tau." ujar Erika lalu berlari keluar ICU.Suara deheman menggoda dilontarkan padanya oleh penghuni ICU.Mereka rata-rata tersenyum jahil padanya.
"Dokter..besok kembali kesini ya.Aku takut kau lupa jalan menuju kesini setelah menikah nanti" ujar salah satu dokter jaga juga.Erika hanya tersenyum malu-malu lalu berpamitan.
Diluar ruangan,sekretaris Nico sibuk memainkan hpnya.Terlihat sekali wajah sekretaris itu gusar.Erika berjalan tanpa suara mendekatinya.Sneakers yang dipakainya sedikit menekan suara yang menggema.Namun tetap tidak bisa menipu telinga Nico yang punya ketajaman diatas rata-rata.
"Ke..kenapa menyusulku kemari?" tanya Erika gamang.
"Karena kau tidak membalas pesanku dokter." jawab Nico dengan sorot mata tajam.
"Aku masih sibuk mas,belum sempat pegang hp."
"tapi aku tidak suka diabaikan."
"Diabaikan bagaimana sih?mas Nico kan tau saya ini bekerja,bukan pengangguran yang bisa membalas chatt dengan cepat.Yang saya tangani nyawa seseorang mas." ungkap Erika dengan wajah yang kesal.Tekanan pekerjaan,rasa capek,lapar dan ngantuk membuatnya jadi cepat emosi.Apa lagi berhadapan dengan Nico yang membuatnya tambah darah tinggi.
"Tapi aku butuh kau menangani hatiku dokter." Nico maraih tangan Erika dan menariknya pergi dari sana.
"Kau lapar?" Erika mengangguk.Nico melajukan mobilnya pada deretan resto seputaran rumah sakit.Lalu berhenti pada salah satu resto masakan Cina yang cukup ramai pengunjung.
Erika menghabiskan makanannya dengan lahap.Resto itu mengingatkannya pada masakan di warung pinggir jalan langganannya di Indonesia,tentunya dengan harga yang berbeda.Nico yang sudah lebih dulu menghabiskan pesanannya,memperhatikan Erika sambil menyesap capuccino hangat dari cangkirnya.
__ADS_1
"Kau bisa memesan ulang jika belum kenyang." Erika menggelengkan kepalanya.Dia sudah sedikit kehilangan ***** makan saat melihat daftar harga tadi.Tambah porsi berarti dia harus puasa diakhir bulan.Walau anak orang berada,Erika selalu disiplin mengurusi keuangannya sendiri.Ia hanya akan minta bantuan papa mamanya jika dalam kondisi terdesak saja.Anak tunggal yang sangat mandiri dan bersahaja.
"Setelah ini,ikutlah denganku"
"kemana?" Nico memilih tidak menjawab.Pria tampan athletis itu malah memanggil pelayan untuk membayar billnya.
"ehh ..aku akan membayar sendiri pesananku." Nico melotot padanya.Tangannya yang sudah masuk untuk mencari dompetnya di tas menegang.
"Pria tidak suka dibayar oleh wanita dokter." desis Nic pelan tapi mampu membuat bulu kuduk Erika meremang lalu menundukkan wajahnya.
Nico sudah lebih dulu berdirin,menghampiri Erika dan menggandeng tangannya keluar.
"kita mau kemana?"
"ke rumah kita"
"ta..tapi..."
"Diam dan ikut saja." Erika bungkam.Dia terlalu lelah untuk berdebat atau sekedar mencari tau.Yang dia lakukan hanya harus menuruti sekretaris dingin ini mengajaknya kemana,agar semua cepat selesai dan ia bisa segera pulang dan beristirahat di kontrakannya.
Mobil melaju dengan kecepatan sedang.Erika mengrenyitkan dahinya saat mendengar Nico memutar lagu penyanyi Indonesia di mobilnya untuk mengusir kecanggungan diantara mereka.
ji**kalau *kau cinta,benar-benar cinta
Jikalau kau sayang,benar-benar sayang
tak hanya kata,
atau rasa,kau harus tunjukkan
Jangan sampai
hingga waktu perpisahan tiba
dan semua yang tersisa hanyalah air mata
mungkin saja..
cintakan menghilang selamanya
__ADS_1
dan semua yang tersisa
hanyalah air mata....cinta*....
Nico menggenggam erat jemari Erika yang berubah sedingin es hingga mereka berbelok kesebuah rumah dikompleks perumahan elite tengah kota.Nic mengajaknya turun.
"ehmm..rumah siapa mas?"
"kita." jawabnya singkat lalu mengajaknya masuk.Seorang wanita berpakaian maid membuka pintu dan menyambut mereka
"selamat malam tuan." ucapnya lalu mengangguk hormat.
"Mulai besok kau akan tinggal disini Erika."
"kita belum menikah,sebaiknya tidak tinggal bersama."
"siapa yang tinggal bersama?aku masih menempati apartemenku hingga sekarang.Ayo,kutunjukkan kamar kita!" Erika hanya mengangguk dan mengikuti langkah Nico menuju kamar utama.Pria itu membuka pintu dan terlihat kamar luas dengan nuansa feminin namun terkesan elegan.
"Kau akan tidur disini,menungguku menghalalkanmu.Erika..aku bukan pria romantis yang pintar merayu,tapi sangat penting bagiku untuk memastikanmu mendapatkan kenyamanan dalam hidupmu.Dokter..maukah kau menikah denganku?" Erika tercengang,pertama kalinya selama mengenalnya Nico bicara panjang dan sebanyak ini.Jangan membayangkan pria ini akan berlutut atau memberikan seikat bunga dan cincin untuk melamarnya...dia hanya berkata dengan wajah datar.
"Aku butuh jawabanmu Erika." gadis itu menelan ludahnya dengan susah payah.Pria dihadapannya itu memang sempurna,tapi bisakah dia mencintai Nico yang dingin itu?Dia baru tersadar dari lamunannya saat sebuah daging kenyal yang lembut menyentuh bibirnya.Dia bisa melihat Nico yang menciumnya lembut dengan mata tertutup.Entah setan mana yang membuat Erika malah membalas ciuman itu.
Mereka membuka mata hampir bersamaan lalu sama-sama menunduk malu dan salah tingkah.
"k...kau..mencuri ciuman pertamaku." bisik Erika.
"Itu juga ciuman pertamaku Erika.Kau satu-satunya wanita yang kudekati tanpa alasan."
"a..apa kau mencintaiku?"
"aku tidak tau.Yang kurasakan hanya risau saat kau tidak membalas pesanku,juga perasaan tidak nyaman saat kau jauh dariku." beber Nico.Erika hanya senyum-senyum malu.
"Aku tidak akan memaksamu jika kau tidak ingin menikah"
"a..aku mau!" jawab Erika masih dengan malu-malu.
"itu artinya kau harus siap menghadapi ice man ini setiap hari Erika." gadis itu mengangguk lagi.
"Jangan pernah meninggalkan aku dalam keadaan apapun." bisik Nico lagi didekat telinga Erika.Tidak ada kemesraan yang dilakukan Nico padanya.Tapi entah kenapa dia merasa sangat nyaman dan terlindungi saat Nico disampingnya.
__ADS_1
"kita memulainya tanpa cinta,kuharap setelahnya kita bisa saling mengerti dan..." belum habis perkataan Nico,Erika sudah menyela.
"Aku akan membuatmu mencintaiku mas." lalu gadis itu merebahkan kepalanya di dada Nico.Pria kaku itu tersenyum dan balas memeluk Erika.