
"tidaaaakkkk"
Teriak Shinta keras.Dia terbangun dari mimpi menakutkan yang mengaggu tidurnya.Air mata meleleh dipipi mulusnya.Diraihnya Hp diatas nakas,memeriksa kalau sewaktu-waktu Michael mengirim pesan atau meneleponnya.Tapi hasinya zonk.Dengan kecewa dia letakkan benda pipih itu kembali ketempatnya.
"kenapa Mic setega itu padaku,bahkan dia tidak meneleponku.Apa dia tidak tau kalau aku sangat kawatir sekarang ini?" keluh Shinta kesal.Dia mearih kembali Hpnya.Menekan nomor Mic,namun saat akan menekan tombol call,dia mulai ragu lagi lalu meletakkannya kembali.
Jam tiga lewat dini hari.Shinta masih mondar mandir didalam kamarnya,berharap pagi segera datang dan ia akan menelepon Mic,menanyakan kabarnya dan mendegarkan suaranya yang penuh kerinduan.Ia akan membuang semua ego dan rasa marahnya pada Mic asal pria itu kembali dengan selamat.
Dia mendengar langkah kaki mendekat melewati kamarnya,lalu melalui tangga.Berjingkat dia membuka pintu dan melihat siapa yang barusan lewat pagi buta seperti ini.
"Fan" Suaranya memanggil Stephanie,memastikan adik iparnya itu benar-benar turun kebawah dalam kegelapan.
"iya" Shinta bernafas lega lalu menyalakan lampu.Dia melihat Stephanie berdiri dengan mata panda yang parah.
"hey,apa kau tidak tidur semalam?" Gadis itu menggelengkan kepalanya.Shinta menutup pintu kamar lalu menghampirinya untuk turun bersama kelantai bawah.Mereka duduk disofa dalam keremangan malam.Dari sana nampak dua orang penjaga gerbang dan dua orang body guard yang diutus Michael berjaga sambil sesekali mengobrol.
"Kau juga tidak tidur Ta?"
"aku mimpi buruk Fan,aku takut Michael kenapa-napa.Lalu kau?kenapa kau tidak tidur semalaman?"
Gadis itu diam dan menekuk wajahnya.Membenamkannya diantara tangan yang bertumpu dilututnya.
"Aku memikirkan Kak Willy."
"Kau juga tertarik padanya?"
"entahlah Ta.Aku hanya merasa bersalah padanya.Berulang kali aku menelepon,tapi nomernya tidak aktif,demikian juga kak Mic.Saat aku menghubungi Nico,dia bilang kak Mic dan Willy akan langsung menuju kantor."
"mereka akan langsung menemui mafia itu?"
"ya" Seketika lutut Shinta gemetaran.Air mata mulai membanjiri wajahnya.
__ADS_1
"kita doakan saja mereka baik-baik saja Ta.Aku percaya kakak bisa menjaga dirinya".
" Tapi mereka orang-orang jahat yang sangat kejam Fan"
"Kau lupa kak Mic punya kemampuan diatas rata-rata?dia juga mantan anggota mereka.Setidaknya kak Mic lebih tau kekuatan mereka Ta" Mereka berpelukan hingga fajar tiba.Tertidur bersama.Bik sum yang akan membersihkan lantai langsung menyingkir saat tau nyonya dan iparnya itu masih tertidur.Dia tidak ingin menganggu keduanya.
********
Stephanie membanting hpnya keatas sofa ruang tengah saat berulang kali tidak ada yang mengangkat teleponnya.Pelayan kediaman Maverich juga hanya mengatakan kalau Mic belum pulang kerumah.Lalu kemana mereka sebenarnya?Kalau Mic tidak ada,berarti Willy dan Nico juga tidak ada disana.Pikirannya semakin melayang kemana-mana.
"Hallo dad?apa ada kabar tentang kak Mic?" tanya Stephanie saat tuan Abraham mengangkat telephonnya.
"dad belum menerima kabar apapun sayang,nanti kalau semua selesai Mic pasti meneleponmu"
"tapi dad...."
"Dad akan mencoba mencari tau" tukas Abraham cepat lalu mengakhiri panggilannya karena sekretarisnya memanggil untuk rapat bulanan.Stephanie terduduk lemas bersama Shinta.Lagi-lagi keduanya merenungi nasib.
"Ta,aku akan pergi kuliah.Apa kau tidak keberatan kutinggal sebentar?" Shinta menggelengkan kepalanya.
"Apa perlu aku panggilkan paman agar menjagamu disini?"
"Jangan Fan,aku tidak ingin ayah memikirkan aku".
" Kau makanlah dulu,kasihan keponakanku Ta."
Stephanie menyodorkan susu dan seporong roti pada Shinta.Wanita itu meminumya tanpa ekspresi.
"Pergilah Fan,aku akan baik-baik saja" tukas Shinta lalu tersenyum.Stephanie beranjak kekamarnya untuk berganti baju dan mengambil tasnya lalu berangkat ke kampus.
Bayangan Michael terus berkelebat dalam ingatan Shinta.Dia tidak pernah merasakan rindu yang teramat sangat seperti sekarang.Sungguh dia tidak siap kehilangan Mic untuk kedua kalinya.
__ADS_1
Hujan membasahi bumi,petir bersahutan memecah kelamnya malam.Stephanie baru saja pulang dalam kondis basah kuyup.Dia hanya menyapa Shinta sebentar lalu berlalu ke kamarnya.Dalam galau,Shinta juga memutuskan naik dan istirahat di kamarnya.Sekejap kemudian wanita cantik itu tertidur.
Petir menggelegar hingga Shinta terlonjak dan menyadari jika listrik padam.Nafasnya tersengal dikegelapan.Sekali lagi petir menyambar membuat dia menutup mata dan telinganya kuat.Melafazkan berbagai doa agar dia tenang.
Pintu kamar terbuka,Shinta makin ketakutan saat bayangan tinggi besar bergerak kearahnya.Perasaan tadi dia sudah mengunci pintu kamar,tapi kenapa ada yang bisa masuk.Dia beringsut hingga menabrak tepi ranjang.Bayangan itu duduk didepan Shinta yang makin ketakutan.Saat petir menyambar Shinta dapat melihat wajah orang didepannya.
"Mic" pekiknya.Dia menghambur dalam pelukan pria itu.Walaupun mungkin itu hanya halusinasinya atau hantu yang datang menakutinya,ia akan tetap memeluk bayangan suami yang sangat dirindukannya itu.Shinta menangis sesengukan di dada bidang suaminya.
"jangan pergi" katanya sambil semakin menyelusupkan wajahnya didada Mic.Sebuah pelukan hangat dan kecupan singkat dipucuk kepalanya tetap dia anggap halusinasi.Ia hanya menangis dan terus menangis hingga kelelahan dan tertidur dalam pelukan Michael.
"Jangan pergi...." bisiknya lirih walau sudah berada dialam mimpi.
"Apa kau benar-benar merindukan aku sayang?" ucap Mic sambil mencium bibir Shinta lembut,lalu diletakkanya sang istri ditempat tidur.Darah segar keluar dari bahu kirinya.Meringis menahan sakit,pria itu tertatih menuju lantai bawah.Seorang dokter yang mengobati luka tembak pada kaki Willy segera mendatanginya dan memberi pengobatan lanjutan padanya.
"tuan,saya sarankan besok pagi anda kerumah sakit" ujar sang dokter setelah pengobatannya selesai.Sekretaris Nico yang diperban kepalanya karena benturan keras langsung berdiri dan menyerahkan amplop pada dokter itu.
"Saya ingin anda saja yang berkunjung kemari besok dokter.Tuan muda kami tidak mungkin keluar dalam kondisi seperti ini" kata Nico tegas.
"Baiklah tuan,besok saya akan kesini untuk memeriksa kalian"
" saya harap anda mau merahasiakan keadaan kami dokter"
"pasti tuan,saya permisi"
"tunggu nona,biarkan sopir yang mengantar anda pulang,diluar masih hujan dan listrik belum menyala"
"seperti keinginan anda tuan" lalu dokter cantik itu berlalu.Nico menarik nafas panjang,dia sedikit lega karena bisa memaksa dokter jaga itu untuk ikut dengannya kerumah ini ditengah hujan lebat dan amukan petir.Michael sama sekali tidak mau kerumah sakit karena terus mengkawatirkan istrinya.
"Kalian istirahatlah"
"baik tuan muda" Lalu Nico memapah Willy kekamar belakang.Diluar sana,puluhan bodyguard berjaga untuk keselamatan penghuni rumah.
__ADS_1