Bukan Cinta Semusim

Bukan Cinta Semusim
Pria misterius


__ADS_3

Kediaman Shinta terlihat lengang.Abraham dan Misca sudah berangkat pagi-pagi sekali untuk liburan ke Bali,demikian juga Michael yang masih bergelung manja disisi El yang tertidur lelap.Tuan muda Maverich itu memang banyak menghabiskan liburannya untuk tidur,mengistirahatkan otaknya yang lelah dan memberikan perhatian ekstra pada istri dan anaknya.hanya Shinta yang berjalan kesana kemari mengurus rumah walau di bantu asisten rumah tangga.


Stephanie menuruni tangga dan menyeret koper kecilnya turun.Wajahnya yang kuyu terlihat semakin layu saja ditambah mata panda dan gerakan lamban dari tubuhnya benar-benar membuat dia terlihat tidak baik-baik saja.


"Steve,kemarilah...kita sarapan dulu."


"Kau tau aku akan muntah jika melakukannya kan kak?"


"Tapi setidaknya minum susu dulu agar si kecil mendapat nutrisi." Steve menggeleng.


"Nanti saja aku akan sarapan di pesawat kak."


"Steve maaf,aku tidak bisa mengantarmu ke bandara."


"its ok kak,aku akan baik-baik saja."


"Aku pasti akan sangat merindukanmu Steve.Jaga dirimu baik-baik." Shinta menitikkan air matanya.Stephanie mengangguk lalu masuk ke mobil.Seorang sopir mengantarnya ke bandara.


Shinta yang sedang larut dalam kesedihannya memasuki kamarnya untuk membangunkan El dan memandikannya.Dia tercengang melihat Mic yang sudah rapi dengan kemeja dan celana panjangnya,demikian juga baby El yang tertawa bahagia dalam gendongan dadynya.Putranya itu baru dimandikan.


"Mas,mau kemana?kok rapi banget?"


"Cepatlah mandi sayang,kita akan menyusul dad."


"ke Bali?bukanya kita akan berlibur disini dulu mas?"


"Aku sudah menelepon ayah kalau kita kembali pagi ini.Lain kali kita akan berkunjung lagi." Mic mengusap kepala istrinya.Seulas senyum penuh kasih tersungging di bibirnya.Shinta menurut,segera mandi tanpa banyak bertanya lagi.


Setengah jam kemudian sekretaris Nico dan Erika datang.Pasangan itu terlihat mesra dan sesekali melempar senyum malu-malu.Shinta menyuruh mereka duduk untuk sarapan.


"Apa semua baik-baik saja Nic?" tanya Michael sambil menyeruput kopi hitamnya.


"Aira mengatakan perusahaan berada pada kondisi baik tuan muda."


"hmmm...bagus."


"Kita harus berangkat sekarang tuan muda." Nico berdiri lalu menuju pintu,berdiri mematung disana,menunggu tuan mudanya keluar.Mic menggendong baby El,sebelah tangannya mengandeng Shinta mesra keluar dari rumah.Seorang asisten rumah tangga mengantarkan keperluan mereka ke bagasi mobil.


*********

__ADS_1


Stephanie mondar mandir dalam kegelisahan saat penerbangannya diundur satu jam lagi.keluhan beberapa kali terdengar dari bibirnya.Tubuhnya memang tiba-tiba lemas karena harus bolak balik ke toilet untuk sekedar mencuci wajahnya atau kembali muntah.Tangannya mengelus perut yang masih rata dengan kasih sayang.


Tubuh lunglai itu kembali tegak saat mikrofon bandara mengumumkan jadwal penerbangannya sudah tiba.Wanita itu bangkit,menyibakkan rambut pirang sepunggung yang dia gerai saat itu.


Memasuki pesawat,dia berulang kali menoleh memastikan sesuatu.Kenapa penerbangan kali ini sepi sekali.Hanya ada beberapa orang yang memasuki pesawat.Dia menepis pikirannya yang terus bertanya-tanya,menyandarkan tubuhnya dikursi penumpang setelah memakai sabuk pengaman..dia ingin istirahat dalam penerbangan panjang kali ini.Kepalanya benar-benar pusing.


Tiba-tiba datang seorang pria yang duduk menempati kursi kosong disebelahnya sesaat sebelum pesawat take off.Steve menoleh sekilas,pria itu memakai topi lebar,kaca mata hitam dan masker yang menutupi sebagian wajahnya hingga tidak bisa dikenali.Steve diam,menenangkan hatinya.toh dia tidak membawa apa-apa saat ini,juga ada banyak pramugari yang akan menolongnya jika orang itu akan berbuat jahat.Kembali dia meregangkan otot dan mencoba tidur.


Rasa mual kembali terasa,Steve berlari ke toilet dan memuntahkan lagi isi perutnya walau tidak ada yang bisa dia keluarkan.Sejak kemarin memang perutnya tidak terisi.Kepalanya tiba-tiba pusing berat saat akan melengkah meninggalkan toilet,pandangannya kabur dan jatuh ke lantai pesawat.Sebelum pingsan,sebuah tangan kokoh menyambut tubuhnya,menopangnya sejenak lalu menggendongnya.


"Kak Willy." hanya kata itu yang terucap saat dia kehilangan kesadarannya.


Entah berapa lama dia pingsan,namun saat tersadar,Stephanie merasakan tubuhnya sedikit lebih baik.Saat akan bangkit,dia merasakan sebuah lengan melingkari perutnya posesif.Dia juga baru sadar jika tempat duduk penumpangnya telah berubah dan dia tidur memeluk pria asing yang tadi duduk di dekatnya.


"kau ...lepaskan aku!!" Pekik Stephanie karena menahan marah.Bagaimana bisa orang ini memanfaatkan kesempatan saat dia tergeletak pingsan.Pria itu hanya menoleh sejenak lali kembali memeluknya.Steve semakin emosi dan menghempaskan tangan kekar itu.Tapi lagi-lagi pria itu memeluknya.


"Lepaskan atau aku akan berteriak." Namun pria itu bersikap santai dan malan mengelus pipinya pelan.Steve memukul tangan itu sekuat tenaganya,tapi pria itu malah menangkap tangannya dan mengenggamnya erat.


"Toloonggg...orang ini melecehkan aku.Toloooonggg!! teriaknya keras.Tapi tidak ada gerakan dari penumpang lain.Mereka tetap tenang dikursinya.Begitupun para pramugari yang seharusnya berseliweran,semua tak kelihatan.Stephanie memukul-mukul dada pria itu sekuat tenaga,tapi laki-laki itu tak bergeming.Dia seperti tidak merasakan apapun karena Stephanie memang sedang tidak bertenaga saat itu.


"Kau...brengsek!pergi kau dari sini!!" kembali teriakan itu bergema,namun tetap tidak ada reaksi apa-apa.


"Kenapa kau disini?"


"Saya hanya mengikuti perintah.Permisi nona."


"hey...tunggu!!bantu aku.Singkirkan pria brengsek ini."


"Itu diluar kekuasaan saya nona.Tapi apa anda yakin ingin saya menyingkirkan pria baik hati yang sudah menolong anda tadi?"


"menolong?"


"ya,dia yang menggendong anda kemari saat anda pingsan tadi.Saya permisi nona." Tanpa menoleh lagi Nico berjalan menjauh.Stephanie manatap tajam pria yang memeluknya.Tangan pria itu mengelus perutnya,membuatnya muak.


"menolongku bukan berarti kau bisa kurang ajar padaku." sekali lagi tangan itu ditepisnya kasar.Berlahan pria itu melepas kaca mata dan maskernya.


"k...kau...."


"iya,ini aku."

__ADS_1


"k...kenapa kau di..sini.."


"Apa aku bisa membiarkanmu sendirian?Apa kau tidak merindukan aku?" Wajah Stephanie memerah,tangisnya kembali pecah.


"Tolong lepaskan aku."


"Sampai matipun aku tidak akan melepaskan atau meninggalkanmu.Aku mencintaimu sayang.Kita akan membesarkannya bersama."


"Kak Willy...maafkan aku."


"ssssttt ..jangan menangis lagi,kasihan bayi kita.Aku yang harus minta maaf padamu sayang.Jauh darimu membuatku mengerti kalau aku tidak bisa hidup tanpamu.Aku ingin selamanya di dekatmu,walau hanya menjadi pengawal sekalipun." Steve menggeleng kuat,membenamkan kepalanya di dada hidang Willy.


"Maafkan aku kak...maafkan aku..!!"


"Kau tidak bersalah sayang." ujar Willy sambil memeluk erat tubuh istrinya,menciumi wajah dan air mata yang mengalir dipipinya,dan mencoba mengikis semua nestapa.


"ehmm." deheman keras itu membuat mereka menoleh serempak.Abraham dan Misca berdiri menggendong baby El,diikuti Michael dan Shinta.


"Ka...kalian???"


"kenapa?kau kaget melihat dad disini?"


"Dad....kumohon jangan pisahkan aku dari kak Willy,aku mengandung cucu dad.Aku tidak ingin berpisah dad..kumohon."


"Dia hanya pengawalmu kan??"


"Tidak!!dia suamiku dad."


"Apa kau yakin?"


Steve mengangguk.Willy kembali merengkuhnya dalam pelukannya,bersikap seolah tak ada siapa-siapa disana.Nico yang jengah sedikit membentaknya.


"Hey tuan muda baru,bisakah kau bersikap sopan saat di depan papa mertuamu?"


"kenapa?dia papaku juga." ejek Willy.Tawa Abraham berderai.Pria itu mengelus kepala Willy.


"jaga putriku baik-baik Will."


"Bahkan saya akan memberikan nyawa saya untuk mereka dad." sahut Willy mantap.

__ADS_1


__ADS_2