
Jalanan yang sepi tidak menyurutkan langkah Shinta untuk pergi menjauh dari kediaman Maverich.Tangis Stephanie sudah agak reda,namun masih terdengar isakannya.Shinta bisa merasakan pilunya perasaan gadis disampingnya itu.Mereka tenggelam dalam pikirannya masing-masing.Mereka sama-sama terluka,hilang arah dan dibuang kejalanan.Tidak ada lagi nyonya muda Michael,tidak ada lagi nona muda Maverich.Sekarang mereka hanya gadis biasa yang harus berjuang untuk bertahan hidup.
Stephanie berhenti sesaat lalu menghunbungi seseorang dalam bahasa korea yang fasih.Kelihatannya mereka sangat serius berbicara hingga Shinta memandang bingung pada tingkah Stephanie yang kadang tenang,kadang meledak-ledak.Saat kembali kesisi Shinta,gadis itu tersenyum walau agak dipaksakan.
"terimakasih sudah mendukungku Fan" Shinta menoleh lalu memeluk Stephanie erat.
"kita tinggalkan negara ini Ta.aku tidak ingin disini lagi" Shinta terbengong.
"kita tidak punya apa-apa Fan.Aku hanya buruh migran yang dipungut kakakmu.semua dokumenku ada padanya".
" Ayya sudah menunggu kita dibandara Ta.Dia sudah memesankan tiket untuk kita pulang ke Indonesia"
"benarkah?"
"iya.Jangan bilang kita tidak punya apa-apa.Sekretaris Nico sudah mencairkan uang tunai untuk kita bawa"
"ba..bagaimana bisa?"
"aahh....sudahlah.kita akan terlambat kalau begini terus.Sebelum kak Mic sadar,kita sudah harus pergi dari sini"
Sebuah taxi online berhenti didekat mereka,lalu keduanya bergegas masuk menuju bandara.
"Apa kau tidak akan menyesal mengikutiku Fan?rumahku jelek dan kecil.kau tidak akan krasan disana"
"hmmmm"
"hmmmm juga"
Mereka diam dalam pikirannya masing-masing hingga tak terasa telah sampai dibandara.Ayya sudah menunggu dipintu masuk.Dia memakai masker dan kaca mati hitam lebar yang hampir memenuhi wajahnya.
"ini tiket kalian.segeralah masuk sebelum ada orang suruhan tuan Michael yang melihat kalian".Shinta dan Stephanie memeluk Ayya bergantian sebagai ungkapan terimakasih.
" jangan lupa memberi kabar kalau kalia sudah sampai disana Nona muda"
"pasti Ay,jangan kawatir,kami akan baik-baik saja" mereka bergegas masuk meninggalkan Ayya yang juga langsung berbalik cepat keluar bandara.Lebih cepat lebih baik...batinnya.
**********
__ADS_1
Didalam pesawat,Shinta mulai merasakan mual seperti saat pertama dia datang naik pesawat.Saat itu dia muntah dibaju pria tampan yang .....ya ampun!!!sekarang dia ingat,Pria itu Michael.Benar,dia Michael.Dunia memang terlalu sempit.Pikirannya menerawang kemasa lalu saat Michael memakinya saat pertama bertemu,saat Michael menolongnya dan saat Dia dijadikan ratu diistana Maverich.
" kau melamun"
"kepalaku pusing Fan"
"tidurlah,penerbangan kita tidak lama.nanti kubangunkan" Shinta mengangguk.Lagian kalau mau muntah,apa yang dimuntahkan?orang dari pagi dia belum makan.
Semakin dia memejamkan mata,bayangan Michael makin berkelebat dimatanya.Hanya setahun yang dilewatinya di Singapura.Setahun yangbmengubah hidupnya dari gadis tak punya apa-apa lalu jadi nyonya muda sekejap mata yang bahkan sudah terenggut paksa tanpa sempat menikmatinya lebih lama.Lalu setelahnya kembali jadi orang tak punya.Siklus kehidupan seperti kisah senetron yang sangat panjang.Sampah akan tetap jadi sampah walau dimanapun dia diletakkan.
********
"kita mau kemana Fan?" Shinta masih berdiri bingung saat tiba dibandara.Stephanie bergerak lincah keluar,mengetik sesuatu dihpnya dan sesaat kemudian sebuah taxi online berhenti didepan mereka.Mereka bergegas masuk.
Shinta masih mengerutkan keningnya saat melihat jalanan.Yang mereka lewati bukan jalan menuju rumahnya.Seingatnya malah sudah terlewat beberapa kilometer tadi.Tapi mobil masih terus melaju kencang.Mau kemana Stephani mengajaknya?
"Fan,ini kita mau kemana?"
"Rumah kita"
"maksutmu?"
"kau gila Fan" sentak Shinta terkejut.
"aku hanya punya beberapa persen saja,tapi cukup untuk kita memulai hidup baru disini.Aku menganggapnya kompensasi sebagai putri tidak resmi dari dad"
"lalu?"
"mom sudah mengusirku,maka aku juga harus belajar lepas dari kehidupan mewah Maverich Ta" katanya serius.Selama mengenal Stepahnie,Shinta baru sekali ini melihat gadis itu seserius ini.
Setengah hari dalam perjalanan mobil berbelok keperkampungan yang sangat sejuk.Mata Shinta yang mengantuk langsung terbuka lebar melihat hamparan sawah dan pemukiman penduduk.mobil berhenti didepan rumah model minimalis yang asri.Memang ukurannya lebih besar dari rumah Shinta dikampung,tapi Shinta benar-benar serasa pulang kampung.Tapi sekarang....disinilah dia,meninggalkan Singapura dan Surabaya,hidup baru dikota kecil yang tak terlalu terkenal namanya.
"kenapa kita tidak pulang kekampungku saja Fan?"
"ini juga kampung baru kita Ta.sekarang kita harus bahu membahu bertahan hidup dan membuktikan pada dunia,kalau kita bisa hidup layak tanpa keluarga Maverich" Genggaman tangan Stephanie mengalirkan energi positif dalam diri Shinta yang mulai membeku dalam keputusasaan.Dia bahagia bisa pulang kenegaranya dengan selamat,tapi kenapa begini jalannya??
"Tabunganku memang tidak banyak,tapi kita bisa bekerja untuk bertahan hidupkan?" air mata Shinta mengalir,dipeluknya Stephanie yang masih berusaha tegar.Dia menemukan sahabat yang akan jadi penyemangat hidupnya.Sahabat yang akan jadi tempat berbagi dan pelipur laranya saat duka mendera hati dan pikirannya.
__ADS_1
"ayo.ayah dan adikmu sudah menunggu kita didalam" Wajah Shinta langsung bersinar bahagia.
"Fan...."
"apa?"
"terimakasih sudah ada untukku" sahut Shinta lirih.Stephanie tertawa riang lalu menariknya masuk sambil menyeret kopernya.
Rumah itu punya ruang tamu kecil yang dihiasi lukisan abstrak, tiga kamar tidur didalam dan ruangan besar disamping kanannya.dan halaman belakang yang luas.Shinta sangat takjub saat memasukinya.Jauh dari kesan mewah keluarga Maveric,tapi cukup mewah untuk ukuran gadis seperti Shinta.
Terdengar suara batuk-batuk dari kamar sebuah kamar samping kanan rumah.Shinta berlari kesana.Matanya langsung berair saat melihat ayahnya berbaring ditemani Rio.Usia yang sudah tidak muda lagi,beban pikiran dan penderitaan membuat tubuh renta itu serasa tak berdaya.Shinta menghambur memeluk orang-orang yang disayanginya.
"ayaahh...riooo...sejak kapan kalian disini?"
"seseorang menjemput kami kak.lalu mengatakan kalau kami harua disini menunggumu"
Stephani mengangguk sopan lalu duduk disamping tempat tidur.
"aku yang menyuruh mereka Ta.Sekarang kita akan memulai hidup disini.ehh...tapi kenapa kalian tidak memilih kamar didalam saja?ayo,kta pindah kesana" katanya dalam bahasa Inggris yang hanya bisa dipahami sedikit-sedikit oleh Rio.
"Tidak nak,aku lebih nyaman disini,agar sewaktu-waktu kami keluar masuk tanpa mengganggu kalian" Ujar ayah Shinta sambil tersenyum.Pria tua itu begity bahagia bertemu putri semata wayangnya.
"kalian istirahat saja dulu.pasti kalian capek"
"ehh..tunggu,aku akan pesan makanan online dulu ya.kita belum makan dari tadi"
"Steve,apa tidak sebaiknya kita masak sendiri?akan jauh lebih hemat" usul Shinta mengingatkan.
"Besok kita masak sendiri,sekarang darurat Ta.lagian kita belum punya bahan makanan untuk dimasak kan?
" baiklah Fan,maaf kalau kami sekeluarga merepotkanmu,aku akan menggantinya nanti" Shinta langsung tidak enak hati pada kebaikan Stephanie.
"aahhh sudahlah..sekarang kita satu keluarga kan?"
"Tapi,tuan Mic..."
Stephanie memberi isyarat agar Shinta tidak melanjutkan ucapannya.Menariknya agak menjauh sebelum pamitan pada ayah dan Rio.
__ADS_1
"kau ingin sakit ayahmu bertambah parah setelah mendengar semuanya secara mendadak?kita akan menjelaskannya pelan-pelan,tapi tidak sekarang" bisik Stephani