
Empat pria bertubuh kekar dan berkaca mata hitam keluar dari dalam mobil yang terparkir didepan rumah Stepahine.Seseorang yang berperawakan lebih ramping dan muda dari keempatnya maju mengetuk pintu yang tak berapa lama dibuka Stephanie yang berjingkit kaget dengan kedatangan gerombolan pria yang tidak dia kenal.
"Nona stephanie?"
"iya.saya sendiri.Anda siapa ya?"
"saya Saiful,pemilik rumah ini"
"saya pemiliknya,kok jadi anda?" Pria itu menyerahkan surat klaim kepemilikan yang menyatakan bahwa dia adalah pemilik sah rumah itu sesuai putusan pengadilan.Stephanie memundurkan tubuhnya berlahan.Shinta yang berdiri dibelakangnya terlonjak kaget.Dia bergegas keluar dan mempersilahkan tamu tidak diundang itu untuk duduk bersama di teras rumah.
"Begini nyonya,tanah ini dijual sepupu saya saat dalam sengketa dan masih diproses pengadilan.Setelah diputuskan kemarin,saya adalah pemilik sahnya."
"Tapi saya membelinya secara sah tuan" Stephanie berlari ke kamarnya dan mengambil sertifikat tanah yang sudah dibelinya.
"Silahkan perhatikan nona,bukankah tanah ini anda beli atas nama kakek kami,pak Norman.Sedangkan kami ahli waris aslinya malah tidak tau menau.Sepupu saya Saroji mencuri surat tanahnya dan menjualnya pada anda"
"Tapi saya sudah menyerahkan uangnya dan saya ada surat resminya tuan"
"surat saya juga resmi nona,dan kami juga membawa surat perintah pengosongan"
Stephanie lemas.Shinta masih terhenyak ditempatnya.Ditangan mereka surat-surat itu masih dibaca bergantian dengan tangan bergetar.
"Saya minta agar anda segera mengosongkan rumah ini nona.Agar tidak terjadi hal yang tidak diinginkan" jelas pria bernama Saiful itu dengan pelan tapi penuh penekanan.wajah tegasnya mendominasi.
"kak Mic......awas saja kau!!!" geram Stephanie sambil mengepalkan tangannya.
"Baik,kami akan pergi dari sini secepatnya.Silahkan kalian semua pulang dan melapor pada tuan kalian yang bodoh itu" sentak Stephanie dengan kasar.
"tuan kami?apa maksut anda nona?saya tidak punya atasan.Tanah ini benar-benar milik kakek saya dan sudah dalam sengketa sejak dua tahun lalu.Jadi kami tidak ada hubungannya dengan masalah anda" Saiful juga balas menyentak.
"Tapi kenapa anda baru datang sekarang?"
"ya karena kamu masih menunggu putusan pengadilan.Kalau anda ragu dengan surat yang saya bawa,anda bisa menuntut balik saya" Pria itu malah makin emosi hingga wajahnya merah padam.
"Maafkan adik saya pak,harap anda memaklumi kondisi kami yang terkejut dengan semua ini.Benar kata adik saya,kami akan pergi secepat mungkin dari sini"
Shinta menjawab tak kalah pelan dan penuh penekanan.Saiful menoleh padanya dengan tatapan hormat.
__ADS_1
"baiklah nyonya,saya permisi sekarang"
Lalu rombongan menakutkan itu bergerak pergi tanpa menoleh lagi.Kertas foto kopian masih berserakan dimeja.
"Ini semua pasti ulah kak Mic"
"Sudahlah Fan,ulah siapapun itu kita tetap harus pergi dari sini.Bukti-bukti mereka legal dan kita tidak bisa melawan lagi"
"lalu kita mau pergi kemana Ta?" mata Stephanie berair menahan tangis.Suaranya bergetar nyaris terisak.
"Kita keruko saja untuk sementara waktu Fan.Tidak apa-apa asal kita bisa berteduh sementara." Hibur Shinta agar sang nona muda tidak menangis.Benar tebakannya,mata Stephanie membulat sempurna dan bersinar lagi penuh semangat.
"Baiklah,ayo kita beres-beres dan menyewa mobil untuk pindah kesana."
Bergegas mereka bahu membahu mempersiapkan kepindahan mendadakan itu.
"Ehh sebaiknya kita keruko dulu Ta,kellihatannya kita harus membereskannya agar nyaman ditempati"
"Baiklah,kita tunggu Rio pulang sebentar lagi ya"
"wah,panjang umur si Rio Ta,barusan kita ngomongin dia,si tampan ini sudah pulang" ujar Stephanie.Rio masih kebingungan dengan suasana rumah yang tidak seperti biasanya.
"iya,sementara ini kita pindah keruko dulu,sambil cari kontrakan rumah"
"rumah ini kenapa?"
"sudahlah,kau ganti baju dan makan dulu,nanti kakak jelaskan.Sekarang kakak dan kak Fani mau bersih-bersih ruko dulu ya"
"iya kak."
"ayo Fan,kita berangkat" Stephanie langsung menstarter motor maticnya dan beeboncengan dengan Shinta menuju ruko yang lumayan jauh dari rumah mereka.
Sampai didepan ruko,mereka disuguhi pemandangan yang tidak kalah mengagetkan.Seluruh bangunan toko ludes terbakar.Stephanie langsung ambruk pingsan ditempatnya berdiri.Gadis itu begitu schock.Ruko itu satu-satunya harapan hidupnya.Mereka sekeluarga sangat bergantung dari toko itu.Kemarin dia juga sudah menguras tabungan untuk menambah stok barang ditoko yang sudah makin berkembang dari hari kehari.
Beberapa orang yang membantu memadamkan api masih bergerombol di tepi jalan.Mereka masih sibuk membicarakan sebab musabab terjadinya kebakaran itu.Dari arah lain,pemilik ruko menghampiri Shinta yang masih memangku tubuh Stephani.Mereka lalu membopong tubuh Stephanie masuk rumah si pemilik ruko yang ada dibelakang ruko itu.
Panasnya api masih terasa ditembok bangunan rumah besar itu.Bisa dibayangkan betapa dahsyatnya kebakaran tadi.
__ADS_1
"kenapa ibu dan bapak tidak menghubungi kami saat kebakaran itu berlangsung bu?" tanya Shinta pada pemilik ruko yang menolong mereka.
"kami sudah bolak balik telepon tapi tidak direspon mbak.Bisa mbak cek sendiri kalau nggak percaya" sahut si ibu berapi-api.
Shinta ingat tadi mereka sangat sibuk jadi tidak sempat pegang hp.
"lalu penyebabnya bu?"
"ya mana kami tau mbak,orang kami taunya mbak Fani ini yang nempatin.Posisi pintu juga terkunci,mungkin saja mbak Faninya lupa memutus saluran listrik pada suatu alat hingga terjadi konsleting".
Shinta terdiam.Selama ini Stephanie memang sangat serampangan.Kehidupan keluarga kaya sedikit banyak masih mempengaruhinya.Hal ini juga tidak bisa disalahkan mengingat Stephanie yang dari kecil memang hidup berkecukupan.
Stephanie yang baru sadar dari pinsannya sayup-sayup mendengar percakapan mereka.
" Fan,ayo kita pulang" ajak Shinta.gadis dalam pangkuannya menangis keras.
"sudahlah Fan,kita harus ikhlas.Ayo pulang,waktu kita tidak banyak" Lalu dengan sisa-sisa tenaganya mereka pulang kerumah.
"Kak Mic...aku yakin kak Mic pelakunya"
"sudahlah Fan,sekarang kita harus berpikir dimana bisa tinggal."
"Fan,aku..sudah tidak ada persediaan uang lagi" tangis Stephanie pecah seketika.Pramudya dan Rio menatap sendu padanya.
"Tadi ada orang yang kesini Ta" ujar Pramudya saat mereka sudah agak tenang.
"Suruhan suamimu.Dia memberikan amplop ini untukmu" Pramudya mengangsurkan amplop besar pada Shinta.Dengan tangan gemetar dia menerima dan membukanya.Sertifikat tanah milik ayahnya dan kunci rumah mereka.
"sebaiknya kita pulang saja Ta.Sepertinya suamimu ingin kita pindah kesana"
"gimana Fan?"
"kita bisa apa Ta?kakak selalu menghalalkan seribu cara.Kita sudah tidak punya apa-apa.Kakak tentu sudah memprediksi semuanya.Dasar brengsek!" maki Stephanie geram.
"Entahlah,tapi aku merasa kembali kesana juga adalah jebakan dari kakakmu Fan" dengus Shinta.
"Anggap saja itu kompensasi bagimu karena mengandung calon anaknya Ta."
__ADS_1
Shinta masih diam.