Bukan Cinta Semusim

Bukan Cinta Semusim
Sakit Rindu


__ADS_3

Shinta melihat Mic yang berulang kali memijit kepalanya.Walau bersikap cuek,tapi lama-lama dia tidak tega juga melihat suaminya kelelahan seperti itu.Tidak biasanya Mic berangkat tidur sesore sekarang jika dalam keadaan sehat.Dia juga berulang kali berganti posisi tidur untuk mencari kenyamanan yang hasilnya sia-sia,dia tetap terjaga.Wajahnya makin memucat saat Shinta memutuskan mengalah dan menghampirinya.


"Apa kau sakit?" tanya Shinta.Mic tidak menjawab,tak urung membuat Shinta mendekat dan menaruh tangannya didahi Mic untuk mengecek suhu badan suaminya.Panas.


"Sepertinya kau demam mas.Tunggu,akan kuambilkan obat ya." langkah wanita ini sangat tergesa menuju kotak obat.Diambilnya paracetamol dan menuangkan air putih digelas.


"Minumlah agar kau cepat membaik mas." Mic menerimanya lalu meminumnya dengan segera.Kepalanya masih berdenyut.Shinta meraih selimut lalu menyelimuti Mic.


"sayang..apa aku boleh memelukmu?" tanya Mic dengan wajah dan bibir memucat.Shinta buru-buru naik ke ranjang,Mic langsung memeluk tubuh istrinya erat seperti anak kecil yang takit kehilangan ibunya.Shinta membelai kepalanya pelan.


"apa perlu kukompres mas?badanmu panas sekali mas."


"biarkan seperti ini dulu..aku merindukanmu sayang." ucapnya lalu menempatkan wajanya diceruk leher Shinta.Dengkuran halus dan nafas yang teratur menandakan Michael yang sudah tertidur.Pelukan Mic yang nyaman membuat Shinta juga terlelap dan terbawa ke alam mimpi.


Entah berapa lama mereka tertidur berpelukan.Saat Shinta membuka mata,Mic sudah terjaga lebih dulu.Pria itu menatap Shinta intens.


"A..ada apa menatapku begitu mas?"


"kau sangat cantik jika sedang tidur sayang.Kau tau...makin hari,aku semakin mencintaimu." bisik Michael sambil mengelus permukaan bibir Shinta.

__ADS_1


"apa kau sudah baikan sekarang?" Mic mengangguk.Demamnya sudah turun, hanya kepalanya saja yang masih berdenyut walau tidak separah tadi.Pekerjaan yang menumpuk karena ditinggal Willy dan Stephanie berlibur memang tidak main-main banyaknya.Tenaganya terforsir,hingga lupa makan dan jadilah kesehatannya drop seperti sekarang.


"maafkan aku sayang." lirihnya lagi.shinta hanya diam sambil menatap manik mata Michael lekat.Ada banyak penyesalan disana.Andai waktu itu Michael berterus terang padanya,tentunya hal seperti ini tidak akan terjadi.Shinta menarik nafas dan membuangnya Tangannya membelai pipi Mic pelan.Terlalu banyak yang mereka lewati berdua.Dia tidak akan pernah merasa bahagia bila membuat suaminya itu terus-terusan merasa bersalah.Shinta hanya ingin Mic terbuka dan menyadari kesalahannya,bukan menghukumnya.


"Jangan ulangi lagi." katanya kemudian.Mic tersenyum lebar karena Shinta sudah memberikan lampu hijau padanya.Istri cantiknya sudah memaafkan dirinya.Dikecupnya bibir Shinta sekilas.


"Aku berjanji padamu sayang." ujarnya lagi.q


Istrinya sungguh gadis yang lembut dan sederhana.Kadang Mic dibuat bingung dengan Shinta.Dia istri konglomerat yang punya perusahaan raksasa dengan cabang diseluruh Asia dan Amerika,juga pemilik mall yang menggurita dimana-mana tapi tidak sekalipun memakai kartu kredit atau debit yang Mic berikan padanya.Dia makan seadanya,pakai baju sederhana,tidak suka belanja,apalagi bergaya bak para sosialita.Wanitanya adalah tipe rumahan yang bersahaja.


Tangisan El membuat Shinta bangun dan menuju box bayinya.El sudah tumbuh cepat.Bayi gembul itu sudah mulai bisa bangun dan duduk sendiri,itulah kenapa Shinta tidak tega membiarkan dia jauh darinya.Digendongnya El ketepi ranjang dan disusuinya sang bayi lucu itu.


"Sayang,setelah El tidur...aku yang akan menggantikannya." bisiknya sambil meremas dada istrinya lembut.Shinta baru sadar jika hampir tujuh bulan sejak kelahiran baby El hingga sekarang Mic sama sekali tidak pernah menyentuhnya.Tubuhnya seketika menegang.Ciuman Mic sudah hinggap kemana-mana.


"aahhh.." sebuah lenguhan lolos dari bibirnya saat tangan nakal suaminya menyelusup kedalam bajunya dan memilin putingnya lembut.


"sayang aku kangen kamu." bisikan yang dipenuhi hasrat.Mic juga ******* bibir ranum Shinta saat wanita itu menoleh padanya.Ciuman panjang yang membuat mereka berdua kehabisan nafas.


"taruh El di boxnya sayang." Shinta menurut saja.Belum kembali ke ranjang, Mic malah sudah menyerang Shinta duluan.Menghujani istrinya dengan ciuman diseluruh tubuhnya hingga Shinta menggelinjang.

__ADS_1


"mas,kau kan sedang sakit." kata Shinta disela desahannya.Mic tetap tak mau menghentikan kegiatannya.


"Aku sakit karena merindukanmu sayang." Shinta tersipu saat Mic dengan cepat membalik tubuhnya dan mengendongnya ke ranjang.Singa kelaparan itu sudah tidak bisa lagi mengendalikan hasratnya.*******,lenguhan dan rintihan memecah keheningan.Keduanya seolah kehilangan kesadaran diri dan terus berlomba mengejar puncaknya.


Dini hari Mic terbangun karena tangisan El yang haus.Dia menatap Shinta yang terlelap karena kelelahan melayaninya.Tak ingin menganggu tidur sang ratu,Mic bangkit dengan hati-hati dan menggendong baby El.Dia juga bergerak cepat membuatkan susu lalu memangku bayi tampannya agar bisa minum dari dot.


Dibelainya pipi El yang sangat mirip dirinya.Matanya,hidung dan raut wajahnya begitu identik hingga Abraham selalu menganggap El adalah Mic kecil.


"sayang,jangan rewel ya.Dad sedang membuatkan adik untukmu agar kau punya teman bermain nantinya." Bisik Mic lalu meletakkan El ke box bayinya.Sebelum mencapai tepi tempat tidurnya,El kembali menangis,membuat Mic lagi-lagi menggendongnya dan menidurkannya dengan duduk di sofa.Aahh..punya anak bayi memang merepotkan.Tapi diam-diam Mic terseny karena begitu menikmati perannya menjadi seorang ayah.


Kantuk terasa menyerang matanya.Michael sudah tidak bisa bertahan lebih lama.Dia memutuskan membawa baby El yang masih tersenyum sambil memainkan tangannya untuk dibawa keranjangnya.Dengan begitu,Mic bisa mengawasinya sambil rebahan.


Baby El bergerak lincah kenana dan kekiri.Mic memang meletakkannya ditengah ranjang yang luas itu.Bocah itu tampak senang tidur diantara kedua orang tuanya.Mic tertidur sesaat setelah El memejamkan mata karena kelelahan bergerak.


Paginya Shinta terbangun lebih dulu.Dia merasakan suara kecil disampingnya.Matanya terbelalak lebar saat tau El ditidurkan didekatnya.Putra tampannya itu sudah duduk sambil memukul-mukul wajah dadynya yang tidur dengan posisi melingkar.Mic yang masih pulas tidak merasakan tepukan itu.Shinta tertawa saat El malah makin gemas dan memukul dadynya lagi.


Saat tau momynya sudah bangun,El menangis.Shinta buru-buru meraihnya lalu menyusuinya.Anak itu benar-benar seperti dadynya yang pemarah.Terlambat sedikit saja sudah ngambek dan menangis.Tangisannya bahkan membuat dady tampannya mengerjabkan mata,terjaga.


"kanapa kau menidurkan El disini tanpa memberitahuku mas?aku takut menimpa tubuh El." gerutu Shinta.

__ADS_1


"Kau takut menimpa tubuh El,atau takut tidak bisa memeluk suamimu yang tampan ini hem? goda Mic dengan kerlingan nakal.Shinta mencubit perut siscpacknya hingga Mic menjerit kecil.Tawa berderai mereka berdua menghangatkan pagi yang cerah itu.


__ADS_2