Bukan Cinta Semusim

Bukan Cinta Semusim
Bukan jodoh


__ADS_3

Sebulan kemudian......


Shinta merasakan perutnya mulai terasa mulas.Dia menggapai tepi ranjang untuk bangkit dari posisi tidurnya,tapi tenaganya seolah terkuras sempurna.


"ma...mas..." teriaknya.Michael yang ada dikamar mandi tidak terlalu mendengar teriakan Shinta karena kalah dengan gemricik air dari shower yang mengguyur tubuhnya.


"mas Michael..tolong aku!" sekali lagi Shinta berteriak sekuat tenaga dan membanting gelas diatas nakas.Mic terkejut dan buru-buru menyudahi mandinya.Dengan hanya handuk kecil yang melilit tubuhnya,dia berlari keluar dan mendapati Shinta meringis kesakitan.


"sa..sayang kau kenapa?"


"mas,perutku sakit sekali.mu...mungkin mau lahiran." jawab Shinta diantara ringisan sakitnya.


"Bukankah seharusnya minggu depan?kenapa sekarang?dokter itu membohongiku rupanya.Berani sekali dia" teriak Mic geram.


"udah mas,ba...bawa aku ke rumah sakit sekarang.sakiitt mas." Michael langsung berpakain sekenanya lalu menghubingi Nico untuk menyiapkan mobil.


Ketuban pecah saat mereka hampir memasuki kawasan rumah sakit.Michael sudah berteriak panik melihat Shinta yang sangat kesakitan.Hampir saja sopir pribadinya terkena pukulan Mic jika tidak dihalangi Nico.Sopir itu bergidik ngeri melihat tuan mudanya bagai kerasukan setan.


Kehebohan masih saja terjadi setelah Shinta memasuki ruang bersalin.Michael terus memaki dokter kandungan yang kemarin memeriksa Shinta.Dia sungguh merasa tertipu,padahal berulang kali Nico memperingatkan jika prediksi kelahiran itu bisa maju atau mundur.Sekretaris itu sangat merasa kesal karena ulah Michael yang kekanakan.Orang jeniuspun bisa jadi bodoh karena jatuh cinta.


Aahh....andai ada Willy,tentu Nico tidak akan seperti sekarang.Asisten lucu dan imut itu pasti menghiburnya dengan jokes yang membuat dia sedikit terhibur.Hampir sebulan tidak bertemu Willy membuatnya rindu.Mereka bekerja satu gedung tapi beda lantai,namun kesibukan Mic diluar membuat mereka jarang bertemu.


Nico menoleh pada gadis es disebelahnya.Tetap tanpa ekspresi,menatap lurus kedepan dan dingin.Dia menggelengkan kepalanya.


"Berapa usiamu?" Nico berusaha memecah keheningan.Walau asli pendiam,dia risih juga dalam keheningan.


"Dua puluh lima tahun." selain minim ekspresi,wanita ini juga irit bicara.


"kenapa kau bekerja jadi pengawal?bersekolah di AZZ pula."


masih dengan nada datar.Nico tau tidak semua orang bisa masuk ke AZZ yang terkenal keras dan disiplin.Dia dan Willy juga pernah merasakan tangan dingin Albert brown yang mendidik mereka dengan segenap kemampuannya.Nico dan Willy kecil beberapa kali pindah tempat pendidikan bela diri hingga dipertemukan dengan Michael.


"Saya harus bertahan hidup"


"Apa kau tidak punya saudara disini?"


"Boleh saya bertanya sesuatu sekretaris Nico"

__ADS_1


"katakan!"


"Siapa nama lengkap anda?"


"untuk apa kau bertanya?"


"saya tidak memaksa anda menjawab." huh...Nico sebal sekali dengan gadis ini.


"Nicholas Kendrich" jawabnya datar.Gadis itu langsung memutar tubuhnya dan berpaling kearahnya.Matanya menatap tajam Nico yang tetap duduk tegak dikursinya.


"kenapa kau menatapku seperti itu?" sentak Nic yang tidak suka dipandangi wanita jadi-jadian seperti Aira.


"Kau putra John Kendrich dan hyung minh?" sekarang Nico yang meneliti gadis didepannya.Sama-sama kaku.


"Dari mana kau tau?" Aira menangkap tangan Nico dengan cepat lalu menyingsingkan lengannya hingga kesiku.Ada tato bulan sabit kecil disana.Nico yang baru sadar segera menarik tangannya,tapi dipegang erat oleh Aira.


"apa maumu heh?" sentak Nico.Aira melepaskan tangan Nico lalu meraih sebuah kalung dari lehernya,lalu membukanya.


"Dia Hyung minh...ibumu" Nico terkesiap.Dia tidak pernah tau bagaimana wajah orang tuanya.Ibunya meninggalkan dia dipanti saat masih berusia dua tahun.Hanya surat kelahiran yang dibuat di Korea satu-satunya petunjuk keberadaan dirinya.Nic menyentuh liontin itu dan mengamatinya.Aira menyingkap kemejanya hingga kesiku untuk menunjukkan tato yang sama pada tubuhnya.


Beberapa tahun lalu Nico pernah menyuruh orang-oranganya untuk mencari keberadaan Kim hyung,tapi hasilnya selalu nihil.Ibu panti yang menerima bayinya dulu juga sudah meninggal.Nico sudah menghentikan pencariannya karena merasa usahanya adalah sesuatu yang sia-sia.Mata rantai itu sudah putus.


"menurut ibu,pernikahannya dengan John kendrich ditentang oleh keluarga kakek dan ibu nekat lari dari rumah untuk menikah dengan ayahmu.Tapi kakek menggunakan kekuasaanya untuk memisahkan mereka dan membuangmu kepanti asuhan.Ibu lalu dipaksa menikah dengan ayahku." Nico masih menyimak perkataan Aira.Dia tau gadis itu menangis tapi tidak bersuara.Wajahnya tetap datar dan dingin.


"Aku sampai disini juga karena petunjuk ibu.Sebelum meninggal,dia ingin aku mencarimu"


"untuk apa,dia bahkan tidak mencariku semasa hidupnya." sahut Nico jengkel.Dia merasa jadi anak yang diabaikan.


"Agar aku menjelaskan semuanya padamu,agar kau tidak membencinya.Ibu sudah berulang kali mencarimu,tapi panti tempatmu dirawat tidak memberikan informasi apapun"


"aku tidak membenci siapapun" Nico tau Tuan besar Abraham akan menghapus semua jejak tentang anak asuhnya.Pria itu tidak ingin terjadi sesuatu dikemudian hari dengan anak asuhnya.


"kunjungilah pusara ibu" datar tapi sarat akan permohonan.Gadis itu menatapnya lekat.Nico seperti melihat dirinya dalam diri gadis itu.


"Aku akan mengusahakannya"


"kakek ingin kau kembali ke Korea" ujarnya lagi.

__ADS_1


"untuk apa?"


"Ibu meninggalkan sesuatu untukmu"


"Aku tidak tertarik"


"datanglah jika kau ada waktu" ujar Aira diplomatis.Dia sama dengan Nico yang tidak bisa banyak bicara.Mungkin Hyung minh menurunkan itu pada mereka.


"kau...tinggal dimana?"


"asrama AZZ"


"kenapa tidak kembali ke Korea?" Gadis itu menggeleng.


"Ibu sudah meninggal.Aku tidak punya alasan untuk tetap disana."


"Berapa lama kau disana?"


"hampir empat tahun.Aku mencarimu kemana-mana.kalau saja tuan Willy tidak menyebut namamu bulan lalu,aku tidak akan tau."


"kenapa baru mengatakannya sekarang?"


Aira mengeluarkan amplop coklat yang langsung dibuka oleh Willy.Hasil tes DNA.


"aku menunggunya hasilnya.Maaf,aku mencuri helai rambutmu tanpa ijin,"


"hmmmm....mulai hari ini kau pulang ke apartemenku." ujar Willy.Aira berdiri dan langsung memeluknya.Nico seolah merasakan kehangatan sebuah keluarga.Akhirnya dia juga menemukan keluarganya,walau tidak seayah,tapi setidaknya dia tidak sendirian didunia ini.Ditepuknya bahu Aira.


"wah...wah....kalian sudah jadian ya?main peluk-peluk aja.wooiii...ini tempat umum sekretaris kaku!" teriakan Willy bergema dilorong rumah sakit.Nico segera berdiri dan menendang kakinya.q


"Selamat pagi mr dan mrs Kendrich." ujarnya jenaka.Dua orang didepannya hanya melengos.Willy semakin penasaran.


"Aku merasa kalian sangat klop tuan dan nyonya"


"Dia adikku Will" tegas Nico.Willy langsung terperangah.Meneliti dua orang didepannya.Tidak ada mirip-miripnya sama sekali.Satu cenderung kebarat-baratan dan satunya oriental dengan kulit sawo matang.Hanya sikap dan kelakuan mereka yang identik.sama-sama menyebalkan menurut Willy.


"Kau bermimpi atau menutupi skandal Nic?" Nico melepar amplop tadi pada Willy.Tuan muda baru itu masih nyengir kuda sambil mengerjapkan matanya setelah membaca hasil test DNA mereka.

__ADS_1


"kupikir kalian akan berjodoh man.Tapi sudahlah,setidaknya aku punya koleksi manusia es lagi" gumamnya.


__ADS_2