
Michael memasuki rumah dengan langkah lesu.Shinta yang semula sibuk menata pot bunganya segera mencuci tangan dan menghampiri suaminya.Wanita cantik itu meraih tangan suaminya dan menciumnya usai Menjawab salam Mic.
"Kenapa mas?sepertinya kamu ada masalah?"tanyanya sambil mengikuti langkah Mic naik menuju kamarnya.Jari lentiknya meraih dasi dan melepasnya,juga jasnya.Mic segera menggulung lengan kemejanya keatas lalu menyandarkan tubuhnya ke sofa.
"Mau kubikinkan teh dulu mas?" tanya Shinta saat melihat wajah Mic yang sangat lesu.Mic mengangguk.
"Suruh Sarla saja sayang.Sini..duduklah,temani aku sebentar." ujar Mic sambil memejamkan matanya.Shinta bergerak meraih telepon paralel dan menghubungi Sarla agar membawakan teh hangat ke kamar,nyonya muda itu lalu menuju kebelakang sofa lalu memijit kepala suaminya.Dia tau Mic sedang memikirkan banyak hal hari ini.
Beberapa saat kemudian Sarla mengetuk pintu dan menyerahkan tehnya.Mic meminumnya seteguk lalu kembali menyandarkan tubuhnya.
"Sayang,kemarilah."
"Ada apa denganmu mas?" tanya Shinta saat Mic menariknya dalam pelukannya yang hangat.
"Apa kau mencintaiku?" tanya Mic hati-hati.Shinta mendongakkan kepalanya,menatap aneh pada Michael.
"pertanyaan apa itu mas?nggak jelas banget." Shinta memasang wajah cemberutnya,sedang Michael memghela nafas panjang.
"Apa kau masih mencintaiku saat aku sudah tidak punya apa-apa?" Shinta terdiam mencerna kata-kata suaminya.Tidak biasanya Mic terlihat begitu frustasi seperti sekarang.
"Apa kau sedang meragukan aku mas?kau tidak ingat siapa aku dulu?" sekarang Mic yang terdiam.Dia mengelus rambut hitam legam istrinya dengan rasa sayang.Tidak ada niat dihatinya untuk mengingatkan posisi Shinta saat pertama datanh kerumahnya.
"Dad ada dibalik semua ini sayang.Dia ingin memisahkan Willy dari Steve,juga kita.Dad merasa kalian bukan jodoh sempurna untuk anak-anaknya.Saat aku memutuskan membawa kalian kembali ke Singapura,dad bersikeras menyuruh kita meninggalkan Erlangga disini sebagai penerus Maverich dengan resiko kita keluar tanpa apapun,atau aku menceraikanmu dan menikmati kekayaan Maverich." jelas Michael panjang lebar.Tubuh Shinta menegang.Di tatapnya mata Michael lekat.
"Aku tidak percaya dad sejahat itu mas."
"Tapi itu kenyataanya.Dad tidak terima dicibir oleh semua orang."
"Harusnya kau tidak bertanya itu padaku mas.Kau sendiri yang harus memilihnya."
"Ya.Tapi apapun keputusanku,El tetap tidak bisa kita miliki sayang.Kau tau,aku juga tidak bisa meninggalkanmu."
"Tapi aku akan tetap membawa El bersamaku mas.Dia hartaku satu-satunya.Atas dasar apa dad ingin memisahkan anak dari ibunya?" seketika tangis Shinta pecah.Dibenamkannya kepalanya dalam dada bidang Michael.
__ADS_1
"Ssstt....diamlah sayang.Aku tidak suka kau menangis begini.Ayo kebawah.Kita harus bertemu Stephanie." Mic bangkit lalu mengajak Shinta ke kamar tamu menemui Stephanie.Dipijakan tangga terakhir mereka melihat Stephanie kembali dari arah dapur.Mic memberinya isyarat agar mengikutinya keruang tengah.
Reaksi sama juga ditunjukkan Stephanie saat Michael menceritakan semuanya.Gadis itu terisak saling berpelukan dengan Shinta.
"Kesalahaku adalah menggabungkan Luxio dengan Maverich." keluh Mic hampir tak terdengar.
"Kita akan kembali ke Singapura kak.Aku akan lebih tenang disana."
"Lalu Willy?"
"Aku sudah memikirkannya kak.Jika dia jodohku,maka dia akan kembali padaku.Dad tidak akan bisa berbuat apa-apa.Yang harus kita pikirkan sekarang adalah El kak.Dia harus ikut dengan kita." Shinta tersentak dengan ucapan Stephanie yang sangat dewasa.Bagaimana adik ipar yang juga sahabatnya itu lebih memikirkan keluarganya dibanding orang yang dicintainya.Shinta begitu terharu hingga lagi-lagi meneteskan air mata.
"Kau benar-benar wanita yang baik Steve.Semoga Tuhan selalu melindungimu." mereka kembali berpelukan.
"Bukankah kalian menikah di Indonesia?El juga tidak lahir disinikan?kewarganegaraan El belum jelas.Dad tidak bisa menahannya disini kak!" Michael terdiam.Perkataan Stephanie memang benar.Sekuat apapun pengaruh Abraham,dia tidak akan bisa melawan hukum negara,apalagi tidak ada perceraian antara Shinta dan dirinya,jadi El tidak perlu kehilangan orang tuanya.
"Kita juga menguasai 40 persen saham Maverich Steve,tidak ada alasan bagi dad untuk membuang kita kejalanan,kecuali dad mau menghancurkan Maverich." tegas Michael kemudian.
"Lalu?" Shinta yang masih belum mengerti arah pembicaraan kakak adik itu mencoba mencari tau.
"by the way..informanku mengatakan jika Willy ada di Alaska sekarang.Dad sudah mengikatnya dengan berbagai perjanjian balas budi Steve.Jadi meski kita menemukannya,dia tidak akan pernah kembali padamu jika bukan dad yang menyuruhnya."
"Aku sudah menduganya kak.Apa yang dad inginkan sebenarnya?"
"Kurasa dad bukan pria seperti yang kalian pikirkan." sela Shinta diantara keheningan.
"Tau apa kau tentang dad!!" teriak kakak adik itu serempak dengan mata melotot hingga Shinta menarik diri dan menutup telinganya.Benar-benar dua bersaudara rasa komandan pasukan.Hobi mereka berdua berteriak dan membentak memang tidak ada duanya.
"Setidaknya aku tau kalau dad dan bunda adalah pasangan yang tulus.Jangan salah menduga jika kalian tidak tau kenyataanya." sahut Shinta lagi dengan sedikit menundukkan wajahnya.Michael yang melihat Shinta seperti itu segera memeluknya.
"Maafkan aku sayang." ungkapnya kemudian sambil mencium kening istrinya.Shinta mengangguk pelan,menyandarkan kepalanya dalam pelukan erat Mic yang menenagkan hatinya.
"Aku akan mencari kak Willy ke Alaska kak."
__ADS_1
"Jangan bertindak bodoh Steve.Biarkan dad bermain,kita hanya akan melihat seberapa jauh dad akan melangkah."
"Tapi dad tetap tidak bisa memisahkan aku dari kak Willy." teriak Stephanie histeris.Hatinya benar-benar terluka sekarang.
"Aira akan membawanya pulang." desis Mic menyerupai perintah terselubung.
"Aira?" tanya Stephanie tidak percaya.
"Nico ada dalam gengaman dad."
"Nico?dia ...."
"ya.aku juga tidak tau sejak kapan sekretaris batu itu jadi berada dipihak dad." keluh Michael tegang.Shinta mengelus lengan michael.
"Sepertinya dad dan Nico menyembunyikan sesuatu." Stephanie memijit pelipisnya,mencoba berspekulasi sendiri.
"Dari dulu dad sukar ditebak." sekarang Mic yang merasa galau.Memisahkan Nico darinya sama saja dengan memutuskan rantai geraknya.Nyawa kedua Michael adalah Nicholas.Dia sama saja seperti pandawa tanpa prabu Krisna dalam kisah mahabarata.Kuat tapi tak bernyawa.
"Apa Aira mampu menggantikan Nico dan kak Willy sekaligus kak?"
"Kita akan melihat,seberapa kuat dirinya nanti Steve."
"kak...aku tidak bisa hidup tanpa kak Willy." Tubuh Stephanie kembali terduduk lemas.Michael menatapnya iba.
"Kau yang memulai semua ini Steve."
"Tapi aku benar-benar tidak sengaja mengatakan semua itu kak." Air mata membasahi pipinya.Stephanie kembali dalam kedukaanya.
"Aku akan menemui dad dan memohon agar aku dipertemukan dengan kak Willy.Aku akan minta maaf,tidak peduli dia mau kembali atau tidak."
"Kurasa lebih baik begitu Steve.Hanya dad yang bisa menyelesaikan semua ini." Steve mengangguk,menyeka air matanya,lalu.berpamitan.
"Aku akan berusaha kak."
__ADS_1
"Kami akan mendoakan yang terbaik bagimu Steve." Shinta menghambur memeluk Stephania.Sama-sama menangis.Beberapa saat kemudian,dia melajukan mobilnya menuju rumah besar.