
Masih dini hari saat Shinta berjalan berlahan setengah mengendap menuruni tangga.Dia sudah memastikan Michael masih tertidur pulas di sofa saat meninggalkan kamar tadi.Suasana yang remang dan terkesan gelap membuatnya meraba-raba karena ini bukan rumahnya.Dia juga harus memastikan tidak menyenggol guci atau barang pecah belah lainnya agar tidak ketahuan.Dia hampir mencapai pintu saat tiba-tiba lampu ruangan menyala.Shinta berdiri kaku ditempatnya,tidak berani membalikkan tubuhnya.Siapa yang masih terjaga dini hari begini.Bahkan para penjaga sudah terlihat berkumpul dipos dan memantau cctv karena capek berkeliling.
Suara sepatu pantofel berdetak keras di kesunyian pagi yang belum juga menggapai cakrawala.Berlahan namun pasti Shinta berbalik.
"Mau kemana pagi-pagi begini kakak ipar?Ini bahkan baru pergantian hari.Ini musim dingin,akan sangat dingin jika kau keluar rumah." Shinta menatap Willy yang berdiri menjulang di depannya.Adik iparnya itu menatapnya tajam.Rupanya terlalu lama menjadi asisten Mic membuatnya selalu waspada.
"Aku ingin pulang ke rumahku." jawab Shinta ketus.
"Jam segini?apa kau mau jalan kaki nyonya muda?sopir saja belum bangun dari tidurnya.Atau kau mau melarikan diri?" tanya Willy dengan nada mengejek.Adik iparnya itu juga mengerling jenaka kearahnya.
"Untuk apa melarikan diri?aku punya rumah.aku ingin pulang."
"Kau yakin?apa kau sudah minta ijin kak Mic?"
"Aku tidak perlu minta ijin siapapun untuk pulang." sentak Shinta menahan emosi.Deheman keras dari atas tangga membuat mereka berdua terdiam.Michael turun dengan piyama putih yang membalut tubuh kekarnya.
"Kau perlu minta ijin padaku karena aku suamimu." kata Mic dingin,Shinta melengos.
"Tapi aku mau pulang mas kerumah mas!"
"tidak!"
__ADS_1
"aku mau pulang!"
"kubilang tidak ya tidak!" sentak Mic dengan kesal.Shinta benar-benar membuat pelipisnya berdenyut.
"Baik,pulangkan aku pada ayahku."
"atau ibukuuuuuu....Itu seperti lirik lagu nostagia Indonesia kak,kalau tidak salah ada terusan uwooouwooouwowooo..." kekeh Willy
"diam!!!" sentak Shinta dan Mic bersamaan dengan mata melotot padanya.Mantan asisten itu menggaruk kepalanya yang tidak gatal dan melengkapi wajah tampannya dengan cengiran kecil.Pasangan Maverich junior itu sangat kompak dikala marah.Pasangan yang sama-sama keras dan hobi membentak.Lihat saja siapa yang akan kalah saat keduanya mulai berseteru seperti sekarang.
"Kau istriku,kenapa harus kupulangkan pada ayah.Aku masih sanggup menghidupimu,mengurusmu dan mencin...ahhh sudahlah!!" kata Mic
"Istri?apa beberapa hari ini kau menganggapku istrimu mas?hanya karena aku berbuat kesalahan kecil lalu kau mengabaikan aku.Minta maaf juga kau acuhkan.Kau pisahkan aku dari anakku.Apa itu sikap seorang suami?Aku memang anak orang tidak mampu yang hutangnya kau lunasi,yang hidup dari pemberianmu,tapi aku tidak mau hidup dalam rasa sakit.Aku ingin hidup bebas!lepaskan aku,dan kembalikan aku pada ayah.Aku akan meninggalkan apapun yang kau berikan.Kami akan keluar tanpa membawa apapun!Aku hanya ingin anak-anakku.Jangan pisahkan aku dari mereka.kumohon!" teriak Shinta dengan emosi hingga di ubun-ubun.Wajah mulusnya merah padam menahan amarah hingga tidak sadar banyak pasang mata sudah ada disekitar mereka.Stephanie,Nico,Abraham dan Misca mematung menyaksikan pertengkaran mereka.Michael mendekatinya,mencengkeram dagunya kasar.
"Sudah?kau bilang apa tadi?kesalahan kecil?cerai? Mic terkekeh dengan wajah mengerikan.Wajah setannya sangat terlihat
"Yang kau sebut kesalan kecil itu bisa membunuhku Shinta!!"
"Aku tidak melibatkanmu mas.Lepaskan!!"
teriak Shinta tidak mau kalah.Tapi Mic mempererat cengkramannya hingga dagunya terasa ngilu.Wajah dingin itu mendekat padanya.
__ADS_1
"Kau memang tidak melibatkanku.Tapi apa kau tau tidakanmu bisa membuatmu terbunuh.Jika kau tiada bagaimana nasib El,calon bayimu juga aku?kau tau aku sangat mencintaimu Shinta wulansari pramudya Maverich?Aku bahkan tidak bisa hidup tanpamu.Membayangkan kehilangan dirimupun aku tidak sanggup.Apa kau juga berpikir bagaimana kelangsungan Luxio jika aku tidak mengendalikannya dengan baik?bagaimana nasib jutaan karyawan yang menggantungakan hidup dari sana?Apa kau pernah berpikir tentang itu?" hardik Michael panjang dengan wajah berapi-api.Nafasnya tersengal menahan emosi yang merasuki sanubarinya.Shinta terkesiap,tidak mampu lagi menjawab.
"Aku menjauhkan El darimu agar kau tau rasanya kehilangan.Aku mendiamkanmu juga agar kau tau rasanya ketiadaan.Tidak nyaman bukan?lalu bagaimana kau bisa mengambil tindakan yang akan membuatku kehilangan segalanya?Kau wanita pertama yang membuatku jatuh cinta,tidak akan kubiarkan kau membuatku terluka.Hanya maut yang akan memisahkan kita.Kau sudah bersuami Shinta,semua yang kau lakukan harus seijinku.Suka atau tidak,itu sudah jadi kewajibanmu.Kau mengerti?" kata Mic sambil melepakan cengkaramannya pada dagu Shinta kuat hingga tubuh mungil Shinta terhuyung jatuh kelantai.Misca dan Stephanie memekik panik,namun Shinta segera bangkit,meraih kaki Mic dan memeluknya erat.
"ma...maafkan aku mas." ujar Shinta dengan isakan lirih.Michael diam mematung,matanya berkaca-kaca.Tuan muda Maverich itu sudah banyak berubah.
"Ampuni aku mas,aku berjanji tidak akan mengulangi kesalahan itu lagi.Aku berjanji akan patuh padamu."
"jangan pernah mengatakan perceraian di depanku.Aku tidak suka kata-kata itu!" Mic menyeka air mata yang akan jatuh dari sudut matanya dengan punggung tangannya.Sejak berjanji dihadapan Pramudya beberapa tahun lalu bahwa dia akan selalu membahagiakan Shinta,Michael memang berubah.Cinta sudah menyentuh hatinya,mengubahnya dari manusia es tak berperasaan menjadi manusia hangat dan penuh kasih.
"b..baik mas." jawab Shinta terbat
"Berdiri." ucapnya agak lunak.Shinta mengangguk dan berlahan bangkit.Mic menangkup kedua pipinya dan menatapnya dalam.Dihapusnya air mata sang istri dengan ibu jarinya yang hangat.
"Pergi ke kamarmu." bisiknya.Semua orang menghela nafas lega.Ketegangan mulai berkurang.Shinta menatap sekelilingnya,lalu menundukkan wajahnya.Mic memberi isyarat pada sang bunda.
"ma..maafkan aku membuat istirahat kalian terganggu.maaf." tak ada sahutan.Seorang Maid menggendong baby El yang tertidur dan mendekati Shinta.Dia menyerahkan bocah tampan itu padanya.Shinta memeluk putranya,menciumi wajahnya hingga El menggeliat.
"Terimakasih mas." lalu nyonya muda Maverich itu berjalan ke kamarnya.Abraham memdekati Mic,menepuk punggung putra semata wayangnya itu dengan senyum lebar.
"Ini yang membuat dad kagum padamu nak,kau memperjuangkan cintamu.Kau kuat,tidak seperti dad yang kehilangan bundamu dulu.Tetaplah jadi suami dan ayah yang baik nak.Dad bangga padamu." abraham memeluk Michael bangga.Mic juga balas memeluknya erat.
__ADS_1
"Bagiku dad tetap yang terbaik."