Bukan Cinta Semusim

Bukan Cinta Semusim
Bersama


__ADS_3

Setelah perdebatan yang panjang akhirnya Abraham mengijinkan Shinta dan Michael pulang kerumahnya.Baby El tidak mau lepas dari dadynya.Tampaknya bocah kecil itu sangat merindukan kehadiran seorang ayah.Mic terus membelai putranya hingga tertidur dalam dekapannya sedangkan Shinta memilih membuang pandangannya keluar jendela.Ada banyak perasaan yang campur aduk dalam hatinya.Disatu sisi dia bahagia karena El mendapat kasih sayang dari semua orang,terutama dadynya tapi disisi lain dia masih belum memaafkan Mic sepenuhnya.Yang dia lakukan hanya mengedepankan kepentingan anak dan orang-orang yang mencintainya.


Mobil sudah memasuki kediaman Michael.Sarla dan Mia sudah berdiri didekat pintu utama untuk menyambut mereka.Kedua pelayan itu melebarkan senyum ramah.Shinta memeluk mereka bergantian.Baginya Sarla dan Mia adalah juga keluarganya.Shinta tidak pernah menganggap mereka pelayan.


"nyonya anda kemana saja?" tanya Mia ingin tau.Shinta hanya mengangkat bahu dan mengelus punggung tangan mereka.Sarla dan Mia tau nyonyanya masih sakit hatiTak ingin semakin membuat sang nyonya terluka,keduanya memilih undur diri menunggu saat yang tepat untuk berinteraksi kembali dengan Shinta.Mereka tau,yang saat ini dilalui Shinta sangat berat dan butuh kesabaran untuk berlapang dada.


Shinta menuju kekamar mereka dilantai atas.Wanita muda itu terbelalak melihat kamar yang sangat berantakan.Dia berusaha menyingkirkan satu persatu lalu dengan cekatan menyiapkan keperluan Mic kekantor.Walaupun masih sedikit belum memaafkan Mic,dia tetap melakukan kewajibannya sebagi istri.


Michael masuk kekamar untuk menidurkan baby El diranjang besar mereka.Dia menatap pakaian dan peralatan kantor yang disiapkan Shinta untukknya,juga melihat sang istri yang sibuk membenahi kamar yang berantakan karena ulahnya.Yah..Michael memang tidak mengijinkan siapapun memasuki kamarnya.


Shinta membuang botol minuman keras dalam keranjang sampah lalu meletakkannya diluar kamar agar Mia bisa membuangnya.Matanya sedikit nanar saat melihat obat tidur tergeletak di meja.Apa Michael seberantakan itu sepeninggal dirinya?Apa suaminya itu benar-benar tidak mengurus dirinya?Terlihat dari badannya yang kurus dan rambut serta jambang yang menutupi wajahnya.Pakaian kotor juga berserakan dimana-mana,padahal Mic paling tidak suka barang kotor.


"Sayang maafkan aku." ujar Mic karena menyadari kekacauan yang dia buat.Sejak Shinta hamil tua dan melahirkan,mereka memang tidak memakai kamar itu dan pindah kebawah,Dia memakainya juga begitu Shinta pergi dari rumah.


"Kau minum lagi." Michael langsung menahan tangan Shinta dan mendudukannya ditepi ranjang pelan,takut El terbangun.Dia berjongkok dibawah sambil memegang tangan Shinta.


"Aku berjanji tidak akan minum lagi seumur hidupku sayang.Aku juga tidak akan mendekati wanita lain selain dirimu." kata Mic dengan bersungguh-sungguh.Shinta kembali terdiam.


"Sekarang pergilah ke kantor.Kata dad kau sudah dua bulan ini tidak masuk kerja."


"Tapi aku ingin dirumah sayang." mirip anak kecil yang merajuk pada ibunya.


"Aku pemilik saham terbesar Luxio sekarang mas,aku berhak memerintahmu atau memberhentikanmu.Jadi cepatlah berangkat bekerja."


"Aku tidak mau!" tukas Mic yang malah membenamkan kepalanya kepangkuan Shinta.

__ADS_1


"Aku ingin dirumah bersama kalian.Aku tidak peduli dipecat atau apapun,aku takut kalian akan menghilang lagi sayang." Shinta merasakan pahanya basah.Mic menangis disana.Kenapa suaminya yang selalu garang itu jadi rapuh seperti ini?


"Aku akan tetap disini mas.Berangkatlah,kasihan dad dan yang lain karena terus memikirkan Luxio.Aku juga tidak mau rugi karena nilai saham Luxio yang jatuh." tukasnya berusaha membuat Mic mau bekerja lagi.


Michael mencium tangan yang ada dalam genggamannya,menatap Shinta dalam.


"Aku akan berangkat jika kau dan El ikut.Aku tidak akan tenang bekerja jika kalian tidak ada." bisiknya penuh permohonan.


"kau jangan seperti anak kecil." hardik Shinta setengah menyentak agar Michael tidak manja lagi padanya.Tapi Mic tetap tidak mau berpindah dari posisinya.


"kami akan menganggumu mas." ujar Shinta.Dia sudah menyerah menghadapi tingkah Mic yang manjanya melebihi El.


"Tidak sayang.Kalian bisa bersantai disana,menemani aku bekerja dan El bisa ditidurkan dikamarku." Michael masih berusaha meyakinkan Shinta yang gamang.Setelah bermenit-menit dibujuk Shinta setuju berangkat.


"Bersihkan kumis dan jambangmu itu mas.Kau seperti tidak pernah diurus oleh istrimu."


Shinta bergegas berganti baju dengan gaun mahal yang dibelikan Misca untuknya.Tubuhnya memang terlihat berisi karena baru melahirkan dan masih menyusui El,tapi gaun hitam semi formal itu mampu menutupinya dengan sempurna.Krah lebarnya bahkan mengekspose lehar dan punggung Shinta yang putih dan licin.


Michael berdiri menunggunya merapikan riasan natural yang terkesan elegan diwajahnya.Pria itu berulang kali meneguk ludahnya.Saat bersitatap dengan shinta,ia mengulurkan dasi minta dipasangkan.Tentu saja Shinta tidak bisa menolaknya.Dia memasang dasi itu dengan cekatan,membuang pandangannya kearah lain agar tidak bersitatap dengan Mic yang sudah tampil sempurna pagi itu.Harus dia akui,Mic tidak hanya tampan,tapi punya seribu pesona yang tersembunyi dibalik wajah dinginnya.


"kenapa pagi ini kau terlihat sangat cantik sayang?" desis Mic diwajah Shinta.Bau parfume pinus after shavenya bahkan masih tercium kuat dihidung Shinta.Istrinya tidak menanggapi.Mic yang tidak tahan memeluk Shinta dan mendaratkan ciuman dibibir merah istrinya.Tidak ada perlawanan ataupun balasan.Sepertinya Shinta sudah mati rasa.


"Kau akan terus memandangiku atau pergi sarapan?" tanya Shinta sambil melangkah pergi kebawah.El yang ada dalam dekapannya tersenyum lebar pada dady tampannya yang nampak salah tingkah.Tangan kecilnya seolah menggapai agar dadynya menyusul kearahnya.Mic hanya tersenyum melihat putranya.Baginya melihat mereka kembali adalah anugrah yang harus dia syukuri.


Setelah membawakan beberapa kebutuhan El,Shinta keluar dari kamar dan menemani Michael sarapan.Tidak ada pembicaraan diantara mereka.Mic hanya terus memandang penuh cinta pada istri dan anaknya.Dia bahkan sempat putus asa karena pencarian orang-orang suruhannya berakhir sia-sia.

__ADS_1


Sekretaris Nico mendekat saat keduanya selesai makan.Dia menundukkan kepalanya lalu membacakan jadwal Michael hari ini.Itulah tugasnya setiap hari.Mic selalu ingin tau jadwalnya dipagi hari sebelum berangkat ke kantor.


"Kita berangkat Nic."


"baik tuan."


Mic meraih pinggang istrinya lalu mengajaknya keluar kamar.Nico menatap aneh tapi tidak mengeluarkan protes.Baru kali ini Mic mengajak anak istrinya ke Luxio.Tidak ada larangan sebenarnya karena itu perusahaan milik keluarganya.Tapi hal itu terasa aneh bagi Nico yang sangat paham jika Mic adalah workaholic dan tidak ingin diganggu saat bekerja.Ada yang berubah pagi ini.


**********


Hai readersku tersayang.....


Terimakasih sudah menyimak 'Bukan Cinta Semusim' hingga sekarang ya...


Author hanya ingin promo novel terbaru


'Cintaku di Garis Finish.'


yang tetap meminta dukungan,like,koment dan kritik saran yang membangun untuk menyemangati dan memajukan karya ini.


Tanpa kalian,Author bukan apa-apa.


Author hanya bisa membuat cerita,tapi kalianlah juri yang sesungguhnya.


Jangan lupa mampir yaaa...Terimakasih...

__ADS_1


I Love U all😍😍😍😍😍



__ADS_2