Bukan Cinta Semusim

Bukan Cinta Semusim
Gugatan Cerai


__ADS_3

Stephanie mengenakan kaca mata hitamnya saat keluar dari lobi hotel dan berpapasan dengan Willy.Pria yang masih berstatus suaminya itu sibuk menelepon seseorang.Steve meruntuki kebodohannya yang memutuskan turun duluan sebelum yang lain.Niat awalnya hanya mencari udara segar,malah berujung lara.Willy bahkan tidak melihatnya sama sekali.Salah tingkah,nona muda Maverich itu mengambil duduk di lobi sambil memainkan hpnya,mengabari Shinta dan Erika jika dia sudah menunggu di bawah.


Adalah Erika yang turun lebih dulu menemuinya.Nico pasti sedang menunggu kakaknya keluar dari kamarnya.Dia melihat wajah Erika berbinar terang.Sepertinya dokter itu sedang sangat bahagia.Dalam hati Steve mengeluh,saat ini hanya dia yang sendirian tanpa pasangan.


"selamat pagi Steve." sapa Erika ramah.Steve tersenyum lalu memberi isyarat agar Erika duduk.Dokter itu menurut.


"Er,apa hari ini kau akan ikut ke rumah Shinta?"


"iya.Selepas jam kerja baru mas Nico mengajakku menginap dirumah mama.engg...kau mau ikut?aku akan sangat senang sekali jika kau berkunjung ke rumahku Steve."


"Lain hari saja ya.Aku rindu pada paman dan Rio."


"ehh ...lihat,itu tuan Willy kan?dia menunggu siapa?kenapa tidak kemari?" Steve diam tanpa suara.Hatinya kembali tersayat,apalagi beberapa saat kemudian gadis yang bersamanya kemarin malam datang menghampirinya.Wajah memarnya sudah disamarkan oleh polesan make up.Baru bercakap-cakap sebentar,keduanya menoleh saat lift terbuka dan muncullah formasi keluarga Abraham tanpa Steve.


Abraham melangkah pelan mendekat.Willy dan wanita tadi yang bergerak cepat menghampirinya lalu menjabat tangannya erat.Abraham dan Misca yang menggendong El ngobrol santai dengan keduanya,kontras dengan Mic dan Shinta yang memasang tampang tak bersahabat.


Willy menyerahkan sebuah map tipis pada Abraham.Pria tua itu menerimanya dan menyerahkanya pada Nico.Sekilas sekretaris tampan itu membaca isinya,mendengarkan instruksi tuan besar Maverich itu dan melangkah ke arah Stephanie.Bersamaan denga itu,Willy membungkuk hormah pada keluarga Abraham lalu pergi bergandengan tangan dengan wanita tadi.Mata Stephanie memanas.


"Selamat pagi nona muda,ini berkas yang harus anda tanda tangani." Nico mengulurkan map itu pada Steve,melirik Erika yang tertunduk malu-malu lalu kembali ke belakang Michael.Stephanie membuka map itu.....Surat gugatan cerai yang diajukan atas namanya.Tubuhnya menegang saat melihat tanda tangan Willy sudah tertera disana.Bukankah itu berarti Willy sudah setuju berpisah darinya?


Map itu terlempar ke udara.Stephanie berlari menyusul Willy yang sudah sampai di parkiran,siap menjalankan mobilnya.Tangannya terentang penuh untuk menghalangi jalan.Willy membunyikan klakson berkali-kali tapi tidak digubris oleh Stephanie.Wanita itu tetap berdiri gagah disana.


"Keluar kak,aku ingin bicara!" teriaknya emosi.Wanita disamping Willy yang lebih dulu membuka pintu dan turun dari mobil.


"Nona,minggir kami mau lewat.Willy tidak mau bicara denganmu" Stephanie berang.Sifat kasarnya muncul sempurna.Dengan langkah panjang dia menghampiri wanita tadi.


"Pergi kau dari sini ******!jangan coba-coba merebut suamiku!"

__ADS_1


"suami?ha...ha...bahkan Willy sudah menceraikanmu." ejek wanita itu dengan senyum meremehkan.


"tutup mulutmu!"


"kau mau apa?menamparku seperti semalam?silakan!!tapi Willy tidak akan pernah kembali padamu nona muda sombong."


....plakk....


Stephanie menampar kuat wanita itu.Darah mengucur disudut bibirnya.


'plak'


wanita itu gantian menampar Steve hingga terhuyung.Sekilas dia melirik Willy yang duduk di depan kemudi.Suaminya bersikap tidak mau tau.Hatinya semakin sakit.Nekat,dia maju dan mulai berkelahi seperti orang kesetanan hingga keduanya sama-sama dalam kondisi mengenaskan.Tidak ada pembelaan dari siapapun.Mic menarik tangan Shinta yang sudah emosi berat dan akan menerjang kesana.Dia mengelus bahu istrinya agar tetap tenang.Begitupun Erika,naluri paramedis dalam dirinya memaksa mendekat untuk memberi pertolongan.Nico memeluk pinggangnya posesif,sedang tuan dan nyonya Abraham hanya sibuk menimang El seperti tidak terjadi sesuatu.


Willy turun dari mobil.Menarik lengan wanitanya dan membawanya masuk.Menatap Stephanie dengan tajam lalu pergi kesisi yang lain.


"kak,kita harus bicara!"


"Aku ini istrimu!apa ini adil untukku?"


"kau bicara keadilan?ha...ha....kau bahkan lupa apa perkataanmu adil bagiku?nona,aku hanya seorang pengawal,sudah sepantasnya kalau aku menikahi wanita yang sepadan denganku bukan?" jawab Willy dengan enteng.


"Apa kau benar-benar menginginkan perpisahan ini kak?" Suara Stephanie bergetar menahan tangis.Air matanya jatuh berderai.Willy membuang pandangan ke arah lain.


"Aku tidak perlu menjawabnya nona.permisi."


"kak tunggu!" Stephanie memburu Willy yang sudah masuk ke mobil.Pintu yang masih terbuka terhalang oleh tubuh Steve.Willy menatap lurus kedepan,tidak peduli pada kehadiran Stephanie.

__ADS_1


"Baik kalau kau ingin kita berpisah.Tapi tolong biarkan aku minta maaf."


"saya sudah memaafkan anda nona."


"Tidak bisakah kita kembali seperti dulu?"


"maaf,saya tidak tertarik.Tolong pergilah.Saya ada urusan penting." Steve tergugu.Tubuhnya melemas seketika.Dilepasnya pegangannya dipintu mobil.Menjauhinya hingga tubuhnya membentur seseorang....Shinta.Kakak iparnya itu memeluk erat tubuhnya.Membiarkan tangis Stephanie tumpah disana,menatap tajam pada Willy yang seolah kehilangan kesadarannya.


"keluar!" desisnya dengan wajah mengerikan.Willy tak bergeming.Shinta melepas tubuh Stephanie saat merasa Erika sudah di dekatnya.Dia bergerak cepat menarik krah kemeja Willy,menariknya keluar sekuat tenaga lalu menghadiahi pukulan tepat di wajahnya.Willy terhuyung,hidungnya berdarah.


"Dasar laki-laki pengecut!!Berani kau menyakiti adikku,maka kau tidak akan lolos dariku Willy bodoh!" umpat Shinta kasar.Sebuah tendangan kembali terlepas diperut mantan pengawal Michael itu.Tidak ada perlawanan sama sekali.Willy seperti berada dia alam lain saat Shinta menghajarnya membabi buta.Michael menarik tangan istrinya kasar saat dua orang petugas keamanan datang.Tak mau memancing keributan,Nico bergerak cepat menghalau dua petugas itu dengan berbagai alasan masuk akal dan sedikit menyelipkan uang tutup mulut.


"sayang hentikan." bisik Mic.Shinta yang masih emosi berusaha mendorong tubuh suaminya untuk berbalik menghajar Willy lagi.Tapi Mic sudah merangkul tubuhnya hingga tidak dapat bergerak.Mic menggelengkan kepalanya,heran dengan kelakuan arogan istrinya yang kadang diluar nalar.


"Mas lepaskan.Laki-laki tidak tau malu itu akan kuhajar sampai...."


Mic ******* bibir Shinta kasar hingga Shinta terdiam.Hanya itu yang bisa menghentikan istrinya semakin nekat.Dengan begitu Shinta langsung menunduk malu,tidak lagi bersuara.


"Dengar....itu urusan keluarga mereka,kita hanya penonton sayang.Sekarang,ayo kita pergi ke tempat ayah." Shinta hanya menurut saat Mic menggiringnya ke mobil. diikuti Nico dan Erika yang menuntun Stephanie paksa.Sama seperti willy,Stephanie juga kehilangan separuh kesadarannya.Wanita cantik itu hanya diam tidak bergerak sedikitpun.Erika merapikan baju dan rambutnya yang awut-awutan sambil sesekali mengelap keringat Steve.Nona muda Maverich itu sangat terpukul.


*


*


*


Hay Readersku tersayang....

__ADS_1


Saya hanya numpang promo novel baru ya...semoga kalian mau mampir dan menyukainya seperti antusiasme kalian pada novel ini.Terimakasih dan I love U all😘😘😘😘😘



__ADS_2