
Misca berjalan diantara Michael dan Shinta menyusuri koridor rumah sakit tempat tuan Abraham dirawat.Wanita yang tetap cantik diusia senjanya itu berjalan anggun dengan setelan biru tua yang pas ditubuhnya.Dibelakangnya,sekretaris Nico berjalan lambat menjaga jarak dari tuan mudanya.
Willy sudah berdiri dan membuka pintu ruangan.Michael mempersilahkan Misca masuk lebih dulu,lalu Shinta kemudian dirinya.Bau obat dan disinfektan terasa menyengat diruangan itu.Mata Misca langsung terarah pada gadia manis berambut pirang yang berdiri menyambutnya.
"mom" lalu gadia itu memeluk ibunya erat sekali.Air mata lagi-lagi mengalir dipipi keduanya.
"mom jangan tingalkan Steve lagi" Misca membelai rambut putri kecil yang dulu sangat dirindukannya.
"putri kecilku sekarang sudah dewasa.Maafkan bunda yang tidak bisa menjagamu selama ini ya sayang?" ucap Misca terbata.
"bunda?"
"iya.Mic dan Shinta memanggil mom begitu sayang"
"baiklah...aku ikut mereka saja mom ehh bunda" Lalu Stephanie beralih memeluk Shinta.
Aura dingin masih menyelimuti kamar perawatan itu.Mic mengisyaratkan agar bundanya mendekat ke brankar Abraham.Misca menatap Abraham dengan pandangan yang sulit diartikan.Ada rindu yang sulit diluapkan,cinta yang pudar dimakan usia,juga sakit hati yang dipaksa pergi.Mata perempuan itu berkaca.
Tangannya sedikit bergetar meraih telapak tangan Abraham dalam gengamannya.Mengelusnya lembut hingga sang pemilik tangan terjaga dan menoleh kearahnya.
"Mi..Misca" ucap pria paruh baya itu bergetar.Misca hanya mengangguk sambil menundukkan sedikit kepalanya.
"ini saya tuan,apa anda baik-baik saja?" Kali ini mata Abraham berkaca.
"Setelah puluhan tahun kau masih memanggilku tuan?"
"Karena anda tetap majikan saya"
Abraham terdiam dalam kelu.Dia meremas tangan Misca,mencoba mencari kehangatan disana.
"Tapi aku masih suamimu Misca"
"itu sebelum anda menikahi nyonya Laura"
"Tapi kita tidak pernah bercerai Misca.Kau tetap ibu anak-anakku." Abraham menatap lekat pada wanita didekat ranjangnya.Misca masih terdiam.
"Saya datang kemari atas permintaan Mic tuan."
"Jangan sebut aku tuan lagi Misca.Arwah ibukupun tidak akan tenang dialam sana jika tau menantu kesayangannya masih memanggilku tuan." Abraham menatap anaknya satu persatu.Dia mencoba duduk namun dicegah oleh Misca.
"Maafkan semua kesalahanku dimasa lalu Misca.Lelaki tua ini tidak tau sampai kapan dia bisa bertahan hidup"
__ADS_1
"Kau akan panjang umur Abraham." senyuman terbit diwajah semua orang saat Misca menyebut nama suaminya tanpa embel-embel tuan lagi.
"Aku sudah memaafkanmu jauh sebelum kau minta maaf padaku."
"Jangan pernah meninggalkan aku dan anak-anak kita lagi Misca." ujar Abraham penuh harap.
"Kau tau dari awal aku tidak suka berbagi suami Abraham.Dan aku tetap akan begitu sampai kapanpun"
"Tapi aku akan menceraikan Laura."
"Bukan akan dad,tapi aku sudah menceraikan dad dari laura.Sekarang dad sudah jadi duda" ujar Michael tegas.Pria tampan itu mengeluarkan sebuah map dari dalam jasnya lalu menyerahkannya pada Misca.
"Bunda boleh membacanya." Dengan tangan bergetar Misca menerima map itu dan membacanya satu persatu.Abraham masih memandang tak percaya pada langkah cepat putranya.
"Bagaimana kau bisa melakukannya Mic?" Tanya Abraham masih dalam kekacauan pikirannya.
"Wanita ular itu menuntut kepemilikan sahamnya atas Maverich crop dad.Dan aku menyetujuinya dengan syarat perceraian ini.Dia juga mendapat separuh sahammu di Maverich sebagai gono goninya.Untunglah dad sudah mengalihkan separuhnya atas nama bunda" jelas Mic panjang lebar.
"Jadi dia sudah menguasai hampir separuh saham kan kak?"
"iya.dan aku akan segera membereskan semua kekacauan ini Stev."
"Misca,kau dengar bukan apa yang dikatakan putra kita?kembalilah ke kediaman Maverich.Kumohon." Mata Misca berkaca-kaca.Setelah puluhan tahun Tuhan baru menjawab doanya untuk kembali pada keluarganya.Stephanie memeluk ibunya.
"Lakukan itu juga demi aku dan calon anakku bunda" tukas Michael tegas.Kali ini Misca sudah tidak dapat berkata-kata.Luka yang menderanya bertahun-tahun seakan sirna laksana debu tertiup angin.Dia begitu terharu ada diantara suami,anak-anak dan menantunya.
"baiklah,bunda akan tetap disini sayang" bisik Misca yang disambut pelukan anak-anaknya.Abraham hanya tersenyum bahagia dari tempatnya.Tatapan pria itu beralih keShinta yang masih mengelus perutnya yang membuncit.
"Shinta,apa calon cucuku baik-baik saja?"
"Dia baik dan sehat dad" sahut Shinta setelah mencium punggung tangan mertuanya.Mereka masih bercengkrama riang melepas kerinduan.
Nico memandang Willy dengan tatapan aneh saat sahabatnya itu ngotot minta cuti sebulan dan memulai cutinya malam ini juga.Sekretaris tampan yang dingin bak gunung es itu memeriksa kegiatan yang harusnya Willy lakukan sebulan kedepan.Nyaris tidak ada waktu luang karena dipastikan dia akan mendampingi Stephanie mengurus kantor Maverich selama Abraham dirawat.
"Tidak ada libur untukmu.Tidak ada yang akan menggantikan tugasmu"
"Nic,kau ini tega sekali.Aku ini manusia,bukan robot berdaging sepertimu.Kau harusnya jatuh cinta agar tau sakitnya patah hati.Dasar sekretaris tak berperasaan." umpat Willy yang hanya dibalas seringaian oleh Nico.
"Itulah kenapa aku lebih suka tidak punya perasaan Will.Kau terlalu mendramatisir suasana"
"Mendramatisir kepalamu!Aku ini patah hati Nic.Kau tega membuatku mati?" Nico masih saja ngotot.
__ADS_1
"Yang harus kau bunuh itu perasaanmu,bukan ragamu bodoh!"
"Baik kalau kau tidak mau memberiku cuti.Beri aku solusi Nic." Nico terdiam,rambut kecoklatannya yang disisir rapi kebelakang jatuh sebagian didahinya.Dia sama sekali tidak punya pengalaman dalam sesi percintaan,juga pada saat Ayya meninggalkannya tanpa pamit menuju Philipina.Tak ada rasa yang tertinggal.Dia hanya dua tiga hari kehilangan,tidak seperti Willy yang melankolis dan jadi raja drama.Sahabatnya itu memang menyebalkan kalau dalam urusan cinta.Bawelnya minta ampun.Dulu dia sudah menyarankan merubah tato naga dilenga kirinya sebagai simbol klannya jadi tato Hello kitty agar sesuai dengan hatinya.Benar-benar menyebalkan.
"Ayo bicara sekretaris pintar.Katanya kau punya tingkat kepintaran sedikit dibawah tuan muda?begitu saja tidak bisa." gerutu Willy sambil menekuk mukanya.
"heyy,tuan muda yang jenius saja jadi bodoh dalam urusan cinta,bagaimana denganku?"
"Kalau begitu beri aku cuti."
"hmmmm baiklah.Kuajukan cutimu seminggu lagi"
"kelamaan Nic.Keburu aku mati!"
"memangnya kau mau liburan kemana?"
"Hawai." Nico melongo.
"kusarankan kau tidak kesana" sekarang asisten berhati Hello kitty itu yang melongo.
"Kenapa?"
"Lebih baik kau pergi ke pedalaman Kalimantan man.Disana lebih eksotis."
"Kau ingin aku dimakan anaconda?"
"hey bodoh,tidak ada anaconda disana.Buang jauh-jauh pikiranmu tentang kalimantan.Disana sudah maju sekarang."
"Kau tau dari mana?"
"Browsing bodoh" kata Willy sambil menonyor kepala Willy yang refleks menghindar.Dia mengeluarkan ponsel edisi terbaru dan menunjukkan pada Willy betapa eksotisnya Kalimantan juga Papua.
"Aku merencanakan liburan kesana kalau kau berminat Will."
"Tapi kita tidak bisa cuti bersamaan Nic,itu larangan."
"ya sudah kau duluan saja minggu depan"
"Aku maunya mulai malam ini Nic.Tidak ada tapi!"
"Kau mau kemana Will?menghabiskan waktu dengan gadis-gadis mengerikan yang tergila-gila padamu?dasar wanita murahan!" Willy menggeleng.
__ADS_1
"Aku ingin menginap dirumah Yesa,aku merindukannya." Nico terkesiap,memandang iba pada sahabatnya lalu menepuk pundaknya.
"Baiklah,temui Yesa malam ini.Dua hari kedepan aku yang akan menggantikan tugasmu.Tenangkan hatimu disana dan bersenang-senanglah." Akhirnya Nico mengalah.Willy tertawa bahagia lalu memeluk Nico sesaat.Dia pergi tanpa menoleh lagi.