Bukan Cinta Semusim

Bukan Cinta Semusim
Sejak Kapan?


__ADS_3

Pagi menjelang saat sekretaris Nico bergegas merapikan diri dan meninggalkan rumah.Sesuai janjinya,mulai hari ini dia akan berangkat pagi-pagi sebelum Erika bangun dan pulang ke rumah larut malam saat Erika tertidur.Dia tidak ingin kehadirannya membuat istrinya tidak nyaman.Sudah cukup semua kesalahan yang dia perbuat pada wanita itu,ia tidak ingin lagi menyakitinya.Kini walau dia tidak bisa dekat dengan wanitanya,setidaknya dia bisa melihatnya setiap hari walau hanya dari kamera cctv yang dia pasang mendadak semalam.


Bibi Lun,asisten rumah tangganya beserta seorang maid lain menyambut sang tuan di ujung tangga.Nico tersenyum sekilas padanya.


"Bi,Saya akan berangkat bekerja,tolong jaga nyonya baik-baik.Pastikan dia makan teratur dan jangan perbolehkan dia melakukan apapun.Istri saya butuh istirahat yang cukup." perintah Nico.Keduanya mengangguk patuh.


"Baik tuan,kami akan menyiapkan sarapan anda segera."


"Tidak perlu bi,mulai hari ini saya tidak sarapan.Kalian siapkan saja makanan untuk nyonya."


"Baik tuan." Selepasnya Nico masuk ke mobilnya setelah sebelumnya memberi perintah yang sama pada para pekerjanya agar tidak memperbolehkan Erika pergi kemanapun.Sekretari tampan itu melajukan mobilnya membelah jalanan yang masih sepi hingga berhenti pada sebuah taman ditengah kota.Dia menepikan mobilnya dan menuju sebuah bangku kosong disana.


Matanya menerawang,bayangan masa lalunya yang pahit berkelebat tanpa henti.Dia memejamkan mata dan menyandarkan kepalanya hingga sekian lama.


"om" sapa seorang bocah laki-laki kecil bermata biru gelap yang tiba-tiba duduk di dekatnya.Anak usia tujuh tahun itu memposisikan duduknya menyerupai Nico lalu tertawa ramah.


"kau siapa?"


"Namaku Ben,om." cicitnya seraya memamerkan gigi ompongnya yang lucu.


"Apa yang kau lakukan disini?"


"Aku menemani ayahku." jawab Ben,jari kecilnya menunjuk pad lelaki muda yang duduk beberapa bangku dari mereka.Pria muda itu terlihat tidak baik-baik saja karena berulang kali menjambaki rambut di kepalanya.Dia juga nampak galau.


"Ayahmu ada masalah?" Nico kembali bertanya.Dimatanya,Ben adalah bocah yang ramah dan menarik.Dia anak laki-laki yang pemberani.


"Ayah selalu begitu saat bertengkar dengan ibuku."


"boy,kenapa mereka bertengkar?"


"Aku tidak tau.Yang aku tau,setelah bertengkar mereka akan saling menjauh.Ayah mengajakku dan ibu mengajak adik kecilku." jawab Ben lagi.


"lalu ...."


"Mereka pasti akan baikan lagi setelah itu.Ayah dan ibuku saling mencintai."


"kalau mereka saling mencintai,kenapa mereka sering bertengkar?" tanya Nico lagi.Si kecil Ben mengangkat bahunya dengan gaya lucu yang menggemaskan.Ingin rasanya Nico mencubit pipi gembul bocah itu.Andai dia punya anak selucu Ben....


"Ayah bilang,hidup itu seperti berlayar dilautan lepas.Kadang tenang,kadang dihantam badai.Ayah bilang cinta itu butuh perjuangan.Saat ini ayah dan ibuk7 hanya sedang berjuang melawan badai." ucap Ben sambil meneguk minuman dari wadah minumannya.Kata-kata itu...bahkan anak seperti Ben mampu mengucapakannya dengan lancar walau tidak tau artinya.


"Sampai kapak kalian akan disini?" tanya Nico penasaran.Ben menunjuk pada ayahnya yang berdiri dari tempatnya.

__ADS_1


"Lihat,amarah ayah sudah reda.Sebentar lagi dia akan mengajakku pulang.Ayah pasti akan minta maaf."


"Kau hafal sekali."


"Tidak peduli siapa yang salah,ayahlah yang selalu minta maaf duluan.Nanti ibu pasti akan menangis dan memeluknya." celoteh anak itu lagi.Benar,beberapa saat kemudian ayahnya melambaikan tangan padanya.Ben melonjak gembira.


"Om,Ben pergi dulu ya.Kapan-kapan kita ketemu lagi.da..da...om tampan.." pria kecil itu memeluk leher Nico lalu berlari ke arah ayahnya yang langsung menggendongnya dengan gagah.Ben masih terus melambaikan tangannya hingga menghilang ditengah lalu lalalang.


Nico melirik arloji dipergelangan tangannya,sudah waktunya dia pergi ke kediaman Maverich untuk menjemput Michael.Tidak apa sedikit pagi dari jam kerjanya,dia bisa bersantai sejenak sambil memeriksa email dan menyusun ulang jadwal Mic hari ini.Sekretaris tampjlan itu kembali melajukan mobilnya.Lagi-lagi perkataan Ben berputar di kepalanya.


Tiba di kediaman Maverich,Nico dikejutkan oleh Willy yang sudah menunggunya di depan pintu utama.Sahabatnya itu merangkul bahunya dan mengajaknya ke samping rumah dimana beberapa gazebo ukuran besar berada.


"Kak Mic akan berangkat agak siang hari ini karena masih harus bicara dengan dad.Bagaimana keadaan Erika?" lama Nico terdiam.Baginya membagi masalah hanya akan menyulitkan hidupnya.


"Ceritakan padaku man!" sentak Willy karena rasa penasaran yang tinggi.


"Aku tidak bisa Will." keluh Nico


"apa diam juga akan menyelesaikan masalahmu man?"


"tidak."


"Aku sudah menjatuhkan talak pada Erika."


"apa?oh ya Tuhann...kenapa kau melakukannya?"


"aku bahkan tidak sadar jika Erika tidak mengingatkanku semalam." Nico mengurut pelipisnya,pikirannya benar-benar kalut sekarang.


"Kapan kau menjatuhkan talak?"


"Beberapa waktu lalu saat Aira dan Erika melihatku bersama Ayya." sekarang Willy yang sibuk mengingat.


"Berarti masih sebulan lalu.Dengar Nic,kau hanya menjatuhakan talak secara agama.Ini masih satu bulan.Kau masih bisa rujuk dengan Erika karena masa idahnya belum usai."


"Rujuk?maksudmu menikahinya lagi?"


"Bukan menikahinya lagi Nic,hanya membalikan Erika pada nikahnya selama masa rujuk.Cukup disaksikan dua orang jika kau menyatakan rujuk dengannya.Kalian sudah kembali menjadi suami istri kembali."


"Berarti aku tidak perlu mendatangkan papa mertua?"


"Setahuku tidak Nic.Tapi kau perlu persetujuan Erika." Nico yang semula bersemangat menjadi kembali tak bertenaga.

__ADS_1


"Erika masih marah padaku Wil." keluhnya lagi.Dari arah rumah Stephanie datang membawakan dua cangkir kopi untuk mereka.


"Minumlah.Kak,nanti ajak sekretaris Nico sarapan bersama ya." ujar Stephanie riang.Sepertinya dia sudah memaafkan keduanya dengan tulus.Willy mengangguk,tangan besarnya merangkul pinggang sang istri lalu mengecup perutnya dengan kasih sayang.Stephanie terkikik geli dan mengusap kepala suaminya.


"Bagaimana keadaan Erika Kak Nico?" tak ada sahutan.Erika menatap keduanya bergantian.Willy yang jengah lalu menceritakan semuanya pada istrinya setelah Nico memberi isyarat setuju.Stephanie mendengarkan dengan cermat.


"Wanita mana yang tidak sakit hati melihat suaminya di kamar hotel berduaan dengan wanita lain?wajar jika Erika marah.Dia wanita timur yang mengagungkan pernikahan.Kak Nico dengan mudah menghianatinya.Jika aku jadi dia,akupun akan melakukan hal yang sama." beber Steve dengan mata menyala.


"Tapi pernikahan kami tidak melibatkan perasaan nyonya." sanggah Nico dengan wajah ditekuk.


"Saat tidak di kantor,panggil aku Steve saja kak.Aku tidak suka terlalu formal." ketus Steve.Nico kembali mengangguk.


"Jika kau tidak punya perasaan padanya kenapa menikahinya?" buru Stephanie dengan nada kesal.


"Karena saya butuh istri."


"Kau terlalu naif kak.Kau pikir wanita itu boneka tak berperasaan?teganya kau menghancurkann hati wanita yang mencintaimu."


"cinta?" beo Nico seperti orang bodoh.


"iya cinta!Apa kau tidak bisa merasakan cinta Erika padamu?Wanita seperti Erika akan mencintai suaminya tanpa diperintah." sergah Stephanie cepat.Ia begitu gemas dengan Nico yang tiba-tiba menjadi orang bodoh.


"Berarti dia hanya mencintai aku karena aku suaminya.Bukan karena dia murni mencintaiku.Dia bahkan tidak pernah menyatakan cinta padaku." Willy tiba-tiba menendang kaki Nico kesal.Mendengar perkataan sahabatnya itu membuat kesabarannya hilang.


"hei bodoh!istrimu itu bukan wanita barat yang terbuka pada perasaanya.Mana ada wanita di negara Kakak ipar dan istrimu yang menyatakan cinta pada pria?kalaupun ada mugkin hanya beberapa saja.Disana hal begituan masih dianggap tabu."


"lalu..."


"lalu kau saja yang menyatakan cinta padanya.Buat dia memaafkanmu,lalu kalian rujuk." kata Wily dengan geram.


"Tapi aku tidak mencintainya." balas Nico dengan tampang tak berdosa.Stephanie dan Willy saling pandang.


"Apa rasa takut kehilangan,kehampaan dan menghabiskan waktu untuk memikirkannya itu bukan cinta Nic?Kau tau rasanya,tapi tak tau namanya.Kau sudah jatuh cinta pada Erika." tegas Willy lagi.


"Cinta itu harus diperjuangkan Nic.Dulu kau selalu menyemangatku.Sekarang waktunya kau berjuang untuk dirimu.Kejar dan dapatkan hati Erika kembali." Nico terdiam,menatap dua orang di depannya itu dalam.Lagi-lagi bayangan Erika berkelebat dibenaknya.Sedang apa istrinya sekarang?Apa benar jika selama ini dia salah menafsirkan perasaan Erika padanya?apa benar Erika mencintainya?


"Aku takut kecewa Will." jawab Nico gamang.


"Melamar dan mengajaknya menikah saja kau berani,menyatakan cinta kau malah tidak berani.Kau benar-benar menggelikan man!"


Willy benar,ada yang hilang di dirinya.Dia bahkan tidak memperhatikan dirinya lagi.Erika adalah prioritas utamanya.Sejak kapan rasa ini hadir dan merajai hatinya?Perkataan Ben dan Willy kembali berputar di kepalanya.

__ADS_1


__ADS_2