Bukan Cinta Semusim

Bukan Cinta Semusim
Identik


__ADS_3

Abraham memasang wajah dingin saat Stephanie memohon padanya agar menunjukkan dimana Willy berada.Tidak ada simpati yang berarti dari sorot mata tuanya yang biasanya hangat dan bijaksana.Begitupun Misca,wanita itu juga setali tiga uang dengan suaminya.Hanya menatap datar tanpa ekspresi


"Willy bukan jodoh yang pantas untukmu Steve.Dad akan mencarikanmu pria yang lebih pantas.Selamanya dia hanya seorang pengawal,bikin malu saja!"


"Tapi aku hanya ingin kak Willy dad!" teriaknya tidak terima.Abraham memilin kumisnya dan menyandarkan punggungnya di sofa.


"willy tidak akan kembali." Mata Stephanie melotot.Andai Abraham bukan ayahnya,mungkin dia akan bergerak mencekik leher pria tinggi besar itu.


"Dia akan kembali jika dad yang memintanya."


"Dad tidak akan memintanya.Kalian akan berpisah.Imanuel yang akan mengurusnya."


"Tapi aku tidak ingin bercerai dad!!!selamanya tidak!!" tegasnya lalu menyeka air mata yang menggenangi pelupuk matanya.Berlahan tubuh itu limbung ke lantai.Bersujud di kaki Abraham.


"Aku mohon pertemukan aku dengan kak Willy dad." ujarnya sambil menangis sesengukan.


"Sayang,bawa aku ke kamar.Sudah waktunya tidur siang." Misca mendorong kursi roda Abraham meninggalkan Stephanie sendiri.


"Baik kalau dad tidak mau mempertemukan aku.Aku akan mencari kak Willy ke Alaska sekarang juga." teriak Stephanie lagi.Misca menghentikan dorongannya.


"Alaska??ha..ha...pasti Imanuel yang memberi kalian informasi halu itu.Cari saja Steve.Kalau perlu obrak-abrik seluruh Alaska.Dad akan menyerahkan separuh saham dad padamu jika kau bisa menemukan Willy disana." Pria tua itu masih terkekeh sambil mengelang-gelengkan kepalanya sebelum menghilang di koridor rumah.


Stephanie berjalan lunglai menuju kamarnya,mengemasi baju-bajunya lalu menyeret kopernya keluar.Tidak ada gunanya memohon.Tidak akan ada orang yang kasihan padanya.


Kamar besar itu benar-benar mengingatkannya pada Willy.Semua kenangan manis berkelebat dimatanya.Willy yang mencintai,memanjakan dan menganggapnya laksana berlian sudah menghilang karena satu perkataan dan kesalahpahaman.Apa dia yang keterlaluan?Lagi-lagi Stephanie menangis pilu.Direngkuhnya foto pernikahan mereka.Kenapa Willy begitu tega?Tidak taukah dia pada Stephanienya ini yang tenggelam dalam samudra penyesalan?

__ADS_1


Suara ketukan dipintu membuatnya tersadar dari lamunan panjang.Buru-buru disekanya air mata dengan punggung tangannya.


"Masuk." ujarnya.Misca,bundanya masuk sambil membawa segelas jus apel.Stephanie menyandarkan tubuhnya pada kepala ranjang.


"Minumlah Steve" Sedikit enggan Stephanie menerima gelas itu dan meminumnya.Misca mengusap surai rambut putrinya.


"Jangan marah pada dadymu nak.Tidak ada seorangpun ayah di dunia ini yang tidak menginginkan kebahagiaan putrinya.Yakinlah,dadymu sudah memikirkan keputusannya secara matang.Mungkin Willy memang bukan yang terbaik bagimu."


"Bunda juga mendukung dad??" Misca mengangkat bahunya.


"Bunda juga sangat menginginkan kebahagiaanmu nak."


"Tapi keputusan dad untuk memisahkan aku dari kak Willy bukan untuk kebahagiaanku bun,dad sangat egois." teriakan berapi-api Strphanie hanya mendapat reaksi tenang dari Misca.


"Bunda hanya ingin memberitahu,lusa kita semua akan berangkat ke Indonesia untuk menghadiri pernikahan dokter Adrian dan Alicia.Persiapkan dirimu karena dadymu ingin mengenalkanmu dengan teman dokter Adrian."


"Dad benar-benar keterlaluan!apa hebatnya punya suami dokter?aku tidak suka bun!"


"Setidaknya dia seorang dokter Steve,bukan pengawal."


"Yang kucintai kak Willy mom,bukan dokter itu."


Misca memilih tidak meneruskan perdebatan itu.Dia meletakkan kotak besar dan menyuruh Stephanie membukanya.Ada sebuah gaun cantik tanpa lengan dengan potongan asimetris yang sangat anggun dengan warna hijau toskanya.Manik-manik warna putih bening yang menghiasinya membuatnya jadi terlihat mahal dan elegan.


"Itu gaun yang sama dengan yang ku kirim ke kediaman Michael dan Nico walau modelnya tidak sama.Kita akan memakainya disana.Kuharap kau bisa tampil secantik mungkin sayang."

__ADS_1


Tanpa menunggu jawaban Stephanie,Misca mengecup keningnya lalu keluar dari kamar.Tinggalah Stephanie yang termangu dalam diam.


**********


Hari yang ditentukan tiba.Rombongan keluarga Abraham sampai ke Indonesia siang hari.Nico yang sudah mempersiapkan akomodasi selama disini bergerak cepat mengarahkan mereka ke hotel bintang lima yang terletak di samping gedung resepsi.Acara akan dilakukan malam nanti.Masih ada waktu setengah hari bagi mereka untuk beristirahat.Abraham dan Misca sudah masuk ke kamar mereka lebih dulu sesudah drama adu mulut memperebutkan baby El dengan Mic yang bersikeras ingin putranya tidur dikamarnya.Tapi Shinta melerai pertengkaran sengit ayah dan anak itu dengan membawa Michael masuk ke kamar mereka walau dengan wajah bersungut-sungut menahan marah.


Stephanie berjalan gontai masuk ke kamarnya yang terletak diantara kamar Mic dan Nico.Sekretaris itu menunggunya menutup pintu,baru membawa Erika masuk ke kamar mereka sendiri.Erika terlihat malu-malu saat Nico merangkul pinggangnya selama berjalan menuju kamar.


Malam telah tiba.Stephanie membuka pintu kamarnya bersamaan dengan Erika.


"Nona,apa kita perlu menunggu yang lain?"


"Erika tolong jangan panggil aku nona.Cukup namaku saja oke?kita ini saudara." Ungkap Stephanie gemas.Dia paling tidak suka dipanggil nona oleh Erika.


"hmmm baiklah Steve." ujarnya mengalah.Stephanie menekan bel kamar Mic,keduanya langsung membuka pintu.Shinta terlihat cantik dengan gaun V neck yang memperihatkan leher jenjangnya,demikian pula Erika yang memilih berhijab saat ini.Stephanie lah yang tampil paling heboh dengan gaun tanpa lengan yang mengekspose punggungnya yang putih licin dan rambut disanggul keatas berhiaskan korsase canti berwarna putih.Benar-benar mirip seorang putri.


Mereka berjalan beriringan dibelakang Michael yang berjalan gagah diikuti sekretaris Nico yang matanya mencuri-curi pandang pada Erika yang tampil anggun dengan hijab warna senada.Hati sekretaris tampan itu berbunga-bunga.


Tidak sulit bagi Michael untuk menemukan sosok tinggi besar dadynya diantara kerumunan tamu Asia yang posturnya cenderung lebih pendek.Pria itu melambai pada mereka agar datang menghampirinya.Pria itu bercakap-cakap dengan pria muda lain yang terlihat sangat gagah,entah bagaimana wajahnya karena dia berdiri membelakangi pintu.Anehnya pria itu memakai kemeja batik dengan warna dan corak yang sama seperti yang dipakai oleh Mic dan Abraham.Stephanie berdecih kesal.Sebegitu niatkah dadynya mengenalkan pria itu hingga dia juga harus berpakaian seperti anggota keluarganya?


"Steve,kemarilah..kau harus berkenalan dengan...."


"Maaf,aku tidak tertarik dad." tukas stephanie lalu melengos pergi.Dia sudah tidak peduli dengan acara itu.Dia perlu udara segar sesegera mungkin.Langkah panjangnya membawanya entah kemana hingga sampailah dia kesebuah taman yang diterangi lampu-lampu warna warni.Stephanie menyandarkan tubuhnya dikursi kayu sambil menangis sesengukan.Beban di dadanya begitu berat saat ini.


"Hai cantik...sendirian aja nih?" suara berat namun terkesan ganjen membuat Stephanie menengadahkan wajahnya.Dua orang dengan rambut awut-awutan dan tato memenuhi badan berdiri di depannya.Lututnya gemetaran,teringat dia tidak berpamitan atau membawa ponselnya untuk menghubungi seseorang.

__ADS_1


Dua pria itu bergerak maju mencekal lengannya kiri dan kanan hingga wanita itu tidak bisa bergerak.Mau minta tolong juga percuma.Taman ini sepi tanpa pengunjung.


"Kami akan menemanimu cantik." ujar pria disebelah kanannya yang mulai menowel pipinya gemas.Stehanie yang marah meludahinya hingga pria itu sangat marah.Dicengkeramnya dagu wanita muda itu,namun Stephanie sudah lebih dulu berontak dan menendang.Dua pria itu melemparnya hingga menabrak pohon.Matanya berkunang-kunang.Saat dua pria itu hendak mendekatinya lagi...dari belakang mereka muncul pria lain yang menendang mereka keras hingga terpental lalu menghajarnya.Pria itu...pria yang berbaju sama dengan Mic dan Abraham.


__ADS_2