Bukan Cinta Semusim

Bukan Cinta Semusim
Melamar


__ADS_3

Bibi Aida mempersilahkan Nico masuk kedalam rumah.Sekretaris itu langsung mengambil kursi yang dekat dengan Erika yang masih takut-takut memandangnya.


"Saya Nicholas Kendrick nyonya.Saya bekerja sebagai sekretaris tuan muda Michael maverick" ujar Nico memperkenalkan dirinya.


Bibi Aida mengangguk-anggukan kepalanya,meneliti penampilan sang sekretaris dari atas kebawah.Kesan yang didapat adalah rapi,tampan dan sempurna.Pria tiga puluh tahunan didepannya sangat menyukai kerapian,lihat saja bajunya yang melekat pas mengikuti postur tubuhnya,licin tanpa kerutan.Jangan lupakan jas mahal dan sepatu yang dia kenakan,Aida yakin itu dari brand terkenal dunia.Wajah blasteran Eropa Korea yang dimiliki pria itu bisa menyihir siapa saja yang melihatnya.Tampilan sempurna untuk seorang calon menantu idaman.


"Apa nak Nico sudah lama kenal dengan Erika?" tanya Aida sopan.


"sejak saya bertugas di Indonesia" jawab Nic pendek dengan bahasa Indonesia yang fasih.


"Saya datang untuk melamar Erika bibi." ujar Nico lagi dengan nada serius.Erika yang kaget spontan menutup mulutnya yang mengangga secara spontan.Apa pria ini kerasukan setan?


Bibi Aida tersenyum lebar.Wanita paruh baya itu terlihat gembira karena keponakan kesayangannya dilamar,apalagi oleh pria seperti Nico.Pria mapan yang pastinya akan membuat kakak dan semua keluarganya bangga.Hanya orang-orang pilihan yang bisa bekerja diperusahaan Maverich.Dan ini...malah tangan kanan pemilik perusahaan itu yang melamar keponakannya.


"Nak Nico,saya bukan orang tua Erika.Jika nak Nico ada waktu,silahkan datang langsung ke Indonesia untuk melamar Erika pada kakak saya." ujar Bibi Aida masih dengan senyum lebarnya.


"Apa boleh saya bicara melalui telephon lebih dulu dengan papa Erika bi?saya tidak bisa cuti dalam waktu dekat ini."


"oohh baiklah.kenapa aku sampai lupa jika tehnologi semakin berkembang.Rik,telepon papamu sekarang.Mumpung nak Nico ada disini." Erika masih kebingungan.Dengan agak terpaksa dia mengambil hpnya dan menekan nomor papanya.


Erika berliana Yusuf adalah putri tunggal pasangan dokter ahli bedah terkenal di Indonesia,jadi tidak salah jika dia tumbuh menjadi gadis pintar dan mengikuti jejak kedua orang tuanya.


Dokter yusuf masih sibuk melayani pasiennya saat Erika menelepon.Serta merta dia menyuruh perawat yang membantunya untuk menghentikan antrian pasien terlebih dahulu.


"asalamualaikum,bagaiman kabarmu Erika sayang?" tanya yusuf lembut.Walau Erika sudah dewasa,dia masih diperlakukan seperti anak remaja oleh orang tuanya.Terutama Yusuf yang selalu menyayangi dan memanjakannya.


"walaikumsalam,aku baik ayah.Ini aku...." belum sempat meneruskan ucapannya Aida sudah merebut hp dari tangan keponakannya.Erika hanya berdecih kesal.


"Kak,aku Aida.Aku yang menyuruh Erika meneleponmu karena sekarang ini dirumahku ada pria yang akan melamar putrimu."


"melamar?Erika bahkan belum lulus Da."

__ADS_1


"Lulus bisa nanti saja kak.Tidak luluspun Erika sudah tetap jadi dokter.Kau tau,yang melamar putrimu sekretaris utama Maverich crop." diseberang sana Yusuf terdiam.Dia bahagia karena ada yang melar Erika,tapi dia juga tidak bisa begitu saja menyerahkan putri tunggalnya pada sembarang orang.Tapi mendengar nama Maverich crop membuatnya sedikit lega.Artinya putrinya mendapatkan calon suami yang kompeten mental dan finansialnya.


"Boleh aku tau calon suami Erika?" tanya Yusuf lagi.Aida segera menekan tombol video call.Terlihat disana Yusuf masih duduk didepan meja kerjanya dengan jas putih membalut tubuhnya.Aida memindahkan ponsel pada Nico yang tampak sudah siap untuk bicara dengan Yusuf.


"Asalamualaikum tuan Yusuf.Saya Nicholas Kendrich yang akan melamar putri anda,Erika." ujar Nicholas santai.Erika lagi-lagi tidak percaya jika sekretaris tampan itu juga tau nama ayahnya.Sekretaris yang nyaris sama dengan agen mata-mata legal yang tau segala hal.


Diseberang sana Yusuf masih diam mengamati calon menantunya.Dalam hati dia mengakui pria ini begitu tampan dan percaya diri.Mata biru teduhnya mengandung aura kuat yang sukar ditolak.


"Walaikumsalam nak Nico.Apa kau ada rencana datang ke Indonesia?"


"Saya minta maaf karena belum bisa berkunjung dalam waktu dekat ini tuan,tapi saya akan mencoba meminta cuti pada tuan Michael lain waktu dan mengunjungi anda." Yusuf tersenyum.Dari kesan pertama dia sudah menyukai Nico.


"Apa kau serius ingin menikahi putriku?"


"Ya.Dengan segenap hati dan keyakinan saya tuan." jawaban tepat sasaran tanpa keraguan.Aida tertawa bahagia mendengarnya,sedang Erika tidak bereaksi apapun lagi karena shock.


"Baiklah,bagaimana jika dalam dua minggu lagi kami yang akan kesana." tawar Yusuf yang langsung diangguki antusias oleh Nico.


"Kau sudah memikirkannya baik-baik?"


"sudah tuan."


"hmmm baiklah,dua minggu lagi papa aka n kesana untuk menikahkan kalian." ujar Yusuf tak kalah mantap.


"papa!!" pekik Erika.Dia langsung merebut hp dari tangan Nico dengan kasar.Kemarahan terlihat jelas dimatanya.


"Kenapa papa tidak bertanya padaku dulu pa.Yang akan menikah aku..bukanya papa!" sentak Erika geram.Yusuf cuma mengambil nafas dalam.Dia sudah biasa menghadapi sikap manja Erika.


"Apa yang harus kutanyakan padamu Rika?Papa tau yang terbaik untuk kamu.Memangnya orang seperti apa lagi yang kau mau?"


"papa ini serius"

__ADS_1


"papa juga serius Rik,usiamu juga sudah matang,sudah waktunya menikah.Dan kurasa Nico bukan pria yang buruk bagimu."


"pa..."


"sudah ya..papa sibuk.nanti papa telepon lagi.asalamualaikum"


klik


sambungan terputus.Erika meremas kepalanya.sebal,frustasi.


"bi,bisakah aku bicara dengan mas Nico dulu?" tanya Erika memelas.


"of course.Aku juga hampir lupa membuatkan kalian minuman." sahut bibi Aida lalu melangkah kedapur.


"kau kenapa?" tanya Nico.


"Mas Nico yang kenapa?kalau mau balas dendam jangan gini caranya.Jangan jadikan pernikahan untuk mainan mas.Aku tidak suka!aku juga tak ada niat jahat dengan Shinta.Kenapa kau menghukumku seperti ini?" kata Erika panjang untuk meluapkan kekesalannya.Dadanya sampai turun naik menahan emosi yang hampir meledak.Ia bisa membayangkan wajah kecewa papa dan mamanya yang akan meratapi nasibnya begitu tau alasan Nico menikahinya.Dia juga tidak yakin akan kuat berhubungan dengan orang yang dingin dan kaku seperti Nico.Erika suka pria yang hangat dan romantis,bukan yang muka tembok seperti ini.


"Apa aku terlihat seperti orang yang main-main? Erika melengos.Dia tau wajah Nico memang selalu serius.Over serius malah,bahkan bisa dikatakan galak.


" Tidak.tapi aku tidak setuju rencana pernikahan ini." jawab Erika ketus.


"kenapa?"


"pernikahan itu harus didasari cinta mas.kita juga baru beberapa kali bertemu,belum saling mengenal apalagi saling mencintai,bagaimana kita bisa menikah?" Nico tertawa mengejek.


"sejak kapan menikah harus saling mengenal atau mencintai seperti yang kau katakan?syarat menikah hanya mempelai,wali dan ijab kabul.tidak ada yang mengharuskan saling mengenal atau mencintai." Erika terdiam lagi,yang dikatakan Nico memang benar adanya.


"tapi pernikahan juga tidak boleh terpaksa mas."


"memaksa untuk kebaikan tidak ada salahnya." ujar Nico santai sambil menyandarkan punggunya di kursi.Erika kembali berteriak frustasi.Nico mengangkat sudut bibirnya dengan senyum kemenangan.

__ADS_1


__ADS_2