
"Kau harus menolong Erika mas." ucap Shinta saat Michael duduk santai di balkon kamar mereka dan menyesap teh manis buatan istrinya.Dia tidak menjawab dan bertahan dalam diam,memilih menatap langit luas yang penuh bintang.Shinta duduk disisinya,menyandarkan kepalanya pada punda kekar Mic dan melingkaran tangannya dilengan suami tampannya itu.
"mas?"
"hmmmm"
"Aku minta tolong padamu.Bawa Erika ketempat jauh yang tidak terjangkau dari si brengsek Nico." ujar Shinta berapi-api.
"sayang,kendalikan emosimu.Kau ini sedang hamil."
"Kau yang mulai mas.Aku sudah minta tolong baik-baik,tapi malah kau abaikan." gerutu Shinta dengan wajah cemberut.Serentak dia berdiri hendak pergi dari sana.Percuma meminta tolong suami dinginnya itu.Dia pasti akan lebih memilih Nico dibanding dirinya tapi tangan Mic sudah lebih dulu melingkar dipinggang rampingnya,menariknya pelan hingga dia terduduk dipangkuan sang suami.Mic membelai wajah istrinya penuh kasih.
"jangan marah lagi." bisik Mic sambil mendaratkan kecupan ringan dipucuk kepala istrinya.Shinta hanya menganggukkan kepalanya.Bagaimana bisa dia melawan keromatisan pria dingin seperti Michael?Pria karismatik yang ditakuti banyak orang dan tidak tersentuh siapapun.Dia satu-satunya wanita beruntung yang bisa menyentuh dan mendapatkan hati Mic secara bersamaan.Dia yang merubah manusia berhati batu itu menjadi sosok hangat dan penuh cinta.
"sayang dengar...kita hanya orang lain dalam perikahan mereka.Sama seperti saat Willy bertengkar dengan Steve,kita juga harus bersikap netral." Shinta merebahkan dirinya dalam pelukan Mic,melingkarkan tangannya dilehernya.
"Tapi Nico sudah keterlaluan mas,dia mencampakkan Erika.dia...."
"lalu apa maumu?memisahkan mereka bukan solusi utama.Mereka harus bertemu dan menyelesaikan masalah.Bukannya lari dan menambah masalah."
"Aku mau Erika pergi,kita buat Nico sadar jika pilihannya salah." tukas Shinta lirih
"Apa kau menjamin Erika mau kembali jika Nico sudah sadar?"
"masalah itu rahasia Tuhan mas.Kita tidak tau sampai dimana mereka bisa berjodoh."
"lalu?"
__ADS_1
"aku minta tolong padamu.Hanya kau yang bisa menghalangi Nico mencari Erika nantinya."
"Aku bahkan tidak yakin kalau Nico akan mencari Erika."
"apa maksutmu mas?"
"Sayang,aku sangat mengenal Nico.Dia bukan tipe orang yang akan mengambil sesuatu yang tidak dia inginkan.Saat ini prioritasnya adalah Ayya."
"tapi dia pasti akan menuruti perintahmu mas."
"Aku tidak pernah mencampuri urusan pribadi siapapun.Kalaupun Nico menurutiku,Erika hanya akan mendapatkan raga tanpa nyawa karena nyawa dan hatinya sudah terbang bersama Ayya.Itu malah tidak akan baik bagi Erika."
"Maka itu buat Erika tidak bertemu Nico lagi.Biarkan Erika hidup tenang.Demi aku mas,demi calon bayimu.kumohon...." Ucap Shinta memelas sambil menangkupkan kedua tangannya,memohon pada suaminya.
"Kau bahkan tidak pernah meminta apapun dariku sayang.Tapi hari ini,demi seorang Erika kau memohon padaku."
"baiklah." putusnya kemudian.Shinta tersenyum lebar lalu memeluk erat tubuh Mic yang membalasnya tak kalah erat.
"terimakasih mas."
"Kau istriku sayang,aku akan memberikan apapun yang kau minta jika aku bisa.Jadi tidak usah berterimakasih padaku." Shinta kembali membenamkan kepalanya di dada bidang Mic,menghabiskan menit demi menit sambil menatap langit hingga Shinta terlelap.
********
Dini hari di awal musim semi,lima orang berbincang di bandara.Penerbangan khusus kali ini hanya akan membawa beberapa penumpang saja.Para dokter dan perawat yang akan ditugaskan ke daerah konflik.Erika memakai kerudung dan masker yang menutupi wajah cantiknya.Hanya sebuah koper yang dia bawa.
Sudah berkali-kali Shinta maupun Stephanie membujuk Erika untuk pergi ke Australia dan hidup tenang disana.Michael pun sudah menyiapkan akomodasi yang diperlukan,tapi Erika tetap teguh pada pendiriannya.Mengabdi untuk kemanusiaan dan sepakat dengan pihak rumah sakit dan pemerintah setempat agar dia dan beberapa rekan yang lain diterjunkan didaerah konflik itu.
__ADS_1
Kekecewaan bergelayut diwajah dua wanita sahabatnya.Willy dan Michael hanya bisa jadi pendengar saat para istri mereka terus mengoceh ini itu seperti ibu yang akan melepas putri tercintanya pergi merantau.Dua pria dingin itu juga sangat menyayangkan keputusan Erika yang tiba-tiba dan cenderung membahayakan nyawanya.Tapi mereka juga sudah capek berusaha menyadarkan Nico yang terus terobsesi pada sosok Ayya.
"Er,jangan lupa memberi kabar kami begitu kau sampai." tukas Shinta menengahi Stephanie yang terus memberi nasehat pada Erika.Adik iparnya itu bahkan beberapa kali mengumpat kesal dan menyebut nama Nico sebagai pria brengsek yang tidak bertanggung jawab.
"iya Ta,aku janji.Sudahlah..aku bukan anak kecil lagi.Kalian tidak perlu terlalu kawatir.Sejak lulus SMA bahkan aku sudah kuliah sendiri di singapura hinga jadi dokter.Sekarang aku juga disini untuk kuliah spesialis." jawab Erika dengan senyum terkembang.Ketiganya berpelukan,bertangisan dan saling menguatkan.
"Er,kau harus berjanji akan pulang dengan selamat." Stephanie mulai menitikkan air matanya.Erika menepuk punggungnya.
"Aku akan berusaha." jawab Erika lembut.
Sesaat kemudian terdengar aba-aba pesawat akan segera tak off.Erika dan para tenaga medis lain segera masuk dan melambaikan tangannya sebelum tubuhnya menghilang.Pesawatpun lepas landas.Orang-orang yang tadinya bergerombol dengan wajah sedih karena mengantar anak,suami,ayah atau ibunya sudah pulang satu persatu.Mic dan Willy juga mengandeng tangan istri mereka untuk keluar dari bandara.
Willy yang memegang kemudian berulang kali melirik Steve yang menundukkan wajannya.Sangat bersedih.Lain halnya dengan Shinta yang terlihat berapi-api dan mengepalkan tangannya.
"Ayya dan Nico harus menerima hasil perbuatannya." Mic memeluknya,mencoba menenangkan istrinya yang dilanda emosi.
"sayang,Erika benar dengan keputusan dan pemikirannya.Tuhan yang akan membalas semua perbuatan manusia,karma tidak akan lupa jalannya."
"mas!!kau masih mau melindungi sekretaris brengsek itu!!" sentak Shinta.Stephanie yang awalnya tenang jadi ikut meradang.
"lalu apa gunanya kau jadi bos nya kak.Pecat dia.ini memalukan!!"
Michael melirik Willy yang mengerutkan keningnya.Dia tau adik iparnya itu sedang berpikir keras.Dia tentu tidak ingin Nico pergi dari Luxio karena masalah perempuan.Kesetiakawanan dan persaudaraan dalam diri mereka begitu kuat.
"beri aku waktu untuk menyadarkan Nico" katanya kemudia.Matanya lurus menatap jalanan yang lengang.
"sekretaris bodoh itu tidak akan sadar.Dia mungkin sudah terkena hipnostis Ayya." kali ini komentar Steve serasa menusuk ulu hatinya.Memang sebenarnya dia sudah kehilangan cara untuk membuat Nico menyadari kesalahannya.Sepertinya Nico benar-benar sudah tersesat.Willy juga bingung,kenapa Nico beruba secepat itu?dari pria realistis menjadi pria romantis yang cenderung melankolis.Cinta memang aneh.
__ADS_1