Bukan Cinta Semusim

Bukan Cinta Semusim
Manja


__ADS_3

Mentari pagi masih mengintip disela mendung.Udara dingin setelah hujan begitu mendominasi suasana pagi dibulan Desember.Sepasang anak manusia masih bergelung dibawah selimut tebal saling berpelukan.


Shinta terjaga dari tidurnya,merasakan hangat ditubunya yang memeluk sesuatu.Tubuh seorang pria?Kenangan pada jebakan di Singapura menghantuinya.Siapa pria yang memeluknya sekarang?dia takut Mic akan salah paham dan membuangnya.Pelan dia mencoba memindahkan tangannya yang memeluk tubuh kekar itu dan mengepalkannya bersiap memukul wajah pria itu.


"Biarkan seperti ini dulu" Suara serak yang sangat dirindukannya.Cepat dia mendongakkan kepala.


"ahhhh...Mic" pekiknya.Berulang kali mengucek matanya yang sayu khas orang bangun tidur,tapi pria itu benar-benar Michael.


"Tidurlah lagi.Aku masih sangat capek" gumam pria itu.Shinta meletakkan kembali kepalanya didada bidang suaminya.Memeluknya dengan penuh kerinduan.Berarti yang dia lihat semalam benar-benar Mic,bukan mimpi atau sekedar halusinasi.Berulang kali dia menatap perut sickpack sang suami yang kembali mendengkur halus.


Saat melihat kesamping,dia melihat noda darah dipakaian Michael.Hati-hati dia membuka kemeja suaminya.


"Ya Tuhan...Mic,apa yang terjadi?" ujar Shinta dengan suara bergetar.Dia membelai bekas luka yang masih baru walau sudah dibungkus perban.Michael terbangun.


"a..apa yang terjadi padamu?"


"tidak apa-apa hanya luka kecil"


"i..ini...ber..berdarah"


"sudahlah sayang,aku tidak akan mati karena luka kecil seperti ini"


Mata Shinta berkaca,lalu tanpa bicara dia benamkan tubuhnya dalam pelukan Michael.


Tepat jam delapan pagi dokter Erika datang.Stephnie yang baru turun dari ruang atas menyambutnya di depan pintu.


"Selamat pagi nona,apa tuan Willy nya ada?" Stephanie langsung meneliti wanita muda di depannya dengan tatapan aneh.


"Setahu saya kak Willy belum pulang"


"Tapi semalam saya...."


"ehmm maaf bu Erika,tuan Willy sudah menunggu anda di kamar" kata bik Sum sambil mengangguk hormat.


"ohh iya bik.maaf,saya permisi dulu nona" lalu wanita cantik itu melangkah masuk mengikuti bik Sum yang berjalan lebih dulu.Stephanie masih bingung.


Ada hubungan apa kak Willy dengan wanita bernama Erika itu?kenapa semalam dia mengantar kak Willy pulang?apa dia sudah melupakan aku?atau kata-katanya kemarin hanya candaan?ahh teganya kak Willy padaku.


Stephanie menuju kamar Willy untuk memuaskan rasa penasarannya.Dari jarak beberapa meter dari pintu dia dapat mendengar suara Willy dengan jelas.


"bisakah kau tarik agak keatas,aku lebih nyaman begini ad....aduuhh.....he..hentikan ahhsssss"


Willy kembali mendesis,membuat telinga Stephanie memerah.Segera dia berbalik untuk pergi,namun naas,tubuhnya membentur dada Sekretaris Nico yang sejak tadi memperhatikan dia.Stephanie terhuyung hampir jatuh.


"apa yang nona lakukan disini?"


"bukan urusanmu" lalu dia berlari masuk mobil dan menghilang.Nico hanya geleng-geleng kepala.


"Bagaimana keadaanmu Will?"

__ADS_1


"aahh...bajingan itu benar-benar hampir membuat kakiku pincang" keluh Willy,dokter Erika hanya tersenyum.Mengendorkan perbann yang berulang kali membuat Willy mengaduh kesakitan.


"sekarang giliran anda tuan Nic"


Nico duduk disofa saat dokter cantik itu membuka perban dikepalanya.Aroma Vanilla yang segar menyeruak dari tubuh sintalnya.Sesaat Nico terbuai dan terus menatap sang dokter.


"Sekarang anda tidak perlu memakai perban ini lagi tuan,cukup kasa dan perekat saja." Erika yang sadar diperhatikan langsung salah tingkah.Pipinya bersemu merah.


"apa kau sudah menikah dokter?"


"a..apa maksud anda tuan?


"ehmm...ehmm". Willy berdehem keras.Nico langsung tersadar dari lamunannya.


" Sepertinya ada yang senam jantung pagi ini" ejak Willy tanpa menoleh.


"Sepertinya kau yang harus senam jantung Will.Nona kecilmu itu barusan mengintipmu dari balik pintu" ujar Nico santai


"a...apa?kau diam saja,tidak memberi kode padaku.kau keterlaluan Nic" geram Willy


"Dokter,tuan Michael sudah menunggu anda dikamarnya.Mari saya antar" Nico menjulurkan lidahnya saat mereka hendak keluar.Willy yang melihatnya terlihat sangat geram.


"Nico siaaalllannn!!"


********


"selamat pagi tuan"


"hmmmmm"


"luka anda cukup parah tuan,saya sarankan anda tidak banyak bergerak.Sementara ini cukup baik,saya akan kembali kesini lusa pagi.Jika ada keluhan,anda bisa menghubungi saya" jelas Erika lalu membereskan luka Michael.


"Nyonya,saya permisi dulu"


"terimakasih dokter" Sahut Shinta lalu mengantarnya keluar.


"Tuan,jadwal anda....."


"Nic,tolong kosongkan semua jadwalku hingga tiga hari kedepan.Dad yang akan mengurus Luxio dan Maverich corp sementara ini."


"Baik tuan muda" Nico memberi hormat lalu keluar kamar.


"Sayang,aku mau mandi." teriak Michael,Shinta yang masih ada diluar kamar segera masuk.


"Kau masih bisa mandi sendiri kan?"


"kau tidak dengar kata dokter tadi?aku dilarang terlalu banyak bergerak"


"baiklah,ayo" Michael menyeringai senang.Shinta membantunya berdiri lalu masuk kamar mandi.

__ADS_1


"sayang lepaskan bajuku"


"tidak mau!"


Michael sedikit kecewa,lalu mencoba melepaskan kemejanya.Saat menekuk lengannya,darah merembes dari lukanya.Shinta yang melihatnya dari kaca langsung mendekat.


"sini aku bantu" Mic membiarka Shinta melepaskan pakaiannya satu persatu hingga tersisa ****** ***** warna abu yang enggan disentuh Shinta.Mic terdiam,tanpa berkata dia menuntun tangan Shinta untuk melepaskannya.


Wajah istrinya bersemu merah.Mic pura-pura tidak tau dan masuk kebathtube.Shinta menggosok tubuhnya pelan,memberikan pijatan dikepala Mic dan dengan telaten membantunya mengeringka diri dan berpakaian kembali.


Michael duduk bersandar ditempat tidur besarnya saat Shinta kembali dan membawakanya sarapan pagi.


"makanlah"


"tidak"


"kau harus minum obat"


"tidak mau!"


"Mic,tolonglah..." Shinta menagsurkan roti selai coklat kesukaan Mic agar dia memakannya.Tapi pria itu tetap mengunci mulutnya rapat.


"lalu kamu maunya apa?" tanya Shinta mencoba bersabar.


"cium aku!"


"apa???"


"cium aku!"


Shinta menatap jengah.


"ya sudah kalau kau tidak mau makan" Dia meletakkan makanan diatas meja lalu bangkit,belum sempat berdiri tangan kokoh Mic meraih tanganya dan menariknya hingga terjatuh dalam pangkuan Mic.


"Kau cantik sekali hari ini sayang" bisik Mic lalu ******* bibir Shinta dalam.


"ingat,aku tidak mau makan kalau tidak kau suapi."


"k..kau terlalu manja"


"Shinta maafkan aku" Michael mengenggam tangan Shita erat lalu menciumnya mesra.Dibukanya laci dibawah lampu tidur,laly tangannya meraih kotak kecil dari sana.


Mata Shinta membelalak sempurna saat kotak itu terbuka.Kalung berlian dengan aksen bintang serta cincin kawin yang dulu dia kembalikan pada Mic sebelum dia kembali ke Indonesia.


"bukankah kau sudah membuangnya"


"Bagaiman aku bisa membuangnya jika separuh hatiku adalah milikmu?" Mic memakaikan benda itu satu persatu.


"Aku hanya menikah sekali seumur hidup sayang,denganmu saja" desis Mic ditelinga Shinta mesra.

__ADS_1


__ADS_2