Bukan Cinta Semusim

Bukan Cinta Semusim
Kemana?


__ADS_3

Mata biru ocean Stephanie membulat saat tiba dirumah.Dia sudah membuka pintu kamarnya karena menduga Willy pulang duluan dan menenggelamkan dirinya dibawah selimut tebal saat sedang marah seperti biasanya,tapi sang suami tidak ada.Stehanie masih berusaha berpikiran positif dengan berkeliling kediaman luas Maverich tapi tidak juga menemukan keberadaan Willy.Beberapa maid yang berpapasan dengannya juga menyatakan bahwa Willy belum kembali.Ada yang hilang disudut hatinya.Langkah gontainya menuju kolam ikan belakang rumah serasa dipaksakan saja.Disana,dia terduduk lemas ditepi kolam berair jernih itu untuk menenangkan dirinya.


Willy bukan tipe pria yang suka lari dari masalah,bahkan suaminya itu adalah tipikal pria yang solutif.Dia bahkan tidak akan bisa tidur dengan tenang sebelum masalah selesai,sekecil apapun itu.Isakan Stephanie terdengar,kelebatan kejadian dirumah sakit begitu mengusik hatinya.Kenapa mulutnya bisa sejahat itu hingga dia lupa jika mengatai sekretaris Nico juga sama dengan dia menghina Willy.Penyesalan juga tidak cukup untuk membuat Willy memaafkannya.


"Mau sampai kapan kau hanya akan menangis disitu tuan putri?" Suara bariton Michael bergema hingga membuat Stehanie berjingkat kaget dan tersadar dari lamunannya.Buru-buru disekanya air mata yang meleleh dipipi mulusnya.


"Apa kau tidak berniat mencari Willy?" kata-kata bernada dingin dari Michael malah menambah beban di dadanya.


"nanti dia juga akan pulang kak.Mungkin kak Willy hanya butuh sendirian." balasnya seperti menasehati diri sendiri.Michael terkekeh.


"Kau pikir semua akan semudah harapanmu?kau lupa Willy juga pria idealis?harapanmu tidak akan sama dengan realita Steve." sindiran pedas.Wajah Stephanie memerah.


"Kak,bisakah kau diam?aku ini adikmu!apa kau tidak bisa sedikit saja bersimpati padaku?" sentak Stephanie kuat.Amarah menguasai dirinya yang mulai panik.


"Aku hanya mengingatkanmu Steve."


"Kau bisa membantuku andai kau mau kak.Kekuasaanmu lebih dari cukup untuk mengetahui keberadaan Willy sekarang.Apa kau ingin aku minta tolong dad?" Michael mengangkat bahunya tak mau tau lalu melemparkan pandangannya kearah lain.Perkataan Stephanie sangat benar andai saja itu berlaku untuk orang lain.Tapi ini adalah tentang Willy dan campur tangan Nico didalamnya.Mic tau pasti,sekretaris itu lebih rela mati dari pada berkhianat.


"Apa kau benar-benar tidak berniat membantuku kak?ahh..ayolah,ini hanya masalah kecil,kesalah pahaman saja kak.Tidak ada perselingkuhan diantara kami kak."


"Kalau kubiarkan kau juga akan berselingkuh dengan anak angkat Smith itu Steve."


"kau pikir aku ini apa kak?"


"Kau nona muda manja yang tidak tau adab saat bicara Steve."

__ADS_1


"lalu apa bedanya aku dan dirimu?" Mic menarik nafas panjang.


"tidak ada!kita sama-sama manusia sombong yang bebas mengucapkan apapun tanpa ingin tau perasaan orang lain." jawab Mic samar.Dia dan Stephanie memang dibesarkan dalam pengaruh keangkuhan Laura sang ibu tiri.Andai saja Misca yang note bane ibu kandung mereka yang merawat,mendidik dan membesarkan keduanya..mungkin dia dan Stephanie akan jauh lebih santun dari sekarang.


Mic melangkah meninggalkan Stephanie yang termangu sendirian.Tidak ada yang bisa dia harapkan dari Michael.Sang kakak sudah memberikan lampu merah padanya.Sekarang dia harus berusaha sendiri.Ahhh....ingatannya beralih pada Yesa.Willy pasti disana,hanya dia satu-satunya saudara Willy.


Secepat kilat Stephanie menjangkau kontak mobil lalu setengah berlari menuju garansi mobil,mengeluarkannya dari sana dengan tidak sabar lalu melajukannya kencang hingga penjaga gerbang terkaget dan mengelus dadanya karena kelakuan nyonya mudanya yang berubah jadi arogan.


Hampir satu jam berkendara,Stephanie tiba di kediaman Yesa.Rumah asri di pinggiran kota itu terlihat sepi.Ragu-ragu Steve menekan bel hingga terdengar derap langkah mendekati pintu.Hans kakak iparnya tersenyum ramah sambil mengelus punggung Sona yang mungkin baru saja tertidur dalam pelukannya.


"Hai Steve,senang bertemu denganmu.Masukah,Yesa sedang membereskan rumah." ujarnya.Stephanie hanya termangu.Matanya mencari kesana kemari melewati punggung kekar Hans.Ya,dia mencari Willy.


"kak,apa tadi kak Willy kemari?" tanya wanita muda itu lesu.


"Kalau begitu dimana dia sekarang?ada yang ingin kubicarakan." Stephanie menabrak sekilas tubuh Hans,menerjang masuk kedalam dengan tidak sabar.


"Kak,dimana kak Willy?" tanyanya juga dengan nada tidak sabar saat Yesa muncul dari koridor dapur.Dia menghambur dalam pelukan Yesa yang langsung merangkulnya erat.


"Dia sudah pergi satu jam lalu Steve." bisik Yesa.


"Kemana kak?"


"Aku juga tidak tau Steve.Dia hanya membawa baju yang melekat ditubuhnya.Tadi kudengar sekretaris Nico meneleponnya untuk segera ke bandara"


"Bandara?memangnya kak Willy mau kemana?" Mata Stephanie sudah memerah menahan tangisan.

__ADS_1


"Dia tidak mengatakan apapun Steve." keluh Yesa lemah.Seketika tubuh Stephanie menegang.Refleks dia berlari tanpa keluar rumah.


"Kau mau kemana?" teriak Yesa dari dalam rumah,Stephanie yang baru mencapai pintu mobilnya seakan tersadar lalu menjawabnya dengan teriakan juga.


"Kak maafkan aku,tapi aku harus segera menyusul kak Willy ke bandara." secepat kilat Stephanie masuk kemobilnya dan melaju dengan kecepatan tinggi ke bandara.Berulang kali dia membunyikan klakson dan memukul kemudinya saat terjebak kemacetan panjang hingga membuatnya memilih jalur alternatif.Putri keluarga Maverch itu tersenyum lebar saat berhenti di depan bandara.


Stephanie berlari memasuki airport sambil meneliti tiap sudutnya dan mengamati tiap orang yang berpapasan dengannya.Berjalan kesana kemari tanpa hasil membuatnya berhenti sejenak dan mengatur nafas.Ahh...bodohnya dia karena tidak mengetahui kemana Willy akan pergi?Penerbangan domestik?atau internasional?Menyadari kebodohannya Stephanie meraup wajahnya kasar dan menjambak rambut pirangnya.


Seorang pria tampan berjalan tegap dengan langkah lebar menuju pintu keluar.Nico!! sorak hati Stephanie.Jika Nico pergi,maka bisa dipastikan Willy sudah take off,tapi bukankah setidaknya dia tau kemana suaminya pergi?


"Sekretaris Nico..berhenti!!" teriaknya dengan keras hingga semua orang memperhatikannya.Mungkin keramaian dan banyaknya orang berlalu lalang membuat Nico tidak mendengar teriakannya.Wah,ini gawat!mau tidak mau dia harus mengejarnya.


Dengan nafas tersengal Stephanie berhasil mengejar Nico dan mencekal lengannya dan memaksa sekretaris batu itu berhenti melangkah.Sorot mata dinginnya tak menyurutkan niat sang nyonya muda untuk tak bergeming.


"Dimana kak Willy?"


"Untuk apa anda menanyakannya nyonya?"


"Karena dia suamiku sekretaris Nico!jangan banyak bertanya,cukup katakan saja dimana suamiku?" Stephanie yang geram makin mencengkeram lengan Nico dengan keras.Wajah sekretaris tampan itu mengrenyit menahan sakit.Wanita jika sudah marah memang punya seribu tenaga luar biasa.Raut wajah galak dan tatapan mengintimidasi Stephanie sama sekali tidak dihiraukan olehnya.


"Anda istrinyakan?bukan saya!anda harusnya lebih tau keberadaanya dibanding saya nyonya."


"Kau...beraninya kau padaku Nico!!" sentak Stephanie murka.Spontan dia menghentakkan tangan Nico dan menampar wajahnya sekuat tenaga hingga tepian bibir Nico berdarah.Pria tampan itu tersenyum sinis lalu mengusap darah disudut bibirnya.


"Orang seperti saya dan Willy tidak punya apa-apa selain ketulusan dan kesetiaan nyonya.Tidak ada gunanya anda memaksa saya menunjukkan keberadaan Willy,karena saya akan melindungi dia dengan nyawa saya.permisi!" Nico bergerak pelan melewati Stephanie yang masih termangu tidak percaya dengan ekspresi wajah yang sulit diartikan.Tidak ada yang bisa memaksa Nico meski itu Michael atau ayahnya sekalipun karena selain teguh,sekretaris itu juga sangat pandai berdebat.Tubuh Stephanie luruh kelantai.Dia sudah tak peduli pada pandangan banyak orang yang tertuju padanya.Stephanie larut dalam kesedihannya sendiri.

__ADS_1


__ADS_2