Bukan Cinta Semusim

Bukan Cinta Semusim
Yesa


__ADS_3

Stephanie mengerjabkan matanya pelan,lalu mengedarkan pandangannya kesekeliling ruangan.Kamar tidak terlalu bedar yang bersih dan rapi menyapa indra penglihatannya.Bau lembut parfum wanita menyeruak ke hidungnya.Tidak ada siapa-siapa.Ruangan itu hening.


Beringsut mendekati tepi ranjang,Stephanie masih memeras otaknya untuk mengingat kejadian yang dialami hingga berpindah tempat kesini.Kepalanya masih pusing saat wanita muda yang dia lihat dengan Willy tadi masuk sambil membawa nampan berisi teh hangat.Wanita itu meletakkan nampannya lalu berbalik padanya.


"nona sudah siuman rupanya.Bagaimana keadaanmu nona?" tanyanya dengan ramah.


"aku dimana?"


"tenanglah,anda ada dirumahku.Willy sedang keluar,sebentar lagi pasti kembali." Stephanie tersenyum jengah.Wanita itu mengulurkan teh itu pada Stephanie dan mengisayaratkan agar meminumnya.Steve yang merasa kerongkongannya kering meminumnya setengah lalu meletakkannya dimeja.


"Ehm..maaf,aku mau permisi dulu."


"hey,bukankah kau mencari Willy?dia pasti tidak mengijinkanmu pergi dalam kondisi habis pingsan.Aku akan meneleponnya agar dia cepat kembali nona."


"Tidak perlu eng...."


"namaku Yesa nona" Stephanie menutup bibirnya.Rupanya ini yang bernama Yesa.Perempuan yang menurut Nico dirindukan oleh Willy.Stephanie meneliti perempuan didepannya dari atas sampai bawah.Wanita cantik bermata hijau tosca yang menyala,rambut pirangnya menjuntai lurus dan tebal dengan model terbaru,tubuhnya sintal dan berisi.Tidak ada celah pada wanita ini.Bahkan Stephanie harus mengakui kalau wanita ini cantik walau tanpa polesan make up sedikitpun.


Stephanie menerima uluran tangan Yesa lalu buru-buru melepaskannya.Dia tidak ingin Yesa tau jika tangan dan tubuhnya bergetar hebat.Willy memang punya sejuta pesona untuk menjerat para wanita.


"apa gadis kecil itu putrimu?" tanyanya hati-hati.Senyum lebar menghiasi bibir merah mudanya.


"iya.Dia putriku Sona.Dia ikut keluar dengan papanya"


Papa?sungguhkah gadis kecil itu putri Willy?Sekarang kaki Stephanie yang bergetar hebat.Perasaanya campur aduk tidak karuan.Dia seolah menghadapi sebuah penghianatan,tapi dari siapa?sedangkan dia dan Willy juga tidak ada hubungan apa-apa.


"a..apa kau dan Willy sudah lama bersama?" suara Stephannie terbata dan dengan cepat diangguki penuh semangat oleh Yesa.Tubuh Stephanie kembali melemas seperti jelly.Hancur sudah harapannya untuk mendapatkan cinta Willy.


"Dia pria yang baik.bukankah begitu nona?


" ehh..iya.a..aku mau pulang sekarang" Lalu dengan tertatih nona muda itu bangkit dan berusaha berjalan dengan benar.


"jangan paksakan dirimu nona.Kau terlihat sangat lemah dan tidak baik-baik saja" teriak Yesa lalu menghambur mendekatinya.Membantu Stephanie berjalan.

__ADS_1


"kau sangat baik dan ramah.Tidak salah jika Willy memilihmu" Stephanie berusaha tersenyum meski hatinya hancur.


"memilih?kami tidak memilih.Tuhan yang memilihkan kami nona".Njlebz lagi-lagi Stephanie kelu.lidahnya sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi.Pintu terbuka dari luar lalu sosok tinggi besar itu masuk.Willy.


" Sayang lihat apa yang kubawa,kau pasti suka" ujarnya penuh semangat.Stephanie memalingkan wajahnya,mencoba menyembunyikan tangis yang mencoba dia tahan.Ingin dia menghilang saja dari sana.Dia meruntuk dalam hati,kenapa mesti pingsan segala kalau akhirnya seperti ini.Kalai saja tadi dia langsung masuk mobil dan pergi,mungkin ceritanya tidak seperti ini.Dari sorot wajahnya dia tau Willy sangat mencintai Yesa.Sungguh menyakitkan.


"Kau bawa apa?dia sedang keluar dengan Hans." sergah Yesa cepat.


"Aku membawakan dia marsmallow kesukaannya juga boneka ini" tunjuk Willy lalu menyerahkan bungkusan tas itu pada Yesa.Sesaat kemudian pria lain masuk sambil mengendong gadis kecil tadi.


"Kau sudah pulang Will?Sona terus saja menangis mencarimu" tukas pria tadi.Willy berpaling lalu memindahkan Sona dalam gendonganya.Gadis kecil itu masih terisak.


"Papa Willy dari mana?Sona mau marsmellow" rengek gadis itu.


"Minta sama mamimu sana.Apa Papimu tidak membelikanmu tadi?" tanya Willy sabar.


"Aku mau papa Willy yang belikan,bukan papi."Stephanie manatap bingung hingga pria tadi mengulurkan tangannya.


" hay nona,namaku Hans,dia istriku Yesa"


"ya,apa dia tidak cerita?" Stephanie menggeleng lalu menjabat tangan Hans.


"jadi kalian...."


"Yesa itu kakakku" tukas Willy cepat.Untuk pertama kalinya sejak masuk rumah ini Stephanie bisa berdiri tegak dan bernafas lega.Hembusan nafasnya begitu kuat seakan mengeluarkan jutaan ton beban dari rongga dadanya.


"Jadi apa maksutmu datang kemari nona?" sergah Willy sambil tetap menggendong Sona.


"k..kak Mic ingin kau segera kembali bekerja"


"Bukankah dia bisa meneleponku?kenapa harus anda sendiri yang datang kemari?"


"kata Nico hpmu tidak aktif dan kak Mic memerlukanmu."

__ADS_1


"Tidak aktif?aku bahkan tidak mematikannya sama sekali.Ini pasti ulah sekretaris bodoh itu yang mau merusak liburanku" gerutu Willy.Yesa segera mengambil Sona dari gendongan Willy.Gadis kecil itu menurut dan sibuk dengan marsmellownya.Stephanie jadi salah tingkah.


"Sebaiknya kau segera kembali Will.Tuan muda memerlukanmu" ucap Yesa memecah kesunyian.


"Sebaiknya anda kembali lebih dulu nona.Saya akan segera menyusul"


"kau tidak melihat keadaan nona Stephanie Will?dia sangata lemah.Tubuhnya bahkan gemetaran.Kau harus mengantarnya pulang."


"Tapi aku belum mandi kak"


"Lekas kau mandi sana.Biar nona menunggumu disini"


"hmm baiklah" Willy beringsut pergi.


"Kau kakak Willy?setahuku dad mengambilnya dari panti" tanya Stephanie heran.


"Aku lebih dulu diadopsi keluarga lain saat itu.Kami dua bersaudara yang ditinggal orang tua.Jadi yatim piatu saat usiaku sepuluh tahun dan Willy masih delapan tahun tahun saat itu.Dia terus saja menangis saat kutinggalkan.Untunglah ada Nico yang menemaninya,dan untunglah juga tuan Abraham mengadospi dua-duanya hingga Willy tidak kesepian." Yesa mengusap air mata yang meluncur dipipinya.


"Lalu bagaimana kalian bertemu?"


"Kami bertemu saat aku dan dia mengunjungi panti tempat kami dirawat dulu.Aku ingin mengabari ibu panti kalau akan menikah dengan Hans."


"Apa Willy sering kemari?"


"Tiap ke mengikuti kakakmu kesini dia selalu mampir walau sejenak.Apalagi sejak Sona lahir,dia yang mencukupi semua kebutuhan kami saat Hans kehilangan pekerjaanya."


Hati Stephanie luluh.Sekarang dia tau mengapa Willy tidak sekaya Nico.Padahal dia tau gaji keduanya memiliki nominal yang hampir sama.Sekarang ia tau kenapa pria itu tidak bisa membeli apartemen dan mobil seperti Nico dan tetap memilih tinggal dimana Michael tinggal..karena dia memberikan gajinya pada kakak tercintanya.Satu-satunya keluarganya yang masih hidup.


"Apa sekarang suamimu sudah mendapat pekerjaan?" Yesa menganggukkan kepalanya riang.


"Willy sudah membelikan ruko kecil untuk Hans membuka bengkelnya diujung jalan ini.Entah sampai kapan kami bisa mengembalikan uang Willy,dia sama sekali tidak mau menerima uang dari kami dan selalu berkata itu semua untuk Sona.Dia sangat menyayangi anak kecil."


Senyum lega menghiasa wajah Stephanie.Obrolan tetap berlanjut hingga Willy keluar dari belakang rumah dengan rambut basah dan stelan formalnya.

__ADS_1


"Kak,aku pergi dulu.Jaga Sona baik-baik.Sampaikan salamku pada kak Hans ya" Yesa mengagguk dan memeluk adiknya erat.


"Jaga dirimu Will.Mampirlah kesini jika kau ada tugas kemari." Willy mengangguk lalu memeluk dan mencium Sona.Stephanie hanya melihat pemandangan didepannya.


__ADS_2