Bukan Cinta Semusim

Bukan Cinta Semusim
First kiss


__ADS_3

"tuan.maafkan saya" Shinta menunduk ketakutan melihat sorot wajah tuannya.Michael tak berkata apapun.Ia langsung meraih tubuh Shinta dan menggendongnya keluar.Sesaat matanya menatap wajah gadis dipelukannya.Wajah itu begitu polos tanpa polesan make up tapi tetap memancarkan aura kecantikan.Cantik yang alami.Michael terlena dalam pikirannya sendiri.Sedangkan Shinta hanya menunduk dengan wajah bersemu merah.Ia sangat malu.


Dilantai bawah beberapa orang berusaha mengambil foto dua sejoli beda kelas tersebut.Momen langka dan pasti jadi trending berita besok pagi.Seorang putra milyarder yang juga presedir Maverich grup yang terkenal dingin dan kejam menggendong wanita cantik dengan pakaian maid.aahh...tentu saja suatu kebetulan yang aneh.


Sadar diperhatikan banyak mata,Michael memanggil Nico dan Willy yang baru menyusul.


"bereskan mereka" Seakan paham,mereka berdua bergerak cepat merebut semua ponsel lalu menghapus semua foto-foto sang tuan.Sedikit gosip saja sudah bisa membuat skandal baru untuk tuannya.


Michael yang berjalan lebih dulu menggendong Shinta menuju mobilnya.Seorang sopir membungkuk hormat lalu membukakan pintu untuknya.


"Dimana nona?"


"Dimobil satunya tuan.Tadi tuan Nic yang membawanya."


"antarkan dia pulang.aku akan menunggu Nic dan Will disini"


"baik tuan".


Sopir itu melangkah pergi.Michael membuka sisi lain lalu masuk kemobil.Dipandangnya Shinta intens.Ujung bibir gadis itu berdarah.Ia mengelusnya pelan.Ada yang bergemuruh didadanya.Entah kenapa sejak tadi bibir itu mencuri perhatiannya.Instingnya menyuruh mendekat dan ******* bibir itu.Tidak ada reaksi.Ia memperdalam ciumannya lagi hingga Shinta kehabisan nafas.Michael menarik wajahnya.Melihat Shinta yang memejamkan matanya kuat.Ia tersenyum lebar.


" apa ini yang pertama bagimu?" malu-malu Shinta mengangguk lalu menundukka kepalanya dalam.Tubuhnya bergetar hebat.Ia meruntuki kebodohannya yanga hanya diam.Jangan-jangan nanti Michael mengira dia wanita jalang seperti perkataan Stephanie.Tapi anehnya,bahasa tubuhnya berkata lain.Ia sangat menikmati ciuman itu.Juga aroma parfum maskulin yang menguar dari tubuh Michael.Sudut bibirnya yang terlukapun bagai mati rasa karena begitu terbuai dengan ciuman lembut sang tuan.


'aahhh...bodoh...bodoh..bodoohh' runtuknya dalam hati.Ia palingkan mukanya kearah jendela hinggae melihat sekreratis Nico dan Willy datang menuju mobilnya.Dua orang itu masuk tanpa diperintah.Duduk di jok depan.Willy yang ada didepan kemudi melirik Shinta dan Michael dari kaca.


'aneh,kenapa pipi gadis itu terus menunduk?tidak seperti saat masuk tadi.Terlihat garang dan berani.sekarang malah mirip anak kucing kedinginan.pipinya bersemu merah,Tuan Mic juga senyum-senyum sendiri.jangan...jangaan....' batin Willy menduga-duga.Michael yang sadar dipandang mencondongkan badanya kedepan.


"kau masih ingin matamu tetap ditempatnya atau pindah kepantat Will?" pelan tapi penuh ancaman.Seketika Willy membuang muka kedepan.Takut berurusan dengan tuannya.


"apa kau sudah membereskan semuanya Nic?"


"Sudah tuan".


" bagus.kita pulang" kata Michael tegas.


Sepanjang jalan Shinta meringis menahan nyeri dikakinya yang bengkak sebelah.Mic yang tau langsung mengarahkan agar mereka mampir kerumah sakit terdekat.Ada perasaan anrh yang melingkupi dirinya saat melihat Shinta kesakitan.

__ADS_1


Sepuluh menit kemudian mereka samapi dipelataran rumah sakit.Begitu Nico hendak membantu mengangkat tubuh Shinta,Michael melarangnya.


"biar aku saja".


" tapi tuan...nanti...."


"aku bosnya Nic.kau hanya tinggal menuruti perintahku". katanya angkuh,lalu berputar menuju pintu lain yang sudah dibukakan oleh Willy.Dengan gagahnya,Michael menggendong Shinta keruang ICU,dan membuat kehebohan disana.


Nico masih geleng-geleng kepala menyaksikan tingkah tuannya.Untuk apa tadi dia capek-capek menyuruh manghapus fotonya kalau sekarang dia mengulangi kejadian yang sama?bukankah Rumah sakit juga tempat umum?akan ada banyak mata yang memperhatikan dan mengabadikan moment mereka.Orang kaya memang bebas.Mereka yang bertindak,bawahannya yang kuwalahan.


" kau tidak merasa ada yang aneh dari tuan muda Will?" tanya Nico pada rekan dekatnya.Willy mengangkat bahu,mengejapkan matanya lucu.


"maksudmu?"


"tidak bisanya dia peduli pada orang lain.apalagi ini pembantu"


"dia baru menyelamatkan nona Nic,kau lupa itu" tukas Willy


"tapi...aku merasa tidak begitu"


"haha..haa..haa..." Willy tertawa terbahak membuat Nico menginjak kakinya kuat.


"nih,dengerin ya Nic,Tuan tidak mungkin punya selera rendah.aku saja yang hanya asisten tidak tertarik.beda leven men!"


"kau ini.Cinta itu tidak pandang begituan bego!"


"jangan-jangan kau takut sendirian Nic ha...ha..ha..."


"maksutmu?"


"kalau tuan muda dapat gandengan,tinggal kau yang sendirian man"


"memangnya kau punya pacar?"


"enggg...tidak"

__ADS_1


ha...ha...ha..sekarang ganti sekretaris Nico yang tertawa terbahak.


"lagakmu sepertinya kau ini playboy saja.Padahal pacar saja tidak punya"


"tapi aku biasa menghabiskan malam dengan para wanita man,tidak seperti kamu atau tuan muda yang masih bersegel perjaka" kilah Willy disela tawanya.Nico melengos.Usianya sudah hampir kepala tiga,tapi masih sendirian.Di otaknya hanya mengabdi pada keluarga Maverich saja.Ia tak sempat memikirkan wanita.


"aku ingat,tuan pernah menyuruhmu mempekerjakan teman Shinta kan?kenapa tidak kau coba menghabiskan malam dengannya man?gadia Filiphina itu lumayan juga"


"lumayan kepalamu!aku juga tidak level dengan pembantu"


"lah..suatu saat kau akan kena tuah omonganmu Nic" ejek Willy.Nic hanya bergidik lalu mengajak Willy masuk menyusul Michael.


******


Di ICU Shinta mendapat perawatan cepat.Dokter sudah memasang perban dikaki kanannya yang bengkak.Sebenarnya Shinta harus dirawat karena ada keretakan kecil pada tulang kakinya.Tapi gadis itu sadar diri dan meminta rawat jalan saja meski Michael memaksanya tinggal.Ia tidak punya uang untuk membayar rumah sakit.Setelah menuliskan resep obat,dokter mengijinkan Shinta pulang.Seorang perawat memindahkannya kekursi roda dan mendorong keluar.Disana Michael sedang bercakap-cakap dengan sekretaris Nico dan willy.


Michael mengambil alih kursi dan mendorong menuju mobil.


"harusnya kau tinggal disini hingga sembuh"


"saya tidak akan sanggup membayar biayanya tuan" lirih Shinta sambil menunduk.Ia menghindari tatapan Michael.posisi mereka yang duduk berdampingan dimobil membuatnya merasa tidak nyaman.


"kamu pikir saya tidak mampu membayar biaya perawatan kamu hah?"


"bu...bukan tuan,tapi saya sudah terlalu banyak berhutang pada anda tuan.


" hutang?kau menganggap semua yang kulakukan padamu adalah hutang?" sinis Michel.


"kalau begitu aku minta kau membayarnya"


"ta...tapi...saya belum bisa membayarnya sekarang tuan"


"kau bisa......"


Michael meraih tengkuk Shinta agar mendekat padanya.Melayangkan ciuman begitu cepat yang membuat gadis itu melotot tajam tak percaya Michael akan senekat itu menciumnya didepan asisten dan sekretarisnya.Shinta berusaha melepaskan diri dengan memukul dada Michael.tapi semakin dipukul,tuan muda itu makin memperdalam ciumannya hingga dia sesak nafas.

__ADS_1


Dijok depan,dua pasang mata juga melotot tak percaya.Mereka berpandangan bingung.


"ehhmm...apa kalian berdua masih ingin melihat matahari besok pagi?" Seketika tubuh keduanya menegang.Mengangguk bersamaan lalu pura-pura sibuk memperhatikan jalanan.


__ADS_2