
Michael berjalan gagah memasuki restoran masakan jepang ternama tempat yang disepakati untuk meeting dengan klien di ikuti oleh sekretaris Nico dan Aira yang berjalan tak kalah gagah dibelakangnya.Pasangan kakak beradik dengan perangai yang hampir sama itu membuat Mic begitu nyaman.Aira memang berbeda dari wanita kebanyakan yang selalu cerewet dan menyusahkan.Dia cenderung mandiri tak banyak bicara,kaku dan lugas mirip kakaknya.Maka tidak heran jika Mic memilihnya menggantikan posisi Willy sebagai asistennya.
Nico membuka pintu ruangan khusus yang sudah mereka booking hari itu.Klien hari ini adalah pria berkebangsaan Jepang yang mengembangkan sayap hingga ke Eropa.Berulang kali mereka bekerja sama termasuk hari ini.
Saat pintu terbuka,wajah putra Yamamoto terlihat lebih dulu karena duduk menghadap pintu.Kotaro,begitu dia dipanggil.Putra sulung Yamamoto yang memang sudah berkali-kali mewakili ayahnya untuk berbagai kepentingan dan negosiasi bisnis selain dengan Maverich.Tapi anehnya,kali ini Yamamoto menugaskan putranya untuk meeting kali ini.Nico dan Aira membungkukkan badannya hormat sebelum mengambil duduk di kanan kiri Michael.Ekor mata sekretaris dingin itu menangkap sesosok perempuan muda yang duduk disebelah Kotaro.Nico tertegun.Ayya...wanita itu Ayya yang menghilang darinya saat dia memutuskan menikahinya.
Ada rasa sesak di dada sekretaris Nico.Ayya tampil cantik dalam balutan kimono merah terang yang membingkai tubuhnya dengan sempurna.Wajah cantik wanita berdarah Filipina itu begitu menyilaukan matanya,membuatnya enggan mengalihkan pandangan mata bahkan berkedip sekalipun.Ayya hanya tersenyum sekilas padanya lalu menundukkan kepalanya menghindari tatapan tajam sekretaris Nico.
Michael melirik Nico yang terlihat tidak fokus hari itu.Dia mengisyaratkan agar Aira yang menggantikan tugas Nico sementara hingga Nico kembali pada performanya.Tapi tampaknya akan terlalu sulit baginya karena sang sekretaris terlihat lebih fokus pada wanita mantan pembantunya itu.
”Ohh ya tuan Kotaro,siapa dia?" tanya Michael dalam bahasa Jepang yang fasih karena dia tau Kotaro tidak begitu menguasai bahasa Inggris dengan baik.Kotaro menoleh pada Ayya dan mengembangkan senyumnya.
"Dia istriku tuan Maverich." jawab pria bermata sipit berbadan tambun itu mantap.Ayya hanya menundukkan wajahnya dalam.Michael hanya mamandangnya sekilas lalu melanjutkan negosiasi.
Sekretaris Nico memasang wajah jengah sekian menit,dadanya yang sesak meminta asupan udara segar.Sejenak dia berbisik pada Mic untuk meminta ijin ke toilet dan langsung diangguki oleh Michael.Sekretaris kaku itu berlalu.
"ahhhh"
pekik Ayya saat tangannya menyenggol gelas minuman di dekatnya.Mic tersenyum sinis.Dia tau itu bukan suatu kebetulan.Kotaro menyuruhnya membersihkan diri ketoilet dengan diantar pengawalnya,namun Ayya menolaknya dengan halus.Berbagai alasan dikeluarkan agar Kotaro mau melepasnya tanpa pengawalan.Akhirnya kotaro menyerah dan membiarkan istrinya keluar sendiri.
"Tuan Nico!" panggil Ayya sambil berlari kecil menjajari langkah sekretaris Nico.Pria itu hanya meliriknya sekilas.
"Untuk apa kau memanggilku?" tanyanya ketus.Ayya menundukkan wajahnya lagi.Tatapan tajam mantan majikannya itu seperti menguliti tubuhnya.
"Saya ingin minta maaf.”
__ADS_1
" Setelah semua penipuan yang kau lakukan?setelah kau mencabik-cabik hati dan kepercayaanku?setelah kau menghilang?" Nico menatap dengan sinis.
"maafkan aku."
"kau....kau keterlaluan!!kau meninggalkan aku demi pria kaya yang memberimu kemewahan!kau..." Nico tersentak saat merasakan bibir Ayya mengecup bibirnya.Tubuhnya membeku.Kerinduan yang tidak pernah hilang.Bagaimanapun Ayya adalah cinta pertamanya.
"Percayalah,dihatiku hanya ada dirimu tuan.Aku sangat mencintaimu.Ini nomer ponselku.hubungi aku jika kau ada waktu" lalu tergesa Ayya pergi dari sana menuju toilet.Langkahnya yang panjang membuatnya cepat menghilang dikoridor.Nico mengelus bibirnya,ciuman Ayya masih sangat terasa disana.Ahh Ya Tuhan...bagaimana mereka bisa bertemu disana?
Nico kembali memasuki room saat acara makan sudah dimulai.Mic memincingkan matanya melihat perubahan pada raut wajah sekretarisnya itu.Tak berapa lama Ayya masuk dan duduk disisi Kotaro.Mereka makan dengan tenang hingga tiba-tiba Ayya tersedak hingga batuk-batuk.Nico terlihat panik dan mengulurkan gelas berisi air putih padanya bersamaan dengan Kotaro yang juga melakukannya.Mereka saling berpandangan,tidak mau mengalah.Mic berdehem keras,memberi kode agar Nico menarik kembali gelasnya.Namun sekretarisnya itu bersikukuh ingin Ayya menerimanya.Wajah Kotaro menegang.
"Nic,kembali ketempatmu.Sekarang!" sentak Mic penuh wibawa.Nico berlahan menarik tangannya lalu duduk kembali ketempatnya.
"Maafkan saya tuan muda."
"itu sama sekali bukan masalah tuan Maverich.Mungkin sekretaris Nico ingin bersimpati pada istri saya." kata Kotaro mencairkan suasana.
Restoran itu terbilang ramai,namun juga menjaga privacy pelanggannya dengan memberikan ruangan khusus jik diperlukan.Michael melangkah cepat diikuti keduanya.Dia juga segera masuk ke mobil saat Nico membukakan pintu.
"Berhentilah berbuat bodoh seperti tadi Nic." tegas Mic begitu Nico duduk disamping Aira yang menjalankan mobil dengan kecepatan sedang.Nico tergugu tak bisa menjawab.
"Kotaro orang yang berbahaya.Dia memiliki kedudukan kuat di Yakuza.Simpan semua masa lalumu itu karena sudah ada Erika disisimu."
"baik tuan muda." hanya itu yang keluar dari bibir Nico.Walau harus berperang dengan batinnya,dia tidak mungkin menolak perkataan Michael yang dianggapnya perintah.Hati Nico tercubit sakit.Ada yang hilang dari sana.
Saat Mic sudah memasuki ruangannya,Nico juga kembali ke mejanya yang ada disamping Aira.Sang adik langsung sibuk menyelesaikan beberapa berkas yang akan di bawa Nico nantinya.Sedang Nico,hanya duduk termangu mengamati secarik kertas yang diberikan Ayya tadi.Spontan dia mengeluakan ponselnya lalu mendial nomer Ayya.
__ADS_1
"Hallo"
deg...deg....deg...
suara itu...milik Ayya.Suara yang sangat dirindukannya.
"ini aku Nico,bisa kita bertemu?"
"tentu saja tuan,katakan saja dimana dan aku akan menemuimu."
"Latanza,satu jam dari sekarang." ujar Nico mantap.Latanza adalah pusat perbelanjaan yang satu kompleks dengan hotel bintang lima milik Luxio group.Dia ingin bertemu Ayya disana karena menganggap itu adalah area teraman untuk mereka.
"Baik,aku akan kesana." sambungan telepon terputus.Nico tersenyum tipis nyaris seperti menyeringai.
"Jangan bermain api kak.Dia akan membakarmu." Aira menatap tajam padanya.Sejak tadi dia hanya jadi pendengar dan mencoba menerka-nerka apa gerangan yang terjadi.Tidak sulit bagi gadis cerdas sepertinya untuk mengetahui apa yang terjadi pada kakaknya itu.
"Bahkan jika api itu membakarku,aku akan menyerahkan diriku didalamnya Aira.Kau tau kenapa?karena cinta adalah api yang paling sukar dipadamkan."
"kuharap kau ingat kak Erika."
"Aku tau." Nico akan beranjak pergi saat Aira berdiri dan berkacak pinggang dihadapannya.
"Aku orang pertama yang akan menghajarmu jika kau menduakan kak Erika dengan perempuan manapun!"
"Kau tau apa tentang kehidupan Aira?"
__ADS_1
"Yang aku tau cuma harga diri dan kesetiaan kak.Karena hanya itu yang mereka ajarkan.Kau...kuharap kau menghargai janjimu pada Tuhan atas diri kak Erika." Aira makin berapi-api namun Nico memilih tak menjawab dan beranjak pergi.