Bukan Cinta Semusim

Bukan Cinta Semusim
Zao


__ADS_3

Shinta menerjabkan matanya saat merasakan sesuatu yang berat menimpa perutnya.Tangan.Saat dia mendongak,wajah tampan rupawan suaminya terlihat tenang dalam tidur pulasnya.Dia menengok jam dinding,masih pukul 5 pagi,artinya dia sudah 3 jam terlelap.Pikirannya seketika tertuju pada El.Bukankah tadi putranya ada ditengah mereka?kemana El sekarang?


"Sayang,ini masih pagi.Diluar masih gelap,biarkan begini dulu." suara serak Mic terdengar dekat ditelingannya.Mungkin dia merasakan pergerakan Shinta yang memindahkan tangan besarnya dari perut sang istri tadi.


"Mas,El dimana?"


"Sudah kupindahkan ke boxnya.Satu jam lalu,dia terbangun dan kehausan."


"Aku akan menengoknya."


"Tidak." ucap Mic tak peduli.Dia makin mempererat pelukannya dan memindahkan kakinya ke paha bawah Shinta.


"tapi mas..."


"sayang,kau akan bermain dan tidur dengannya seharian nanti saat aku di kantor.Jadi sekarang biarkan aku memelukmu seperti ini.Aku masih sangat mengantuk." ujar Michael lagi.Shinta yang tidak tega melihat suaminya yang kelelahan menurut saja saat Mic menarik kepalanya agar rebah di dadanya.Mereka kembali terlelap hingga dua jam kemudian.


"mas,bangun...nanti kau kesiangan." ujar Shinta sambil mengecup lembut pipi suaminya.Bau harum sabun mandi tercium dari tubuhnya yang mengenakan daster rumahan.


"hmmmm." Mic membuka matanya bersamaan dengan suara El yang menangis,tergopoh Shinta mendekatinya dan mengeluarkan putra tersayangnya dari box lalu menimangnya sebentar.El yang melihat dadynya minta turun ke ranjang dan merangkak kearahnya.Suara tawa lucunya membuat pagi itu ceria,Bocah cilik itu menciumi pipi dadynya sambil terus tertawa senang.Sang dady juga bangun dari tidurnya,membalas ciuman El dengan gelitikan yang membuat bocah itu tertawa lagi dan lagi.


"Mas,aku sudah siapkan air mandinya."


"hmmmm...aku ingin mandi dengan El."


"Udah,biar nanti El mandi sama aku saja." sahut Shinta.


"El ingin mandi denganku.Lihat dia terus menempel padaku.Iya kan son?" tanya Mic pada El yang terus mengangguk- anggukan kepalanya.

__ADS_1


"Anak pintar.Ayo kita mandi.Biar momymu yang menyiapkan pakaian kita." Mic kembali mencium pipi El dan membawanya masuk ke kamar mandi.Ayah anak itu memang punya hobi mandi bersama akhir-akhir ini.Mic yang begitu menyayanginya selalu saja menjadikan moment itu untuk dekat dengan sang anak.Pria itu bahkan tidak segan menyuapi dan mengajari El berjalan.Sungguh ayah yang baik,jauh dari citra dingin dan arogannya dikalangan pebisnis.


Sesaat kemudian Mic turun menggendong El yang sudah wangi dan berpakaian rapi.


"Dady .." katanya sambil memamerkan gigi bawahnya yang masih dua buah.


"Sayang,dady berangkat dulu ya.El baik-baik dirumah dengan momy." seolah paham perkataan sang ayah,El mengangguk-anggukan kepalanya.Mic lalu menyerahkannya ke dalam pelukan Shinta.Pria itu berbalik pada sekretaris Nico yang sudah berdiri diambang pintu,mununggunya.


"Selamat pagi tuan muda." sapanya dengan hormat.


"Apa kau sudah menemukannya?"


"sudah tuan.Dia menyamar menjadi Sherly berre."


"Apa kau akan kesana sekarang?”


" Masih banyak yang akan saya kerjakan pagi ini tuan muda." Mic mengangguk.Jadwal hari ini memang sangat padat,dia tidak mungkin menyuruh Nico off tapi dia juga tidak boleh egois membuat Nico terlalu lama bertemu istrinya.


"hey...aku dan adikmu Aira yang akan mengurus pekerjaanmu.Kurasa kak Mic juga tidak akan keberatan."


"Ya,pergilah.Temui Erika dan selesaikan masalah kalian." tegas Mic kemudian.Nico yang semula terlihat ragu menegadahkan wajahnya,menatap tidak percaya pada Michael dan Willy bergantian.Kedua orang didepanya mengangguk hampir bersamaan,meyakinkan dirinya bahwa apa yang dia dengar barusan benar.Nico secara spontan memeluk Michael dan Willy bergantian sambil berulang kali mengucapkan terimakasih pada keduanya.


"Pergilah Nic."


"baik tuan muda."


"good luck man!" pekik Willy memberi semangat.Dia juga melemparkan kunci mobilnya pada Nico yang ditangkap dengan cekatan oleh sang sekretaris.

__ADS_1


"Thanks Will." ungkapnya.Dia membungkukkan badannya saat Mic berjalan ke mobilnya diikuti Willy.Mereka berangkat bersamaan pagi itu.


"Sekretaris Nico." panggil Shinta saat mobil suaminya sudah keluara dari pagar.


"iya nyonya muda."


"Jangan pernah memaksa atau menyakiti Erika.Aku orang yang pertama kali harus kau hadapi jika itu terjadi." Ancam Shinta dengan nada dingin.Nico mengangguk hormat.


"Saya akan menjelaskan semuanya dan memintanya kembali nyonya,permisi." jawab Nico tegas.Shinta hanya bisa menatap kepergian pria itu sambil sesekali membalas celotehan baby El.Entah apa Erika mau kembali padanya atau tidak.


********


Sesosok wanita bertubuh mungil khas wanita Asia menyerahkan daftar menu hari itu pada koki rumah sakit tempatnya bekerja saat seorang pria memasuki area dapur pagi itu.


"Selamat pagi Sherly." sapanya lembut sambil mengikuti langkah wanita yang dipanggil Sherly itu menuju meja-meja tempat makanan untuk pasien dipack khusus.


"oohh..selamat pagi juga profesor Zao.Apa yang membuat anda menemui saya pagi ini." jawab si wanita sedikit terkejut karena tidak menyadari kedatangan dokter Zao.Seorang duda beranak satu berdarah Cina yang merupakan dokter ahli bedah yang bekerja disana.Dokter Zao juga salah satu dosen pembimbingnya di universitas tempatnya menempuh jenjang S2 saat ini.Pria tampan bermata sipit berkulit kuning langsat itu tersenyum padanya.


"Kau sudah beberapa hari tidak datang ke kampus untuk bimbingan tesismu Erika.Kau mau cepat lulus atau tetap berada disini?"


"Saya ingin cepat lulus prof,sejujurnya saya sudah ingin kembali ke Indonesia." jawab Sherly mantap.Rencana yang dia susun memang hancur berantakan sama dengan biduk rumah tangganya yang sudah oleng.Dia juga tidak ingin orang tuanya mendengar kisah hidupnya saat ini.Yang dia butuhkan hanya cepat menyelesaikan studynya lalu meninggalkan tempat ini.Tempat yang memberinya kenangan indah dan menyakitkan dalam waktu bersamaan.Dia ingin memulai hidup baru,melupakan segalanya dan kembali ke negaranya.


Profesor Zao menyodorkan beberapa kertas pada Erika yang terlibat perbincangan hangat dengannya.Jangan membayangkan sosok tua yang bertubuh gendut dan berkepala botak padanya.Dia bahkan masuk jajaran profesor muda dikampusnya.Usianya bahkan belum genap 45 tahun saat ini,bertubuh tinggi proporsioanal,berhidung mancung dengan bola mata coklat terang yang sangat layak disebut tampan.


Erika bukan tanpa alasan bekerja disana.Adrian adalah orang dibalik semua ini.Dia tidak ingin Erika pulang ke Indonesia dengan tangan hampa karena berencana menjadikan dia dokter ahli bedah yang akan ditempatkan di rumah sakitnya di tanah air.Saat Shinta meneleponnya,pikirannya langsung tertuju pada profesor Zao yang saat ini menjadi kepala rumah sakit khusus itu.Kenapa dikatakan khusus?karena rumah sakit itu satu-satunya yang punya dokter ahli bedah syaraf dan ortopedi serta peralatan penunjang lain yang membuatnya selalu dikunjungi banyak pasien dari luar daerah.Disanalah para mahasiswa kedokteran tempat dokter Zao mengajar biasa bekerja dan melakukan penelitian untuk skripsi atau tesis mereka.Zao adalah paman Alicia.Dia adik bungsu mamanya yang jarang tampil bersama dimuka umum.


"Terimakasih prof." ujar Erika.

__ADS_1


"sama-sama Sherly." sahut Zao saat seorang perawat melintasi mereka.Zao memang selalu memanggil Erika dengan Sherly saat ada orang lain disana.Pria itu tersenyum ramah sambil mengelus kepala Erika,membuat perempuan muda itu terkesiap.Belaian Zao menghangatkan hatinya.


"Jangan lupa menemuiku esok pagi di kampus Sherly." ujarnya sambil berlalu dengan senyum lebar.Erika hanya mengangguk tanpa suara.


__ADS_2