Bukan Cinta Semusim

Bukan Cinta Semusim
Kerinduan Willy


__ADS_3

Bunyi sirine polisi berdengung di depan resto lepas pantai itu.Anak buah Hakigawa sudah lebih dulu diangkut pergi,tersisa Hakigawa yang tengah diborgol dan akan dinaikkan ke mobil polisi.Pria berdarah Jepang itu tersenyum getir,berdiri dari duduknya dengan bantuan dua orang polisi yang akan membawanya.Sudut matanya berair.


"Mic,bolehkah aku minta sesuatu padamu?" katanya lirih.Mic segera mendekat padanya.


"Katakan." ujar Mic lirih.


"Aku punya seorang putri yang masih berusia 3 tahun.Istriku membawanya pulang ke Jepang karena berselisih paham denganku.Nama putriku Ayu Saphura.Jika aku tidak lolos dari hukuman mati nantinya,tolong temui putriku saat usianya 17 tahun.Katakan padanya,ayahnya ini sangat menyayanginya dan tolong,katakan kebaikan tentang diriku.Aku tidak ingin anakku tahu jika ayahnya seorang penjahat." kata Hakigawa dengan air mata menggenang.Michael menarik nafas berat.


"Kau akan selamat Haki.Aku akan mencarikan pengacara terbaik untukmu.Aku juga akan menghubungi keluarga Atsuka di Jepang.Aku yakin mereka akan membantumu." ujar Michael kemudian.Sama sekali tidak ada kebencian diantara mereka.Air mata Hakigawa menetes.Mic menangkup wajahnya dan mengelap air matanya dengan ibu jari,seperti seorang ayah yang menyayangi putranya.Hakigawa melemparkan tubuhnya pada Mic dan dibalas pelukan erat dari tuan muda itu.


"Terimakasih Mic.Maafkan semua kesalahanku padamu."


"Lupakan Haki.Sekarang pergilah,kau pasti bisa melewati semua ini,kawan." kata Michael lagi sambil menepuk-nepuk punggung Hakigawa.Pria itu menegakkan tubuhnya,lalu membungkukkan badannya,memberi hormat dan dibalas dengan hal yang sama oleh tiga serangkai ice man didepannya.Dua polisi membantunya berjalan dan memasukkannya ke dalam mobil.Sirine menjauh membawanya pergj dari tempat itu.


Michael menoleh pada Nico dan Willy yang ada disisi kanannya.Dua orang itu masih memasang tampang kaku andalannya,tanpa ekspresi.


"Kau pikir bisa menyelesaikan Hakigawa sendirian?dia manusia berbahaya,Nic." desis Michael dengan tatapan tajam pada sekretarisnya itu.Nico hanya menundukkan wajahnya.Dia memang bersalah saat ini.


"Maafkan saya tuan muda." jawabnya tegas sambil membungkukkan badannya.


"Untunglah aku selalu mengawasi gerakanmu,Man.Kalau tidak,kau sudah berakhir hari ini." tukas Willy dengan tawa mengembang.


"kau pikir aku tidak tau?kau mengawasiku 24 jam Will.Sekarangpun kau memasang alat penyadap dibawah mejaku dengan bantuan pelayan.Kau lupa aku juga mantan mata-mata." ejek Nico galak.


"ha..ha...instingmu memang tajam,man!kau juga sangat jeli.kuakui aku selalu kalah darimu soal itu."


"karena kau hanya menggunakan ototmu,bukan otakmu tuan muda baru."


"hey..kau sudah kutolong,bukannya berterimakasih,malah mengejekku seperti ini.Dasar tidak tau terimakasih." gerutu Willy kesal.


"terimakasih." pungkas Nico datar dan kembali tanpa ekspresi.Willy yang kesal jadi makin kesal.


"Kau seperti tidak ikhlas mengatakannya sekretaris bodoh." hardiknya kasar.Mic hanya melihat perdebatan keduanya sambil mengelus janggutnya.

__ADS_1


"Bisakah kalian diam?" Ungkapnya kemudian.Dua orang di depannya serentak terdiam.Namun Willy masih sempat menginjak ujung sepatu Nico kuat hingga sekretaris tampan itu mengrenyit kesakitan.Tanpa diduga dia balas menedang tulang kering Willy hingga mantan asisten itu mengaduh.


"Berhenti bersikap seperti anak kecil!" sentak Mic lagi.Keduanya mematung.


"Kau membahayakan dirimu dan calon bayiku Nic.Kalau terjadi apa-apa pada anak dan istriku,aku tidak akan mengampunimu!Nanti,jika ada kejadian seperti ini kau harus mengatakannya padaku.Jangan bertindak sendiri."


"Baik tuan muda.Tapi saya sudah bukan sekretaris anda lagi."


"maksudmu?kau mengundurkan diri?"


"nyonya Stephanie sudah memecat saya tuan."


"Steve?" tanya Mic tak percaya.Adik semata wayangnya itu benar-benar seorang pendendam hingga bertindak semauny saat gelap mata.Dia begitu menyayangi Erika.


"iya tuan"


"sejak kapan dia jadi atasanmu?Sejak bergabung di Maverich kau adalah sekretarisku,kau bekerja padaku,hanya aku yang bisa memecatmu." tegasnyam


"tapi nyonya Stephanie sudah mengirimkan surat pemecatan saya lewat email tuan besar.Artinya tuan besar juga menyetujuinya."


"Tapi nyonya Steve...."


"aahhaaayy man.Ini hanya salah paham.Mungkin ini hanya pengaruh homonal dari calon anakku.Nanti aku yang akan bicara pada istriku." sela Willy yang membuat Nico mendengus kesal.


"Sepertinya kau tak bisa hidup tanpaku tuan muda baru." sindirnya tajam.


"Aku sangat merindukanmu,sayangku." kata Willy degan nada meledek.Nico berdecih sebal.


"Kau menjijikkan Will." jawabnya dengan bahu bergidik ngeri.Wily tertawa berderai.


"Aku bahkan tidak bisa tidur nyenyak karena terus memikirkanmu Nic.Aku seperti bocah kasmaran yang mengikuti pujaan hatinya kemana-mana.cih..sungguh memalukan."


"Aku tidak menyuruhmu melakukannya."

__ADS_1


"kau ...benar-benar manusia tak berperasaan.Bagaimana bisa Erika bertahan hidup denganmu." sentak Willy lagi.Air muka Nico seketika berubah.


"Dimana istriku sekarang?" tanyanya gamang.Willy dan Michael saling pandang.Nico yang melihat itu,mengeram kesal.


"Dia pergi ke daerah konflik sebagai relawan medis disana." jawab Willy kemudian karena Michael tak bereaksi apapun.


"kenapa kalian tidak mencegahnya?" mata Nico berkilat marah.


"memang siapa kami hingga berhak mencegahnya?kau saja yang suaminya malah enak-enakan dengan wanita lain."


"Wil!!!" sentak Nico karena habis kesabaran.Willy cuma cengar-cengir tak berdosa.


"Itulah gunanya komunikasi Nic.Semua tidak akan terjadi kalau saja kau terbuka pada kami,atau pada Erika." putus Mic kemudian.Kalau diteruskan,adu mulut antara kedua orang itu bisa berakhir dengan adu lengan dan baku tembak.Nico terdiam.Kakinya melemas dan dia terduduk dikursi,mengusap wajahnya kasar.


"Itu karena aku terbiasa sendiri.Aku lupa jika sudah beristri." keluh Nico kemudian.


"jangan-janga kau juga lupa sudah menidurinya." ejek Willy lagi.Nico meradang.


"Will!diam kau sialan!" Umpat Nico kesal.Willy kembali tertawa ngakak.Sudah jadi hobinya dari kecil,meledek Nico saat marah.Baginya kemarahan Nico adalah hiburan tersendiri karena Nico sangat jarang marah.Wajahnya selalu datar,hingga membuat Willy kesal.


"Mas....tolong!!'' teriak Shinta,sontak ketiganya menatap arah datanganya suara.Shinta berdiri,menopang tubuh Ayya yang nyaris ambruk ke lantai karena pingsan.Nico dan Willy berlari membantunya.


" dia kenapa?Ay..bangun Ay..." teriak Shinta sambil menepuk pipi Ayya agar sadar.Tapi usahanya terlihat tidak berhasil.


"Dia terkena efek serbuk buatan Hakiyama." tukas Nico sambil mengangkat Ayya dan membaringkannya di sofa.Tubuh lemah itu menggigil dan terlihat pucat.


"serbuk?" beo Willy lagi.


"ya,serbuk seperti yang dia lemparkan tadi.Itu adalah morphin level tinggi agar orang yang menghirupnya menjadi berhalusinasi dan mematuhi perintah Hakigawa." jelas Nico.


"kita bawa ke rumah sakit." kata Shinta panik.


"Tidak bisa nyonya,dia sakaw.Hakigawa menyuntikkan morphine kedalam tubuhnya tiap hari hingga dia kecanduan.Kita bawa dia ke tempat rehabilitasi dan menghubungi suaminya di philipina."

__ADS_1


"suami?" Shinta terkesiap.


"iya nyonya.Ayya sudah menikah." kata Nico kemudian.


__ADS_2