Bukan Cinta Semusim

Bukan Cinta Semusim
Memilih


__ADS_3

Shinta memindahkan baby El yang tertidur dalam dekapan Michael.Bocah tampan itu tertidur sangat lelap.Mic mencekal tangan istrinya saat Shinta akan turun dari mobil.


”sayang,jangan lama-lama.Kau harus segera pulang.Aku takut El menangis saat terbangun nanti." Shinta tersenyum jenaka seraya mengusap pipi suami tampannya yang mulai ditumbuhi bulu-bulu halus yang membuatnya terlihat super maskulin.Mic menangkap tangang kanannya dan melabuhkan kecupan ringan disana.


"kau atau El yang takut kalau aku tidak ada mas?" Shinta mengedipkan sebelah matanya,membuat Mic gemas dan menyambar bibir mungilnya.


"tentu saja aku!jangan macam-macam saat jauh dariku.” jawab Mic dengan nada mengintimidasi.Shinta tertawa riang,entah sejak kapan dia jadi punya hobi menggoda Mic yang over posesif dengan candaan ringan.


"Memangnya aku mau kemana mas?ada adikmu di dalam sana,juga dua pengawalmu yang kau tugaskan mengawasi Erika." Michael melirik mobil putih milik adiknya yang memang terparkir dihalaman rumah kontrakan Erika.Willy yang memegang kemudi berdehem lemah,membuat pasangan itu tertawa canggung lalu melepaskan pelukannya.


"Kak Shinta hanya akan bertemu Erika,bukannya berangkat berlibur." dengusnya kesal.Mic melirik tajam,membuat Willy terdiam seketika.


"Aku pergi ya mas,nanti aku pulang bareng Steve." ujar Shinta lalu mencium pipi dan punggung tangan suaminya.Mic terus menatap padanya hingga istri mungilnya itu memasuki rumah mungil itu.


"Ayo jalan Will." perintanya.Willy hanya mengangguk sembari melajukan mobil itu dengan kecepatan sedang,membelah keramaian.


''kau terlalu posesif kak." Mic kembali melirik tajam pada Willy.Sejak menjadi asistennya hingga jadi adik iparnya Willy memang sangat suka mengkritik tindakannya.Sekarang malah lebih berani.


"Shinta sedang hamil adik El." jawabnya dingin sambil mengelus punggung El.


"hah???apa itu tandanya Steve dan kak Shinta akan melahirkan bersamaan?"


"maybe."

__ADS_1


"owwhh...its miracle man!" pekik Willy bahagia.Dia tidak bisa membayangkan bahagiannya pasangan Abraham saat mendengar bahwa mereka akan mendapatkan tambahan dua cucu bersamaan.Artinya rumah mereka akan ramai di akhir pekan.Tidak usah bertengkar dengan Mic jika mereka kangen cucunya.


"Apa dad sudah tau kak?"


"Shita sudah memberitahu bunda." ujar Mic lagi.Willy masih dalam mode senyum-senyum sendiri saat mobil membawa mereka kembali ke kediaman Michael.


********


Shinta melihat Stephanie yang memeluk Erika yang menangis sesengukan.Dia membiarkan dokter cantik itu menumpahkan semua kesedihannya hingga tangisnya reda.Shinta mendekat dan ikut memeluknya.


"sabar ya Er...semua pasti akan berlalu." bisiknya.Tangis Erika reda sesaat kemudian.Dengan mata memerah sembab,dia menegakkan tubuhnya diantara dua sahabatnya.


"Hatiku sangat sakit,Ta.kenapa menikahiku jika dia punya orang lain dihatinya?"


"kejadian itu sudah sangat lama Er.Aku yang membawa Ayya dalam kehidupan Nico karena Ayya sahabatku." desah Shinta.


"aku juga bersalah Steve.Mas Nico hanya mengajakku bercanda.Harusnya aku tertawa,bukannya jatuh cinta." kata Erika kemudian dengan mata menerawang.Ketiganya terkesiap dalam diam.Kalau saja mereka tau apa yang ada dalam hati Nico dulu,pernikahan ini tidak akan pernah terjadi.Tidak akan ada hati yang akan terluka.


"Tapi tidak seharusnya Nico bercanda soal pernikahan." sahut Shinta jengah.Dia yang paling berada dalam dilema saat ini.Ayya adalah sahabat baiknya,tapi Erika?dia seperti saudara sejak Nico menikahinya.Kenapa sekretaris Nico menempatkannya diantara dua kursi yang tidak bisa dia duduki keduanya?


"Nico hanya kesepian kak,Erika datang sebagai pengobat sepi...bukan asli dicintai." Erika kembali terisak mendengar perkataan Stephanie.Shinta memelototkan matanya,memberi isyarat pada Steve yang hanya nyengir kuda.Kadang adik iparnya itu memang bicara terlalu vulgar tanpa memperhatikan perasaan orang lain.Dia sangat mirip kakaknya.


"Kuatkan hati Er.Kau harus segera pergi dari sini.Orang seperti Nico harus diberi pelajaran." ketus Shinta kemudian.Tangannya terkepal kuat menahan amarah.

__ADS_1


"Tapi kemana kak?Nico punya kekuasaan membarikade pergerakan Erika." Steve galau juga memikirkan nasib sahabatnya itu.Dia tau Nico tidak akan melepas Erika begitu saja,apalagi dia sudah berniat untuk poligami.Lelaki egois.


"Tapi kakakmu punya kekuasaan diatas Nico,Steve.Biar dia yang menyelesaikan masalah Erika.Aku yang akan mengurus sisanya.Termasuk Ayya!"


"Ayya?kau yakin kak?dia sahabat baikmu kan?" Shinta menarik nafas panjang.Sekarang sudah tiba saatnya dia harus memilih akan duduk dikursi yang mana.Dia tidak boleh seperti Nico yang ingin memiliki keduanya.


"Aku tidak akan mengampuni seorang pelakor,siapapun dia!" Stephanie beringsut memeluk kakak iparnya itu dengan bangga.Selama ini dia memang sangat mengagumi Shinta yang tegar,keras dan berani.Michael tidak pernah salah memilih istri.Hanya Shinta orang yang kuat menghadapi sikap dingin dan ketus kakaknya.Sekarang malah keadaan yang berbanding terbalik.Michael yang bucin akut pada istri cantiknya itu.


"pertanyaanya..apa kau mau pergi Er?" Erika seketika menoleh,Stephanie mengejabkan matanya.Takut kembali salah bicara dan melukai perasaan Erika.


"Aku memang akan pergi Steve." ujarnya mantap.Rahangnya mengeras.


"Itu yang terbaik." Steve melonjak dengan sangat bersemangat.


"Aku tidak mau jadi pengusir sepi.Aku akan mencari kebahagiaanku sendiri." tukas Erika,mencoba kuat.


"Akan kupastikan Nico menyesal sudah menduakanmu Er."


"Aku tidak butuh penyesalan mas Nico,Steve.Aku sudah menyerahkan semuanya pada Tuhan."


"karma tidak akan lupa jalannya Er,dia tau harus kemana dan menimpa siapa." desah Shinta.


Ketiganya saling berangkulan,mencoba saling menguatkan.Menangis bersama bagaikan saudara yang akan berpisah dengan saudaranya yang lain.Seperti anak kecil yang kehilangan mainan kesayangannya.

__ADS_1


"Sekarang,jangan disini.Tempat ini gampang dilacak oleh Nico.Ayo kuantar ke tempat yang aman Er." Stephanie bergerak cepat mengangkat tas dan koper Erika.Mereka membuka gerbang dan masuk ke mobil.


Dua orang pengawal yang ditugaskan Mic mengangguk hormat pada mereka.Shinta menghampiri mereka dan memberi perintah agar mereka kembali saja ke kediaman Maverich.Perdebatan kembali terjadi karena keduanya berkilah hanya menuruti perintah Michael atau Willy saja.Stephanie yang melihat itu buru-buru turun dan menelepon Michael.Mic yang awalnya marah-marah langsung diam saat Shinta memohon dengan nada sngat rendah seolah dia korban peperangan dan perli belas kasihan.Mana bisa pria itu menolak permintaan istrinya yang terus mengucapkan seribu kata cinta padanya?Tuan muda Maverich itu menyerah.Dia memenuhi permintaa Shinta dan menyuruh orang-orangnya kembali setelah istrinya berangkat.


__ADS_2