Bukan Cinta Semusim

Bukan Cinta Semusim
Memulai perjuangan


__ADS_3

Nico berjalan tergesa menaiki tangga menuju kamarnya.Tidak ada lagi keraguan dalam dirinya,tidak ada lagi niat untuk terus menghindari Erika.Bukankah si kecil Ben sudah mengajarkannya jika cinta itu butuh diperjuangkan?


Erika yang baru saja selesai mandi memekik kaget karena kehadiran Nico yang tiba-tiba tanpa mengetuk pintu.Tergesa,dia membenarkan bathrope yang masih dikenakannya secara asal.Erika mundur selangkah saat Nico terus mendekatinya.Tangannya berusaha menahan dada Nico yang terus mengikis jarak darinya.


"Aduh!!" pekik Erika saat kakinya terantuk pinggiran meja rias hingga tubuhya oleng dan akan terjatuh.Tangan Nico dengan sigap meraih pinggang ramping istrinya itu dan menariknya dalam pelukannya.Wajah Erika membeku.


"Kenapa?" Tanya Nico pelan.Matanya memindai tiap bagian wajah Erika.Wanita itu buru-buru mengatupkan bibirnya yang terbuka karena rasa kaget tadi.Nico menatapnya dengan mata memincing tajam.Wajah ovale yang putih bersih.Alis tebal menaungi mata bulat yang terlihat lucu dan polos,hidung mancung khas wanita Asia yang menawan dan bibir merah jambu yang seksi dimatanya.Kecantikan Asia yang sempurna.


"A..aku hanya kaget karena kau tidak mengetuk pintu." jawabnya terbata.


"Ini kamarku juga kan?aku merasa tidak perlu mengetuk pintu Erika." Erika lagi-lagi membeku.Sontak dia menarik dirinya agar lepas dari pelukan Nico.


"Kalau begitu saya akan pindah ke kamar lain tuan Nicholas." Ujar Erika lalu berbalik hendak pergi menjauh.Berada disamping Nico selalu membuatnya sesak nafas.Sinar cinta dimatanya berpendar sempurna tanpa bisa dia tutupi atau dikendalikan.Kekagumannya pada sosok Nicolah yang dia takutkan.Dia takut terluka nantinya karena Erika tau pasti,dia hanya memiliki raga seorang Nicholas kendrich,bukan hati dan perasaanya.


Belum sempat melangkah pergi,Nico sudah lebih dulu mengunci pergerakan Erika dengan pelukan kuat.Tubuh Erika kembali membeku.Lengan besar dan kokoh itu sudah melingkar sempurna dipinggang dan perutnya.Dia bergidik saat merasakan nafas Nico mengenai lehernya.Pria itu menempelkan dagunya dipundak kanannya yang terasa bergetar.


"Jangan menghindariku Erika,karena semakin kau jauh,aku akan semakin mengejar dan memenjarakanmu." desis Nico di telinga kanannya.

__ADS_1


"Aku hanya ingin sendiri." timpal Erika disela kegugupan yang menderanya.


"Aku tidak memperbolehkan kau sendirian." kata Nico tidak mau kalah.


"Kita sudah bukan lagi ...eehhhemmmppp.." kata-katanya terputus karena ciuman kasar Nico yang menarik dagunya dengan tiba-tiba kesamping.Ciuman tanpa balasan karena Erika mengatubkan bibirnya rapat.Nico yang gemas menggigit bibir bawahnya hingga Erika memekik sakit.Kesempatan yang tidak disia-siakan Nico untuk memperdalam ciumannya dan memasukkan lidahnya membelit lidah Erika di dalam sana.


Nico melepaskan ciumannya saat merasa istrinya kehabisan nafas.Erika menundukkan kepalanya,menyembunyikan wajahnya yang memerah.Sungguh,dalam relung hatinya yang paling dalam dia sangat merindukan Nico.Pria itu datang secara tiba-tiba dalam hidupnya,mengajaknya menikah dan melamarnya dalam waktu singkat.Tidak ada seorang wanitapun yang bisa menolak pesona sekretaris tampan itu,termasuk juga dirinya.Saat dia sudah sangat jatuh dalam pesonanya,pria ini malah menghianatnya.Sakit yang melukai dirinya sulit diobati.Erika tidak mau terpuruk saat nanti Nico menceraikannya.Cukup sudah semuanya menjadi pelajaran baginya agar tidak bodoh dalam mencintai orang lain.


"Jangan pernah mengatakan kau bukan lagi istriku.Itu sangat menyakiti hatiku.Kau akan selamanya menjadi ratu di rumah ini,sesuai janjiku pada orang tuamu." Kata Nico tenang.Erika menahan nafasnya.Nico membalikkan tubuh mungil itu menghadap padanya.Tangan besarnya mengangkat dagu Erika hingga menatap padanya.


"Kita rujuk" tatapan teduh Nico menyihirnya.Hatinya bersorak bahagia,namun sialnya mulut dan ekspresi wajahnya tidak mendukung.


"Kenapa?kau tidak mencintaiku lagi?" tak ada jawaban.Erika menutup mulutnya rapat membuat Nico semakin geram.


"jawab aku Erika!!" bentaknya dengan mata membola.Wajahnya menjadi sedingin salju musim dingin.Erika menyembunyikan ketakutannya dalam diam.Nico yang geram melepaskan tubuh mungil itu hingga Erika hampir terhuyung jatuh.


"Diammu kuartikan sebagai 'iya' Erika." sentak Nico lagi dengan suara dingin.Harga dirinya terluka,egonya terasa direndahkan.Amarahnya meluap.

__ADS_1


"Sudah kukatakan aku ingin sendiri.Kita selesaikan masalah kita dan aku akan segera kembali ke Indonesia." Erika mengigit bibirnya.Ada penyesalan dalam dirinya setelah mengatakannya.


"Baiklah jika kau ingin sendiri dan tidak ingin rujuk denganku.Aku tidak bisa memaksamu lagi.Semua memang kesalahanku.Jika ada yang akan keluar dari sini...itu aku Erika.Bukan kau!Walaupun kau membenciku,pikirkan lagi niatmu untuk segera pulang ke Indonesia.Tetaplah tinggal disini hingga kuliahmu usai.Setelah itu,terserah padamu." Ucapan panjang Nico seolah menyihirnya.Dia tidak menyadari jika secepat kilat Nico menuju lemari besar di sisi kamar luas mereka lalu mengambil sesuatu dari sana lalu kembali menghampiri Erika.


"Terimalah.Rumah dan seluruh fasilitasnya adalah milikmu Erika.Aku mungkin bukan pria romantis yang suka berkata dengan rayuan,tapi aku mencintaimu dengan caraku.Tidakkah kau tau,betapa pria sepertiku butuh banyak waktu untuk mengatakan yang sesungguhnya padamu?ahhh sudahlah!" teriak Nico frustasi.Dia memaksa Erika menerima dokumen itu lalu tanpa berkata apa-apa pria sejuta pesona itu pergi meninggalkannya.Meninggalkan dokter Erika yang berdiri mematung dengan tatapan kosong dan mendekap erat dokumen itu di dadanya.Lidahnya kelu.Kata-kata Nico terus berputar di kepalanya.Ingin dia berteriak kencang pada Nico,pada dunia bahwa dia tidak butuh semua itu.Dia hanya ingin menjadi ratu dalam hati suaminya,bukan wanita lain.Kenapa pria itu sangat sulit dijangkau?


'aku mencintaimu dengan caraku.'


Apa itu berarti Nico juga mencintainya?saat kesadaran hinggap di dirinya,Erika bergegas berlari keluar kamar untuk mencari suaminya.Dugaanya bahwa Nico ada diruang kerjanya salah besar.Tergopoh dia mengitari rumah,memastikan keberadaan Nico.Tapi semuanya nihil.Nico tidak ada di sudut manapun dalam rumah itu.Bergegas dia berlari kepintu utama.Seorang penjaga datang mendekat saat dia melambaikan tangan pada mereka.


"Ada yang bisa saya bantu nyonya?" tanyanya saat melihat Erika bengong tanpa suara.Nyonya rumah itu terlihat linglung dimatanya.


"a..apa kau melihat suamiku?" tanyanya terbata.


"Tuan Nico sudah pergi beberapa saat tadi nyonya." jawab pengawal tadi sambil mengangguk hormat.


"baiklah,terimakasih pak." balas Erika lalu berjalan lemah kedalam rumah dengan berbagai pikiran berkecamuk dalam dirinya.

__ADS_1


Hari semakin gelap.Erika masih duduk ditempatnya,sofa yang menghadap ke pintu utama dengan harapan yang sama.Menunggu Nico pulang.Tidak dia hiraukan sapaan atau pertanyaan pelayan yang menanyakan perihal makan malam atau mengingatkannya ini itu.Fokusnya tetap pada pintu itu.Dia lupa mandi,makan dan mengurus diri.Perasaan itu begitu dalam,hingga membekas dalam jiwanya.


__ADS_2