
Kesehatan Tuan Abraham berangsur membaik sekembali nyonya Misca yang dengan telaten merawat suaminya.Dukungan moral dari putra putri dan menantunya juga tidak pernah surut.Kemauannya untuk hidup lebih lama membuat tubunya yang semula tergolek lemas tak berdaya menjadi bertenaga pagi itu.Entah dimana Laura berada setelah berhasil menguasai saham perusahaan Maverich.
Michael mengusap ujung hidung macungnya,meredam suasana hatinya setelah mendengar Nico memberikan cuti dadakan pada Willy tanpa seijinnya.Mau murka tapi kondisi tidak memungkinkan.Mereka masih dirumah sakit pagi itu.Namun dokter sudah mengijinkan rawat jalan dengan syarat Abraham harus didampingi dokter yang akan mengecek kesehatannya minimal sekali sehari.Mic tidak bisa mengambil resiko dengan tetap menempatkan Abraham dirumah sakit,maka itu dia mengambil jalan tengah.Membawa Abraham pulang sesuai permintaan dadynya yang ingin menghabiskan waktu dirumah saja.
Nico masih berdiri tegak menunggu instruksi tuan mudanya.Menit demi menit berlalu,Michael masih diam.Nico tau tuannya sedang berpikir keras untuk merebut kembali saham mereka berikut beberapa aset perusahaan yang jatuh ketangan Laura.Apalagi sekarang mereka hanya berdua,kehilangan satu pilar,Willy.
"Apa yang terjadi pada Willy Nic?kenapa tiba-tiba dia minta cuti?Apa semua ini ada hubungannya dengan Steve?"
"Saya tidak dalam kapasitas menjawabnya tuan muda" Michael melirik dengan tatapan membunuh.
"Saat seperti ini kau masih mau berspekulasi denganku?Kau sudah tidak sayang nyawamu Nic?" Sekretaris itu menyerah.Dia tau Michael tidak pernah main-main dengan perkataanya.Image dingin dan kejam memang sangat melekat padanya.Malah mungkin jadi trade marknya.
"iya tuan.Nona muda sudah merusak suasana hatinya.Willy hanya ingin libur dua hari ini saja tuan."
"Apa kau yakin bisa menyelesaikan semuanya?"
"Saya tau batas kemampuan saya tuan." Michael mengangguk.
"Tambahkan personel keamanan dirumah dan jangan biarkan orang asing masuk,termasuk Laura.Aku tidak mau terjadi sesuatu dengan keluargaku"
"baik tuan"
"Apa Jhonathan Smith masih berhubungan baik dengan Laura?"
"Menurut laporan mereka masih sering bertemu tuan."
__ADS_1
"Segera hubungi Jonathan dan tawarkan kerjasama dengan dia dengan keuntungan berlipat.Aku ingin Laura hancur."
"Baik tuan muda"
"Satu lagi...Tunjukkan pada gadis keras kepala itu tempat menginap Willy.Kau tau apa yang harus kau lakukan kan Nic?Willy harus secepatnya kembali"
"Baik tuan." Selepasnya Mic masuk kembali keruang perawatan.Nico memang tidak perlu diperintah dengan berbagai langkah.Sekretaris multitalenta itu sudah sangat hafal cara dan gaya kerja Michael.Dia tau bagaimana harus memulai dan mengakhiri sesuai kemauan tuannya.Dia pemegang kekuasaan kedua setelah Mic.Sekretaris tampan itu berlalu,meninggalkan rumah sakit,memacu mobilnya menuju gedung Maverich crop.
Michael memeluk Shinta yang baru keluar dari kamar perawatan dan mendudukkannya dideretan kursi luar ruangan.Mic mengelus perut buncit istrinya.Gerakan kecil menyambut usapan tangannya.Michael tertawa senang lalu menempelkan pipinya diperut Shinta.
"Selamat pagi anak dady sayang...kau ingin menyapa dad ya?Sebentar lagi dad mau berangkat kerja.Kau baik-baik dengan mom ya.Hari ini kalian pulang kerumah grand pa." bisik Michael lalu mengelusnya kembali.Sebentar kemudian dia bangkit dan mengecup kening Shinta sekilas.
"Aku pergi dulu sayang,nanti akan ada sopir dan pengawal yang akan menjemput kalian.Kita tinggal dirumah dad dulu hingga keadaan membaik ok?"
"iya mas,aku ikut kemanapun kau pergi.Hati-hatilah,jangan lupa meneleponku nanti siang" sahut Shinta lalu berjinjit mengecup pipi kanan Mic,tangannya bergerak membenahi dasi suaminya agar terlihat rapi.
"iya.hati-hati mas" Shinta masih menatap Mic hingga menghilang diujung koridor.Saat akan masuk kembali dia melihat Stephanie membuka pintu.
"Mau kemana Steve?" Stephanie tersenyum ringan
"Kau ikut-ikutan keluargaku memanggilku Steve Ta"
"Aku kan juga keluargamu?"
"owhh iya.aku lupa kau kakakku juga ha..haa..."
__ADS_1
"kau mau kemana?"
"Aku mau keluar sebentar.Ada yang harus kuselesaikan.Jaga dad dan bunda ya" Shinta mengacungkan jempolnya.
"jangan tunggu aku kembali.Kalau orang suruhan kak Mic datang,segeralah pulang bersama dad dan mom."
"iya aku tau"
Stephanie tersenyum senang lalu menenteng tas kecilnya menyusuri koridor.Langkahnya panjang dan cepat seakan dikejar sesuatu.Gadis itu melajukan mobilnya menuju alamat yang diberikan sekretaris Nico padanya.
Mobil terus melaju,hingga dia sadar alamat itu menuju rumah yang kemarin didatangi Willy.Dada Stephanie berdebar,pintu rumah terbuka saat dia baru memarkirkan mobilnya diseberang jalan.Seorang wanita muda dan anak usia tiga tahun keluar dari sana dan oopps...ada Willy yang juga keluar dari sana.Stephanie mengurungkan niatnya dan memilih melihat dari kaca mobilnya yang tebal.
Willy menggendong gadis kecil itu lalu menciumnya berulang kali.Wanita muda disebelahnya juga tidak kalah antusias memeluk lengan kekar Willy dengan manja dan sesekali bercanda dengan gadis kecil bermata bulat dan berambut kecoklatan,mirip Willy.
Hati gadis itu terlilit sakit,dadanya sesak hingga sulit bernafas.Apa mungkin gadis kecil itu anak Willy?Wajah keduanya mirip sekali.Kalau dia sudah punya keluarga bahagia,kenapa masih menyatakan cinta didepan kakaknya?Atau mungkin dia hanya bercanda seperti omongannya kemarin?Stephanie menutup wajahnya denga kedua tangannya.Berteriak frustasi dalam hati dan ingin enyah saja dari sana.
Sebuah ketukan dikaca mobil membuyarkan lamunannya.Astaga..ada Willy yang mengendong gadis kecil itu disamping pintu.Jantung Stephanie berdetak kencang,mungkin Willy mengira Nico yang datang karena Stephanie meminjam mobilnya.Mau tidak mau dia harus turun menemui Willy agar tidak menimbulkan kecurigaan.
Berlahan dia membuka pintu.Willy sedikit terkejut karena melihat Stephanie yang turun dari balik kemudi.Dia mundur selangkah untuk memberi jarak.Gadis kecil dalam gendongannya tersenyum riang.Iya..wajahnya sangat mirip Willy.Stephanie sampai tidak berkedip memandangnya.
"Ada apa nona muda datang kemari?" Belum sempat menjawab gadis kecil itu lebih dulu beraksi memeluk leher Willy.
"Pa,ayo pulang.Mama memanggilmu dari sana" tunjuknya pada wanita yang duduk dibawah pohon diseberang jalan.
Willy menoleh lalu kembali fokus pada Stephanie.Entah kenapa tampilan Willy hari ini sangat menyihirnya.Pria yang biasanya berpakaian formal dengan sisiran rambut rapi itu kini sudah berganti gaya mengenakan celana pendek cream dan dipadu kaos polo biru tua.Rambutnya dibiarkan bebas dan terkesan macho.Sandal jepitnya menambah kedan santai yang memberi nilai plus pada ketampanannya.Tapi tunggu dulu...gadis kecil itu menyebutnya apa tadi??papa??Stephanie langsung linglung tak berdaya.Separuh akal sehatnya sudah pergi meninggalkan raga.Jangankan menjawab pertanyaan Willy,memandang wajahnya saja sudah membuat hatinya luluh lantak.
__ADS_1
"Apa anda baik-baik saja nona?"