
Selepas kunjungan dokter Erika,Shinta menghempaskan tubuhnya di sofa.Dia menyalakan tv dilantai bawah,menyandarkan kepalanya untuk sekedar merasakan kelembutan sofa mahal dari brand terkenal itu.
"sayang,kau sedang apa disitu?" Mic melongokkan kepala dari lantai atas lalu berjalan menuruni tangga.Tanpa bertanya lagi dia merebahkan dirinya disana,menaruh kepalanya dipangkuan Shinta.Tangan kekarnya memeluk perut Shinta,mengelus dan menciuminya penuh kasih sayang.
"Anak dady lagi ngapain disana?"
Stephanie yang dari dapur langsung tertawa terbahak melihat kakaknya jadi sangat manja.
"Kak,kau seperti bayi besarnya Shinta"
"Kau harus cepat menikah agar tau rasanya bahagia Steve" Stephanie melengos.Michael yang merasakan Shinta hanya diam saja lalu menarik tangan istri kecilnya untuk mengelus kepalanya,Shinta masih diam sibuk menonton acara tv.
"sayang,sampai kapan kau marah padaku?"
"apa kau tidak malu pada Fani?" desis Shinta lirih,melirik Stephanie yang duduk manis di singel sofa sambil menyesap kopinya.
"kenapa malu?kau istriku." lalu dengan gerakan cepat menggigit kecil ujung dada Shinta yang tertutup pakaian.Satu tangannya membelai bukit yang sudah mulai membesar itu.
"salahmu sendiri,menyuruhku puasa selama ini" rajuk Mic juga dengan desisan yang membuat bulu kuduk Shinta meremang.
"Kak,sepertinya aktifitas XXX kalian harus pindah tempat deh.Memangnya kalian belum puas dikamar?" ejek Stephanie.Mic tertawa lepas mendengar adiknya bicara.Stephanie langsung menoleh padanya.Bertahun-tahun,baru kali ini dia melihat Mic tertawa bahagia.Selama ini Mic jarang sekali tersenyum,wajahnya selalu datar dan dingin.Tapi semenjak datanh kesini lelaki itu selalu tersenyum dan tidak segan tertawa lepas seakan dia bukan Maverich junior yang menakutkan.
"Aku tidak yakin kakak bisa melakukannya dengan bahu terluka ha...haa..."
"Kenapa?aku tinggal terlentang,dan Shinta dengan semangat memacu tubuhku sepanjang malam" ucapnya bangga sambil melirik nakal pada istrinya.
"kau...jangan dengarkan dia Fan.Kami tidak melakukan apa-apa." sahut Shinta sengit.
"Kau lakukan juga tidak apa-apa Ta.Dia suamimu" ujar Stephanie santai.
"iya itu benar Steve,apa lagi bayiku juga pasti merindukan dadynya.Aku ingin menjenguknya" kerlingan nakal Mic spontan membuat wajah Shinta merah padam dan berusaha mengalihkan pembicaraan vulgar itu.Michael tertidur dalam pangkuannya karena pengaruh obat.
Shinta tersenyum lembut menatap wajah suami tampannya yang tidur pulas.Siapapun tidak akan bisa menolak kharisma pria berdarah Eropa-Asia itu.Dibelainya wajah sang suami lalu mengecup keningnya sekilas.Ada rasa bersalah saat berulang kali Mic meminta haknya,tapi dia selalu menolak.Tapi dia melakukannya untuk kebaikan juga.Luka Mic masih dalam proses penyembuhan.
"Ta,aku pergi dulu ya"
"kemana?"
"ya ke kampuslah,memangnya aku mau kemana lagi?"
__ADS_1
"Fan,apa kau sudah menjenguk Willy dibelakang?"
"hah?apa peduliku?dia bukan apa-apaku"
"kau ini...setidaknya menjenguknya sebagai temanlah"
"lain kali saja,aku sedang sibuk" ujar Stephanie lalu melenggang pergi.
Michael terbangun karena teriakan Stephanie,mengucek matanya sesaat lalu ikut menyimak sinetron yang sedang tayang.Dahinya berkerut menyimak dialog yang sedang terjadi antara suami istri yang sedang berdebat seru.
"Sayang,kenapa orang Indonesia memanggil suaminya dengan apa tadi?"
"mas"
"iya..itu.kenapa?"
"ya mungkin karena konotasi menghormati dan menyayangi suami.Yang jelas panggilan semacam itu sudah mendarah daging bagi kami"
"Lalu kenapa kau tidak memanggilku begitu?"
"maksutmu?"
"aku kan suamimu,apa kau tidak ingin menghormati dan menyayangi suamimu?"
"susah sekali ya?"
"tidak"
"lalu?apa kau tidak menyayangiku?"
"masa itu sudah lewat" ucap Shinta sambil lalu.
"Baiklah,aku tidak akan memaksamu lagi Shinta".ujarnya pelan.Michael bangun dari tidurnya lalu menyeret langkahnya ke halaman belakang.Hati Shinta serasa tercubit.Ada yang ngilu disudut hatinya.Apa maksud Mic dengan kalimat 'tidak memaksa lagi?' dia juga langsung menyebut namanay bukan panggilan 'sayang' yang selalu dia ucapkan.Apa dia sudah sangat menyakiti Mic?Berlahan dia menyusul Mic halaman belakang.
Langkahnya terhenti saat disana ada sekretaris Nico yang berdiri tegak di hadapan suaminya.dan Willy yang juga duduk tegak dikursinya.Tampaknya asisten itu belum bisa berdiri terlalu lama.
"Besok kita akan kembali ke Singapura.Siapkan tiket dan segala sesuatunya" perintah Michael tegas.Dua orang kepercayaanya itu saling pandang.Apalagi yang terjadi pada tuan mudanya itu.Kemarin minta segera kesini,sekarang minta kembali.Bikin pusing bawahan saja.
"lalu bagaimana dengan nyonya muda dan nona tuan?"
__ADS_1
"Biarkan mereka disini Nic"
"tanpa pengawasan?"
"ya.Lakukan saja sesuai perintahku Nic.Dan kau Will,aku memberimu libur sesuai janjiku hingga kondisimu pulih" Bukannya senang asisten Willy malah terlihat murung.
"kau kenapa?"
"Jika saya diberi cuti disana,berarti saya jauh dari nona muda tuan."
"lalu?"
"saya tidak bahagia" kata Willy dengan nada sedih.Nico yang berdiri didekatnya menepuk pundak sahabatnya sebagai dukungan moral.
"Apa gunanya kau dekat dengan adikku kalau kehadiranmu tidak dianggap?" tanya Mic serius.
"setidaknya saya masih bisa menatap orang yang saya cintai tuan"
"walau selalu berakhir kecewa?"
"akan tetap saya jalani,seperti tuan menjalani hari-hari diabaikan oleh nyonya" Pukulan telak seolah mengenai dada Michael.Lidahnya kelu tidak dapat berkata-kata.Dia dan Willy senasib rupanya.
"Kita juga berhak bahagia Will.Lupakan semuanya dan kita kembali bekerja denga logika,bukan perasaan.Tapi kalau kau tetap bersikeras aku tidak akan memaksa Will"
"Saya sudah bersumpah untuk selalu disamping anda tuan" Jawab Willy penuh penegasan.Michael tersenyum.Kesetiaan Willy dan Nico padanya memang melebihi apapun.Tidak salah Abraham mendidik dan membesarkan mereka untuk patuh.Ayahnya memang tidak pernah salah memilih orang.
"Kau tau Wilk,perasaanmu itu bisa membuatmu lemah" keluh Nico.Willy melotot sempurna.
"Kau saja yang tidak mengerti cinta sekretaris bodoh!" hardiknya keras.
"Setidaknya aku tidak sebodoh dirimu yang jadi melow seperti ini"
"aahh..kusumpahi kau jatuh cinta lalu jadi bucin sepertiku.Kau akan tau rasanya Nic" ucap Nico dengan emosi.Nico langsung tertawa ngakak,tidak peduli tuan mudanya melirik tajam padanya.
"kau seperti tuan muda...bucin ha..ha.."
"Diam!" Teriak Michael keras hingga keduanya terlonjak kaget.Kilat kemarahan terlihat jelas dimata birunya.
"Besok kita kembali.Anggap semua yang terjadi hanya mimpi.Luxio dan Maveric harus segera ditangani!"
__ADS_1
"Baik tuan"
Michael beranjak dari duduknya.Shinta segera menggeser tubuhnya kebalik tembok agar Mic tidak melihatnya.Hati wanita itu teriris pedih.Mic ingin kembali?dia hanya menganggapnya mimpi?lalu anak ini?bagaimana dengan anak dalam kandungannya?Apa dia terlalu keras pada Michael dan menyinggung perasaanya?Bulir air mata berjatuhan dipipinya.