
Hampir sebulan menjalani rehabilitasi dirumah membuat banyak perubahan pada Stephanie.Tubuhnya yang dulu kurus kering berubah agak berisi,segar dan sehat.Emosinya juga sudah mulai terkendali.Selama itupula Shinta dengan setia menemaninya.Tak pernah sekejap saja ia meninggalkan Stephanie sendiri.Mereka seakan berbagi kamar sekarang.
Awalnya Stephanie berulang kali menolak kehadirannya.Tapi melihat kegigihan Shinta merawatnya,hatinya luluh juga.Tiap pagi dan sore Michael selalu mengunjunginya dan menyempatkan diri pulang awal hanya sekedar ingin mengajaknya duduk ditaman.Pasangan tuan besar Abraham pun tak kalah antusias berusaha memberikan yang terbaik untuk putri bungsu mereka.Tiap hari mereka selalu melakukan Video call entah lama atau sebentar saja.Memang yang Stephani butuhkan bukan hanya oba atau dokter,tapi juga dorongan dan semangat orang-orang terkasihnya.Dia sudah merasa lebih baik saat ini.
Menjelang sore,Shinta muncul dikamarnya.Walau masih tidur sekamar,tapi sekarang Shinta memberikan ruang bebas padanya.Gadis itu keluar hanya untuk sekedar berbincang dengan pekerja lain,menghirup udara,atau menelepon ayah dan Rio dikampung halaman.
"Kau dari mana Ta?"
"dari kebun belakang nona"
"hmmm...beberapa hari ini kau sering kesana"
"iya.saya menyukainya nona"
"apa?disana tidak ada yang istimewa.Bahkan tukang kebun hanya kesana untuk merapikan rumput saja"
"saya menanam aneka tumbuhan disana"
"benarkah?bunga?" pekik Stephanie antusias.Sayangnya Shinta menggeleng.
"saya tidak suka bunga nona."
"bisakah kau berhenti memanggilku nona Ta?aku tidak suka"
"tapi anda majikan saya"
"Majikanmu kak Michael,bukan aku"
"sama saja nona."
"ahh..sudahlah.pokoknya jangan sebut kata nona didepanku.sekarang ayo kita kekebunmu itu"
"baik no..ehh...engg...Fani" seketika stephanie tersenyum lebar.
__ADS_1
"Fani...aku suka itu.satu lagi,ubah saya andamu jadi aku kamu.mengerti?" Shinta hanya bisa menurut.Ia tidak ingin merubah mood Stephanie yang masih dalam masa penyembuhan.
Berjalan beriringan kekebun belakan rumah dengan celotehan kecil membuat beberapa pelayan yang berpapasan dengan mereka terpana sekaligus ikut gembira melihat perubahan pada Stephanie.
Sesampainya dibelakang rumah,Stephanie terngangga.Lahan terbengkalai yang dulunya hanya hamparan rumput luas dibelakang rumah besarnya berubah walau belum sepenuhnya.Aneka tanaman yang sudah atau masih akan berbuah berderet rapi disisi kanan dan kiri.Sisi kanan berisi aneka sayuran seperti bayam,kangkung,sawi,kol,terung dan teman-temannya tumbuh subur.Sedangkan bagian kiri lebih pada aneka buah yang baru ditanam dan berbagai bumbu dapur dan tanaman rempah-rempah.
" hey...cantik sekali.Cabe dan tomatmu berbuah banyak Ta.lihat,batangnya sampai tidak kuat menyangga tubuhnya.kapan kau menanamnya?"
"seminggu setelah aku sampai kesini no....eh...fan,aku sering menyendiri kesini saat ingat rumah.Lalu aku punya ide untuk mengusir jenuh.Untunglah bibi Chun mengijinkan,beliau juga membelikan aku aneka bibit ini dipasar tradisonal.Kebetulan lidah para pelayan disini hampir sama,jadi kalau ada yang bisa dimasak aku membuat sedikit makanan hasil kebun saat makan siang atau malam". ucap Shinta berusaha biasa saja walau sedikit canggung.Stephanie masih berjongkok diantara tomat yang warnanya menggemaskan.
"Masakan apa itu Ta?aku jadi penasaran?" Nanti malam aku ingin merasakan masakanmu juga"
"tapi Fan,lidahmu sudah terbiasa dengan susu dan kejukan?pasti aneh kalau kau makan makananku"
"aku hanya akan mencoba sedikit saja.kalau aku suka,ya aku teruskan..kalau tidak ya kalian saja yang makan ya"
"yang bisa diolah baru cabe,tomat,kangkung dan mentimun Fan".
" lalu?"
"rujak?apa itu?"
"ha..ha...aku lupa kau bukan orang asia asli.rujak itu apa ya??ohh ya...salad kangkung,taoge dan mentimun saus kacang"
Stephanie tersenyum lebar.Gadis itu memang lahir dan besar di Amerika bersama kedua orang tuanya.Tapi saat Michael pindah kesini untuk merintis usaha properti dan mengembangkan induk perusahaan keluarga mereka,iapun ikut pindah karena tidak bisa dipisahkan dari sang kakak.Abraham berdarah Amerika,sedangkan ibunya adalah blasteran Singapura dan korea.
"buatkan aku makanan itu".
" tapi Fan...aduh...bagaimana ya,aku lihat dulu ada atau tidaknya bahan-bahan itu didapur."
"kalau tidak ada bilang saja pada bibi Chun agar menyuruh Mia membelikannya kesuper market". Shinta geleng-geleng kepala.Stephanie begitu antusias dan ngeyel.Akhirnya Shinta menyetujui permintaan itu.Mereka memetik bahan yang diperlukan lalu pergi kedapur untuk meletakkan dan melihat bahan penunjangnya.
*********
__ADS_1
Mata stephanie membulat saat menyuapkan rujak buatan Shinta kemulutnya.Bisa ditebak,gadis itu kepedasan.Tadi Shinta sudah memperingatkan agar makan dengan sedikt cabe.Tapi dia malah ngeyel minta tambah cabe dalam cobek yang dipakai mengulek.Keringat bercucuran dikeningnya,tapi anehnya dia tidak berhenti makan.
Michael yang ada didepannya penasaran dengan menu yang dimakan adiknya.Tapi ada perasaan enggan mencoba saat tau Shinta yang membuatnya.Michael memang manusia pemilih.Selain masakan Sarla,lidahnya sulit menerima.Kalaupun dia makan diluar,ia akan memilih tempat yang Chefnya benar-benar andal.
" kak,cobalah.ini enak.Punyamu tak sepedas yang kumakan,pasti rasanya enak" Stephanie memajukan piring rujak itu kedepan kakaknya,tapi Michael tetap fokus pada Steak sapi didepannya.
"sekali-kali kau juga harus makan sayur agar sehat kak"
Masih acuh.Shinta yang jengah pura-pura kepantry untuk mengambil minuman.Tapi dia malah berbelok keruang belakang dapur,tempat breafing.Duduk sendiri sambil minum air jahe hangat dari kebunnya.
Michael dengan ragu mengambil piring didepannya.Mengambil garpu lalu mencicipi olahan itu.Rasanya tak kalah enak dari salad hotel bintang lima.Tapi ini ada aroma dan cita rasa lain.sesendok....dua sendok...tiga sendok..
hingga habis tak bersisa.Stephanie tertawa ngakak melihat Michael.
"Tadi pura-pura nggak mau,sekarang piring ama sendoknya mau ketelen tuh"
"hmmmm"
"tuh kan enak kak?itu sayuran tanaman sendiri kak.Jadi sehat,bebas pestisida"
"tanam?" Michel mengerutkan dahinya
Seingatnya dia tidak pernah menyuruh tukang kebun untuk menanam hal aneh.Hanya pohon buah,tanaman hias dan bunga saja.Tidak ada sayuran dan sejenisnya disini.
"iya.Shinta menanami lahan belakang kak.aku saja kaget saat diajak kesana.Bukankah biasanya cuma ada kolam kecil dan tempat santai?sekarng tempat itu jadi hijau dan wow..menakjubkan" celoteh Stephanie riang.
"sejak kapan kau dekat dengan pembantu itu?"
raut muka Stephanie langsung berubah
"kakak...dia bukan pembantuku,tapi sahabat baruku! Setengah bersungut kesal Stephanie memekik keras.Michael mengangkat bahu,menyelesaikan makannya lalu meninggalkan ruang makan.
Michael bukan tidak tau kedekatan Stephanie dan Shinta.Sejak direhabilitasi adiknya itu memang hanya terbuka pada Shinta.Hanya Shinta yang membantunya,mendengarkan keluh kesahnya,membuatnya tertawa dan mengajari Stephanie yang manja untuk mandiri.Ada yang menghangat disisi hatinya.Stephanie adalah satu-satunya adiknya,ia rela melakukan apa saja agar Steve bahagia.Bahkan mama mereka saja tidak pernah memperlakukan Stephanie seperti anak remaja pada umumya.Mereka seakan tutul mata pada perkembangan usia Stephanie.Michael tau,Stephanie kesepian hingga gadis itu lari pada alkohol dan narkoba.
__ADS_1
Menarik ponsel dari celananya,Michael menekan nomer Nico.
" hallo Nic,segera hubungi bank tempat Shinta menggadaikan rumahnya.Lunasi segera dan berikan surat tanah itu padaku"