
Willy melangkah gontai memasuki ruangan Stephanie,mengetuk pintu lalu masuk.Ditangannya setumpuk berkas tertata rapi lalu diletakkan hati-hati di tepi meja.Gadis itu masih sibuk di depan laptopnya.
"Setelah ini saya minta ijin makan siang nona"
"kau bisa makan siang disini bersamaku"
"Maaf,saya ada janji dengan seseorang diluar"
"janji?" Stephanie menaikkan alisnya.Pandangannya beralih pada Willy namun hanya sekilas.Dia tidak bisa beradu pandang terlalu lama dengan asisten tampan itu.
"Dengan siapa?"
"Saya tidak harus menjawabnya nona.Ini bukan soal pekerjaan dan diluar jam kerja saya".ujar Willy dingin.Stephanie terdiam,tidak biasanya Willy seformal ini.Biasanya dia juga bercand atau sekedar tersenyum ceria.
" Saya permisi nona"
"Tunggu,aku belum memberimu ijin"
"saya tidak perlu ijin anda untuk menggunakan waktu istirahat siang saya nona.Saya akan kembali tepat waktu.Pemisi" Willy melangkah cepat kepintu lalu menutupnya.Stephanie meletakkan penanya dimeja,menggaruk pelipisnya yang tidak gatal untuk sekedar mengalihkan pikiran gundahnya.Ia sudah tidak konsentrasi bekerja.Dari kaca jendela kantor dia bisa melihat Willy yang sampai dipelataran parkir menuju mobilnya.Dia masih sibuk berbalas pesan disana.
Stephanie geram sekali.Dia tetap menatap Willy yang masih sibuk bertelepon ria dengan seseorang.Diraihnya tas dimejanya lalu membuka pintu.
"Berikan aku kunci mobil dady" sekretaris Abraham tercenung sesaat lalu mengulurka kunci itu pada Stephanie yang langsung menyambarnya dan setengah berlari menuju lift.
Willy turun dari mobilnya menuju rumah kecil yang asri berjarak lima kilometer dari Maverich corp.Masih berdiri memandang sekelilingnya dengan takjub.Rumah itu masih sama seperti sepuluh tahun lalu.Tidak ada perubahan yang berarti disana.Disamping rumah itu,parit kecil mengalirkan air yang jernih.Pohon besar tempatnya biasa menghabiskan waktu juga tetap pada tempatnya.Dia tersenyum sendiri lalu bergerak mendekat.Jangan lupakan juga angin sepoi-sepoi yang membelai tubuhnya,terasa masih sama.Ditangannya dua buah tas berisi makanan dan keperluan lainnya.Dia memencet bel lalu tak lama kemudian pintu terbuka.Gadis cantik bermata hijau dan rambut coklat membuka pintu dan tersenyum padanya.
"Kak Willy!" pekiknya kencang.Gadis itu lalu memeluk Willy dan tertawa riang.Willy juga balas memeluknya dan mencium pipinya.Mereka bicara sebentar lalu masuk.Pintu kembali tertutup.Diseberang jalan,Stephanie tercenung dibalik kaca mobilnya.Berbagai pertanyaan bergulat dikepalanya.Siapa gadis itu?Dia lalu melajukan mobilnya kembali ke perusahaan.
Willy tiba dilantai sepuluh tepat saat jam makan siang berakhir.Dia masih akan duduk dikursinya saat sekretaris Abraham memanggilnya dari seberang meja.
"Will,tadi nona berpesan agar kau menemuinya setelah jam makan siang"
"apa ada masalah?" sekretaris itu mengidikkan bahunya pertanda tidak mengerti.
"baiklah,terimakasih miss Lena"
"sama-sama tampan" Willy menghampiri pintu mengetuknya kembali lalu masuk.
__ADS_1
"Ada yang bisa saya kerjakan nona?"
"Jelaskan tentang semua ini asisten Willy" ujar Stephanie sambil melemparkan beberapa berkas pada Willy.
"Anda bisa menanyakannya pada tuan besar nona"
"Kau asistenku,tugasmu membantuku.Lagi pula apa gunanya dad menyekolahkanmu hingga jadi sarjana managemen bisnis jika kau tak tau apa-apa.Cuma besar otot,tapi kecil otak" Raut wajah Willy berubah.Sekarang dia tau kenapa Stephanie menjadi adik Michael,itu karena keduanya sama-sama bermulut pedas dan arogan.Berasal dari ayah dan rahim yang sama membuat dua kakak adik ini setali tiga uang saja.
"Saya akan menjelaskannya satu kali saja nona,tidak ada ulangan.Harap nona perhatikan".Lalu Willy menjelaskan satu persatu dengan detail berkas-berkas itu dengan serius.Sedang Stephanie malah sibuk mengamati tiap gerakan Willy yang mengandung pesona dimatanya.
" nona...nona!" Willy sedikit membentaknya karena sudah berulang kali dipanggil tapi si nona tetap diam dan menatap penuh kekaguman padanya.
"ehmm...iya" Stephanie berdehem untuk mencairkan suasana dan menata hatinya dari rasa kaget.
"Anda sudah paham?"
"Kau menjelaskan terlalu cepat.Sudahlah,biar nanti dad yang menjelaskan padaku.Kau ini sungguh tidak berguna" hardik Stephanie memasang wajah ditekuk.Willy menarik nafas dalam.Nona muda ini begitu menguji kesabarannya.
Tuan besar Abraham memang menyekolahkan mereka hingga jadi sarjana disana.Selain dididik menjadi asisten kantor,mereka juga dididik menjadi bodyguard yang harus menguasai ilmu bela diri dan pemakaian berbagai jenis senjata dan latihan fisik yang kuat.Michael yang note bane putra Abraham malah lebih tinggi tingkatanya dibanding dia dan Nico.Dengan kata lain,Michael sebenarnya tidak butuh orang lain untuk menjaga diri.Namun Abraham dengan sedikit memaksa malah menyuruh dua anak asuhnya itu untuk membantu Mic di Singapura hingga berhasil membesarkan Luxio seperti sekarang.
"Sudah selesai nona,kalau tidak ada yang bisa saya kerjakan,saya mohon diri." Stephanie masih memutar otak untuk tetap menahan Willy dalam ruangannya.Dia tidak rela kalau pria itu pergi dari hadapannya.Apalagi bayang-bayang gadis berambut coklat yang mencium pipi Willy tadi membuatnya sangat geram.
"ehhh tunggu" Willy berhenti,mengurungkan niatnya beranjak.
"iya nona"
"Apa kau sudah menyusun jadwalku esok hari?"
"sudah nona,anda tidak punya kesibukan esok.Hanya wajib datang kekantor dan menandatangi beberapa berkas,dan selepasnya anda akan masuk kuliah"
"kau akan ikut aku kekampus"
"baik nona.saya permisi"
"eiitts tunggu!"
"iya nona"
__ADS_1
"Aku belum makan siang,bisakah kau memesankan untukku"
"baik nona"
"hey..kau mau kemana?"
"saya akan kemeja saya nona,nanti delivery order akan sampai kemari"
"tunggu disini saja"
"maaf nona,saya pekerja profesional.Aturan saya adalah bekerja dimeja saya,bukan diruangan anda"
"Tapi aku atasanmu Will,dan aku berhak memerintahmu"
"Apa mau anda sebenarnya nona?"tanya Willy tidak sabar.Wajahnya berubah garang dan menatap Stephanie dengan kilatan emosi.
" Kau bekerja padaku,ikuti semua perintahku"
"Anda salah nona.Saya hanya ditugaskan mengantar saya kesini sambil menunggu sekretaris pribadi anda datang,selepas itu saya akan kembali pada tuan Michael"
"Tapi aku ingin kau yang jadi sekretaris dan asistenku Willy" ujar Stephanie dengan nada tinggi.Willy makin tersulut emosi.Tangan pria tampan itu terkepal erat.
"Saya akan bekerja pada orang yang menghargai saya nona,bukan memandang rendah pada saya"
"Apa aku terlihat memandang rendah padamu?"
"Saya tidak harus menjawabnya nona.Saya permisi"
Willy langsung membuka pintu dan berlalu ke mejanya.Memukul pinggiran meja hingga membuat miss Lena tersentak.
"hey tampan,kau kenapa?"
"tidak Miss,hanya meratapi derita asisten serba salah macam saya"
"ha..ha..ahaa..santai saja tampan,posisi kita selalu sulit,jangan terlalu dibawa hati.Bisa gila kita" ujar sekretaris senior itu geli.
"iya miss" Willy berusaha tersenyum sambil mengalihkan pandangannya dilaptopnya.Kalau saja dia tidak berhutang budi pada Abraham,mungkin detik ini juga dia akan pergi dan membuktikan pada Stephanie dia juga bisa hidup tanpa campur tangan keluarga Maverich.Dia baru sadar jika jatuh cinta pada orang yang salah.
__ADS_1