
Nico berjalan mendahului Erika yang sudah berusaha mensejajarkan langkahnya dengan sang suami hingga wanita itu menyerah dan memperlambat jalannya. Nafasnya sudah ngos-ngosan tak karuan karena mengira Nico akan memelankan langkahnya. Tapi Nico tetaplah Nico. Manusia es yang tidak peka dan tanpa toleransi pada wanita. Erika mengelus dada dan mengucapkan istighfar berkali-kali. Sekarang tak ada lagi niatnya untuk berjalan bersama suami es nya.
Rasa heran menyelimuti hati Erika. Michael yang note bane pria seangkuh gunung es saja bisa mencair karena wanita bernama Shinta, tapi Nico? dia nyaris tak ada cair-cairnya.Erika menghela nafas panjang, mengusap titik keringat diwajahnya dan bersandar pada dinding dibelakangnya. Dia terlalu lelah karena seharian disibukkan dengan berpuluh pasien dan oprasi caesar mendadak. Dia juga belum sempat makan hingga lututnya sedikit bergetar. Erika tak peduli jika Nico meninggalkannya disana. Dia bisa pulang dengan ojek online. Yang dia butuhkan sekarang adalah istrirahat sejenak.
Baru beberapa menit bersandar disana, Erika memekik kaget saat sebuah lengan kekar mengangkat tubuh mungilnya ke udara.
"M..mas..apa yang kau lakukan?? turunkan aku. Disini ada banyak orang!" pekiknya tertahan. Bukannya berhenti dan menurunkannya, Nico malah menenggelamkannya ke dalam dada bidangnya dan mempercepat langkah menuju parkiran samping. Beberapa orang yang berpapasan dengan mereka hanya mengulum senyum dan menatap aneh pada keduanya.
Tanpa berkata apapun pria sedingin es itu mendudukkan Erika di kursi depan dan menutu pintunya. Tanpa basa-basi pula dia menjalankan mobil dan pergi dari sana.
"Kita makan dulu." ucapnya tegas. Erika tak menyahut. Nico yang geram karena tak ada sahutan meremas jemari istrinya yang fokus menatap jalanan dengan wajah lelah. Wanita disampingnya itu terlihat sayu.
"Jawab kalau suami bicara." kata Nico datar,sedatar wajahnya. Untung saja Erika punya stok kesabaran berlimpah. jika saja yang ada didekatnya saat ini Shinta Mavrich,bisa dipastikan wajah tampan sekretaris blasteran itu sudah punya cap lima jari tangan dengan sempurna.
"Iya."
"Jawab yang benar!" Erika meruntuk dalam hati. Ingin rasanya dia berteriak kencang jika sekarang tubuhnya sedang sangat lemas, butuh istirahat dan tidak mau berdebat. Yang dikatakan Nico tadi mirip sebuah perintah dari pada pertanyaan atau pembicaraan sederhana. Dijawab salah, tak dijawab salah.Menyebalkan. Untung ganteng, kalau tidak...
"Er!" Sentak Nico lebih keras. Erika yang jengah menatapnya tajam.
"Iya mas! terserah kamu saja!" hampir saja Erika terpelanting saat Nico mengerem mobilnya secara mendadak lalu mengungkung tubuhnya yang bersandar di jok penumpang. Nafas Erika tertahan.
"Ke..kenapa..."
"kau bilang terserah aku bukan? baik...aku ingin ini!" tanpa memberi jeda lagi Nico meraup bibir mungil Erika gemas. Mula-mula hanya ciuman biasa, namun tangan kekarnya tiba-tiba sudah meraih tengkuk Erika dan memperdalam ciumanya. Pria es itu baru berhenti kala Erika memukul-mukul dadanya karena kehabisan nafas.
"Tunggu disini." ujarnya lirih sambil mengelus bibir Erika, menghapus saliva yang tertinggal karena ulahnya. Erika hanya mengangguk.
Nico turun dan menutup pintu mobilnya. Erika baru tahu kalau suaminya menuju resto masakan Indonesia saat mengikuti arah tujuannya. Ternyata mereka berhenti diparkiran resto yang lumayan luas. Erika menarik nafasnya pelan lalu kembali bersandar dijok mobil, sedikit meregangkan otot lelahnya.
__ADS_1
Beberapa menit kemudian Nico datang diikuti seorang pelayan resto yang membawa nampan. Pria dingin itu masuk ke mobil, menerima nampan tadi lalu menyuruh sang pelayan pergi setelah memberikan tips padanya. Berkali-kali sipelayan mengucapkan terimakasih setelah menerima tipsnya. Terlihat pria muda itu begitu bersyukur menerima uang setara gajinya seminggu penuh bekerja.
Aroma rempah yang harum menyelusup rongga penciuman Erika. Disampingnya, Nico mengaduk soto ayam dalam porsi besar.
"Buka mulutmu!" kata Nico seraya mengangsurkan sesendok nasi dan kuah soto padanya.
"mas, aku bisa makan sendiri." tolak Erika terlihat masih malu-malu. Dadanya selalu saja bergetar ketika bersitatap dengan mata dingin Nico.
"Buka mulutmu atau aku akan menciummu lagi Er!" kali ini Erika hany bisa pasrah. Perlahan dia membuka mulutnya dan menerima suapan sang suami. Dia yang canggung pada awalnya menjadi terbiasa karena merasa sangat lapar saat itu. Entah kenapa makan dari tangan suaminya teras berkali-kali lebih nikmat.
"Kamu nggak makan mas?" Erika memutuskan bertanya setelah mengunyah beberapa suapan. Nico hanya memesan satu porsi saja walau jumbo.
"Nanti saja."
" sini!" Erika meminta sendok dari tangan Nico dan mulai meyuapi suami tercintanya. Nico menatap wajah anggun dalam balutan jilbab di depannya. Berlahan dia juga membuka mulutnya,menerima suapan Erika. Pria es itu tidak dapat menyembunyikan rasa haru dalam dirinya.
"ke..kenapa mas?" kata Erika saat melihat mata lelaki tampannya berkaca.Dia menaikkan tangan kirinya dan mengelus pipi Nico.
"Aku akan menyuapimu kapanpun kau mau mas." ujar Erika teduh. Nico meraih tangan kiri Erika yang masih setia mengelus pipinya dan mengecupnya lembut, sangat lembut hingga Erika terpaksa menahan nafasnya.
"Jangan pernah meninggalkan aku." bisiknya lirih, namun masih bisa didengar dengan baik oleh Erika.
"hanya maut yang akan memisahkan kita mas." balar Erika tegas. Nico kembali mengecup jemarinya mesra. Ada yang berdesir dihati Erika. Beginikah pengantin baru? beginikah isi hati pria sedingin es dihadapannya? pria romantis yang tidak suka mengumbar kata-kata. Yang dilakukan Nico hanya menggambarkan perasaanya lewat tindakan. Membuatnya nyaman dan terlindungi. Wanita mana yang bisa menolak kharisma seorang Nicholas kendrich?
Erika kembali menyuapi suami esnya, bergantian dengan Nico yang juga menyuapinya hingga tandas.
"Kita pulang." ajaknya usai makan dan menyuruh pelayan tadi mengambil wadah makanan mereka diparkiran tepat lima belas menit sesuai perintahnya.
Sepanjang jalan Nico terus mengenggam jemari Erika hingga tiba dirumah.
__ADS_1
"Perlu ku gendong?"
"Tidak,aku bisa sendiri." jawab Erika lalu turun dari mobil diikuti Nico menuju kamar mereka berdua.
"Er..."
"ya mas?"
"Apa kau sudah memikirkan perkataan nyonya muda tadi?" Erika mengerutkan keningnya.
"perkataan yang mana mas?"
"anak."
"hmmmm"
"Apa kau belum siap punya anak?"
"siapa bilang?aku selalu menginginkan ada suara anak-anak dirumah ini meskipun...."
"Meskipun apa?" interupsi Nico tidak sabar.
"Meskipun aku tau kau belum bisa mencintaiku sepenuhnya mas." lirih Erika pilu. Bayangan Ayya kembali terlintas dibenaknya. Sakit. Nico mendekat,meraih dagu Erika dan memaksanya agar menatap mata hazelnya.
"Aku mencintaimu lebih dari yang kau tau dokter. Aku ingin kau tau..sekarang dan selamanya tidak ada wanita lain dihatiku selain dirimu. Kau harus percaya itu." ungkap Nico tegas, membuat Erika sangat terharu. Nico mengecup keningnya lama.
" Bisa kita mulai programnya?"
"program apa mas?"
__ADS_1
"Bikin anak." jawab Nico tanpa ekspresi.