
Shinta muncul dari halaman samping menghampiri sekretaris Nico yang baru datang bersamaan dengan Willy.Dua pria yang setali tiga uang dengan majikannya itu terlihat berbicara serius dari kejauhan.Kalau diperhatikan,Usia mereka memang tidak terpaut jauh.Kalau saja orang yang baru melihat atau bertemu mereka saat berjalan bersama,pasti mengira mereka tiga serangkai dalam cerita detektif ha..ha..haa..
Ah,tapi tidak.Tuan mudanya lebih garang dari dua anak buahnya.Wajahnya lebih dingin,kata-kata yang keluar dari mulutnya juga sangat pedas.Melebihi level 10 bon cabe.Wajahnya juga lebih tampan,tapi minim ekspresi.hey....kenapa tiba-tiba ia menelisik sang majikan sedemikian rupa?pria yang bahkan tak ada manis-manisnya.Kalau saja tidak ingat dia orang kaya raya dan punya kekuasaan Shinta pasti sudah menonyor mulutnya yang julid.
"permisi sekretaris Nic,apa saya menganggu?"
Nic dan Willy menoleh bersamaan.Wajah keduanya berubah datar.
"Tidak,ada apa...namamu Shinta kan?" tanya sekretaris Nic.Shinta mengangguk,Sejenak mengalihkan pandangan kearah rok selutut dan sepatu ketsnya.Menghindari tatapan duo cakep itu.
"engg.....bagaimana keadaan Ayya?apa dia baik-baik saja?"
"iya.dia baik"
"bisakah aku menghubunginya?maksutku,menelepon atau mengunjunginya?"
"kau bekerja untuk tuan muda,bukan padaku.jadi minta ijin padanya saja". Jawaban yang terkesan cuek dan tidak peduli.Lihat saja wajah masamnya yang membuat Shinta geram bukan main.Walau punya kedudukan tinggi,bukankah Nico juga sama sepertinya?cuma pembantu,bawahan,kacung,atau apalah.Hanya beda seragam dan gaji saja.
'Baru juga jadi sekretaris....bagaimana sombongnya kamu saat jadi bos Nico sialaaaan' batin Shinta.Wajah cantiknya berubah seperti kertas kusut.Padahal dari semalam ia sudah merencanakan niat bertemu sekretaris sialan itu,tapi begitu bertemu,ehh....malah dicuekin.
Willy yang sejak tadi hanya diam tersenyum seraya mengibas-ngibaskan tangannya didepan wajah Shinta.Buru-buru tangan itu ditangkap dan dipelintir oleh Shinta.Gadis itu merasa terhina dengan perlakuan duo gila yang sangat membuat hatinya panas.Kalau saja kakinya sudah lebih baik,ia pasti sudah menghadiahi Willy dengan sedikit tendangan tadi.
Shinta masih memelintir tangan Willy ketika tiba-tiba sang asisten malah balik memelintir lengannya lalu membalikkan tubuh Shinta denga posisi tangan terpelintir kebelakang.Ia terkekeh pelan.
" kau mau main-main dengan aku Shinta?"
ucap asisten Willy.Shinta diam,tak ada gunanya bergerak.Hanya akan membuat tangannya dicengkeram lebih kuat dan menimbulkan rasa sakit dikakinya.
"Will,lepaskan dia" Nico berkata tanpa menoleh.lalu berjalan tegap menuju pintu utama meninggalkan dua sejoli yang masih terpatung ditempatnya.
"pembantu ini perlu diberi pelajaran Nic.Biar dia tau diri nantinya" Willy agak berteriak.Saat bersamaan Willy jatuh ketanah.Sebuah tendangan kuat menghajar lututnya.Lalu dengan gesitnya gadis berpostur kecil itu membanting tubuhnya kedepan.
"sialll" teriak Willy kesal.Ia buru-buru berdiri.Bisa hancur repurtasinya kalau ada ynag tau dia kalah dari seorang gadis kecil,kampungan pula.Sebenarnya bukan kalah,tapi lebih karena konsentrasinya terpecah dan lengah.Shinta dengan cerdik memanfaatkan kesempatan itu untuk balik menyerang.
Saat hendak menghampiri Shinta,langkahnya terhenti.Michael sudah berdiri dipintu utama dan menyaksikan mereka.Shinta langsung tanggap.Berdiri didepan Willy,mengibaskan tangannya dan berkata
"jangan pernah meremehkan pembantu tuan.kami juga manusia." kemudian berlalu pergi lewat halaman samping.Kemarahan masih membakar dadanya.Kenapa semua orang yang dekat dengan Michael meniru otak dan prilakunya?Apa mereka memang robot yang hanya tau patuh?
"Mungkin lebih baik kau jawab saja pertanyaan singa kecil itu Nic"
Nico yang berbalik dan membantu Willy bangkit menatap jengah.
"aku bosan berurusan dengan para pembantu Will.Mereka semua menyusahkan" keluhnya.
"aku juga tidak tertarik.Level bawah memang merepotkan" kekeh Will
Michael menyipitkan matanya.Mencoba menajamkan indera pendengarannya.
"Apa yang terjadi?"
__ADS_1
"Singa kecil itu..ehh..maksut saya pelayan baru itu membuat keributan tuan" jawab Willy sopan.
"dia punya nama Will"
"ehh iya..Shinta maksut saya tuan.Dia menanyakan perihal temannya yang dirumah Nicko"
"lalu?" eng..ing..eng....duo cakep itu berpandangan.Sejak kapan sang Tuan muda itu kepo mengurusi makhluk yang bernama pembantu?jangankan yang baru,yang puluhan tahun bekerja untuknya saja dia tak begitu hafal nama atau peduli padanya.Semua urusan pembantu rumah diserahkan pada bibi Chun.Tapi sekarang?aneh!
"kau masih punya mulut kan Will?"
san tuan menoleh dan menatap tajam kearah Willy yang balas menatap horor Sekretaris Nico.
"Kau biang masalahnya Nic" desis Willy.
"Dia minta ijin menelepon atau berkunjung tuan"
"lalu?"
"saya menyarankan dia minta ijin pada anda.Bukan kewenangan saya untuk itu tuan" Jelas Nic disertai anggukan Michael.
"Semua pembantu memang merepotkan" keluh Willy
"Mereka juga manusia Will"
.......DEG........
**********
Sore harinya Michael sudah sampai dirumah.Pekerjaan yang menumpuk membuat tubunya penat.Kalau diteruskan,kemungkinan ia akan jatuh sakit,maka itu dia menunda lembur dan memilih membawa pekerjaanya kerumah.Tentu saja Willy adalah orang yang paling bahagia karena peniadaan lembur.Itu artinya dia punya banyak waktu untuk bersenang-senang dengan bebas.
Lain halnya dengan sekretaris Nic.Dia adalah cowok rumahan yang akan manfaatkan waktu luang untuk rebahan dikamar,bermain ponsel,atau menonton tv.Tapi itu dulu,sebelum Ayya masuk dalam kehidupannya.Gadis Philipina itu memang tidak pernah bertingkah seperti Shinta yang bar-bar tapi tetap saja dia merasa terganggu karena ada orang lain di apartemennya.Hidupnya memang sudah disetting sendirian.Motto jomblo tahunan ha..haa..haa...
Sekarang dia sudah kehilangan semua kebebasanya.Kalau saja bukan Michael yang memerintahkannya untuk menampung dan mempekerjakan Ayya,ia tidak akan sudi.Tapi bisa apa dia jika sudah berurusan dengan tuan muda kejam yang juga atasnnya.Selain janjinya pada Tuan besar Abraham agar menjaga putranya,Gaji yang dia terima juga tiga kali lebih besar dari gaji sekretaris dimanapun.Namun hutang budi lebih mendominasinya.
Dulu,tuan besar Abraham memungut dia dan Willy dari panti asuhan saat mereka lulus SD.Mereka dibawa kerumah besar,disekolahkan,dididik berbagai latihan fisik dan mental bersama putra Tuan Abraham.Dengan kata lain,dibentuk sebagai bodyguard.Hanya saja,dia lebih beruntung dari Willy karena punya otak brilian,walau tak sejenius Michael.Maka itu Abraham mempercayakan padanya semua urusan kantor dan bisnis mereka.Sedangkan Willy,yang punya fisik sangat kuatlah yang benar-benar harus kerepotan karena jadi bodyguard sebenarnya.
Nic masuk menenteng puluhan map tebal yang berisi berkas yang harus dipelajari juga ditanda tangani oleh Michael keruang kerja.Kalau sudah begini pasti dia yang ikut repot karena harus bolak balik mengusung tumpukan kertas.Tapi apa daya,dia hanya bawahan.
Michael yang selesai mandi menuruni tangga menuju ruang kerjanya dilantai satu.Sekilas dia melihat bayangan Shinta yang masuk kekamar Stephanie dengan kaki terpincang.Gadis itu memang keras kepala.Sudah dilarang bekerja malah ngeyel naik turun tangga.
"Suruh pelayan baru itu membawa jahe panas keruang kerjaku" perintahnya ketika bertemu salah satu pelayan dibawah.Tak menunggu jawaban,ia masuk keruangannya.Badan yang meriang tak menghalangi semangat kerja sang Tuan muda.
tok...tok....
"masuk"
Shinta datang dengan tertatih membawa segelas jahe panas pesanannya.Gadis itu meletakkannya dimeja dengan hati-hati lalu berbalik menuju pintu.
"berhenti"
__ADS_1
"iya tuan"
"bukankah aku menyuruhmu libur beberapa hari?kenapa kau tetap kekamar Stev?"
"tapi anda juga memerintahkan saya kemari tuan" balas Shinta sambil menundukkan wajahnya.
"tatap aku"
Gadis itu tetap menunduk dalam.Bayangan ciuman Michael kapan hari masih berputar dikepalanya.Ia masih gugup saat berada didepan tuannya.Bagaimanapun dia masih gadis saat kesini.Dan sang majikan sudah mengambil ciuman pertamanya tanpa perlawanan.
Michael yang gemas lalu berjalan cepat kearahnya.Memegang dagunya dan memaksa Shinta menatap wajahnya.
"apa kalian para pembantu memang susah bicara"
"ti..tidak tuan.saya hanya tidak ingin makan gaji buta" sahut Shinta,masih tidak berani menatap Michael.
"ego yang tinggi"
"bukan ego tuan,tapi saya tau diri".
" masih bicara harga diri?apa orang macam kalian masih memilikinya?Kau juga dengan mudah menyerahkan bibirmu padaku.esok atau lusa mungkin tubuhmu yang akan kau sodorkan padaku".
Seketika Shinta meradang.Dihempaskannya tangan Michael yang memegang rahanya.Dengan berani dia tatap Michael
"kalau sudah tidak ada yang bisa saya lakukan,saya mohon diri tuan"
"aku masih membutuhkanmu"
"anda tinggal memerintahkan saya"
"Aku minta kau menghangatkan ranjangku"
"maaf tuan,saya pelayan,bukan pelacur"
"kau tinggal menyebut berapa hargamu.aku akan langsung membayarnya" senyum devil menghiasi bibir Michael.
Kilatan kemarahan langsung muncul dimata Shinta.Dia tidak terima dihina seperti itu.
"Jaga kata-kata anda tuan Michael Maverich.Kalau saja anda bukan majikan saya sudah saya..."
"apa?"
Michael semakin melangkah maju.Menatap Shinta sangat tajam.
"akan kupatahkan tulang-tulangmu"
serunya sambil berbalik.Berjalan secepat mungkin kepintu lalu menutupnya dengan kasar.
Didalam sana Michael tersenyum menang.Sekarang dia tau harus bagaimana.
__ADS_1