
Berbagai selang dan alat pendeteksi detak jantung terpasang pada tubuh lemah Tuan Abraham.Stephanie menangis tersedu-sedu didepan pintu ICU.Serangan jantung yang menyerang Abraham tergolong serius dan memerlukan oprasi berat.Hingga sekarang,dua jam pasca operasi itu Abraham belum juga sadar dari komanya.
Willy menyodorkan sebotol minuman dan kotak makan pada Stephanie.Gadis itu masih tetap menangis.Willy meletakkan bawaanya dikursi ruang tunggu lalu duduk disebelah sang nona.
"Jika kau butuh tempat bersandar,maka aku akan meminjamkan bahuku dengan suka rela padamu" Stephanie makin menundukkan wajahnya.Air mata terus mengalir dipipinya.Merasa tawarannya tidak mendapat respon,Willy berdiri dari tempatnya lalu pindah kekursi lain.Asisten itu menyibukkan dirinya dengan hpnya.Tak apalah malam ini dia menginap disini,beberapa saat lagi Nico akan datang bersama Michael.
Bibirnya membentuk lengkungan indah saat Nico membalas chattnya dan mengatakan mereka sudah sampai dibandara.Sedikit girang karena Nico seperti soulmatch baginya.Selama ini hanya Nico sahabatnya.Pergaulan seorang bodyguard multi talenta seperti mereka memang dibatasi berbagai aturan terselubung yang mengharuskan mereka menutup diri dari masyarakat luas.
Dia menatap ruangan luas disamping ICU private yang disulap jadi hotel dadakan untuk keluarga Maverich hari itu.Willy bangkit untuk memastikan ruangan itu steril lalu menutup lagi pintunya.
"Sampai kapan anda akan terus menangis nona?sebaiknya anda makan sekarang" tegas Willy,Stephanie masih tidak merespon.
"Terserah kalau anda mau mati kelaparan" sungut Willy lalu menjatuhakan diri disofa depan kamar ICU limited edition itu.
"Aku tidak akan mati karena tidak makan sehari" sinis Stephanie dengan lirikan tajam.
"Saya hanya mengingatkan nona"
"Aku tidak butuh itu"
"maafkan saya nona" ujarnya lalu kembali duduk tenang,berusaha tidak peduli lagi.
Waktu terus berlalu hingga terdengar langkah kaki dari ujung koridor.Dua manusia tampan berwajah es menghampiri Willy.Sang asisten berdiri menyambut kedatangan mereka.
"Bagaimana kondisi dad?" Tanya Michael dengan nada kawatir.
"masih koma tuan muda,belum ada perkembangan yang berarti pada beliau."
"Dimana Stephanie?"
"Barusan masuk keruangan itu tuan"
"Baiklah,aku akan menemui dia dulu" Mic lalu menuju ruangan private yang ditunjuk Willy.Dibelakangnya,sekretaris Nico merangkul bahu asisten Willy mengungkapkan rindu karena terpisah jauh dari belahan jiwanya.
"Apa nenek sihir itu sudah kau bereskan?" tanya Nico saat keduanya duduk berdampingan.
"Apa aku punya kekuasaan sebesar itu Nic?" willy balas bertanya.
__ADS_1
"Setidaknya kau bisa memberi pelajaran dengan cara elegan."
"Wanita ular itu punya banyak kekuasaan di Maverich crop Nic,kau jangan lupa itu.Dua puluh lima persen saham Maverich adalah milik dia,sedangkan setengahnya adalah milik tuan besar.Tuan muda dan nona Steve hanya memiliki sisa dua puluh lima persen lainnya" Nico manggut-manggut mengusap dagunya.
"Sepertinya tuan dan nona muda harus hati-hati kedepannya"
"Semua akan ruwet pada saatnya Nic" sahut Willy setengah bercanda.
"Seperti ruwetnya hubunganmu dengan nona muda Will" ejek Nico.Pria tampan itu sedikit menoleh pada sahabatnya,tidak biasanya Willy diam saja saat dia melontarkan ejekan.Yang terlihat malah rona putus asa.
"hey..kau kenapa?"
"Aku ingin minta cuti Nic"
"hah??cuti??apa aku tidak salah dengar?ha..ha.."
"Aku butuh mengunjungi suatu tempat yang indah dan bertemu gadis-gadis cantik,Hawai misalnya..."
"Will,kau ini kenapa sebenarnya?"
"Aku tidak mungkin memiliki hatinya Nic." Sangat lirih kata-kata yang keluar dari bibir Willy hingga membuat Nico tercekat.Sangat jarang dia melihat Nico tampak putus asa seperti sekarang.
"maybe"
"Berati kau belum nembak dia kan?"
"Tidak perlu memperjelas semuanya Nic,aku tidak akan kuat menanggung sakitnya.Dia sudah berkata pada tuan besar jika tidak punya perasaan apapun padaku,dan lagi aku hanya orang yang hidup dari harta mereka" ujar Willy terbata.Kilatan emosi masih terpampang di bola mata elangnya.
"Kau harus kuat Will.Bukankah nasib kita sama?" Willy jadi ingat kisah Nico dan Ayya.
"kau lebih tragis dariku Nic.Aku patut berbangga hati karena ditolak nona muda yang sangat kaya raya,tapi kau?ha..ha....kau ditolak asisten rumah tangga.Seleramu payah Will" ejek Willy santai.Nico jadi terpancing emosi karena ejekan Willy.
"Setidaknya aku down to earth man,tidak sepertimu yang bermimpi terlalu tinggi.Aku jatuh tidak sakit Will,tapi kau....bisa hancur lebur."
Keduanya sama-sama terdiam,meresapi perkataan satu sama lain.
"apapun itu,bukankah nasib kita sama man?" tanya Willy nyaris seperti bergumam.Nico menarik nafas kasar.
__ADS_1
"Kita memang dibesarkan dan diajarkan untuk memakai logika Will,bukan perasaan."
"Kau benar Nic,tugas kita hanya mengabdi."
"Sudahlah Will,lupakan semuanya.Anggap tidak pernah terjadi.Seseorang diluar sana sudah diciptakan untukmu" Nico menepuk bahu Willy dan membesarkan hati sahabat rasa saudaranya.
"Kau juga Nic,semangat!!" lalu mereka tertawa lirih bersama.Kalau saja saat ini keluarga Maverich tidak berduka,pasti keduanya sudah menghilang mencari angin segar.
"Apa kau pikir tuan muda akan memberikan cuti disaat seperti ini?"
"besar kemungkinan tidak Nic,tapi aku akan mengambil cutiku secepatnya saat semua sudah stabil.Aku juga perlu melakukan yang iya-iya,tidak sepertimu yang terlalu polos.Hari gini,masih saja mempertahankan label perjaka mirip tuannya.Jadul banget hidupmu man."
Nico mengangkat bahu terkesan tidak menanggapi ocehan Willy.Dia lebih fokus pada smart phonennya yang berulang kali ada notifikasi masuk.
"Akan ada banyak skandal dalam hidupmu Will,dan itu tidak lucu"
"hey sekretaris jadul,kapan-kapan aku akan mengajakmu berkencan dengan deretan wanita cantik,agar kau tau yang namanya surga dunia dan membuat perkakasmu itu berguna,tidak hanya untuk saluran kencing saja.Dasar bocah tengil."
"Aku tidak tertarik" masih dengan ekspresi datar.Willy jadi makin gemas menggoda ice man seperti Nico.
"Aku curiga kau impotent Nic" Nico melotot padanya hingga Willy terbahak.
"terserah kau saja" jawaban yang paling membuat Willy sangat kesal.
Didalam ruangan Stephanie menceritakan kronologi kejadian siang tadi hingga menyebabkan penyakit jantung Abraham kumat.Mic menggelengkan kepalanya,pria itu sangat geram mendengar cerita Stephanie.
"Apa wanita seperti itu layak disebut ibu?" tanya Michael sedikit berbisik.
"Kesimpulannya kita bukan anak kandungnya kak,lalu siapa ibu kandung kita?"
"itulah yang jadi pertanyaanku Steve,dan kenapa dad sangat merahasiakannya dari kita?"
"aku merasa ada yang tidak wajar disini"
"aku akan mencari tau apa yang terjadi Steve." desis Michael lagi.
"kuncinya hanya dad kak,kita harus tunggu dad sadar dulu"
__ADS_1
"itu terlalu lama Steve,orang-orangku akan menyelidikinya" wajah pria dingin itu menyeringai menakutkan.