Bukan Cinta Semusim

Bukan Cinta Semusim
Drama Pagi


__ADS_3

Nico masih bengong saat Willy menariknya setengah memaksa agar mendekat pada Stephanie yang masih duduk santai di sofa panjangnya.Shinta dan Michael tetap fokus pada dua orang yang bertingkah seperti anak kecil itu.Ternyata tetap ada jiwa anak-anak yang terperangkap ditubuh dewasa para bodyguard tampan itu.


"heiii tunnggu!!" teriak Nico sambil menahan berat tubuhnya agar tetap seimbang ditempatnya saat Willy terus memaksanya dengan kekuatan penuh.


"Apa lagi bodoh??" hardik Willy dengan mata melotot tajam.Agaknya tuan muda baru itu sudah tidak sabar membuat terlaksananya acara ngidam istri kesayangannya itu.


"Aku harus minta ijin istriku dulu.Aku takut dia kembali salah paham."


"Apa??ha...haaa...haaa...sejak kapan kau ikut barisan suami-suami takut istri sekretaris tampan??" wajah Willy sampai memerah menahan tawa yang sulit dihentikan.Nico hanya melengos kesal.Bagaimana mungkin mereka semua pura-pura tidak tau tentang hubungannya dan Erika yang baru saja membaik.Dia tidak mungkin merusak lagi apa yang sudah terjalin indah sejak semalam.Dia begitu takut kehilangan Erika.Wanita yang entah sejak kapan sudah menguasai hati dan pikirannya.


"Diam kau tuan muda baru!!" hardiknya kesal.Shinta yang sudah tidak tahan melihat keduanya terusa berseteru tanpa titik temu berdiri dari duduknya dan menuju kamar Nico.Dia mengetuk pintu lalu membukanya saat terdengar sahutan dari dalam.Melihat Erika yang melongokkan kepalanya dari kamar mandi,Shinta langsung menghampirinya.


"Er,sebaiknya kau segera turun,jika tidak...aku yakin akan ada pertumpaham darah dari dua anak kecil yang berebut kelereng dibawah." kata Shinta setengah bercanda.Erika mengangguk,menutup pintu lalu bergegas mengenakan pakaiannya.


"Tunggu sebentar Ta,aku akan segera turun." teriaknya dari dalam.Shinta tertawa kencang sambil berjalan keluar dari kamar pribadi Nico.


Sesampai dibawah,Shinta kembali harus turut menyaksikan adu mulut dua manusia es yang tetap kukuh pada pendiriannya masing-masing.Michael memilih sibuk dengan ponselnya,sedang Stephanie tetap cool dengan gayanya.Suara langkah kaki menuruni tangga membuat keduanya menoleh dan menghentikan perdebatannya.Nico bernafas lega lalu berusaha melepaskan diri dari cekalan Willy yang begitu kuat di lengan kanannya.


"Ada apa mas?" tanya Erik bingung.Dia memang tidak tau sama sekali apa yang terjadi.Tadi saat terjaga dari tidurnya,dia tidak menemukan Nico disampingnya.Erika memilih cepat membersihkan dirinya agar terlihat segar di depan suami tercintanya.


"Kau lihat,tuan muda baru ini memaksaku mengelus perut nona muda.Aku bilang akan mintan ijin dulu padamu,tapi dia tetap memaksaku." adu Nico seperti anak kecil yang meminta perlindungan ibunya.Semua yang ada disana terkesiap.Kenapa Nico berubah?sejak kapan dia berkata begitu banyak hingga mirip seperti anak yang merajuk?


"Kenapa kalian semua melihatku?" tanya Nico dengan tatapan penuh selidik.Michael berdehem keras lalu mengalihkan kembali pandangannya pada ponselnya,sedang yang lain memilih pura-pura tidak mendengar apapun.

__ADS_1


"Ya wajar mas,Steve sedang hamil.Ibu hamil selalu punya permintaan aneh-aneh karena perubahan hormon dalam tubuhnya.Itu namanya ngidam.Mas Nico elus saja tidak apa-apa." sahut Erika tenang sambil mengembangkan senyum ramah.


"Tapi sayang......"


"Lakukan Nic.Ini perintah!" tegas Michael kemudia karena merasa jengah dengan berbagai kalimat penolakan Nico.Seketika Nico terdiam tanpa bantahan.


"Baik tuan muda." jawabnya kemudian.Willy tersenyum lebar saat Nico pergi ke arah Stephanie dengan langkah lesu.


"Maafkan saya nona muda." Stephanie menganggukkan kepalanya.Nico mulai mengelus perut Steve yang sudah mulai membuncit.Hanya beberapa kali elusan saja hingga Stephanie berkata cukup.Lagi-lagi Nico menarik nafas lega seolah telah terhindar dari beban berat.Dia lalu menghampiri Erika dan menariknya untuk duduk disofa yang lain.


"Apa acara ngidammu sudah selesai Steve?" ujar Michael tiba-tiba.Mata Stephanie berbinar bahagia.


"iya kak,sepertinya calon anakku nanti akan mirip sekretaris Nico."


"ini juga kemauan anakmu kak!" sentak Stephanie sambil mencebik kesal.Willy hanya bisa pasrah.


"hmmmm....bau apa ini?sepertinya sedap sekali." Shinta mengendus-endus aroma masakan dari dapur yang memang mengepulkan bau harum rempah-rempah khas Asia.


"Bibi Lun sedang memasak sup ayam dan gurami bakar.” jawab Erika.


" sepagi ini?" Shinta lagi-lagi meyakinkan.


"iya.Mas Nico agak flu Ta,dia perlu makan sup agar lebih baik.Sedang gurami bakar itu permintaanku.Aku sangat kangen masakan mama.Tapi aku juga tidak mungkin menyuruhnya memasak kan?beliau sedang sibuk mengurusi Winlee."

__ADS_1


"A...apa...apa aku boleh sarapan disini?" tanya Shinta ragu-ragu.Michael seketika melotot.Istrinya itu tipe wanita sopan yang sangat menjaga tata krama.Kenapa hari ini dia tiba-tiba bilang ingin menumpang sarapan dikediaman Nico dengan sangat tidak tau malu??


"Sayang,ayo pulang.Biar Sarla yang akan memasakkanya untukmu." bujuk Mic pada istrinya.


"tidak mau!aku mau sarapan disini.Sarla tidak bisa memasak masakan Asia mas." tolak Shinta.


"Kita mampir ke restoran Indonesia Ok?"


"tidak mau!aku mau disini!" ketus Shinta keras kepala.


"Sudahlah..ayo sarapan disini saja.Aku memasak banyak.Aku akan sangat senang jika kita sarapan bersama." Akhirnya Erika bersuara untuk melerai pertengkaran suami istri romantis itu.Michael bersikeras pada keinginannya untuk pulang.


"hiks...hikkss....sayang,dadymu tidak sayang padamu.Dia membentak momy karena momy ingin makan sesuatu." Michael mengeram frustasi.Air mata Shinta jatuh berderai,hatinya terasa tertusuk sesuatu.


"Sayang bukan begitu.."


"Apanya yang tidak begitu?kau egois mas!kau bahkan tidak memikirkan perasaanku demi gengsimu itu." sentak Shinta dengan mata memerah.Lagi-lagi drama.Sekarang Mic yang kena batunya.Dia juga terkena imbas perempuan ngidam.Sungguh membuat kesal para pria berhati dan berperangai laksana es seperti mereka.Para wanita itu bahkan membuat pria-pria most wanted dan berkuasa itu bertekuk lutut dalam kerlingan matanya.


Mic luluh juga.Ditariknya kepala Shinta dalam pelukannya.Wanitanya itu terus saja terisak hingga bahunya terguncang.Yang lain cuma jadi penonton dadakan pagi itu.


"Sudahlah,jangan menangis.Baik...kita sarapan disini." putus Michael.Shinta menghapus air matanya,tersenyum manja lalu berteriak girang seperti bocah kecil main hujan-hujanan.


"Maafkan kami Nic,ini diluar prediksiku."

__ADS_1


"Saya mengerti tuan muda.Suatu kehormatan bagi keluarga kami jika anda mau sarapan dirumah kami." balas Nico.Erika beranjak ke dapur untuk membantu menyiapkan sarapan dipagi yang penuh drama itu.


__ADS_2