Bukan Cinta Semusim

Bukan Cinta Semusim
Istriku


__ADS_3

Nico memasuki bandara dengan nafas memburu.Keringat bercucuran di pelipisnya.Dia sudah tidak sempat mengatur nafas lagi.Matanya yang jeli bergerak kesana kemari memindai tiap wajah yang melintas dan tiap sudut ruangan.Tapi hasilnya nihil,dia tidak menemukan Erika.Seseorang menyenggol lengannya lalu memberikan sebuah amplop dalam gengamannya.Pria tadi berlalu pergi ditengh kerumunan para calon penumpang yang berlalu lalang menuju tempat tujuan mereka.


Nico melirik amplop itu dan membukanya tergesa.Ada tiket dan paspornya juga tujuan kemana dia harus pergi.Suara pengumuman agar penumpang pesawat menuju singapura segera check in.Nico berlari kesana sesudah memastikan bahwa orang tadi memang agen yang disuruh Aira.Adiknya itu memang sigap seperti dirinya saat menghadapi masalah.Menjadi agen bodyguard memang memerlukan kesiagaan dan pola pikir yang cepat dan praktis.


Berada diurutan kursi depan membuat Nico tidak bisa menengok siapa saja penumpang pesawat itu.Namun dari tempatnya duduk sekarang dia bisa melihat siapa saja yang akan turun nantinya.Akan terasa aneh bukan jika dia melongok kebelakang atau meneliti setiap penumpang?yang ada dia malah akan ketahuan.Misinya untuk membuat Erika kembali tanpa paksaan akan sirna.Erika juga pasti akan lebih membencinya karena dia akan terlihat bersalah.Ahh...Erika...seperti apa dia sekarang?betapa dirinya rindu senyum malu-malu dan kelembutan istrinya itu.Dalam hati Nico berjanji,jika nanti Erika kembali....dia tidak akan melepaskannya kembali.


Nico menaikkan maskernya saat ekor matanya menangkap sesosok bayangan datang dan duduk di kursi di sampingnya.Gerakan yang cepat dan terlatih.Aroma parfum yang dia kenal.Seketika Nico menoleh.


"Sstttt..jangan berisik bodoh!" ketus pria bertopi dan berkaca mata hitam itu saat Nico akan membuka suara.Helaan nafas lega keluar dari paru-parunya.Sekarang dia jauh lebih percaya diri karena merasa tidak sendiri.Ada Willy yang menemaninya.Michael memang majikan dan kakak terbaik baginya.Dia tidak akan melepas dia sendirian walau Nico cukup yakin dan percaya diri untuk melangkah sendiri.


"Apa nyonya Steve tidak marah?" tanyanya lirih.Kemarahan Stephanie hanya akan memperburuk hubungan sahabatnya itu dengan istrinya.Sungguh Nico tidak ingin melihat Stephanie yang manja bertengkar dengan Willy.Apalagi saat ini Steve sedang mengandung.Dia pasti lebih memerlukan Willy saat ini.Mereka juga baru saja baikan beberapa saat lalu.


"Dia yang menyuruhku menemanimu karena tau Erika dalam bahaya." balas Willy dengan wajah tetap menatap ke depan.Kadang wanita memang aneh.Mereka merajuk saat jadi yang kedua,namun berubah baik dan peduli pada orang lain saat mereka suda menjadi prioritas utama.Makluk Tuhan yang satu ini memang rumit dan perlu diteliti lebih dalam.


"Dimana sasaran kita?" Nico bertanya sepelan mungkin,menata posisi duduknya sama seperti Willy yang menghadap lurus ke depan seperti orang yang tidak saling mengenal.

__ADS_1


"Dua baris sebelum toilet.Dia bersama Win lee."


"Apa ada orang lain selain kita?"


"Apa kau masih perlu orang lain lagi?kau tidak percaya pada kemampuanku bodoh?" hardik Willy dengan wajah mencelos tidak suka.Terlihat sekali jika Nico ragu dengannya.


"Aku hanya ingin tau." ketus Nico tidak mau kalah.Sering ditugaskan dalam berbagai misi selama menjadi orang kepercayaan Michael membuat keduanya kompak mengambil tindakan.


"Istrimu bukan kak Shinta yang seorang nyonya muda Nic.Aku saja sudah cukup untuk membantumu." kata Willy lagi dengan senyum menggoda seraya menurunkan kaca mata hitamya dan mengedipkan mata kanannya.Jika saat ini mereka tidak dalam situasi rumit,mungkin Nico sudah menendang tulang kakinya seperti biasa.Tuan muda baru itu terlalu percaya diri.


Berjam-jam berlalu saat mereka tiba di bandara Changi.Nico dan Willy tetap duduk ditempatnya,menatap setiap penumpang yang turun hingga tubuh tegap Zao turun sambil menggendong sosok kecil Win lee yang mengerjabkan matanya berulang kali.Di belakannya,Erika mengenakan celana pipa lurus warna hitam dan kemeja soft pink dibawah pantat yang membentuk garis manis dan anggun yang membalut tubuh mungilnya berjalan mengekori keduanya.Nico seakan menahan nafas saat melihat istrinya.Hampir saja dia berdiri dari duduknya dan memeluk Erika,namun urung karena Willy sudah lebih dulu menekan tangannya dikursi agar dia tidak bergerak.Bisa hancur semua rencana mereka jika sekretaris bodoh itu bertindak mengikuti nalurinya.Bibirnya saja yang bilang bahwa dia tidak mencintai Erika tapi bahasa tubuhnya menolak hal itu.


Mereka terus mengikuti dan mencuri dengar pergerakan ketiganya hingga keluar dari bandara,juga saat Erika menanyakan kenapa mereka tidak langsung terbang ke Indonesia dan hanya transit sebentar di Singapura...bukannya menginap?saat itu Zao beralasan jika Win lee kecapekan dan memerlukan istirahat beberapa saat.Erika hanya menurut saja saat sebuah mobil datang dan menjemput mereka.


Tubuh Nico menegang,alisnya bertaut dan sorot kemarahan terlihat dari matanya yang biasanya dingin tanpa ekpresi saat Zao mengenggam tangan istrinya dan membantunya masuk.Amarah dalam dadanya seperti mau meledak saat itu.

__ADS_1


"Kau masih ingin bilang bahwa kau tidak mencintai Erika?" bisik Willy nyaris seperti cemoohan baginya.Nico terdiam dengan mata tetap mengawasi keduanya.Sesaat kemudian mobil keluarga Maverich datang,mereka bergegas masuk.Willy mengambil alih kemudi dan membuntuti mobil hitam yang membawa Zao dan Erika pergi.


Dugaan mereka jika Erika akan dibawa ke rumah sakit tampaknya benar.Zao tidak akan membuang banyak waktu lagi.Jika Erika sampai tau rencananya,maka bisa dipastikan Win lee tidak akan bertahan lebih lama.


"Shitt!!bajingan itu bahkan tidak memberi waktu istriku beristirahat setelah perjalanan panjang." sentak Nico saat melihat Zao membawa Erika ke rumah sakit terpecil miliknya.


"istrimu?" ujar Willy membeo.


"Erika istriku!" ulang Nico lagi.


"kedengaranya manis sekali." balas Willy lagi seperti menggodanya.Nico mendengus kesal.Mata tajam Nico melihat bayangan datang di kanan kiri mobil mereka.Benar...sepuluh orang sudah berdiri disana,mengelilingi mobil.Satu diantaranya malah menodongkan pistol dan memberi isyarat agar mereka turun.Willy menyeringai.


"Dia menakutiku seperti anak kecil yang takut pistol man.Ini penghinaan bagiku." omel Willy dengan rasa geli.Pria tampan itu melihat sekeliling.Parkiran cukup luas untuk aksinya.Kuat dan percaya diri diinjaknya pedal gas lalu memutar kemudinya hingga mobil itu berputar cepat beberapa kali pada poros yang sama hingga orang-orang itu terpental kesana kemari termasuk pria yang menodongkan pistol tadi.


"haahahahaa....Zao pikir kita hanya bodyguard biasa." ujar Willy dengan tawa penuh kemenangan.Sungguh hari ini adalah hiburan baru baginya yang telah lama hanya hidup tenang tanpa tantangan.Jiwa bodyuardnya meronta.

__ADS_1


__ADS_2