Bukan Cinta Semusim

Bukan Cinta Semusim
Bertemu Ayya


__ADS_3

Keesokan paginya Shita sudah berdiri didepan pintu kamar Michael.Kemarin dia lupa untuk minta ijin untuk kepanti asuhan bersama Ayya pagi ini.Ragu-ragu diketuknya pintu kamar Michael.Beberapa kali tidak ada sahutan,dia memberanikan diri meraih handle pintu.Tidak terkunci.Ia membukanya sedikit dan melongokkan kepalanya kedalam.Didalam gelap sekali karena sekarang masih jam 6 pagi.Michael memang selalu bangun siang dihari minggu.


Ia hendak mengurungkan langkahnya saat terdengar suara serak khas bangun tidur


"masuk"


Shinta berjalan masuk dan berdiri didekat ranjang besar Michael.Pria itu masih bergelung didalam selimutnya.Setengah tertidur.


"tuan,saya akan minta ijin untuk kepanti bersama Ayya setengah jam lagi.Maaf sudah menganggu tidur anda"


Tanpa menunggu persetujuan,Shinta berbalik hendak keluar,tapi sentakan tangan yang begitu kuat membanting tubuh mungilnya ditempat tidur.


aaaaahhhhh..


Tiba-tiba Shinta sudah ada disisi Michael.Ia mencoba bangkit,namun sekali gerak...Michael sudah memindih tubuhnya.Shinta menahan nafas saat merasakan wajah Michael yang sangat dekat dengan wajahnya.


"siapa yang mengijinkanmu pergi?"


"tapi anda sudah memberiku ijin bertemu Ayya beberapa hari lalu tuan"


"dirumah ini....tidak diluar!"


"Tapi kami hanya kepanti dekat rumah ini sebentar saja tuan.Saya akan mengantarkan belanjaan kemarin untuk anak-anak panti"


"tidak!" hardik Michael lagi.Shinta hanya membuang pandangannya kearah lain.merasa jengah.


"kalau begitu ijinkan saya pergi tuan.saya masih ada pekerjaan sekarang." sahut Shinta sambil berusaha mendorong tubuh Michael dari tubuhnya.Sebuah usaha yang sia-sia.Michael tetap ada ditempatnya,tak brgeming sedikitpun.


"siapa yang menyuruhmu kembali memanggilku tuan?"


"itu...saya sendiri tuan"


"apa hakmu,kau hanya pembantu dirumah ini.kau tidak berhak menentukan apapun!" ketus Michael.


deg

__ADS_1


deg


deg


Ada yang sakit di sudut hati Shinta.Baru saja Michael menyadarkannya kalau dia cuma pembantu.Dia tidak punya hak apapun,termasuk bermimpi dirumah ini.Itu artinya,kejadian semalam hanya mimpi indah yang jadi bunga tidurnya.


Michael sedikit kaget dengan perkataanya sendiri.Ia baru sadar telah kelepasan bicara saat melihat wajah murung Shinta.Dia yang terbiasa bicara seperti itu pada para bawahannya merasa bersalah.Ia tau sudah menyinggung perasaan Shinta saat ini.


"aku...bukan maksudku.."


"saya cukup tau diri tuan" sahut Shinta cepat.Sekuat tenaga dia mendorong tubuh Michael dan melepaskan diri.Air mata menggenang disudut matanya.Air mata yang berusaha dia tahan sekuat tenaga.Hatinya serasa tercabik.Harusnya dia tidak terlalu berharap,harusnya dia tidak membiarkan rasa itu tumbuh,dan harusnya dia tidak terlalu dekat dengan Michael.Tapi nasi sudah menjadi bubur.Masih ada waktu untuknya membunuh rasa yang belum sempurna ini dari hatinya.Ia hanya butuh damai hingga kontrak kerjanya selesai,hingga semua hutang terbayar dan hingga dia punya modal untuk membuka usaha dikampung halaman.


"saya permisi tuan" sahutnya lagi,lalu berjalan cepat keluar kamar tanpa menoleh lagi.Michael masih berada di posisinya.Tertegun,menyesali kesalahannya.Frustasi meremas rambut dikepalanya.Menghadapi perempuan memang hal yang pertama kali baginya.Lebih sulit dari memenangkan tender milyaran yang memberinya banyak keuntungan.Wanita memang susah dimengerti.


Setengah jam kemudian Michael sudah berjalan keruang makan.Setelan jas dan celana panjang warna navy membuat ketampanannya terekspose maksimal.Bibi Chun sudah berdiri menyambutnya dengan senyum ramah.Sekatika dahinya berkerut.


"kemana Steve?" tanyannya sambil melihat sekeliling.


"nona muda tadi berangkat tergesa tuan.Katanya hari ini kuliah pertamanya,jadi dia tidak sempat sarapan" jawab bibi Chun


"hemm....Shinta?"


"hemmm..."


"tuan mau sarapan sekarang?"


"Tidak bi.aku sarapan dikantor saja.Bibi boleh pergi sekarang"


"permisi tuan"


Pandangan Michael tertuju ke gorden jendela samping.Dia berjalan pelan dan duduk di sofa dekat jendela itu.Dari sana dia bisa melihat Shinta dan Ayya melepas kangen,tertawa dan saling meledek.Shinta bahkan tidak pernah tertawa lepas bersamanya.Tapi sekarang gadis itu terlihat sangat bahagia.


"Selamat pagi tuan" sapa sekretaris Nic.Michael tersadar dari lamunannya lalu berdiri.


"Nic,suruh Willy mengantar pembantumu dan Shinta kepanti."

__ADS_1


"tapi tuan,hari ini Willy harus menggantikan anda meninjau proyek baru kita"


"cancel jadwalnya"


Nico hanya mengangguk pasrah.Dalam hati mencak-mencak tak karuan karena berulang kali tuan mudanya membatalkan bahkan mengganti jadwalnya seenak perut.Tapi dimana-mana uanglah yang berkuasa.Bawahan hanya wajib menurut saja.


*********


"Ay,badanmu agak gemuk sekarang.Kelihatannya kau bahagia bekerja pada sekretaris Nico" kata Shinta yang disambut tawa berderai Ayya.


"tentu saja aku bahagia Shin.Sekretaris Nico pria yang baik.Dia tidak pernah mencela pekerjaanku.Kau tau,tadinya aku hampir putus asa saat kita bertemu bos sialan itu,tapi ternyata Tuhan masih menyayangi kita shin"


"Pria kaku seperti sekretaris Nico pasti menyebalkan"


"tidak,dia pria yang manis Shin.Walau tidak banyak bicara,tapi dia sangat peka.Minggu lalu saat aku sakit,dia mengerjakan semuanya sendiri,rapi lagi." Ayya bercerita sambil menopang dagunya dengan kedua telapak tangannya dengan mata bersinar.Ia tampak seperti orang yang mengagumi sesuatu.


"kau terlalu mengaguminya.hati-hati lho.ntar jatuh cinta" kikik Shinta yang disamput lirikan tajam Ayya.


"kelihatannya aku sudah jatuh cinta Shin".


" aaapaaaaaa!!!!" teriak Shinta terkejut.Ia sampai melonjak dari tempat duduknya dan melihat Ayya dengan mata melotot nyaris keluar dari kelopaknya.


"ssshhttt....bisa nggak sih pelan aja Shin,ntar ada yang dengar" Ayya mengatupkan bibirnya dan memhuat gerakan telunjuk dibibirnyaShinta hendak berkata lagi saat asisten Willy datang menghampiri mereka


"Tuan muda menyuruhku mengantarkan kalian kepanti" Ayya dan Shinta saling pandang.Willy melengos jengkel.Baru kali ini dia disuruh mengantar jemput pembantu.Kalau menurutnya,itu bisa dibilang turun pangkatlah.Dia yang biasa dihormati dikantor malah sekarang harus jadi pengurus pembantu.Tapi apa mau dikata?Sibos yang memberi perintah.


"udah ayo cepetan.Kalian kebanyakan drama" bentak Willy agak jengkel.Shinta dan Ayya memilih menurut.Mereka mengekori langkah sang asisten.


"wah,disini kau dikelilingi manusia tampan Shin.Kau itu lebih beruntung.Tentukan pilihanmu dan bawa pulang salah satu" goda Ayya dengan kerlingan nakalnya.Shinta yang gemas mencubit pinggang sahabatnya itu hingga Ayya menjerit kecil.


"asisten Willy,kami akan jalan kaki saja kepanti.Kami tidak mau merepotkanmu" kata Shinta sambil menjajari langkah Willy.Asisten itu menoleh,lagi-lagi dengan tatapan jengah.


"ini perintah tuan muda"


"Tapi kami hanya ingin sekalian jalan-jalan disekitar sini.Percayalah,aku bisa menjaga diri asisten Willy"

__ADS_1


"Terserah kau saja.Tapi aku tidak mau menanggung akibatnya kalau terjadi apa-apa".


Shinta mengangguk dan membantu asisten Willy mengeluarkan barang belanjaan kemarin dari mobil.Rasanya jalan kaki berdua lebih nyaman dari pada semobil dengan asisten judes itu.


__ADS_2