
"ahhhhh!!!kenapa wanita selalu berprilaku sama?menghilang semaunya tanpa penjelasan!" teriak Nico kesal.Semua pembantu dan pengawal dirumahnya hanya menunduk.Selama bekerja padanya,semua hanya tau Nico selalu sibuk,jarang berinteraksi dan sangat tertutup.Hampir tidak ada ekspresi diwajahnya yang cenderung datar.Hanya Erikalah yang mereka kenal.Dokter muda yang anggun dan elegan itu selalu bersikap ramah dan kadang meminta tolong pada mereka,walau sang nyonya juga jarang dirumah karena sibuk dengan aktivitasnya di rumah sakit.Tapi kali ini,majikan laki-laki mereka tampak marah besar.Dia juga barusan mengamuk dengan mengobrak-abrik rumah karena mencari Erika.
Sebuah mobil mewah masuk melalui gerbang utama rumah yang terlihat asri itu.Seorang penjaga yang ada diluar memberi hormat padanya lalu mempersilahkan masuk.
"Dimana sekretaris Nico?" tanya pria tampan itu sambil melepas kaca mata hitamnya.
"ada di dalam tuan Willy."
"hmmm...baiklah,terimakasih." Willy menepuk bahu penjaga usia dua puluhan itu lalu masuk ke dalam rumah.Nico terus saja berteriak tak karuan saat Willy datang dan memerintahkan semua untuk bubar.Didekatinya Nico yang masih terengah menahan amarah.
"Kau pikir apa?mereka tidak tau masalahmu.Kenapa mereka yang jadi pelampiasanmu heh??" Nico terduduk lemah.Dia mengusap wajahnya frustasi.
"Kenapa Erika pergi tanpa pamit padaku seperti Shinta yang meninggalkan tuan muda dulu?” Willy berdecih kesal.
" Tidak hanya kak Shinta dan Erika saja yang melakukannya Nic,semua wanita juga akan melakukaknnya jika pasangannya sudah kelewat batas.jika mereka sudah tidak bisa dimaafkan."
"kau..sejak kapan kau mulai membela para wanita tuan muda baru?" tukas Nico dengan tatapan membunuhnya.Willy terkekeh seraya berdiri dari duduknya.Dia menuju ke jendela dan menatap jauh keluar sana.Nico mengikutinya.
"Apa yang membuatmu yakin jika Erika pergi?jangan-jangan dia hanya berjalan-jalan sebentar,menghirup udara segar diluar sana.Dia akan kembali nanti jika hatinya sudah tenang mungkin." maksud hati menenangkan sahabatnya,tapi Nico malah kembali tersulut emosi.Sekretaris tampan itu malah menyeret paksa Willy naik ke kamarnya di lantai atas.
"lihat Will,semua dokumen Erika sudah tidak ada,tas kerja juga foto pernikahan kami juga lenyap tak bersisa.Apa kau pikir dia hanya pergi belanja?" teriak Nico makin tinggi.Willy sampai harus menutup telingannya karena terasa bergetar.
"Tapi semua bajunya masih disana." tukas Willy sambil menunjuk tumpukan baju Erika yang tergantung dan tertata rapi di almari.
__ADS_1
"Itu karena aku yang membelikannya.Dia bahkan tidak membawa apapun kecuali barang-barang miliknya dulu.cincin kawin dan semua perhiasannyapun sudah ditinggal dimeja.Artinya Erika benar-benar pergi."
"Bukankah itu lebih baik?itu yang kau mau kan sekretaris bodoh?sekarang kau tinggal menceraikan dia dan mengambil Ayya dari Kotaro." cela Willy dengan senyum mengejek.
"Kau pikir semudah itu?Dia ketua Yakuza yang punya jaringan kuat dan sangat kejam."
"Lalu kenapa kau mau bermain api dengannya?seperti tidak ada wanita lain saja." Nico terdiam,dalam hati membenarkan perkataan Willy barusan.
"Kau tidak tau apa-apa tentang cinta tuan muda baru."
Nico berjalan ke meja,menyalakan rokoknya dan duduk di kusen jendela.Willy hanya menatap iba padanya.Sahabatnya itu bukan perokok.Jika dia merokok,dipastikan saat ini Nico sedang tidak baik-baik saja.
"Aku lebih tau darimu Nic.Kau lupa?aku bahkan mencintai Stephanie saat dia baru lulus SMP.Dia mungkin bukan cinta pertamaku,tapi Tuhan memilihnya menjadi cinta terakhirku." Nico kembali terdiam.Dihisapnya kuat rokok putihnya lalu mengebulkan asapnya ke udara.
"bantu aku mencari istriku Will." ujar Nico frustasi.
"untuk apa Nic?biarkan dia pergi.Mungkin itu lebih baik baginya."
"Kau tidak tau betapa aku mengkhawatirkan dia Will.Semua orang suruhanku pulang dengan tangan hampa."
"Bebaskan Ayya dari Kotaro.Nikahi dia,maka kau akan hidup tenang dengan cinta pertamamu Nic." bisik Willy,namun Nico menggelengkan kepalanya kuat.
"Aku tidak bisa berpisah dari Erika,aku juga tidak tega melepaskan Ayya Will."
__ADS_1
"itu artinya kau pria serakah Nic.Wanita manapun tidak akan mau dimadu." sergah Willy mulai meradang.
"Kenapa serakah Will,bukankah pria diperbolehkan menikah lebih dari sekali.Tiga,empat kali bahkan."
"itu jika kau bisa berbuat adil Nic!"
"Aku akan adil pada mereka Will." putus Nico lagi.Willy jadi geleng-geleng kepala dengan pemikiran sahabatnya itu.Setahunya Nico bukan tipikal pria yang begitu menggebu dengan masalah wanita,tapi kenapa sekarang dia nampak berbeda?
"Adil bagimu belum tentu adil bagi mereka Nic.Akan sangat berat dosa yang aka kau tanggung nantinya,karena dosa seorang istri adalah tanggung jawab suaminya Nic." Lelah sudah Willy beradu argumen dengan Nico yang notebane negosiator andal.Jangankan menang,seri saja sudah hasil terbaik yang bisa dia dapatkan.
"Asiyah saja bisa bahagia diperistri Firaun yang kejam,Juga Aisyah yang bahagia walaupun dimadu oleh Rasullullah.Tergantung cara pandang mereka Will." desah Nico kemudian.Pria itu juga kelewat frustasi meghadapi Willy yang terus menekannya.Sesungguhnya sekarang,dia butuh teman yang membutnya nyaman dan lebih baik,bukan yang cerewet bak wanita dasteran sedang belanja.
"Tapi kau lupa bahwa Siti Maryam juga bisa bahagia meski tanpa suami Nic.Kurasa wanita seperti Erika akan lebih memilih versi terakhir ini" tanpa merasa berdosa,Willy kembali menekannya.
"Kau benar-benar sahabat yang tidak bisa diandalkan Will." sergah Nico lagi.Seorang pelayan datang membawakan dua gelas minuman.Willy yang lelah berdebat meraih dan meminumnya hingga tandas.
"Aku meningatkanmu karena kau sahabatku Nic,bahkan saudara bagiku.Lepaskan Ayya,dia tidak pantas untukmu.Seorang penghianat tidak akan bisa menjaga kehormatan dan kepercayaanmu.Poligami memang tidak dilarang Nic,tapi tidak juga dianjurkan.Jadi pikirkan perkataanku ini.Bawa Erika kembali." kata Willy panjang lebar.Tatapannya nanar kearah sekretaris Nico yang terlihat awut-awutan.
"Yang kucintai adalah Ayya Will."
"Tapi yang kau nikahi adalah Erika Nic.Tidak semua yang kita inginkan adalah yang terbaik untuk kita.Masih ada kesempatan jika kau mau berubah pikiran man!aku pulang dulu."
"Will tunggu!" teriak Nico mencegah sahabatnya agar tidak pergi,namun tuan muda baru itu sudah melambaikan tangannya keatas.Dicegahpun juga percuma.Hanya Abraham dan Michael yang bisa memerintahnya.Yang lain?mungkin hanya dianggap bak desauan angin saja.Nico kembali mengeram kesal.Dadanya terasa sakit,namun tidak ada obat yang bisa membuatnya lebih baik sekarang.
__ADS_1