
"sayang..kau...sudah baikan?" tanya Nico dengan raut wajah bahagia.Dia menghampiri Erika yang duduk bersandar dikepala ranjang dan mengenggam jemarinya.
"A..apa kau menginginkan sesuatu?" tanyanya terbata karena perasaan bahagia yang menguasai hatinya.Mata Erika membola menatapnya.Bibir wanita seperempat abad itu bergetar.
"Apa..apa aku boleh meminta sesuatu darimu?" jawab Erika tidak kalah terbata darinya.
"Apapun!" sahut Nico tegas.
"Jangan pernah menyentuhku karena setiap sentuhanmu mengingatkanku pada wanita itu.” Seketika Nico terhenyak dan melepaskan tangan Erika lemah.Dia masih ingat saat Erika membuka pintu kamarnya di latanza hotel dulu.Dia berada dalam posisi sangat intim dengan Ayya.Mereka nyaris kelepasan dan hendak melakukan hubungan intim.Andai dia berada diposisi Erika saat itu,mungkin sampai kapanpun dia tidak akan memaafkan keduanya.Obat yang dimasukkan Ayya keminumannya benar-benar membuatnya lupa daratan.Tangan Nico terkepal erat.Dia marah pada dirinya sendiri,dia benci tubuhnya yang menyentuh wanita lain selain istrinya walau itu terjadi dialam bawah sadarnya.
" Maafkan aku Erika." katanya kemudian.Sorot matanya kembali redup.Otot tubuhnya menjadi lunglai dan tidak bertenaga lagi.Nico kembali rapuh.Pria itu bangkit dari duduknya dan keluar dari kamar itu,menyeret langkahnya menuju ruang kerjanya,meninggalkan Erika yang menangis sejadi-jadinya dikamar mereka.
Kejadian itu memang meninggalkan trauma yang membekas dalam hati Erika.Ia selalu saja teringat kejadian itu saat Nico berbuat mesra padanya.Hanya kebencian dan rasa tidak suka yang dia rasakan.Dia tau Nico tidak sepenuhnya bersalah,tapi perasaan itu membuatnya sangat terluka...dan Erika butuh waktu untuk menghilangkannya.
Nico membaringkan tubuhnya di sofa panjang ruang kerjanya.Matanya tertutup rapat.Kepalanya begitu pusing.Sekejap lalu dia sempat bahagia karena merasa hubungannya dengan Erika akan membaik,tapi sesaat kemudian harapan itu sirna laksana debu tertiup angin.Hilang tak berbekas.Dia tetap bertahan diposisi itu hingga terlelap dan terbangun keesokan harinya.
Pagi itu Nico terbangun dan membersihkan dirinya dikamar mandi ruang kerjanya.Dia sudah mengirim pesan pada Willy bahwa hari ini dia akan masuk kerja.Berada dirumah hanya akan membuat dia dan Erika sama-sama tersiksa.Saat dia memasuki kamarnya untuk mengambil pakaian,dia tidak menemukan Erika disana.Sebagai gantinya,dia melihat setelan kerja lengkap dengan jas dan dasinya sudah disiapkan diatas tempat tidur yang sudah rapi dan wangi karena baru diganti.
Nico menoleh ke kanan dan kiri,memastikan Erika benar-benar tidak ada disana.Bergegas dia memakai pakaian itu.Saat menengok kebawah sofa,dia menemukan sepatu lengkap denga kaos kakinya disana.Erika benar-benar tidak melupakan tugasnya.
Saat turun kebawah,Nico dikejutkan oleh Erika yang sudah berpakaian rapi sedang menata sarapan di meja.Dia mendongak ke atas saat mendengar langkah Nico menuruni tangga.Suaminya itu terlihat sangat gagah dan tampan dalam balutan jas biru tua yang mencetak tegas bentuk tubuhnya.Dia melemparkan senyum untuk menetralisir debaran jantungnya.Bersikap seolah tidak terjadi apa-apa.
__ADS_1
"Selamat pagi mas,ayo sarapan dulu.Aku sudah membuatkan kopi dan masakan sederhana untukmu." kata Erika sambil menarik kursi untuk Nico.Tidak ada yang berubah darinya.Dia kembali menjadi istri yang dinikahinya beberapa bulan lalu.Nico duduk dikursinya,disamping Erika.
Aroma kopi hitam favoritnya menguar memenuhi indra penciumannya.Dia meraih gelas itu dan menyeruputnya.Aroma yang khas,rasa yang pas.Nico kembali meletakan cangkirnya dan akan mengambil roti saat Erika dengan sigap meraihnya dan mengoleskan selai coklat kesukaannya lalu meletakkan dalam piringnya.Nico memperhatikan Erika yang memakan buburnya lalu meneguk susu putihnya hingga tandas.Nico merasa Erika terlalu bersemangat pagi itu.
"Kau akan kembali bekerja?" tanya Nico sambil meletakkan peralatan makannya dan melipat serbet makannya lalu meletakkanya di meja.
"Iya.Aku harus segera menyelesaikan praktik kerja dan tesisku agar segera lulus dan pulang ke Indonesia.Ahhh...betapa rindunya aku pada hujan." jawabnya penuh semangat.Nico termenung.Erika tetap pada pendiriannya untuk kembali ke negaranya.Itu artinya dia benar-benar harus kehilangan wanitanya.Dadanya terasa sangat sesak.Tidak ada dirinya dalam impian Erika,itu artinya dia harus siap hidup sendirian sesuai sumpahnya untuk menikah sekali saja seumur hidupnya.
"Apa aku sama sekali tidak menjadi prioritas dalam hidupmu?" tanya Nico dengan tatapan dingin yang menusuk.Erika bergidik,Nico sudah kembali menjadi manusia es yang dulu dia temui.Di wajahnya hanya tampak kebekuan yang tidak bisa diraba.Sorot matanya tajam dan menyimpan banyak misteri.
"Aku...."
Dada Erika laksana tertusuk ribuan jarum yang membuatnya sesak nafas seketika.Notifikasi dalam ponselnya berbunyi.Taksi online yang dipesannya sudah datang.Tergesa dia menyambar tasnya.Dalam setengah jam dia harus sampai di kampus untuk sesi bimbingan.
Sepanjang jalan menuju kampus,pikirannya tidak tenang.Kata-kata dan ekspresi dingin Nico terus berputar dikepalanya hingga dia tidak menyadari jika sudah sampai di kampusnya.Berlari kecil,Erika menyusuri koridor untuk mencari pembimbingnya,mengetuk pintu lalu memulai sesi itu.
Langkah gontai Erika saat keluar dari ruangan menjadi perhatian banyak mata teman sejawatnya.Mereka tidak berani bertanya,hanya sekedar menyapa karena mereka tau,Erika adalah istri Nicholas Kendrich sekretaris utama Luxio grup yang terkenal kejam dan berperangai sama seperti Michael maverich yang bertangan dingin.
Dering ponsel membuyarkan lamunan Erika.Stephanie meneleponnya.
"Hallo Steve..bagaimana kabarmu?" sapanya ramah.Namun suara dibelakang sana sangat gaduh.
__ADS_1
"Kau dimana Er?" tanya Stephanie gugup.
"aku di kampus,mau ke rumah sakit."
"Kalau begitu cepatlah.Sekretaris Nico kecelakaan.Sekarang dia sedang kritis.kurasa waktuny tidak akan lama lagi.Dokter sudah angkat tangan."
"aa...apaa??ke..kecelakann?kkkriitis?" gagap Erika.
"iya.cepatlah datang Er,waktumu tidak banyak."
"b..baik..aku akan segera kesana." Erika menutup panggilan lalu berusaha mencari taksi secara online ataupun offline namun semuanya gagal.Tidak ada pilihan lain.Yang ada di otaknya kini adalah menemui Nico secepatnya.Erika berlari sekuat tenaga dengan berderai air mata.
"Tuhan kumohon...beri aku kesempatan.Jangan ambil suamiku." teriaknya disela isak tangis.Dia berlari dan terus berlari.Nafasnya sudah tidak beraturan,keringat membasahi tubuhnya seperti air saat dia sampai di pintu ICU.Disana,Michael dan Shinta berdiri mematung dengan tatapan sedih.Stephanie dan Willy juga menatapnya iba.
"ba..bagaimana keadaan mas Nico?" tanyanya lemah.Semua bungkam dengan wajah sedih.Erika menguatkan hatinya untuk masuk.Rekan sesama dokter yang bertugas hari itu mengatupkan kedua tangannya di dada.
"Maafkan aku dokter Erika.Kami sudah berusaha semaksimal mungkin,tapi suamimu......"
"tidaaaaaaakkkkk!!!" teriak Erika lalu berlari secepat mungkin menuju brangkar.Tubuh itu...sudah tertutup selimut seluruhnya.Nafasnya serasa terhenti nyawanya seperti tercabut dari tubuhnya.Dia terus berteriak histeris sambil mengguncangkan tubuh Nico yang sama sekali tidak bergerak.
"Bangun mas!bangun....kumohon bangunlah.Kau tidak bisa meninggalkanku seperti ini.Aku...susah payah aku berusaha mencintaimu dan berusaha memaafkanmu.Jika aku marah harusnya kau membujukku,bukan malah meninggalkanku.sekarang kau mau pergi begitu saja dari hidupku.Kenapa kau tidak mengajakku?kenapaa??" teriak Erika makin histeris.Dia terus memeluk dan memukul dada Nico.Semua mata menatap iba padanya.
__ADS_1